
Sejak pelajaran Kimia dimulai, Nadin mengerahkan semua fokus dan pikirannya kepada guru perempuan yang sedang menyampaikan materi. Sebelumnya, ia sudah meminta Dira untuk tidak diganggu atau disapa selama guru sedang menjelaskan pelajaran di jam ketiga itu. Dira pun akhirnya mencolek Nadin ketika waktu mengerjakan soal latihan dimulai.
Nadin hanya menoleh sebentar dan Dira bisa melihat wajah kusutnya yang mulai berminyak setelah berusaha memahami pelajaran yang dianggap rumit itu. Alisnya berkerut berusaha untuk mengingat bagaimana cara menjawab beberapa soal yang sudah ada di papan. Ia beberapa kali membaca ulang catatannya supaya apa yang dia pahami tidak cepat menguap seperti sebelumnya.
“Bagaimana ? Apa kamu mengerti ?” tanya Dira masih setia memandangi Nadin.
“Ya, sepertinya aku bisa mengerjakannya. Bagaimana denganmu ?” Nadin balik bertanya sambil menyelipkan pensil di telinganya.
“Aku juga bisa,” jawab Dira.
Mereka pun larut dalam tugas masing-masing. Sepuluh menit kemudian, Nadin menghempaskan pensilnya yang sudah tumpul karena terlalu banyak digoreskan pada buku. Ia mulai mengetukkan jarinya ke meja pertanda ia sudah mulai kesulitan menjawab soal. Dira yang menyadari kebiasaan Nadin ikut menghentikan kesibukannya.
“Nomor berapa yang tidak bisa kamu jawab ?” tanya Dira mendekat ke arah Nadin sampai bahu mereka saling bersentuhan.
“Aku tidak bisa nomor empat dan lima. Kenapa model soalnya berubah ?” sahut Nadin dengan wajah frustasinya.
“Hehe, aku juga tidak bisa mengerjakannya” balas Dira terkekeh.
“Hah, wajah dan jerawatku jadi gatal,” lirih Nadin ingin menggaruk wajahnya. Namun, Dira dengan cekatan menarik tangannya.
“Jangan digaruk, nanti aku akan menemanimu cuci muka saat jam istrirahat,” ujar Dira.
Nadin dan Dira lalu melanjutkan kegiatannya untuk menjawab soal. Namun, mereka tidak juga berhasil meskipun mereka mengerjakannya secara bersama-sama. Akhirnya, Nadin menemui gurunya yang sedang duduk di meja untuk mencari pencerahan. Dira mengamati Nadin yang sedang menganggukkan kepalanya pertanda kalau ia sudah paham dengan apa yang gurunya jelaskan.
Kenapa dia tidak bertanya pada teman-teman yang lain ? Sebenarnya, apa yang membuatnya tidak ingin terlalu bergaul ? guman Dira menopang dagunya.
Nadin membasuh wajahnya yang sudah terlihat seperti gorengan, Dira yang berdiri di luar kamar mandi segera memberikan sabun wajah kepada Nadin. Sekolah sudah terlihat sepi ketika ia menemani Nadin untuk mencuci wajahnya. Sebelumnya, mereka tidak bisa langsung ke kamar mandi karena sibuk mengerjakan PR Kimia di jam istirahat. Jadi, mereka baru bisa ke sana setelah pulang sekolah.
Kreeek
“Maaf kamu jadi nunggu lama,” cetus Nadin begitu ia keluar dari kamar mandi.
“Tidak apa-apa, ayo pulang,” sahut Dira merangkul tangan Nadin.
Nadin melambaikan tangannya ketika Dira masuk ke dalam mobil. Ia kemudian menuju parkiran sepeda yang mulai terlihat sepi. Dari kejauhan, ia melihat dua anak Adam sedang berbincang di sana. Mata Nadin langsung mengenali salah satu sosok anak Adam yang terlihat jangkung dengan tubuh tipis namun atletis itu. Tidak salah lagi, anak laki-laki yang dikenali Nadin adalah Aidan.
Aidan yang tadinya menaiki sepeda langsung turun dari sepedanya ketika Nadin sudah berdiri di sampingnya untuk mengambil sepeda. Ia diam sambil memberikan tatapan tajam kepada Nadin yang tidak juga menggubrisnya. Matanya beberapa kali beralih pandang dari wajah ke baju seragam Nadin yang tembus pandang karena basah. Ia segera mengalihkan pandangannya saat Nadin menoleh ke arahnya. Ia pun menelan ludah ketika tidak sengaja melihat pakaian dalam Nadin yang berwarna hitam. Aidan menghela nafas panjang ketika teman masa kecilnya itu tidak juga menyadari apa yang terjadi pada seragamnya.
