Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
27


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju hotel tempat diadakannya pesta, Aidan menyempatkan diri untuk mengenakan dasi beserta jasnya yang sempat ia lepas. Namun, kedua benda itu ia lepas kembali ketika kedua mata sipitnya menangkap sosok gadis berambut panjang yang sedang berjongkok di depan sebuah sepeda. Ia mengenali gadis itu dan meminta sopirnya untuk berhenti.


“Aidan,” panggil Nadin saat dirinya melihat bibir Aidan terus tersenyum. Sementara, matanya menerawang entah kemana.


“Aidan.” Nadin melambaikan tangannya tepat di depan wajah Aidan hingga membuat remaja laki-laki itu tersadar dari memorinya yang mengulang kembali bagaimana ia memberi pelajaran kepada Ela dan gengnya, lengkap dengan bagaimana ia bertemu dengan Nadin.


“Apa yang sedang kamu lamunkan ?” tanya Nadin kembali duduk manis.


“Aku hanya memikirkan sesuatu yang menyenangkan.”


Kenapa dia terkesan seperti lelaki mesum ? batin Nadin sambil memasang wajah curiga.


“Apa kamu kenyang ?” tanya Aidan sembari menghabiskan sisa potongan steak yang sempat ia tinggalkan demi melamun.


“Kenyang sekali, kalau kamu ?”


“Sama sepertimu,” jawab Aidan sambil memasang senyum manisnya.


Apa-apaan Aidan ini, kenapa dia terus tersenyum padaku ? Aku tidak tahaaan, jerit batin Nadin yang tersiksa. Ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya rapat-rapat. Sekarang ini, ia harus menghindari senyum laki-laki ini supaya ia tidak salah tingkah dan akhirnya melakukan hal-hal konyol di luar kendalinya.


“Kamu kenapa ?”


“Tidak apa-apa. Aku rasa kita harus pulang, ini sudah setengah sepuluh,” jawab Nadin dengan sigap meskipun sebenarnya ia masih ingin duduk berdua dengan Aidan. Di sisi lain, ia merasa senang dengan otaknya yang langsung menemukan alasan supaya ia bisa cepat bebas dari senyum yang indah tapi menyiksa itu. Ya, setidaknya senyum Aidan bisa menghilang saat ia harus berbicara.


Aidan menghembuskan nafas berat ketika dirinya menengok jam tangannya. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu saat ia bersama Nadin.


Sementara itu, Nadin segera membuka kalungnya dan meletakkannya di depan Aidan ketika dirinya melihat gerak gerik temannya itu sedang merogoh saku celana untuk mengambil dompet.


“Kalung itu bisa kamu gunakan untuk membayar juga, y-ya meskipun harganya jauh dari kata cukup untuk membayar makanan kita sekarang,” jelas Nadin sebelum Aidan menanyakan maksudnya menyerahkan perhiasan emas itu.


Bibir Aidan tak bergeming untuk menanggapi Nadin, ia hanya menghela nafas semakin dalam melihat tingkah teman wanitanya.


“Kamu tenang saja, kalung itu adalah emas asli dan itu adalah milikku. Jadi, tidak usah khawatir,” tambah Nadin lalu menggaruk cuping telinganya yang tiba-tiba gatal.


“Ah ! Aku ternyata sedang memakai anting !”


Aidan terkejut melihat reaksi Nadin yang tiba-tiba terlihat senang.


“Tolong buka anting ini untukku,” pinta Nadin lalu beranjak dari kursinya dan hendak berjongkok di samping Aidan yang sedang duduk. Namun, sebelum Nadin melakukan itu, Aidan langsung memegang lengan Nadin dan membuatnya duduk di tempatnya.


“Kenapa aku harus duduk di tempatmu ?” tanya Nadin heran.


Aidan tiba-tiba menyeringai. Ia meletakkan tangannya di meja makan dan sedikit membungkuk menghadap Nadin.


“Memangnya kenapa ? Atau jangan-jangan, kamu mau duduk di pangkuanku ?” goda Aidan.


“Tidak,” timpal Nadin tegas.


Ya Tuhaaaan ! Serangan apa ini ? Aku sudah jelas menjawab tidak. Tapi, kenapa rasanya aku bahagia mendengar ucapannya yang aneh dan menjijikkan ? batin Nadin. Ia memalingkan wajahnya dan segera menutup bibirnya yang tidak bisa ditahan untuk tersenyum lebar.


