Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
13


__ADS_3

Nadin meletakkan kantong plastik yang sejak tadi ia bahwa lalu menelungkupkan wajahnya ke meja. Jantungnya berdegup kencang sampai membuat tangannya gemetar setelah bertemu dengan Ela. Ia seperti itu bukan karena takut padanya, ia hanya spontan mengingat apa yang telah Ami lakukan jika bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengannya. Nadin masih ingat betul bagaimana Ela ikut menertawakannya saat Ami menguncinya di rumah tua dan meninggalkannya sendiri di sana.


“Nadin, kamu kenapa ?” tanya Dira yang baru kembali dari kantin.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Nadin sambil menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja.


Sepulang sekolah, Nadin menuntun sepedanya dari parkiran dengan wajah lesu. Ia bahkan tidak menyadari kalau Aidan terus melihatnya saat ia lewat tepat di depan Aidan yang sedang berdiri di gerbang sekolah.


Apa yang sedang dia pikirkan sampai tidak melihat aku yang sebesar ini, gerutu Aidan karena tidak digubris oleh Nadin yang sedang melamun. Ia pun menyempatkan diri untuk memandangi Nadin yang semakin menjauh dari pandangannya sebelum ia masuk ke dalam mobil yang menjemputnya.


Sial, kenapa aku malah kesal dia tidak menghiraukanku ? batin Aidan yang terus melihat Nadin dari balik kaca mobilnya.


Kukkuruuuuyuukkkk


Suara ayam jantan di belakang rumah mengingatkan Nadin dengan suasana rumahnya di desa. Pagi ini, ia sarapan sembari membandingkan segala hal yang ada di desa dan kota tempat ia tinggal saat ini. Ia tiba-tiba merindukan suara burung di tengah-tengah suara klakson dan mesin kendaraan yang terkadang memekakkan telinganya. Ia juga merindukan perbukitan yang bisa ia lihat dari rumahnya. Sebenarnya, ia lebih tertarik melihat deretan perbukitan daripada deretan gedung-gedung bertingkat yang biasa ia lihat di ibu kota ini.


“Sayang, tadi malam ibu membyat keripik kentang untukmu,” ujar Damara meletakkan kotak makan berisi keripik kentang buatannya.


Nadin melepaskan sendoknya, raut wajahnya yang awalnya terlihat tenang tiba-tiba berubah menjadi kusut.


“Bu, mulai hari ini Nadin tidak akan makan kentang !” sahut Nadin menatap ibunya.


“Loh, kenapa tiba-tiba ? Bukannya Nadin suka kentang ?” Damara heran seraya duduk di samping Nadin.


“Apa ada yang memanggilmu kentang ?” tanya Damara yang sudah tahu dengan julukan Nadin.


“Tidak, Nadin hanya ingin menghindarinya,” sahut Nadin.


“Nadin, anak ibu. Kamu jangan berhenti memakan apa yang kamu sukai gara-gara omongan orang lain. Abaikan saja apa yang mereka katakan,” bujuk Damara.


“Iya, Bu.” Dira memasukkan kotak makan itu ke dalam tasnya. Ia tidak tega menyia-nyiakan makanan yang sudah dibuat ibunya.


Mata Nadin sempat mencuri pandang ke arah gerbang rumah Aidan yang tertutup rapat. Ia semakin lesu ketika membayangkan Aidan tidak lagi berangkat sekolah bersamanya. Gerakan kakinya yang mengayuh sepeda semakin melambat bersama pikirannya yang terus melayang.


“Kamu bisa terlambat kalau mengayuh sepeda dengan kaki kura-kuramu itu.”


Nadin langsung menoleh ke arah suara yang sangat familiar di indra pendengarannya itu. Jika ia seekor kelinci, pasti telinganya langsung berdiri saking senangnya melihat Aidan yang kini sedang mengendarai sepeda di sampingnya. Ia tidak bisa menahan senyum apalagi mengalihkan pandangannya dari Aidan.


“Apa kamu serindu itu bersepeda denganku sampai-sampai kamu tidak melihat ke depan ?!” goda Aidan.


“Siapa bilang aku merindukanmu !” balas Nadin kini kembali menghadap depan. Wajah dan telinganya terasa panas karena malu saat menyadari ia lagi-lagi tanpa sadar memandangi Aidan dalam waktu yang lama. Ia beberapa kali menepuk jidatnya karena menyesali perbuatannya. Sedangkan, Aidan hanya tersenyum melihat tingkahnya.