“Apa kamu baru selesai mandi ?” tanya Aidan dengan wajah datar.
“Tidak, aku hanya mencuci wajahku,” jawab Nadin seraya menaiki sepedanya setelah ia meletakkan ransel hitamnya di keranjang sepeda.
Aidan lagi-lagi menarik nafas panjang untuk mengontrol diri supaya matanya tidak tertuju pada pakaian Nadin yang tembus pandang saat mereka berhadapan.
“Apa kamu tidak tahu kalau bajumu basah ?” tanya Aidan sambil memegang sepedanya.
“Basah ?”-Nadin memeriksa bajunya-“astaga !” pekik Nadin langsung menutupi bagian dadanya begitu ia melihat bajunya tembus pandang.
“Ka-kamu jangan lihat aku,” perintah Nadin. Pipi dan telinganya terasa panas karena malu. Ia lalu turun dari sepedanya dan langsung membelakangi Aidan.
Ceroboh sekali kamu Nadin ! rutuk Nadin dalam hati.
“Apa kamu akan pulang dengan baju seperti itu ? Apa kamu ingin beramal pada laki-laki dengan memperlihatkan pakaian dalammu ?” celetuk Aidan.
“Cabul ! Apa dari tadi kamu melihatnya ?!” bentak Nadin langsung mendelik ke arah Aidan.
“Aku kan tidak sengaja, siapa suruh kamu ceroboh dan tidak menyadari bajumu basah,” balas Aidan mengomeli Nadin.
__ADS_1
Nadin diam untuk beberapa saat, bibirnya mengerucut karena kesal mengakui kebenaran ucapan Aidan.
“Ok, aku yang ceroboh. Sekarang kamu pulang sana ! Aku ingin berjemur,” ujar Nadin melangkahkan kakinya ke tempat yang panas.
Aidan membuka hoodie yang saat itu ia kenakan lalu menyusul Nadin yang kini sudah berdiri di bawah terik sinar matahari.
“Pakai ini ,” ujar Aidan sambil meletakkan hoodienya di atas kepala Nadin.
“Iiiissshhhh ! Kamu pikir kepalaku jemuran !” gerutu Nadin meraih dengan kasar hoodie hitam milik Aidan yang sempat bertahta di kepalanya.
“Tidak berbeda jauh,” sahut Aidan dengan senyum mengejek.
“Pakai saja baju itu, apa kamu tidak kasihan dengan kulitmu kalau lama-lama berjemur di tengah panas begini ?” tanya Aidan memandang Nadin.
Nadin segera melihat kulitnya yang bertambah coklat, ia lalu mendongak Aidan yang saat ini berdiri di hadapannya. Nadin silau melihat wajah Aidan yang semakin terlihat tampan di bawah pancaran sinar matahari. Cahaya di siang bolong itu seperti memantulkan warna kulit Aidan yang putih hingga membuat ia terlihat berseri-seri.
Deg
Jantung Nadin seperti diestrum ketika Aidan tersenyum manis padanya. Ia tidak tahu sejak kapan ini terjadi. Tapi, ia pasti akan terkejut dan jantungnya akan berdetak kencang setiap kali ia melihat Aidan tersenyum padanya.
“Jadi, mau sampai kapan kamu berdiri di sini ?” tanya Aidan yang kulitnya mulai memerah karena terlalu banyak terpapar sinar matahari.
Tanpa menjawab Nadin segera kembali ke tempat sepedanya di area parkiran yang teduh.
“Aku tidak pernah dan tidak suka memakai pakaian milik laki-laki. Jadi, ambil saja ini kembali.” Nadin menyodorkan pakaian itu kepada Aidan yang kini berada di depannya.
Tanpa pikir panjang, Aidan mengambil hoodie itu lalu memasukkan bagian lehernya ke kepala Nadin. Tidak suka diperlakukan seperti itu, Nadin langsung melotot kepada Aidan, ia menahan tangan Aidan yang masih memegang hoodienya.
“Kamu mau pakai sendiri atau aku yang bantu kamu memakainya ?” tanya Aidan.
“Butuh waktu berapa lama sampai bajumu kering ?”-Aidan mengangkat satu alisnya sambil tersenyum memandang Nadin-“coba aku tebak. Sepertinya, yang basah bukan seragammu saja. Apa aku salah ?” tanya Aidan lagi.