“Nadin.”


“Ah ?! ehem ehem,”-Nadin langsung bersikap normal begitu Aidan memanggilnya, ia kemudian menyibak rambutnya yang sedikit menutupi telinganya-“tolong buka antingku,” pinta Nadin.


Aidan terpaku pada telinga dan leher Nadin yang terpampang di depannya. Ia heran pada dirinya sendiri yang tiba-tiba terpesona melihat pemandangan itu.


“Ayo Aidan,” pinta Nadin lagi.


Aidan tidak melakukan apa yang diminta Nadin. Ia malah mengambil kalung yang tergeletak di atas meja kemudian memakaikannya ke leher Nadin.


“Aku menyuruhmu untuk membayar menggunakan kalung ini, kenapa kamu memakaikanku lagi ?” tanya Nadin ketika menyadari kalung itu telah melingkar di lehernya.


“Dari awal juga sudah kukatakan kalau aku yang akan mentraktirmu. Aku rasa kamu punya masalah ingatan dan pendengaran hingga kamu tidak tahu kalau aku pernah mengatakan itu.”


Nadin seketika menoleh dan melotot kepada Aidan yang sedang di belakangnya.


“Aku hanya ingin membantumu membayar makanan saja.”


“Iya, iya. Aku tahu. Tapi, kamu tidak perlu melakukan itu. Sekarang, lebih baik kamu diam saja supaya aku bisa memasang kaitan kalungmu,” sahut Aidan tersenyum.


Nadin pun menuruti perkataan Aidan dengan penuh suka rela dan suka cita. Senyum yang tipis tergambar di bibirnya yang ikut mengekspresikan rasa bahagia yang menyerbu hatinya. Namun, rasa bahagia itu bukan karena Aidan mengembalikan kalungnya. Tapi, karena Aidan memasangkan kalung itu untuknya.


Setelah selesai, tangan Aidan merayap ke cuping telinga Nadin yang kemerahan. Sontak, si gadis berkepang dua itu langsung menjerit memegang telinganya.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan ?!” Nadin melotot kepada Aidan yang juga ikut terkejut.


“Aku hanya memeriksa telingamu yang merah, kenapa kamu malah berteriak ?” timpal Aidan memegang dadanya sendiri.


“Kamu membuatku terkejut. Lain kali, jangan pernah memegang telingaku lagi,” balas Nadin meraba bulu-bulu tangannya yang merinding.


Aah... ternyata kamu sensitif di bagian telinga ya, batin Aidan tersenyum nakal karena sudah mengetahui fakta terbaru dari Nadin.


“Ya sudah, aku minta maaf. Aku akan bayar dan kita pulang,” ucap Aidan.


Di luar restoran itu, Nadin dan Aidan sudah ditunggu oleh seorang sopir yang bertugas membawa Aidan kembali ke hotel untuk berpesta.


“Bagaimana makan malamnya tuan ?” tanya sopir yang membukakan pintu untuk Aidan dan Nadin.


“Sangat menyenangkan,” jawab Aidan lalu masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Nadin.


“Tuan, apa kita akan langsung kembali ke hotel ?” tanya si sopir.


“Iya. Tapi, kita antar Nadin untuk mengambil sepedanya yang sudah diperbaiki,” jawab Aidan sambil memasang jasnya.


“Apa kamu punya acara lagi ?” tanya Nadin yang tidak bisa menahan keingintahuannya.


“Iya, harusnya dari tadi aku ada di sana,” sahut Aidan yang masih sibuk dengan dasinya.


“Lalu, kenapa kamu malah mengajakku makan ?”


“Tidak apa-apa, lebih baik aku menghabiskan waktu malam Mingguku bersamamu daripada harus berada di tengah pesta yang membosankan itu.”


Sopir yang sedang mengemudi itu terkejut mendengar Aidan. Ia pun melirik ke arah kaca depan dan melihat Nadin yang menunduk malu sambil menahan senyumnya.


“Apa aku sudah rapi ?” tanya Aidan setelah selesai memasang dasinya.


“Dasimu tidak rapi,” sahut Nadin terkekeh.


“Ah, kenapa aku tidak pernah bisa memasang benda ini dengan benar,” gerutu Aidan membuka kembali dasinya.


“Sini, biar aku yang pasangkan,” ujar Nadin mengambil alih dasi yang sedang dipegang Aidan.


“Sudah selesai,” ujar Nadin tersenyum puas melihat dasi Aidan terpasang dengan rapi.