Kamu menyangkalnya ? Padahal kamu sampai menanyakanku pada Dira, batin Aidan setelah mendengar ucapan Nadin.


“Cepat ! Kali ini aku akan menang lagi,” ujar Aidan melajukan sepedanya.


“Hey ! Siapa yang mau balapan denganmu !” teriak Nadin yang didahului oleh Aidan. Namun, meskipun ia berkata seperti itu, ia tetap mengejar Aidan dengan sepedanya.


Nadin berusaha menambah laju sepedanya. Tapi, ia tidak juga bisa mendahului Aidan. Akhirnya ia memilih untuk mengikuti Aidan dari belakang sambil memandangi punggung Aidan yang biasa ia lihat saat Aidan sedang bersepeda di depannya seperti hari-hari sebelumnya. Nadin menghirup aroma parfum Aidan yang samar-samar sampai ke indra penciumannya.


Dia pakai parfum apa ya ? batin Nadin yang sesekali menarik nafas dalam-dalam supaya ia selalu menghirup aroma lemon yang berasal dari Aidan.


Sesampainya di sekolah, Nadin merapikan rambutnya yang agak berantakan setelah bersepeda. Ia pun mencoba melilit rambutnya supaya tidak menyangkut di sana sini seperti kemarin.


“Apa kamu tidak mau memotong rambutmu ?” tanya Aidan yang saat itu sedang memarkir sepedanya di samping sepeda Nadin.


“Kalau aku mau memotongnya, pasti rambutku tidak akan sepanjang ini sampai sekarang,” sahut Nadin mengenakan ransel hitamnya yang ia taruh di keranjang sepeda.


“Hah, kamu cukup mengatakan iya atau tidak, kenapa harus panjang begitu jawabannya,” timpal Aidan mengerutkan alisnya.


“Kenapa kamu yang sewot ?! Aku menjawab seperti itu supaya kamu berpikir lebih logis. Kamu pasti sudah tahu hanya dengan melihatku. Aku membiarkan rambutku panjang karena aku tidak mau memotongnya !” Cerosos Nadin sampai urat di keningnya terlihat menyembul.


Loh, kok ni cewek ngegas sih ? batin Aidan yang sempat melongo mengira dirinya sedang dimarahi.

__ADS_1


Aidan membuat senyum di bibir kanannya seraya menarik tangan Nadin. Kini mereka berdua bediri dengan jarak hanya dua langkah.


“Lihat ! Pangeran sekolah sedang bersama dengan Nadin,” ucap seorang siswi yang pernah satu kelompok dengan Nadin dan Aidan saat MOS.


“Kamu terlalu dekat !” bisik Nadin seraya mundur dan mencoba menarik tangannya. Namun, seperti biasa Aidan selalu menggenggam tangannya dengan erat hingga ia tidak mampu melepaskannya.


“Kamu pagi-pagi sudah ngegas, apa kamu sedang datang bulan ?” bisik Aidan masih tersenyum.


“Apa ?! Aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Jadi, lepaskan tanganku !” sahut Nadin sambil menginjak kaki kanan Aidan.


“Adududuh, iya iya aku lepasin.”


Nadin pergi meninggalkan Aidan yang masih meringis kesakitan. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menggosok lengan dan tengkuknya yang sempat meremang ketika hembusan udara yang keluar dari mulut Aidan menyentuh telinganya.


Tadi malam 🌒


Aidan merebahkan diri ke kasurnya yang besar dan empuk setelah ia kembali dari rumah orang tuanya. Mulai malam ini, ia akan tinggal lagi di rumah keduanya di mana hanya ia dan para asisten rumah tangganya yang ada di sana. Beberapa hari sebelumnya ia harus tinggal bersama orang tuanya karena sakit. Karena sudah sehat, ia pun kembali ke rumahnya yang biasa dilewati oleh Nadin itu.


Drrrtttt drrrtttt drrrrtttt


Aidan merogoh saku celana jeansnya untuk mengeluarkan ponsel yang sejak tadi bergetar dan menggelitik pahanya. Matanya yang sipit menangkap nama “Dira” yang tertera di layar ponselnya.


“Aku di bawah. Cepat turun.”