Nadin hanya diam karena apa yang dikatakan Aidan memang benar, ia merasakan pakaian terdalam bagian atasnya basah setelah mencuci muka.
“A-aku akan pakai sendiri,” ujar Nadin melemahkan pandangannya dan melangkah mundur supaya ia tidak terlalu dekat dengan Aidan.
Dengan berat hati dan rasa tidak nyaman. Akhirnya, Nadin mengenakan hoodie hitam milik Aidan. Nadin tersenyum saat menyadari hoodie itu terlalu besar untuknya. Ia bahkan bisa mencium aroma lemon dari pakaian Aidan yang saat ini ia kenakan.
Ya Tuhan, dia imut sekali, batin Aidan yang terpesona dengan penampilan Nadin saat memakai bajunya yang terlalu besar.
Saat malam tiba, Nadin memandangi hoodie Aidan yang ia gantung di samping meja riasnya. Ia seperti sedang menonton film horor kesukaannya saat menatap sehelai pakaian itu karena matanya tak kunjung mencari objek lain untuk dipandang. Senyumnya pun mengembang ketika mengingat Aidan yang memakaikannya baju itu.
Uwaaaa, bagaimana ini. Aku tidak bisa melupakannya, teriak perasaan Nadin yang saat ini merasa sangat bahagia dan berbunga-bunga.
Nadin menelungkupkan wajahnya ke meja. Sedangkan, kakinya yang ikut bahagia tidak henti-hentinya bergerak tidak karuan.
“Aududuh, sakiiiitttttt,” teriak Nadin ketika merasakan sakit saat jerawatnya mengenai permukaan meja. Ia langsung melihat cermin untuk memeriksa keadaan jerawatnya itu. Tak disangka, jerawatnya tidak pecah. Bahkan masih utuh setelah menekan meja dengan keras.
Raut wajah Nadin langsung terlihat kecewa saat ia lama-lama memandangi wajahnya di cermin. Ia mulai merasa minder jika membandingkan dirinya dengan Aidan yang memiliki wajah dan kulit putih bin mulus.
Apa aku coba pakai lulur dan pembersih wajah ya ? pikir Nadin lalu pergi menuju jendela dan membukanya. Ia menikmati pemandangan bulan yang sedang berbentuk bulat sempurna sembari merasakan hembusan angin malam yang perlahan menyapu kulitnya.
Sementara, Aidan sedang melakukan hal yang sama dengan Nadin. Malam ini, ia menghabiskan waktunya di balkon sambil memandangi cahaya bulan. Ingatannya pun masih berkutat pada bayangan Nadin yang memakai bajunya. Di dalam hati kecilnya ia berharap untuk selalu melihat Nadin berpakaian seperti itu.
Kukkuruyuuukkk kukkuruyuuukkk
Seperti biasa, Nadin memberikan ayam-ayamnya makan setiap pagi di hari minggu karena ia bisa melakukan itu saat ia libur sekolah. Setelah selesai, ia menuju dapur untuk sarapan bersama ibunya. Nadin yang duduk di meja makan mengocok sebuah kotak yang sudah dibungkus rapi oleh ibunya.
__ADS_1
“Bu, ini isinya apa ya ?” tanya Nadin seraya meletakkan kotak yang sudah dilakban itu.
“Itu barang yang akan ibu beri ke kenalan ibu, Nak,” jawab Damara masih sibuk membuat nasi goreng.
Ting tong ting tong
Seorang ART (asisten Rumah Tangga) di rumah Nyonya Naraya segera membuka pintu setelah mendengar bunyi bel yang dipencet berkali-kali. Ia pun menyerahkan kiriman paket yang baru ia terima dari pegawai jasa pengiriman barang kepada nyonya besarnya itu. Nyonya Naraya seketika mengerutkan alisnya saat mendapati kartu kredit beserta buku tabungan ada di dalam kotak itu.
Kamu benar-benar mengembalikannya Damara, batin nonya Naraya tersenyum sinis.
“Bu, ini kopinya,” ujar menantu nyonya Naraya yang bernama Lika Ardhiona.
“Iya, terima kasih,” sahut Nyonya Naraya kini memandang lekat-lekat wajah menantu kesayangannya yang masih tetap terlihat muda.
Mereka memang mirip sekali. aku tidak tahu apakah mereka akan saling mengakui sebagai ibu dan anak jika bertemu nanti, gumam Nyonya Naraya meletakkan kotak yang sejak tadi ia pegang.