“T-terima kasih. Eh ? Apa ini ?” tanya Aidan mengambil sebuah kantong plastik hitam yang tidak sengaja menyenggol tangannya.


Mata Nadin membulat besar ketika melihat benda itu berada di tangan Aidan. Ia baru ingat kalau tadi ia mengambil belanjaannya yang ada di keranjang sepeda dan membawanya masuk ke mobil Aidan.


“Apa tadi kamu membeli roti ?” tanya Aidan lagi ketika tangannya merasakan benda yang empuk di dalamnya.


Ya Tuhan, aku tidak mungkin memberitahunya benda apa yang ada di dalam sana, batin Nadin khawatir.


“I-iya. Sini.” Nadin hendak mengambil kantong plastik itu dari Aidan tetapi Aidan malah tidak mau memberikannya.


“Sebentar, roti apa yang kamu beli ? Boleh aku minta ? Aku masih lapar.” Aidan hendak membuka kantong plastik itu namun Nadin segera ikut memegangnya.


“Jangan ! I-ini tidak bisa kamu makan. Kembalikan padaku,” pinta Nadin berusaha mengambilnya dari Aidan yang tidak mau melepasnya.


Sementara, si sopir lagi-lagi terkejut mendengar ucapan Nadin sebab ia tahu maksud dari perkataan Nadin itu.


“Tu-tuan... ,”


“Kenapa kamu pelit begini ? Aku hanya akan minta satu !” ucap Aidan yang memotong kalimat sopirnya.


“Tidak ! Tadi kamu sudah makan ! Lagi pula ini tidak bisa kamu makan ! Lepaskan !”


Merek berdua terus memperebutkan plastik itu hingga akhirnya plastik itu robek dan mengeluarkan isi yang tersimpan di dalamnya.


“Aaaaaa !” teriak Nadin merasa malu ketika barang yang dimaksud roti oleh Aidan itu tergeletak di pangkuan Aidan. Ia segera mengambilnya bersama plastik yang ada di tangan Aidan.


Aduh tuan muda, batin si sopir yang bahkan sampai menepuk jidatnya ketika sudah mengetahui apa yang telah terjadi.


“M-maaf,” ucap Aidan tidak kalah terkejut saat mengetahui bahwa benda yang dianggapnya roti itu sebenarnya adalah pembalut.


Nadin tidak membalas ucapan Aidan dan memilih untuk diam sambil melihat pemandangan di luar.


Ternyata dia sedang datang bulan ya, makanya tadi dia menanyakan apa dia berbau amis atau tidak, batin Aidan yang melihat Nadin memeluk erat kantong plastiknya.

__ADS_1


Malam pun berganti pagi, pagi yang cerah kembali lagi menuju malam yang gelap tanpa sinar bulan. Dira menerawang ke atas langit yang hanya menampakkan beberapa bintang di sana. Pagi tadi ia masih tertawa bersama teman-temannya saat berlibur di pantai. Tapi, sekarang ini ia hanya sendiri dan kesendiriannya itu membuat ingatannya berlari kepada Nadin.


Hati dan pikirannya yang mulai kacau membuat ia masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi yang menghadap ke meja belajar. Matanya lalu memandangi setiap foto yang terpajang rapi di temboknya. Bibirnya mengukir senyum ketika mengingat saat-saat dirinya bersama Nadin di dalam foto itu.


Tangannya pun dengan perlahan membuka laci meja belajarnya dan mengambil selembar kertas yang tersimpan di sana. Ia tersenyum kembali melihat tulisan tangan Nadin yang rapi dan indah dalam menyusun kegiatan yang akan mereka lakukan bersama saat libur semester tiba. Setitik air mata jatuh ketika Dira menyadari semua rencana kegiatannya bersama Nadin telah sirna.


Aku hanya ingin dia terbuka dengan semua orang. Aku tidak mau melihatnya dibicarakan oleh teman-teman yang lain. Tapi, apa aku salah sudah mengatakan kalau aku tidak suka melihat dia yang seperti itu ? batin Dira yang akhirnya terisak.


Dira terus menangis sampai air matanya membasahi lembaran kertas yang sedang dipegangnya. Ia bahkan tidak menyadari kalau ibunya sedang berada di pintu kamarnya.


“Dira ?” Hannah segera menghampiri Dira yang sedang menangis.


“Kamu kenapa, sayang ?” tanya Hannah mengelus rambut Dira.


