Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
8


__ADS_3

Semua peserta MOS yang ada di kelompok merah menghela nafas lega ketika waktu istirahat tiba. Sebelumnya, mereka terlihat begitu tertekan mendengar para OSIS yang berpura-pura galak dan sedikit-dikit marah. Namun, keadaan itu tidak berlaku pada Aidan yang hanya duduk dengan ekspresi datar dan tidak peduli dengan apa yang OSIS itu katakan.


Haaah, aku tidak suka melihat orang marah-marah, batin Nadin yang kemudian menidurkan kepalanya di meja.


“Nadin, kita ke kantin yuk,” ajak Dira yang sejak pertama duduk bersamanya.


“Maaf, aku sudah membawa air minum.” Sahut Nadin seraya kembali ke posisi duduk.


Dira pun melenggang menuju kantin setelah mendengar jawaban Dira. Setelah Dira menghilang di balik pintu, Nadin kembali menidurkan kepalanya ke meja. Namun, ia terkesiap ketika melihat hanya dia dan Aidan yang saat ini berada di kelas.


Aku perlu berbicara dengan anak itu, gumam Aidan beranjak dari tempat duduknya hendak menghampiri Nadin.


Astaga ! Dia berdiri. Aku harus kabur, pikir Nadin dengan mata yang terbuka lebar saat ia melihat Aidan sedang berjalan dan terus melihat ke arahnya.


Aidan terkejut begitu melihat Nadin tiba-tiba bangun dari tempat duduknya.


Buugghhh


“Aduuuh,” lirih Nadin meremas tulang pinggangnya yang menabrak sisi meja. Ia pun segera berlari meninggalkan kelas sebelum Aidan sampai ke tempatnya.


Kenapa dia malah kabur ? gumam Aidan mematung di tengah kelas karena sudah ditinggalkan oleh Nadin.


Nadin mempercepat langkahnya sembari sesekali menoleh ke belakang karena khawatir Aidan mengikutinya. Ia pun menghentikan langkahnya pada anak tangga yang saat ini ia tapaki.


Kenapa aku malah kabur ? Dia mungkin mau keluar kelas dan kebetulan saja dia melihat ke arahku. Kenapa aku malah jadi kepedean ? pikir Nadin menyadari tingkahnya.


Sudahlah, biarkan saja. Mungkin saja dia mau membuat perhitungan denganku. Jadi, tidak ada salahnya menghindar duluan. Lagipula, waktu itu aku tidak sengaja melihatnya. Nadin melanjutkan langkah buru-burunya setelah beberapa saat ia bergelut dengan pikirannya.


Bruukkk


Nadin menghempaskan diri ke ranjang empuk yang baru ia tempati selama sebulan sejak kepindahannya. Ia beberapa kali mengela nafas panjang untuk membuang semua kelelahannya setelah mengayuh sepeda di bawah terik sinar matahari. Kegiatan MOS di sekolahnya itu benar-benar menambah kelelahan pikiran dan tubuhnya. Ia berguling di atas kasur sembari memutar otaknya untuk memikirkan benda-benda dengan nama aneh yang akan di bawa ke sekolah untuk kegiatan MOS selanjutnya.


Tok tok tok


“Nadin anak ibu, ayo makan dulu,” panggil Damara dari balik pintu Nadin yang tertutup.


Nadin tersenyum simpul mendengar cara memanggil ibunya itu.


Padahal sudah jelas aku adalah anaknya. Tapi, kenapa ibu senang sekali menyertakan ‘anak ibu’ saat memanggil namaku ? pikir Nadin seraya berjalan menuju pintunya.


“Nanti lanjutkan istirahatnya, Nak. Sekarang makan dulu.” Ujar Damara lalu menuju dapur yang diikuti Nadin dari belakangnya.


“Gimana kegitan MOS hari ini ?” tanya Damara sembari membuka kepangan Nadin kemudian menggelungnya dengan rapi.


“Nadin tidak suka, Bu. Kakak OSIS itu ada yang suka marah-marah,” sahut Nadin yang akan memulai kegiatan makannya.


“Ya sudah, sekarang makan dulu. Setelah itu, baru kita bicara lagi.” Damara dan Nadin kemudian makan siang bersama tanpa berbicara apapun karena Damara sudah membiasakan anaknya itu untuk tidak berbicara saat sedang makan.


