Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
Enam bulan telah berlalu


__ADS_3

Selama enam bulan Devina tidak menemui ataupun menghubungi Alan. Tapi cintanya begitu besar sehingga Ia tidak mampu untuk melupakannya.


Berbagai cara telah Ia lakukan, termasuk membuka hatinya untuk pria lain, namun hubungannya kandas.


Didalam hatinya, Ia sebenarnya sadar dengan apa yang dilakukannya. Itu pasti akan menyakiti perasaan Renata jika terus mendekati Alan.


Egois. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini. Bahkan Ia juga pernah merasakan betapa sakitnya ketika orang yang dicintai direbut oleh orang lain.


Sebenarnya Ia tak ingin melakukan hal ini, tapi apalah daya hati dan pikirannya selalu tertuju pada Alan seorang. Kegelisahan yang melanda fikirannya ini membuat Ia ingin kembali pada Alan.


"Maafkan aku Ren, aku telah mencoba melupakan cintaku pada suamimu, tapi ternyata aku tak mampu. Mungkin aku harus mengejar cintaku lagi".


Diliriknya jam dinding berbentuk kepala kucing yang berada tepat diatas tempat tidurnya, telah menunjukkan pukul empat sore waktu Saudi.


Ia mencari ponselnya didalam tas kecil yang biasa dibawanya ketika bekerja. Lalu dicarinya nama Alan dan jemari lentiknya mulai mengetik tombol-tombol huruf pada layar ponselnya.


(Lan, aku minta waktumu sebentar. Ku tunggu ditempat biasa kita ketemu. Aku sangat berharap kamu datang. Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir).

__ADS_1


Dipilihnya tombol send pada layar ponselnya. Ia sangat berharap Alan membalas pesannya.


"tringg". Pucuk dicinta ulampun tiba. Buru-buru Devina membuka pesan dari pujaan hatinya itu. Meskipun rasa itu belum berbalas.


"Iya".


Hanya satu kata. Singkat padat dan sangat jelas. Betapa girangnya hati Devina bagai terbang ke atas awan dan menghinggapinya satu per satu. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri didepan cermin yang menampakkan seluruh badannya. Yang menurut dia sempurna.


"Cantik....


Hanya perlu polesan sedikit. Sepertinya aku memang terlahir dengan paras yang menawan. Hanya saja .... Ahh entahlah mungkin aku hanya belum menemukan seseorang untuk kujadikan imam".


Ia datang lebih awal. Jangan sampai Alan yang menunggunya. Dia benar-benar tak mau mengecewakan pangerannya itu.


Devina terlihat sedang asik memainkan game pada ponselnya. Tiba-tiba Alan berdiri didepannya.


"sorry,, nunggu lama ". Sambil menarik kursi lantas duduk tepat di hadapan Devina.

__ADS_1


"it's okay. No problem".


"Aku gak bisa lama-lama Dev. Ada apa kamu mengajakku kesini?". Sikap Alan terlihat dingin saat ini.


"Aku.... Aku mencintaimu Alan".


Dengan tanpa ragu Devina mengungkapkan isi hatinya.


Alan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi yang Ia tempati. Wajahnya cukup tenang, tidak terkejut dengan pengakuan orang yang dianggapnya teman itu. Kedua bola matanya tajam menatap Devina dengan tatapan kecewa.


"sekarang mau kamu apa dev !".


"Aku mau menjadi istrimu, sama seperti Renata. Aku ingin membahagiakanmu.


Aku sadar, apa yang aku lakukan ini adalah kesalahan besar. Aku berusaha membuang rasa ini. Tapi aku tidak bisa. Enam bulan aku menjauhi mu, membuka hati untuk pria lain, tapi aku tetap tidak bisa melupakanmu. Kau tau, ini sangat sakit. Mencintai suami orang itu sangat menyakitkan".


"Terus ?. Apa yang harus aku lakukan dengan rasamu itu ?".

__ADS_1


"Berikan aku waktu satu bulan. Satu bulan saja. Kalau aku tidak bisa membuat mu mencintaiku dalam satu bulan itu, aku akan pergi meninggalkanmu, sejauh mungkin. Aku janji... Tapi jika sebaliknya, aku bisa membuatmu mencintaiku, aku mau kamu menikahiku.


Permintaan Devina kali ini benar-benar sudah melebihi batas.


__ADS_2