
Suara derai hujan menyembunyikan teriakan tangis gadis kecil yang sedang menenteng sebelah sepatunya menuju rumah. Sebenarnya, rumah yang dijadikan tempat bernaung itu lebih tepat disebut sebagai tempat para istri meluapkan amarah kepada ibunya yang terkadang disebut-sebut sebagai “penggoda”.
Perlahan tapi pasti, gadis kecil itu berjalan di tengah genangan air hujan yang sudah tak mampu lagi diserap oleh tanah. Sesekali ia terlihat meringis kesakitan karena kaki kirinya yang terluka menginjak kerikil. Bibirnya pun mulai membiru setelah lama berjalan di tengah guyuran hujan.
Blaaaarrrrrr……
“Huaaaaa, ibuuuuuu,” teriak gadis kecil itu berlari memanggil ibunya ketika mendengar suara guntur. Kaki kirinya yang saat itu terluka tidak merasakan apa-apa lagi saat berlari karena takut. Namun, tiba-tiba…
Buggg…..
Si gadis kecil tersandung batu begitu ia memasuki halaman rumah dan akhirnya tersungkur dengan wajah langsung mencium tanah yang sudah menjadi lumpur. Ia pun segera berdiri dan mengucek matanya yang terasa perih terkena tanah. Sementara itu, tangisnya semakin keras ketika mendengar suara gemuruh menggelar tepat di atasnya.
“Ibuuuu…. Huaaaa,” gadis kecil itu terus berteriak memanggil ibunya di sela-sela erangan tangisnya.
Tidak lama kemudian, seorang wanita yang bernama Damara terlihat berlari dari dalam rumah dan menerobos hujan untuk menghampiri gadis kecil itu.
“Anakku…! Kenapa kamu seperti ini, Nak ?” tanya Damara langsung menggendong gadis kecil itu sambil mencoba membersihkan lumpur yang ada di wajahnya.
“Nadin ta-tadi jatuh di si-sini, Bu. Ma-mata Nadin pe-perih… huaaaa,” jawab gadis kecil itu yang ternyata bernama Nadin.
Begitu sampai di kamar mandi, Damara segera membasuh wajah Nadin. Nadin merasa nyaman dengan air sumur yang terasa hangat mengaliri wajahnya.
“Buka matamu, Nak. Jangan ditutup, supaya airnya bisa membersihkan tanah di matamu,” pinta Damara dalam posisi berjongkok dan terus fokus pada wajah anaknya yang sedang ia basuh.
Nadin mengikuti perkataan ibunya, tangisnya pun perlahan mereda dan kini ia malah cegukan karena terlalu banyak menangis.
“Apa masih perih ?” tanya Damara terus memandang wajah Nadin.
“Su-sudah tidak pe-perih lagi,” jawab Nadin di sela-sela cegukannya.
Damara segera melepas satu per satu pakaian Nadin kemudian memandikannya. Di kamar mandi itu hanya terdengar suara air yang mengalir deras dari keran yang baru kemarin diperbaiki. Suasana menjadi hening ketika Damara menggosokkan sabun mandi di tubuh Nadin tanpa berkata apapun.
“Aduh,” ringis Nadin ketika ibunya menggosok telapak kaki kirinya.
Melihat Nadin kesakitan, Damara langsung membasuh kaki kiri Nadin. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan luka yang lebar di sana.
“Kakimu terluka karena apa, Nadin ?!” tanya Damara dengan alis berkerut.
“Beling,” jawab Nadin menunduk tidak berani melihat tatapan ibunya.
Beberapa saat kemudian, Nadin duduk di ranjangnya setelah selesai mandi. Karena merasa kedinginan, Nadin turun dari kasur dan berjalan menuju lemari. Dengan wajah yang terlihat gembira, ia mengambil piyama lengan panjang. Piyama biru berbentuk rok yang saat ini ia kenakan merupakan hadiah ulang tahun ke-10 dari ibunya. Bisa dikatakan, itu adalah piyama favoritnya. Ia pun kembali duduk di kasurnya setelah selesai berpakaian.
Kreek
Suara pintu kamarnya yang berbunyi membuat Nadin menoleh ke arah sana. Ia mendapati ibunya tengah berjalan ke arahnya kemudian duduk di sampingnya.
“Hadap ibu, Nak,” pinta Damara yang saat ini mengeluarkan obat merah dan kain kasa dari dalam kotak obat yang tadi ia bawa bersamanya.
