Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
19


__ADS_3

“Aidan, aku pinjam paket bahasa Inggrismu. Aku lupa membawa punyaku,” kata Dira yang baru saja lari sprint dari kelasnya menuju kelas Aidan.


Aidan mengeluarkan bukunya dari dalam tas dan memberikannya pada Dira tanpa komentar apa pun. Ia sudah tidak bisa membedakan apakah kakaknya itu benar-benar lupa membawa buku atau hanya sekedar modus supaya bisa melihat Rudi yang selalu duduk sebangku dengannya.


“Mana Nadin ?” Aidan menyorot ke pintu kelas karena tidak melihat dia datang bersama Dira.


“Dia sakit. Jadi, dia tidak masuk sekolah. Kenapa kamu menanyakannya ?” selidik Dira.


“Bukan apa-apa. Tumben saja kamu tidak bersamanya, makanya aku bertanya.”


“Oh. Kalau begitu aku balik ke kelas dulu, bye Rudi.” Dira melambaikan tangannya pada Rudi sembari tersenyum meninggalkan kelas.


Seketika Aidan dan Rudi mengerutkan alisnya karena heran mendengar ucapan Dira.


“Bukankah Dira seharusnya mengucapkan bye untukmu ?” tanya Rudi terkejut.


“Entahlah, rasa suka membuat otaknya terbalik,” sahut Aidan lalu bersandar di kursinya.


But but but but but but


Nadin menutup seluruh tubuhnya dengan selimut begitu kentutnya yang tidak tahu malu keluar begitu saja. Hari ini dia sampai tidak masuk sekolah karena perutnya bertambah sakit dari sebelumnya. Selain itu, bunyi mengganggu itu selalu keluar sejak kemarin ia datang bulan. Itu lah yang membuatnya enggan untuk masuk sekolah.


Suara gemuruh dari dalam perut Nadin memberi isyarat supaya ia segera makan siang. Dengan malas, Nadin turun dari ranjangnya dan harus merasakan keramik yang dingin di telapak kakinya yang tidak beralas. Ia tidak berniat untuk menyisir rambutnya yang masih berantakan atau membersihkan wajahnya yang mulai berminyak, saat ini ia hanya ingin makan dan kembali tidur. Nadin tidak tahu kenapa ia merasa malas melakukan apa-apa.


“Anak ibu sudah bangun, ya,” ujar Damara yang baru kembali dari belakang rumah untuk mengurus warungnya.


“Iya, Bu. Ayo makan sama-sama,” ajak Nadin duduk di depan meja setelah ia mengambil air hangat yang sudah disediakan ibunya.


“Iya. Sini, rapikan dulu rambutmu, Nak.” Damara menggelung rambut Nadin yang tidak menyentuh sisir sejak kemarin.


“Apa perut Nadin masih sakit ?” tanya Damara sembari mengambil nasi dan lauk yang sudah tertata rapi di meja makan.


“Sudah berhenti, Bu.” Nadin terpaksa berbohong karena tidak mau ibunya khawatir.


Teeeeetttt teeeeettttt teeeetttttt


Dira dengan wajah uring-uringannya keluar dari kelas begitu waktu pulang sekolah sudah tiba. Ia bosan karena temannya tidak masuk sekolah. Jadi, hari ini ia harus menghabiskan waktunya bersama siswi lain di kelasnya. Langkahnya terhenti ketika ia tidak sengaja menabrak Saka yang ada di depannya.


“Maaf, Kak. Tadi saya menunduk, makanya tidak melihat kakak di depan,” jelas Dira.


“Tidak apa-apa. Nadin mana ya ? Hari ini saya tidak melihatnya,” tanya Saka yang sedang membawa sebuah buku di tangan kanannya.


“Nadin sakit. Jadi, tidak masuk sekolah,” jawab Dira yang sempat heran karena temannya ditanyakan oleh kakak kelas.


“Mmm, begitu. Ya sudah, terima kasih.” Saka berlalu sambil membawa buku Nadin yang kemarin tertinggal di kafe dan hendak ia kembalikan.


Di cuaca yang panas ini, Aidan harus menemani Dira menunggu jemputannya yang katanya akan datang sedikit terlambat. Kendaraan yang berlalu lalang di depan sekolah itu membuat ia sedikit pusing dan memilih untuk melihat sepupunya yang sejak tadi cekikikan melihat layar ponselnya.


