Ketika Cinta Memudar

Ketika Cinta Memudar
kesalahpahaman devina


__ADS_3

Di kediaman Devina. Ia tak bisa berhenti memikirkan Alan. Alan Alan Alan dan Alan. Yeah.. Hanya Alan. Nama itulah yang selalu ada dalam ingatannya.


"Renata.. Maafkan aku. Aku mencintai suami mu. Maafkan aku karena cepat atau lambat aku akan menggantikan posisi mu di hati Alan. Karena disini hanya aku yang dekat dengannya". Devina berkata sendiri sambil melihat foto Alan.


"Alan... Akan ku rebut hati mu. Lihat saja.. Kau akan bertekuk lutut mencintai ku".


"drrttttt..". suara handphone Devina. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Aku sedang memikirkan mu Alan. Dan kau menelfon ku. Apalagi kalau bukan jodoh namanya.


Devina tersenyum lalu menggeser tombol hijau ke atas pada benda pipih miliknya.


"hay ... Alan..".


"hay Dev.. Bisa kita ketemu malam ini. Di tempat biasa ".


"dengan senang hati.. Jam berapa ?".


"ba'da sholat isya".


"oke. Sampai ketemu".


Devina menutup telfon. Begitupun dengan Alan.


Ia lalu membuka lemari untuk memilih gaun yang akan ia pakai.


"yes.. Ini dia.. Gaun keberuntungan ku".


Devina mengambil gaun berwarna hitam, dengan pita panjang di lengan atas bagian kiri. Dan di tambah jilbab berwarna abu-abu dengan hiasan manik-manik di ujungnya . Membuat penampilan devina semakin memukau.

__ADS_1


Terlihat Alan sudah dulu sampai. Ia mengajak Devina ketemuan hanya untuk mengenalkannya dengan Anton. Tak lebih dari itu.


Devina tiba di kafe dan mencari-cari posisi Alan. Dan dengan mudah ia menemukannya.


"hayyy.... Nunggu lama ya ..?". Devina menghampiri Alan.


"gak juga.. Baru sampai kok.. Silahkan duduk".


"oke.. Terima kasih". Devina duduk dengan manis di depan alan. Ia berharap bisa menarik hati Alan.


"oh ya... Aku sudah pesan orange jus favorit mu..".


"ohh .... Terima kasih banyak". Devina langsung meminum sedikit minumannya. Meskipun hanya segelas orange jus yang di berikan Alan. Itu sudah sangat berarti bagi Devina.


"Dev ?". Panggil Alan pada Devina.


"malam ini kamu cantik".


"oh Tuhan... Dia bilang aku cantik". Devina tersenyum dan berkata dalam hati.


"terima kasih banyak atas pujiannya".


" Dev.. Maksud aku ngajak kamu ketemuan karena ada hal penting yang harus aku omongin ke kamu". Alan mulai berbicara.


"what !!! Ada hal penting. Mungkinkah Alan juga punya perasaan yang sama dengan ku. Dan malam ini ia akan mengutarakannya". Gumam Devina dalam hati.


"hal penting ? Apa itu Al ?". Devina bertanya penasaran.

__ADS_1


"emmm... Aku kok jadi bingung mau ngomongnya dari mana dulu".


"udah Al.. Ngomong aja.. Jangan buat orang penasaran". Devina tak sabar mendengar alan berbicara.


"kamu sudah punya pacar belum ?. Atau calon pacar atau juga orang yang lagi dekat sama kamu ?".


"ehmmmmm...... No....... ". Devina menggelengkan kepalanya pelan. Ia sungguh tak percaya dengan pertanyaan Alan.


"baguslah kalau begitu. Dua hari lagi kita ketemuan disini di jam yang sama. Aku ada surprise untuk mu". Alan berkata santai sambil meminum air mineral yang ia bawa.


"kejutan ??? Apa itu ?".


"Rahasia. Lebih baik sekarang kita pulang. Hari sudah malam".


" Oke.. Sampai ketemu besok". Devina berdiri dan pergi meninggalkan Alan.


Alan melihat Devina pergi dan semakin jauh. Di raihnya benda pipih di atas meja. Lalu ia menelfon seseorang.


"halo.. Bro..". Alan menyapa Anton.


"halo bro.. Gimana ?". Anton menanyakan Devina.


"aman bro.. Dia singel. Besok kamu terbang ke Bali. Nanti ku tunggu di bandara".


"siap bos !".


Yeah.. itulah yang sebenarnya terjadi. Alan akan mengenalkan Devina pada Anton. Tepatnya dua hari lagi.

__ADS_1


Anton selama ini lebih mementingkan karirnya ketimbang teman hidup. Jadi gak heran sampai saat ini dia masih jomblo.


__ADS_2