Sekarang Nadin duduk berhadapan dengan ibunya. Dalam hati ia berdoa supaya ibunya tidak memarahinya karena terluka.
“Kenapa kaki Nadin bisa terkena beling ?” tanya Damara yang mulai memeriksa luka Nadin.
“Vas bunga di kelas Nadin pecah, Nadin tidak sengaja menginjak belingnya,” jawab Nadin yang ikut melihat lukanya.
“Lain kali hati-hati. Jangan lepas sepatu sebelum pulang ke rumah,” sahut Damara lalu mulai mengolesi kaki Nadin yang terluka dengan obat merah kemudian membalutnya dengan kain kasa.
__ADS_1
“Iya, Bu,” balas Nadin. Ia tidak berani memberitahu ibunya kalau ia tanpa sengaja menginjak beling saat berkelahi dengan teman laki-lakinya. Sebenarnya teman laki-lakinya yang ia lawan juga menginjak beling. Jadi, mereka sama-sama terluka. Anak laki-laki itu langsung menangis begitu kakinya terluka. Namun, tidak dengan Nadin. Ia menangis karena takut dengan suara guntur saat ia pulang sendiri ke rumah.
“Ibu kenapa sudah pulang dari warung ?” tanya Nadin yang sejak tadi mengamati tangan ibunya yang cekatan saat mengobati kakinya.
“Ibu mau menjemputmu untuk diajak ke warung. Tapi, sebentar lagi akan malam, kakimu juga terluka. Jadi, kita tidak usah ke sana. Nanti ibu akan meminta karyawan untuk menutup warung,” jelas Damara lalu memasukkan obat merah dan sisa kain kasa ke dalam kotak obat.
Tik... tik... tik...
Suara jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 19:00 memaksa Nadin membuka matanya. Ia pun bangun dengan perlahan ketika menyadari kepalanya terasa berat dan sakit.
“Kenapa bisa sakit begini ?” tanya Nadin pada dirinya sendiri. Perutnya yang tiba-tiba berbunyi membuat ia turun dari kasur.
“Ibuuu,” panggil Nadin sembari menyedot ingusnya yang tanpa permisi keluar begitu saja dari kedua lubang hidungnya. Ia kemudian menuju dapur ketika tidak menemukan ibunya di kamar tidur maupun di ruang tamu.
“Ibuuu” panggil Nadin di ambang pintu dapur yang tirainya terbuat dari cangkang siput berukuran kecil.
“Nadin. Duduk dulu, Nak. Sebentar lagi ibu selesai masak,” ujar Damara yang tadi hanya menoleh sebentar ke arah Nadin.
Haccih…. Haccih….. Haaaccciiih….
Nadin segera mengelap cairan bening yang keluar dari hidungnya saat bersin dengan tisu yang ia bawa dari kamarnya. Sementara itu, ibunya tersenyum ketika mendengar ia bersin. Sebenarnya, suara bersin Nadin yang sama sekali tidak anggun itu merupakan hiburan tersendiri bagi ibunya. Sebab, setiap kali ia bersin, ia terdengar seperti sedang berteriak.
“Ayo makan, Nak,” ajak Damara sembari meletakkan sup ayam yang baru saja matang.
“Iya, Bu. Ayo makan sama-sama,” sahut Nadin kemudian mengambil piring dan sendok yang ada di depannya. Hampir saja piring yang ia pegang jatuh ketika merasakan tangan ibunya tiba-tiba menyentuh kening dan pipinya.
“Sayang, kamu pasti kena flu setelah kena hujan tadi. Kamu juga demam. Ayo makan, setelah itu minum obat,” ujar Damara seraya mengambil sayur dan paha ayam untuk Nadin. Setelah itu, ia duduk di depan Nadin yang wajahnya terlihat memerah karena demam.
“Ya, Bu,” sahut Nadin. Namun, ia terus mengaduk nasinya tanpa ada niat untuk memakannya. Paha ayam yang terlihat montok itu pun tidak mampu menarik selera makan Nadin yang sedang menurun.
“Nak, ayo makan. Bagaimana mau minum obat kalau belum makan,” ujar Damara yang sejak tadi melihat Nadin memainkan sendoknya.