Tut tut tut


Mata Aidan menyipit karena heran dengan kebiasaan kakak sepupunya yang suka mematikan telepon seenaknya. Ponselnya pun melayang ke sisi ranjang bersama helaan nafasnya ketika beranjak dari tempat tidur untuk menemui anak dari kakak ibunya itu. Ia menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati sambil mengawasi Dira yang sedang duduk manis di ruang tamunya.


“Kenapa datang malam-malam begini ?” tanya Aidan duduk di depan Dira sambil menebak-nebak apa yang Dira inginkan.


“Mmm, aku punya PR Kimia yang tidak bisa aku kerjakan. Jadi, aku ingin kamu mengajariku,” tutur Dira mulai mengeluarkan beberapa buku dari ransel abunya.


“Apa aku tidak salah dengar ?” tanya Aidan sambil mengorek telinganya dengan telunjuk kiri.


“Kamu tidak salah dengar. Sekarang ayo cepat ajari aku ! Aku akan memberimu informasi mengenai Nadin yang tadi sore kamu tanyakan,” sahut Dira setelah menelan semua emosinya.


Aidan terperanjat karena tidak menyangka Dira akan secepat itu mendapat informasi mengenai Nadin yang selalu ia pikirkan semenjak pertama kali mereka bertemu.


“Ehem. Baiklah, soal mana yang tidak kamu pahami ?” tanya Aidan yang langsung tergiur dengan informasi itu.


“Semuanya,” jawab Dira yang kemudian duduk lesehan di lantai supaya ia bisa menulis di meja.


Aidan seketika memberikan tatapan tajam kepada Dira yang saat ini tersenyum lebar kepadanya.


Sabar Aidan, dia adalah kakak sepupumu. Lakukan dengan sabar demi informasi itu, batin Aidan.


Aidan dibuat emosi selama dua jam oleh Dira yang lama mencerna apa yang sudah ia ajarkan. Ia sampai meminta asisten rumah tangganya untuk membuat jus supaya kepalanya tetap dingin saat menghadapi Dira. Ia pun beberapa kali memejamkan mata, menghela nafas panjang, sampai menginggigit bibirnya sendiri supaya kata ‘bodoh’ tidak keluar dari mulutnya.


“Untung Kak Dira adalah kakakku, ya,” ujar Aidan tersenyum lega setelah soal kimia yang berjumlah lima butir selesai dalam waktu dua jam.


“Eh ? Tumben kamu manggil kakak, uwuuu. Manis sekali adikku,” sahut Dira tersenyum sembari memasukkan alat tulisnya.


Ya Tuhan. Dia tidak tahu kalau aku sedang menyindirnya, batin Aidan menggelengkan kepala.


“Jadi, informasi apa saja yang sudah kamu dapatkan ?” tanya Aidan setelah meneguk habis jusnya yang tersisa.


“Emm, dia sebenarnya dari desa Semilir, di-”


“Apa ?! De-Desa Semilir ?”


“Kamu mengagetkanku !” bentak Dira langsung menepuk bahu Aidan yang lebar.


“Maaf, aku hanya terkejut. Lanjutkan,” sahut Aidan berusaha menenangkan pikirannya yang bergejolak karena penasaran.

__ADS_1


“Jadi, Nadin dari Desa Semilir. Dia tinggal bersama ibunya yang bernama Damara, ayahnya meninggal karena kecelakaan tepat saat ia akan dilahirkan. Ia pindah ke sini saat masuk SMA. Dan yang menurutku paling menarik, dia sangat suka makan kentang. Aku sampai ingin memanggilnya kentang,” tutur Dira tersenyum.


Jadi… jadi benar, Nadin yang saat ini satu sekolah denganku adalah Nadin yang dulu menjadi teman masa kecilku. Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa langsung mengenalinya ? Aku hanya merasa sangat familiar saat pertama kali bertemu dengannya, batin Aidan yang yang kini bersandar di sisi sofa sambil terus menggosok pelipisnya dengan telunjuk.


Jantung Aidan berdegup kencang karena merasa sangat bahagia, ingin sekali rasanya ia pergi menemui Nadin dan langsung memeluknya untuk melepas semua kerinduannya selama ini. Namun, ia harus memendam semua keinginan itu setelah menyadari kalau ia tidak tahu di mana rumah Nadin.


“Aidan ? Aidan !” pangil Dira dengan suara keras setelah melihat adik sepupunya itu sedang melamun sambil tersenyum manis. Sama manisnya dengan senyum seorang idol KPop yang para fans Indonesia memanggilnya dengan sebutan ‘aguS’.