Di saat yang sama, Aidan sudah menemukan ibunya sedang menunggu di taman depan rumahnya. Ibunya yang seorang keturunan Korea bernama Kim Aile itu menghela nafas ketika melihat dirinya sedang berjalan mendekat dengan wajah memerah karena terpapar sinar matahari di siang bolong.


“Buka pintunya,” titah Aile seraya beranjak dari tempat duduknya dan menuju rumah besar yang baru kemarin dihuni seorang diri oleh anak semata wayangnya.


“Bukankah mama punya kunci cadangan ? Kenapa malah menuggu di luar ?” tanya Aidan yang berjalan di samping ibunya sambil menenteng kotak makan bersusun yang tadi dibawa oleh ibunya.


“Untuk apa mama punya anak ?” tanya Aile tanpa menoleh ke arah Aidan.


“Iya, iya. Aku akan membuka pintu untuk mama,” timpal Aidan yang menyadari ibunya masih kesal dengan keputusannya untuk tinggal sendiri.


Setelah berganti pakaian, Aidan turun ke ruang makan dan mendapati ibunya sedang menyiapkan makanan untuknya.


“Mama nggak makan ?” tanya Aidan yang tidak melihat piring di depan ibunya.


“Mama sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan,” sahut Aile duduk manis di depan Aidan.


Tanpa banyak bicara, Aidan mulai menyantap makanannya. Setelah tiga suap, ia pindah ke kursi yang ada di samping ibunya.

__ADS_1


“Ayo makan, Ma,” ujar Aidan hendak menyuapi Aile.


Awalnya Aile ingin menolak. Namun, hatinya luluh ketika melihat senyum manis yang diciptakan oleh bibir mungil malaikat kecilnya yang kini sudah remaja. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan Aidan. Ia memang sudah merasa sangat lapar karena tidak makan sejak tadi malam. Ia tidak berselera makan semenjak Aidan tidak tinggal bersamanya.


“Nih, mama sekarang makan sama aku,” ujar Aidan sembari meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk untuk ibunya.


Setelah selesai makan, Aile mulai bertanya dengan kegiatan Aidan sejak pertama kali sampai ke rumah yang saat ini ia tempati. Tidak lupa ia menanyakan kegiatan yang dijalani oleh anak kesayangannya itu di sekolah.


“Mama, aku mau mengerjakan semuanya sendiri. Kenapa mama malah mau membawa asisten rumah tangga ke sini ?” protes Aidan yang tidak setuju dengan keinginan ibunya.


“Mama tidak bisa membiarkan kamu mengerjakan semuanya sendiri, kamu kan harus fokus belajar. Selain itu, apa kamu sudah bisa masak ? Sudah bisa mencuci ? Sudah biasa membersihkan dan membereskan rumah ?” balas Aile mengeluarkan semua kekhawatirannya terhadap Aidan.


Aidan hanya diam, ia menyadari kalau ia memang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah yang selalu dikerjakan oleh para asisten rumah tangganya itu.


“Aidan akan membiasakan diri,” ujar Aidan memecah keheningan yang berlangsung selama beberapa saat.


Aile menghela nafas panjang melihat Aidan yang terkadang keras kepala seperti ayahnya.


“Begini saja, kamu hanya punya dua pilihan. Kamu akan tinggal bersama tiga orang yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau kamu tidak mau, kamu harus kembali ke rumah,” jelas Aile dengan wajah yang serius.


“Aidan akan tinggal bersama tiga orang itu,” sahut Aidan tanpa ragu.


“Apa kamu sudah tidak suka tinggal dengan mama ? Kamu bahkan lebih memilih tinggal bersama mereka,” rengek Aile yang masih tidak percaya dengan keputusan anaknya.


“Aidan kan sudah jelasin ke mama. Aidan hanya ingin mencoba tinggal sendiri,” tegas Aidan yang memang ingin lepas dari perlakuan manja yang selalu diberikan padanya.


“Atau bagaimana kalau kamu tinggal di sini dengan mama ?” usul ibunya dengan wajah sumringah.


“Bagaimana dengan papa ?” tanya Aidan menoleh ke arah ibunya.


“Papamu bisa tinggal sendiri, dia kan sudah besar,” sahut Aile memegang tangan Aidan.