“Nadin, coba pikirkan. Kalau Nadin tidak mau makan, Nadin juga tidak boleh minum obat. Kalau tidak minum obat, Nadin akan terus sakit. Tapi, kalau Nadin makan dan minum obat. Pasti sakitnya Nadin bisa hilang. Coba, Nadin pilih yang mana. Mau tetap sakit atau mau sehat ?” tanya Damara setelah berbicara panjang lebar.
“Nadin mau sehat,” jawab Nadin kemudian mengambil sendoknya dan mulai menyantap makanan yang ada di piringnya. Setelah selesai makan, ia langsung meminum obat yang sudah disediakan oleh ibunya.
“Biarkan saja piringnya di sana. Biar nanti ibu yang bereskan. Nadin kan sedang sakit, jangan pegang air dulu,” ujar Damara ketika melihat Nadin hendak bangun membawa piringnya untuk dicuci.
Mendengar ucapan ibunya, Nadin meletakkan kembali piringnya di meja makan.
“Bu, apa Nadin boleh pinjam hp ?” tanya Nadin menatap ibunya.
“Boleh, sekarang ibu ambilkan setelah mengantarmu ke kamar,” jawab Damara lalu meneguk segelas air putih setelah ia menyelesaikan makannya juga.
“Nadin bisa ke kamar sendiri. Nadin tunggu di kamar ya,” balas Nadin beranjak dari kursinya kemudian menuju kamar.
Damara mengela nafas panjang ketika melihat Nadin yang berjalan dengan kaki pincang. Ia terus menatap Nadin sampai tidak terlihat lagi di mulut pintu.
Apa Nadin sudah tidur ? gumam Damara dalam hati saat ia menyadari dua jam telah berlalu setelah ia meminjamkan ponsel kepada Nadin. Ia pun mematikan TV yang sejak tadi ia tonton kemudian beranjak dari sofa menuju kamar Nadin yang bersebelahan dengan kamarnya.
Dua jam sebelumnya
“Ini hpnya, sayang,” ucap Damara sambil meletakkan hp android miliknya di atas meja belajar Nadin.
“Terima kasih, Bu. Nanti Nadin kembalikan kalau sudah selesai.” Sahut Nadin menoleh ke arah ibunya.
__ADS_1
“Iya sayang. Tapi, kamu mau belajar apa ?” tanya Damara sembari mengelus rambut Nadin yang mulai mengering setelah keramas tadi.
“IPA,” jawab Nadin mulai membuka buku paketnya.
“Oooh, kenapa tidak besok saja belajarnya ? Lebih baik Nadin langsung tidur supaya cepat sembuh,” balas Damara.
“Nadin akan tidur setelah selesai belajar. Ibu bisa pergi nonton TV, Nadin baik-baik saja,” sahut Nadin tanpa menoleh ke arah ibunya.
“Tapi, Nadin masih ingat peraturan ibu kan ?” tanya Damara membungkuk dan menatap wajah Nadin.
“Masih, Nadin janji tidak akan membuka yutup kalau sedang tidak bersama ibu,” jawab Nadin dengan wajah penuh keyakinan.
“Baiklah, jangan terlalu memaksakan diri ya sayang,” sahut Damara mencium kening Nadin yang terasa hangat di bibirnya.
“Ibu,” panggil Nadin seraya mengepalkan jari tangannya yang lentik.
“Ya. Ada apa, Nak ?” tanya Damara yang masih tetap di samping Nadin.
“Apa Nadin benar-benar punya ayah ?” tanya Nadin menoleh ke arah ibunya.
Damara terperanjat mendengar pertanyaan Nadin. Ia heran kenapa anaknya itu tiba-tiba bertanya lagi mengenai ayahnya. Padahal ia sendiri sudah memberitahukan kalau dia memang punya ayah. Namun, ia menjadi anak yatim karena ayahnya sudah meninggal.
“Tentu saja Nadin punya ayah. Sebelumnya ibu sudah beritahu juga kan,” sahut Damara.
“Iya, Nadin tahu. Tapi, apa ibu punya foto Nadin saat bersama ayah ?” tanya Nadin dengan mata yang memancarkan harapan. Namun, harapannya langsung sirna ketika ibunya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Nadin melihat ada air yang mulai menggenang di mata ibunya.
“Sebenarnya, Nadin ingin menunjukkannya kepada teman-teman karena mereka tidak percaya kalau Nadin punya ayah. Mereka selalu saja menganggap Nadin bohong. Nadin tidak suka,” tutur Nadin menunduk sedih.