📱📞Dira :


“Waaah, akhirnya kamu mau diajak video call juga,” cetus Dira terlihat girang melihat layar ponselnya sebab ia saat ini sedang berbicara dengan Nadin.


📱📞Nadin :


“Kamu sih, pakai acara mengancam tidak mau memberitahu hari ini ada tugas atau tidak,” protes Nadin pura-pura terlihat kesal.


Rasa suntuk Aidan langsung menghilang begitu ia mendengar suara Nadin. Ia mulai melirik ponsel Dira, berharap ia bisa melihat wajah gadis itu saat sedang berada di rumah. Ini pertama kalinya ia mendengar suara Nadin berbicara lewat ponsel. Ia pun tersenyum karena menganggap suara Nadin terdengar lucu dan menarik.


📱📞Dira :


“Hari Senin kamu masuk atau tidak ?”

__ADS_1


📱📞Nadin :


“Masuk lah. Eh, kamu nunggu jemputan sama siapa ? Sendirian ?”


📱📞Dira :


“Aku ada temen kok, nih aku sama Aidan.”


Dira langsung merangkul pundak Aidan dan memperlihatkan wajah Aidan pada Nadin.


Nadin spontan melempar ponselnya begitu Aidan melihat penampilannya yang berantakan.


Apa tadi dia melihat rambutku yang kusut dan wajahku yang berminyak ? Astaga, bagaimana ini ? Kalau aku tahu Dira sedang bersama Aidan, aku pasti akan merapikan diri sebelum video call dengannya, batin Nadin sembari tergesa-gesa menyisir rambutnya dan mengelap wajahnya dengan baju yang saat ini ia kenakan.


📱📞Dira :


“Ya ampun, Nadin ! Aku pikir kamu kenapa-kenapa saat Aidan memberitahuku kamu seperti melempar hpmu,” cerocos Dira begitu Nadin menampakkan wajahnya di layar ponsel.


📱📞Nadin :


“Maaf. Tadi ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”


📱📞Dira :


“Mengerjakan apa ? Eh ?!”-Dira tiba-tiba semakin mendekatkan ponselnya ke wajahnya-“apa kamu sudah menyisir rambutmu ?!” Dira terkejut ketika menyadari rambut Nadin yang awalnya seperti rambut singa kini sudah terlihat rapi.


📱📞Nadin :


“Emm, iya. Aku hanya sedikit merapikannya.” Nadin dengan rasa malu-malu terlihat menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.


Aidan menyunggingkan senyum menyaksikan tingkah Nadin yang seperti itu. Sedangkan, Nadin tidak tahu kalau dirinya sedang diamati oleh Aidan.


Setelah selesai berbicara dengan Dira, Nadin pergi ke samping rumahnya untuk melihat cuciannya. Sambil bersenandung kecil, Nadin meraba-raba jaket Aidan untuk mengetahui apakah baju itu sudah kering atau tidak. Ia kemudian memenuhi paru-parunya dengan aroma pewangi yang ia tumpahkan pada baju itu saat kemarin ia mencucinya.


“Addoh !” Nadin menghentikan keanehannya ketika sebuah batu menyandung kakinya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan ibunya.


Huh, untung saja ibu tidak melihatku. Tadi aku ngapain sih ?! batin Nadin kemudian masuk ke kamarnya.


Drrrtttt drrrttt drrrttt


Aidan memeriksa ponselnya yang baru saja berhenti bergetar di atas kasurnya. Dia yang baru saja selesai mandi di malam hari ini duduk di ranjangnya untuk memerika pesan masuk dari ibunya.


📩Mama :


Besok mama ke sana dengan papamu.


📨-_- :


Iya, Ma. Hati-hati.


Ponsel itu kembali diletakkan Aidan ketika ia beranjak menuju lemari yang khusus menyimpan piyamanya. Tangannya mengambil sebuah pakaian tidur berwarna abu terang. Ia jadi ingin mengenakannya karena teringat dengan warna baju dan rok yang dikenakan Nadin waktu itu. Ia lalu merebahkan diri di kasur, matanya perlahan ingin terpejam ketika jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 23:00. Malam ini ia merasa sangat lelah setelah tadi sore ia berlari mengitari halaman rumahnya.


Sekarang dia sedang apa ya? Apa dia baik-baik saja ? Apa dia sudah ke rumah sakit untuk melakukan transfusi darah ? batin Aidan ketika ia mengingat kembali noda darah yang begitu banyak pada rok Nadin.