“Kenapa teriak sih ?” gerutu Aidan memegang telinganya.


“Kamu sih, ngelamun terus. Kesurupan baru tau rasa !” omel Dira.


“Apaan sih. Emm. Lalu, apa kamu tahu kenapa dia pindah ke sini ?”


“Haah, aku tidak tahu. Dia seperti tidak mau memberitahuku soal itu.”


“Ya sudah, aku pulang dulu. Lain kali aku akan ke sini lagi kalau ada PR Kimia,” tambah Dira kemudian bangkit dari duduknya.


“Kenapa tidak kamu kerjakan bersama Nadin ?” tanya Aidan sembari mengantar Dira ke depan rumah.


“Yah, aku akui dia memang pintar. Tapi, dia sendiri yang mengatakan kalau otaknya tidak berfungsi saat pelajaran Kimia,” jawab Dira.


Aidan spontan tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu.


“Apa kamu tahu apa saja yang dikerjakan Nadin selama di sekolah saat aku tidak masuk ?” tanya Aidan ingin tahu.


Dira mengerutkan alisnya, ia heran kenapa adiknya yang biasa terlihat dingin dan tidak peduli dengan wanita tiba-tiba menanyakan .


“Yaaaa, dia beraktivitas seperti biasa. Tapi, seingatku dia selalu terlihat uring-uringan begitu sampai di sekolah. Ah, hari Sabtu itu dia sempat menanyakanmu yang tidak masuk sekolah,” cerocos Dira lalu pergi meninggalkan Aidan.


Aidan membalas lambaian tangan Dira yang perlahan menjauh bersama mobil yang membawanya. Ia pun kembali ke kamar dan merebahkan diri ke kasur. Tak sampai lima menit, ia lalu menghampiri cermin besar yang berdiri di samping lemarinya kemudian menatap wajahnya yang selalu dipuja oleh para gadis di sekolahnya.


Kenapa dia bisa tidak mengenaliku ? Wajahku kan tidak berubah sama sekali, batin Aidan sambil terus menatap cermin.


Bibirnya pun lagi-lagi tersenyum manis tatkala menyadari Nadin telah menepati janjinya untuk memanjangkan rambut. Aidan mengakui bahwa Nadin terlihat mempesona dan feminim dengan rambut panjangnya itu. Ia pun mulai memikirkan bagaimana harus menghadapi Nadin jika besok mereka bertemu.


Besok aku akan bersepeda saat berangkat ke sekolah, gumam Aidan bersemangat. Ia kembali ke tempat tidurnya dan menerawang ke langit-langit kamarnya.


Aku lebih baik tidak memberitahunya mengenai siapa aku sebenarnya, aku ingin menghukumnya karena dia bisa-bisanya tidak mengenaliku, batin Aidan tersenyum nakal.


***


Teeeetttt teeeetttt teeeetttt


Sampai bel keluar main berbunyi, Nadin terus memberikan tatapan menyelidik ke arah Dira semenjak mereka bertemu pagi tadi, Dira sampai merasa tidak nyaman karena hal itu.


“Ok, sekarang kamu katakan aku salah apa sampai kamu terus melotot ke arahku ?” tanya Dira begitu mereka sampai di kantin.


Nadin menghela nafas panjang sambil melipat tangannya di dada.


“Apa kamu memberitahu Aidan kalau aku pernah menanyakan dia yang tidak masuk sekolah ?”


Dira memutar bola matanya untuk mencari alasan. Namun, ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin berbohong kepada Nadin.


“Hehe, iya. Maaf, tadi malam aku terpaksa menjualmu pada Aidan supaya dia mau mengajariku PR Kimia yang tidak bisa kita kerjakan itu,” jawab Dira sambil terkekeh.


“Haa ?! Kamu menjualku ?!” pekik Nadin dengan mata terbuka lebar.


“Tidak, tidak ! Ma-maksudku, aku menjual informasi tentangmu,” timpal Dira segera menutup mulut Nadin.


Nadin segera menyingkirkan tangan Dira dari mulutnya.


“Hah, ya sudah. Aku memaafkanmu karena kamu melakukan hal yang tepat. Tapi, kamu harus mengajariku bagaimana menjawab soal Kimia itu,” pinta Nadin.

__ADS_1


“Pasti doong,” sahut Dira lalu merangkul Nadin untuk mencari pengisi perut mereka.


__ADS_2