“Aku memikirkan Nadin, Bu,” sahut Dira lalu menyeka air matanya.


“Ada apa dengan Nadin, Nak ?”


Dira kemudian menceritakan apa yang terjadi di antara mereka berdua, sedang ibunya mendengarkan dengan serius.


“Itu lah yang terjadi, Bu,” tutur Dira.


Hannah mengelus rambut Dira dan tersenyum hangat padanya.


“Yang sudah kamu lakukan itu baik, Nak. Itu tandanya kamu peduli dengan Nadin. Tapi, alangkah baiknya kalau kamu lebih memahami Nadin karena kita tidak tahu alasan kenapa dia tidak mau terbuka atau bermain dengan orang lain. Semua orang punya alasan sendiri dalam menunjukkan sikapnya. Dan dia mungkin belum siap memberitahumu alasannya bersikap seperti itu walaupun kamu meminta. Jadi, kamu harus menghormati keputusannya. Suatu saat dia mungkin akan bercerita tentang hal ini padamu. Selain itu, minta maaflah jika kamu memang merasa bersalah sudah mengatakan ketidaksukaanmu padanya, mengerti ?” jelas Hannah.


“Mengerti, Bu,” sahut Dira.


Kukkuruyuuukkkk


Kukkuryuuukkk


Kukkuruyuuukkk


Nadin menggeliat mendengar suara ayam yang setiap pagi mengganggu tidurnya. Ia pun melihat langit-langit kamarnya sembari mengumpulkan semua kesadarannya. Dengan malas ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


“Aaarrrggghhhh !!!! Dinginyaaaa.”


Pasti dia sedang mandi, batin Damara tersenyum saat mendengar suara teriakan Nadin.


“Nak, ayo sarapan dulu,” ajak Damara begitu Nadin muncul di dapur setelah selesai mandi.


“Iya, Bu,” sahut Nadin ikut menyiapkan makanan mereka di meja.


“Sayang nanti perginya pukul berapa ?” tanya Damara setelah menyelesaikan sarapannya.


“Pergi ? Pergi ke mana, Bu ?”


“Loh, seminggu yang lalu Nadin sudah memberitahu ibu kalau hari ini Nadin akan pergi ke taman bermain bersama Dira,” tutur Damara. Ia menangkap perubahan raut wajah Nadin ketika dirinya menyebut nama Dira.


“Nadin tidak jadi pergi, Bu. Nadin akan tetap di rumah selama libur,” jawab Nadin sambil tersenyum.


“Kenapa, Nak ?”


“Tidak apa-apa, Bu. Emmm, kalau begitu, biar Nadin yang bereskan semua ini. Ibu ke belakang saja melihat karyawan yang datang,” timpal Nadin lalu beranjak dari kursinya sambil membawa piring kotor.


Sepertinya Nadin menyembunyikan sesuatu dariku, batin Damara masih mengawasi Nadin yang sedang mencuci piring.


“Kamu mau melakukan apa kalau di rumah terus, Nak ?”


“Tentu saja membantu ibu mengurus rumah makan, lalu Nadin akan mengurus taman, dan mengurus ayam-ayam juga,” jawab Nadin lalu melanjutkan aktivitasnya.


“Ya sudah, lakukan apa yang Nadin suka,” tambah Damara.


“Iya, Bu, terima kasih,” sahut Nadin terlihat bersemangat.


Senyum Nadin yang awalnya merekah langsung sirna saat ibunya keluar dari dapur. Ia menatap kosong pada gelas dan piring kotor yang ada di depannya. Lagi-lagi ia merasa sedih mengingat Dira, ia benar-benar merasa ada yang hilang dalam hatinya ketika ia tidak saling berhubungan dengan gadis periang itu.


Dia tidak menyukaiku, batin Nadin semakin terlihat sedih. Ia meringsut ke lantai dan menangis sambil memeluk lututnya. Kalimat terakhir Dira itu selalu menyakiti ingatannya dan selalu berhasil membuat ia terpuruk.


Nadin lalu segera menyeka air matanya ketika mendengar suara ibunya di luar rumah. Ia langsung mencuci wajahnya menggunakan air keran di dapurnya supaya tidak ketahuan sudah menangis.


Lebih baik aku ke toko Kak Saka untuk membeli beberapa bunga, batin Nadin lalu menyelesaikan pekerjaannya. Iya yakin dengan membeli bunga perasaannya akan menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2