Aidan dengan perlahan meraba letak guling yang tadi ia peluk sebelum tidur. Alisnya berkerut ketika tangannya memegang sesuatu yang empuk dan lembut. Karena senang dengan teksturnya, ia meremas benda itu dengan perlahan. Ia pun terkejut ketika mata sipitnya terbuka dan menemukan Nadin sedang berbaring menghadap dirinya. Ia segera menyingkirkan tangannya setelah menyadari kalau tangannya itu ternyata sedang memegang bagian tubuh Nadin yang terlihat menonjol setelah ia besar.


Remaja yang baru menginjak usia lima belas tahun itu tak bisa menahan diri untuk menyentuh bibir Nadin yang saat ini sedang tersenyum manis padanya. Ia bisa merasakan bibir ranum gadis itu menyambut bibirnya yang lembut.


Eengghhh…. Aidan melenguh ketika Merasakan rasa yang tidak biasa dari adik kecilnya yang sedang bermain di bawah tubuh gadis ceroboh itu yang tiba-tiba sudah ia tindih.


“Aidan.”

__ADS_1


Aidan tersenyum melihat bibir Nadin bergerak merangkai namanya.


“Sayang. Bangun, Nak.”


Eh ? Aku kan bukan anakmu. Kenapa kamu memanggilku seperti itu ? pikir Aidan masih menguasai Nadin di bawahnya.


“Nak.” Aidan seketika membuka matanya ketika satu tepukan halus membangunkan ia dari mimpi itu.


“Hah hah hah,” Nafas Aidan masih terengah-engah ketika ia baru membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke sisi kiri ranjang di mana Nadin berada.


Di mana Nadin ? Bukannya tadi dia sedang bersamaku ? batin Aidan belum sepenuhnya sadar dari mimpinya.


“Aidan,” panggil Aile yang sejak tadi membangunkannya.


Aidan berbalik ke kanan dan menemukan ibunya sedang duduk di sisi ranjangnya. Ia bangun dengan perlahan sambil mengucek matanya yang masih terasa berat.


“Ini pukul berapa, Ma ?” tanya Aidan yang memejamkan matanya ketika ibunya menyibak tirai kamarnya.


“Sudah pukul tujuh, cepat bangun dan sarapan.” Aile menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh Aidan dan mendapati celana panjang yang sedang dikenakan anaknya itu basah.


“Nak, kamu sebesar ini masih mengompol juga ?” tanya Aile seraya mengerutkan dahi dan keningnya.


“Eh ?!”-Aidan melihat celananya-“En-enggak kok, Ma. Aku nggak ngompol ! nggak bau ompol juga,” jawab Aidan tidak mencium bau pesing tetapi ia malah menghirup aroma yang aneh.


Aile tersenyum karena merasa bisa menebak apa yang terjadi dengan anaknya itu.


“Anak mama sudah besar rupanya. Sekarang kamu mandi yang bersih dan ganti semua pakaianmu. Papa akan ke sini untuk memanggilmu kalau sarapannya sudah siap,” jelas Aile lalu mencium kening Aidan dan keluar dari kamarnya.


Itu mimpi ya ? Tapi kenapa rasanya nyata sekali, batin Aidan masih terpaku di tempat tidurnya. Ia pun menggosok wajahnya dengan kasar ketika bayangan mimpinya bersama Nadin muncul kembali dan membuatnya merasa malu.


Iiiih ! Apa ini ? Lengket sekali, gumam Aidan saat melepas pakaian dalamnya dan merasakan sesuatu yang lengket di sana.


Menjelang malam, Aidan terpaku di balkon rumahnya sambil memandangi bulan yang berbentuk bulan sabit. Penjelasan ayahnya mengenai mimpinya itu masih saja terngiang di kepalanya. Ia baru tahu kalau mimpi yang seperti itu namanya mimpi basah. Tadi pagi, ayahnya langsung ke kamarnya begitu ibunyanya memberitahukan kalau ia mengalami mimpi basah. Ibunya langsung tahu kalau dia mendapat mimpi itu setelah dia mengaku kalau dia tidak mengompol.