Aidan langsung menggelengkan kepalanya untuk menolak tawaran ibunya.


Sinar matahari yang panasnya mulai melemah di sore hari mengiringi Nadin mengayuh sepeda hitamnya menuju sebuah toko. Ia masih saja merasa asing dengan jalan raya yang saat ini ia lalui, pahadal ia sudah beberapa kali melewatinya ketika pergi berbelanja atau ke sekolah.


“Aku memang benar-benar anak kampung yang kampungan,” lirih Nadin seraya mengeluarkan ponselnya yang memiliki catatan mengenai barang-barang yang akan ia beli.



Spidol pria salju \= Spidol snowman


Permen kurang ajar \= Permen Bronson bentuk kaki


Air non-blok \= Air minum netral


Permen apelibe ungu



Kenapa mereka harus menggunakan teka-teki untuk menyebut barang ini ? gumam Nadin yang sempat kesal karena sebelumnya ia bingung memikirkan barang-barang yang belum ia ketahui namanya itu. Untung saja ibunya membantunya untuk berpikir.


Nadin mulai gelisah ketika ia tidak menemukan permen apelibe ungu. Ia beberapa kali menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan bayangan buruk kalau ia sampai dimarahi oleh kakak OSIS galak jika dirinya tidak membawa barang yang sudah ditentukan. Ia terus berjalan mengitari rak di bagian makanan dan minuman sampai ia tidak sengaja menabrak seseorang karena terus fokus ke arah sana.


“Maaf,” ucap Nadin secara bersamaan dengan orang yang ia tabrak itu.


“Loh, Nadin ?” sapa Dira yang baru sadar bahwa Nadin yang menabraknya.


“Dira,” Nadin balas menyapa.


“Waaah kebetulan sekali kita ketemu di sini. Kamu lagi nyari barang untuk MOS besok ya ?” tanya Dira yang menengok ke arah keranjang belanja Nadin.


“Iya,” sahut Nadin tanpa bertanya balik kepada Dira mengenai keperluannya datang ke tempat yang sama dengannya.


“Sama dong,” timpal Dira seraya tersenyum.

__ADS_1


Nadin hanya mengangguk dan hendak meninggalkan Dira. Namun, Dira dengan cekatan menarik tangannya.


“Apa kamu sudah menemukan permen kaki ?” tanya Dira yang saat ini belum menemukan permen itu.


“Sudah,” jawab Nadin yang disertai anggukan kepalanya.


“Aah, syukurlah. Barang apa yang belum kamu dapat ?” tanya Dira penuh harap.


“Aku belum dapat permen apelibe ungu,” sahut Nadin menoleh keranjangnya.


“Bagaimana kalau kita tukeran ? Kamu beri aku permen kaki dan aku akan memberimu permen apelibe ungu. Bagaimana ?” Mata Dira terlihat berbinar saat menawarkan kesempatan menukar barang itu.


Tukeran permen bukan berarti berteman kan ? Kalau aku tidak melakukan ini, besok aku bisa dimarahi oleh OSIS galak itu, pikir Nadin.


“Gimana ?” tanya Dira membuyarkan pikiran Nadin.


“Ya, boleh. Tapi, kita harus bayar dulu.” Sahut Nadin.


“Kalau begitu ayo kita bayar,” ajak Dira merangkul tangan Nadin tanpa ragu.


“Eh,” Nadin terkejut dengan perlakuan Dira. Ia tidak nyaman Dira bersikap seperti itu padanya, ia takut kalau nanti Dira lama-lama akan membullynya seperti teman-temannya dulu. Oleh sebab itu, ia tidak ingin dekat dengan siapapun.


Nadin menoleh ke belakang ketika merasakan kakinya disenggol oleh sesuatu yang keras.


Keranjang ya, gumam Nadin ketika mengetahui sebuah keranjang belanjaan yang mengenai kakinya. Ia pun ingin melihat siapa pemilik keranjang itu. Jantungnya seperti akan copot ketika mendapati Aidan sedang berdiri tepat di belakangnya sambil melihatnya.


Astaga, sejak kapan dia berdiri di belakang ? Aku harus cepat kabur, gumam Nadin kemudian langsung membayar ke kasir. Ia lalu menghampiri Dira yang masih menunggunya di depan pintu masuk.