Hati Damara terasa hancur setelah mendengar cerita Nadin. Air mata yang sejak tadi menggenang langsung tumpah tanpa bisa ia bendung lagi. Ia meraih tubuh Nadin dan memeluknya.
“Maafkan ibu, Nak. Ayahmu, ayahmu meninggal saat mengantar ibu ke rumah sakit untuk melahirkan. Saat itu kami mengalami kecelakaan. Itu sebabnya kamu tidak memiliki foto bersama ayahmu,” tutur Damara di sela isak tangisnya.
“Ibu, kenapa ibu menangis dan minta maaf ?” tanya Nadin menatap wajah ibunya yang sudah berlinang air mata. Ia mengambil selembar tisu dan menyeka air mata ibunya.
Ibu minta maaf karena sudah memberikanmu kehidupan yang sulit, Nak, Jawab Damara dalam hati.
“Ibu, ibu jangan menangis. Nadin akan memberitahu mereka kalau Nadin tidak punya foto bersama ayah,” ujar Nadin lagi ketika menyadari ibunya tidak menjawab pertanyaannya.
“Nadin, anakku. Kamu bisa memperlihatkan mereka foto ayah. Mereka pasti akan percaya kalau Nadin memang punya ayah, karena ayah sangat mirip dengan Nadin,” sahut Damara supaya Nadin tidak berkecil hati.
“Ah, benar. Kalau begitu, besok Nadin bawa satu foto ayah supaya mereka bisa melihatnya. Mereka pasti tidak menganggap Nadin bohong lagi,” ucap Nadin kembali ceria.
“Iya, sayang. Besok ibu berikan fotonya. Sekarang cepat belajar supaya cepat istirahat juga,” timpal Damara.
“Iya, Bu,” sahut Nadin seraya tersenyum.
Damara kemudian keluar dari kamar Nadin, ia merasa risau karena memikirkan kebohongan apa lagi yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Nadin yang berkaitan dengan ayah atau keluarganya yang lain. Selama ini, ia dan Nadin hanya tinggal berdua di kampung halamannya sejak ia melahirkan. Sebenarnya, ia juga memiliki orang tua. Namun, mereka sudah meninggal saat ia masih SMA. Ia bertahan hidup tanpa dukungan dari keluarganya karena ia memang tidak punya sanak saudara di tempat itu.
Saat ini, Damara berdiri di mulut pintu dan melihat anaknya tertidur di meja belajar. Ia kemudian mengangkat Nadin dan menidurkannya di kasur lalu menyelimutinya. Damara meraih tisu yang ada di meja belajar kemudian menyeka keringat yang mulai muncul di kening dan pelipis Nadin.
“Kenapa dia menangis?” tanya Damara pada dirinya sendiri saat melihat air mata yang membasahi pipi anaknya.
“Apa yang kamu tangisi, Nak ? Semoga kamu cepat sembuh,” lirih Damara lagi-lagi mencium kening Nadin. Ia kemudian berdiri di sisi ranjang Nadin dan mengambil hpnya yang ada di atas meja. Lalu, seperti biasa Damara membuka riwayat penulusaran di ponselnya untuk memastikan apa saja yang sudah di buka oleh anaknya. Ia terus fokus pada layar ponselnya dan mengangguk karena memang benar Nadin mencari beberapa materi pelajarannya. Namun, bola matanya seakan ingin melompat keluar ketika melihat apa yang pertama kali dicari oleh anaknya itu.
__ADS_1
“Pe****r, ja**ng, anak haram.” Damara seakan tidak percaya dan benar-benar tidak menyangka anaknya akan mencari kata-kata itu. Lututnya langsung terasa lemas hingga ia merosot ke lantai. Dalam sekejap kata-kata para istri yang pernah melabraknya pun muncul dalam ingatannya. Seketika Damara menutup mulutnya supaya tangisnya yang akan pecah tidak terdengar oleh Nadin.
“Nak, apa kamu mendengar apa yang para wanita itu katakan kepada ibu ? Kenapa kamu harus mencari tahu tentang hal ini ? Apa yang ingin kamu ketahui ? Maafkan ibu. Gara-gara ibu, kamu harus mendengar semua kata yang tidak pantas itu,” lirih Damara dalam hati kemudian memegang dan mencium tangan Nadin.