Tidak puas dengan penjelasan ayahnya, Aidan berselancar di dunia gugel untuk mencari penjelasan mengenai mimpi yang membuatnya malu itu. Setelah sepenuhnya mengerti, ia tidak mengizinkan ARTnya untuk mencuci seprai, sarung, bantal, dan semua pakaian yang ia kenakan saat tidur tadi malam. Ia memilih untuk mencuci semuanya sendiri. Para ARTnya pun terhera-heran melihat tuan mudanya yang tiba-tiba bertingkah aneh. Aidan membiarkan mereka bingung dan tidak mau memberikan penjelasan apapun karena ia tidak mau mereka mencuci sesuatu yang keluar dari tubuhnya itu.


Keesokan harinya, ia berangkat sekolah seperti biasa. Tadi malam ia tidak memimpikan hal yang sama seperti malam sebelumnya sehingga ia tidak perlu mencuci pakaiannya sendiri. Ia berjalan santai bersama Rudi menuju lapangan upacara. Tapi, Nadin yang sedang berjalan ke arahnya dan terlihat seperti akan menghampirinya membuat ia berbalik arah dan menuju toilet. Sedangkan, Nadin hanya diam terpaku ketika Aidan segera pergi begitu melihatnya.


Sial ! Kenapa aku jadi malu bertemu dengannya ? Aidan merutuk dirinya yang bersikap seperti itu pada Nadin.


Sebenarnya, Aidan menghindar bukan tanpa alasan. Ia melakukannya karena spontan mengingat mimpi panasnya bersama Nadin di malam itu.


Papanya pernah berpesan kalau dia tidak perlu merasa malu karena sudah mendapatkan mimpi itu karena itu adalah hal yang wajar. Namun, ia tetap saja merasa malu saat bertemu dengan Nadin.


Kenapa Aidan terus menghindar kalau bertemu denganku ? Memangnya aku sudah melakukan kesalahan apa padanya ? Apa dia menyesal sudah meminjamiku jaketnya ? Atau, jangan-jangan dia tidak suka melihatku setelah dia video call denganku ? Waktu itu kan penampilanku kacau sekali, keluh Nadin sambil menggosok-gosok rambutnya dengan ujung pensilnya yang tumpul. Ia tidak paham dengan Aidan yang terus kabur darinya selama tiga hari ini.


Apa ini yang dia rasakan saat aku menghindarinya ? Dia bahkan bertanya alasanku melakukan itu ? Sepertinya aku juga harus menayakan alasannya. Kalau tidak, kapan aku bisa mengembalikan jaketnya ? dumel Nadin mulai mencari cara untuk berbicara dengan Aidan.


Sepulang sekolah Nadin sudah berada di parkiran sepeda, tepatnya ia saat ini sedang berdiri di samping sepeda Aidan. Ia berpikir kalau Aidan tidak akan bisa mengelak darinya jika ia melakukan ini. Sementara itu, Aidan mengurungkan niatnya masuk ke parkiran saat ia melihat Nadin sedang menunggui sepedanya. Ia berniat untuk menelpon supirnya supaya dijemput tetapi ia khawatir Nadin akan terus menunggunya di sana.


“Bukannya sepedamu ada di bawah pohon itu ?” ucap Aidan membuyarkan lamunan Nadin yang sedang berdiri membelakanginya.


“Hah, akhirnya kamu datang. Kamu kenapa selalu pergi setiap melihatku ? Apa kamu ingin balas dendam ? Kalau benar begitu, beritahu aku apa alasanmu ? Aku jadi bingung dengan sikapmu,” cerocos Nadin yang tidak menyadari Aidan sedang mengamati dirinya dari atas sampai bawah.


Aidan ! Apa yang kamu lakukan ! Sadar, itu hanya mimpi dan kamu tidak boleh memperhatikan tubuhnya seperti ini ! hardik Aidan pada dirinya sendiri.


“Aidan, apa kamu mendengarku ?”


“Aku mendengarmu. Karena kamu bingung dengan sikapku, apa kamu selalu memikirkan aku ?” Tiba-tiba Aidan berinisiatif menggoda Nadin.


“Tentu saja aku selalu memikirkanmu. Eh ?!”-Nadin terkejut ketika menyadari apa yang diucapkannya-“maksudnya, aku selalu memikirkanmu karena aku harus mengembalikan jaketmu,” jelas Nadin kemudian mengambil jaket hitam milik Aidan dari dalam tas.

__ADS_1


“Terima kasih,” ujar Nadin.


“Sama-sama.” Aidan Mengambil bajunya sambil tersenyum manis karena senang Nadin selalu memikirkannya yang akhir-akhir ini selalu menghindar dari dirinya.


__ADS_2