“Sebentar ya, aku nunggu belanjaanku dibayar dulu,” ujar Dira setelah Nadin sampai di depannya.


Dira melambaikan tangannya ke arah seseorang yang sedang membawakan belanjaannya. Lagi-lagi Nadin terkejut ketika mengetahui orang yang dilambaikan Dira adalah Aidan.


Kenapa selalu ketemu dia sih, memalukan sekali, batin Nadin yang heran dengan kebetulan yang terus menghampirinya.


“Nadin, ini sepupuku namanya Aidan. Kamu pasti sudah mengenalnya, tadi kamu juga barengan kenalan di kelas,” tutur Dira memperkenalkan Aidan kepada Nadin tanpa tahu apa yang sudah terjadi antara mereka berdua.


“Iya,” sahut Nadin tersenyum kaku. Ingin sekali dia segera pergi dari tempat itu setelah menoleh ke arah Aidan yang sedang menatapnya dengan ekspresi dingin.


Mereka pun menukar permen masing-masing. Merasa urusannya telah selesai, Nadin segera meninggalkan Aidan dan Dira yang masih menatap kepergiannya.


“Oh, dia ke sini pakai sepeda ya,” ujar Dira yang melihat Nadin mulai mengayuh sepedanya.


Aidan tidak menanggapi perkataan Dira dan hanya melenggang menuju mobil meninggalkan Dira.


“Kenapa kamu duluan sih, aku kan mau lihat Nadin memakai sepeda,” gerutu Dira saat masuk ke mobil.


“Apa kamu pikir kamu akan bisa mengendarai sepeda hanya dengan melihat orang bersepeda ?” ejek Aidan yang tahu sepupunya itu tidak bisa bersepeda.


“Tentu saja aku akan belajar,” timpal Dira kesal.


Aidan hanya diam tidak mau berdebat dengan Dira. Pikirannya pun melayang ketika mengingat bagaimana ia mengajari Nadin bersepeda. Memorinya memang sering memutar kebersamaanya dengan Nadin di masa lalu. Ia sering tiba-tiba tersenyum atau merasa sedih saat ia mengingat bagaimana tingkah lucu Nadin dan mengingat bagaimana Nadin dikerjai oleh teman-temannya. Ia terkadang berpikir kalau Nadin adalah anak perempuan yang menyedihkan setiap kali ia mengingat suara tangisan Nadin yang selalu terdengar pilu.


Nadin, sebenarnya kamu di mana sekarang ? gumam Aidan yang sempat kecewa saat ia tidak menemukan Nadin di rumahnya ketika ia mengunjunginya baru-baru ini. Ia sudah bertanya ke orang-orang yang rumahnya tidak jauh dari rumah Nadin. Dia hanya mendapat informasi kalau Nadin sudah pindah rumah. Namun, mereka tidak tahu ke mana Nadin dan ibunya pindah. Ia pun tidak bisa menghubungi ponsel Damara, sebab ponsel milik ibu Nadin itu hilang saat pindah ke ibu kota.


“Ibu, Nadin pulang,” ujar Nadin saat menemukan ibunya di kamar sedang membersihkan potret pernikahan dirinya bersama sang suami yang selama ini dipanggil ayah oleh Nadin.


“Iya, sayang. Sini,” sahut Damara meletakkan fotonya di meja dekat tempat tidurnya.


“Bu, apa bingkai foto ini terbuat dari emas ?” tanya Nadin yang selalu penasaran dengan bingkai foto orang tuanya yang terlihat tidak biasa.


“Iya, Nak,” jawab Damara tersenyum.


“Hah ? Ini kan cuma bingkai, Bu. Kenapa harus pakai emas ?” tanya Nadin yang langsung terkejut.


“Ayahmu pernah mengatakan kalau sesuatu yang berharga pantas mendapat tempat yang berharga juga. Oleh sebab itu, dia memakaikan bingkai emas pada foto ini,” jelas Damara.

__ADS_1


“Waaah. Ayah memang luar biasa,” puji Nadin yang merasa kagum.


“Ayahmu memang luar biasa, Nak.” Sahut Damara yang kembali ingat bagaimana suaminya itu berkorban agar mereka bisa menikah.


__ADS_2