Tidak lama kemudian, anak pertama Nyonya Naraya yang merupakan suami Lika menghampiri mereka berdua dengan berpakaian olahraga serba putih.
“Sudah mau berangkat, Mas ?” tanya Lika kepada Giandra Naraya yang merupakan suaminya.
“Iya, Ma,” jawab Giandra lalu berpamitan kepada ibunya juga. Lika kemudian mengekor untuk mengantar suaminya sampai di depan rumah.
“Hati-hati, Mas,” ujar Lika setelah ia berjinjit untuk memberikan kecupan tepat di bibir suaminya yang tipis.
“Iya, sayang,” sahut Giandra mencium kening istrinya kemudian meninggalkan kediamannya yang megah bak istana menuju lapangan golf.
Di sore hari yang cerah itu, Nadin mengayuh sepedanya menuju Taman Pelangi. Hari ini ia tidak bisa mengajak Damara karena ibunya itu sedang mempersiapkan banyak hal untuk tempat makannya yang akan dibuka mulai Senin besok. Kali ini, ia memilih untuk mengepang rambutnya supaya kejadian ikat rambutnya yang putus tidak terulang lagi.
Langkahnya yang sedang berlari seirama dengan langkah Saka yang juga sedang berlari di sampingnya. Sebelumnya, mereka bertemu di parkiran sepeda. Oleh sebab itu, mereka bisa berlari bersama seperti saat ini. Aidan yang datang sedikit lebih lambat dari mereka berdiri di pinggiran jalur area berlari untuk melakukan pemanasan. Namun, bukan tubuhnya saja yang melakukan pemanasan. Hatinya juga ikut memanas dan sedikit tidak nyaman ketika melihat Nadin sedang berlari bersama kakak kelas mereka itu. Ia pun langsung memasang wajah dingin kepada setiap gadis yang lewat di depannya.
“Aidan,” sapa Saka ketika ia melihat Aidan.
“Iya, Kak,” sahut Aidan memberikan sedikit senyum. Pandangannya lalu beralih kepada Nadin yang sampai saat ini juga tidak bisa mengenali dirinya sebagai Aidan yang pernah menjadi teman masa kecilnya.
Kenapa dia terlihat kesal ? batin Nadin yang saat ini berdiri di depan Aidan yang terlihat dingin kepadanya.
Astaga, apa dia kesal karena aku belum mengembalikan hoodienya ? pikir Nadin.
“Ayo Nadin” ajak Saka setelah ia selesai berbincang dengan Aidan. Nadin bahkan tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Mmm, Kak. Saya punya urusan untuk dibicarakan dengan Aidan. Kak Saka bisa duluan,” sahut Nadin. Ia sekilas bisa melihat raut kecewa dari wajah Saka saat ia menolak ajakannya. Berbeda dengan Aidan yang langsung tersenyum ketika ia menolak ajakan Saka.
“Aku minta maaf karena tidak bisa mengembalikan hoodiemu hari ini,” ujar Nadin setelah Saka pergi.
“Aku tidak mempermasalahkannya,” sahut Aidan masih melakukan pemanasan.
“Kalau begitu, aku duluan,” cetus Nadin yang mulai merasa gugup berdiri di depan Aidan.
“Kamu ingin berlari bersama kakak kelas itu ?” tanya Aidan mengerutkan alisnya.
“Mungkin,” jawab Nadin memeriksa keberadaan Saka.
Aidan akhirnya ikut berlari bersama Nadin dan Saka. Mereka terus berlari tanpa bicara apa-apa hingga membuat Nadin merasa canggung sendiri. Sesekali, ia menoleh ke arah Aidan dan Saka yang berlari di samping kiri kanannya. Ia melihat mereka berlari santai dengan kaki panjangnya masing-masing. Tapi, tidak dengan Nadin yang sudah kewalahan mengikuti langkah mereka.
Hah, hah, hah, kenapa aku seperti sedang lari sprint bersama mereka ? batin Nadin yang akhirnya memilih istirahat tanpa diketahui oleh dua orang dengan tubuh tinggi itu.
“Nadin,” panggil Aidan dan Saka secara serentak. Mereka berdua terkejut dan langsung melihat kebelakang begitu mereka tidak mendapati Nadin ada di samping masing-masing. Mereka berdua tersenyum ketika melihat Nadin sedang berselonjor di pinggiran area berlari itu.
__ADS_1