
Sembari menunggu rambutnya kering setelah keramas, Nadin membongkar-bongkar isi lemarinya untuk mencari pakaian yang akan dikenakan besok pagi. Besok adalah hari Minggu dan ia punya janji untuk belajar bersama di kafe yang ada di dekat toko Saka. Sejak kemarin Dira sudah merencanakan hal ini sebab ulangan semester akan dilaksanakan pada hari Senin yang akan datang. Berhubung mata pelajaran kimia yang menjadi pembuka ulangan semester, Dira sekalian meminta Aidan untuk belajar bersama mereka. Oleh sebab itu, sekarang ini Nadin tengah disibukkan untuk mencari pakaian yang bisa membuatnya rapi dan yaaaa mungkin bisa terlihat sedikit cantik di mata Aidan.
“Yang ini ? Mmm kurang bagus.”
Nadin mengambil beberapa pakaian lagi dari dalam lemari. Entah sudah berapa kali ia memadu madankan dan mencoba pakaian di lemarinya tetapi sampai sekarang ia belum menemukan yang dianggap cocok dan bagus untuknya.
“Rok ini terlalu pendek. Celana jeans ini terlalu ketat. Aku tidak bisa memakainyaaa,” keluh Nadin melemparkan diri ke kasur yang sudah dipenuhi baju-bajunya.
Tok tok tok
“Masuk Bu,” teriak Nadin dari kamarnya.
Kreeeeekkk
Damara masuk dan mendapati Nadin tengah duduk manis di atas pakaiannya yang berserakan.
“Nadin, kenapa bajunya berantakan begitu ?” Damara mendekat dan kini berdiri di depan Nadin.
“Nadin hanya memilih baju untuk digunakan besok, Bu.” Nadin turun dari ranjangnya kemudian menumpuk pakaiannya menjadi satu.
“Mau ke acara ulang tahun ?”
“Tidak, Bu. Hanya pergi belajar bersama.”
Damara seketika mengernyitkan alisnya karena heran melihat anaknya yang sampai mengeluarkan isi lemari untuk memilih baju yang hanya digunakan untuk belajar kelompok.
“Sepertinya, ini kegiatan belajar yang spesial,” tebak Damara mencoba membuktikan apa yang saat ini ada di pikiriannya.
Iya, Bu. Ini spesial karena ada Aidan, sahut Nadin di dalam hatinya. Ia tidak menyadari kalau saat ini pipinya bersemu merah dan menyunggingkan senyum manis ketika sedang memikirkan si pangeran sekolah.
Damara ikut tersenyum melihat ekspresi Nadin menanggapi kalimatnya itu. Ia semakin yakin kalau anak gadisnya kini mulai menyukai seorang laki-laki. Tanpa berkata apa-apa, Damara ikut memilih pakaian yang masih tersisa di dalam lemari Nadin.
“Bagaimana kalau pakai yang ini saja ?” Damara menunjukkan sebuah rok panjang dan baju lengan panjang pada Nadin.
“Apa Nadin akan terlihat rapi memakai ini ?” Nadin menghampiri ibunya dan mengambil rok hitam dan baju biru yang sedang dipegang ibunya.
“Tentu saja.”-Damara merangkul pundak Nadin kemudian mendudukkannya di depan meja rias-“ Nadin kan sudah dapat baju. Sekarang, ibu bantu pakai kondisioner,” ujar Damara lalu membuka handuk yang sejak tadi melilit rambut Nadin.
Pagi yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, sinar mentari yang mengiringi ayunan sepeda Nadin seakan ingin bersaing dengan senyumnya yang mengembang sejak keluar dari rumah menuju kafe. Pagi ini ia merasa percaya diri untuk belajar kimia bersama Aidan sebab tadi malam ia sudah mengulang pelajaran itu sampai pukul 01:00, supaya ia tidak terlihat terlalu ******. Saking semangatnya menjaga image, ia sampai membuat moto yang berbunyi ‘tidak boleh bodoh di depan Aidan’.
Deg deg deg
Jantungku, kamu tenang dong. Belum ketemu Aidan kok udah deg-degan gini, batin Nadin sembari mengatur nafasnya ketika baru sampai di parkiran kafe. Ia kemudian sedikit merapikan rambutnya yang pagi tadi lagi-lagi ia pakaikan kondisioner.
Huft, apa ini yang dirasakan Dira ketika bertemu Rudi ? benar-benar tidak nyaman, pikir Nadin begitu menginjakkan kaki di pintu kafe. Meskipun semakin lama ia semakin suka bertemu Aidan. Ia tetap tidak suka dengan rasa deg-degan dan kaki yang mulai gemetar ketika bertemu dia.
Dari kejauhan Aidan sudah menyorot Nadin yang berjalan ke arahnya. Sedangkan, gadis yang sedang disorot tidak tahu harus berekspresi seperti apa, apa harus tersenyum atau tetap berwajah datar. Nadin akhirnya mempercepat langkahnya ketika tidak melihat perubahan wajah Aidan yang tetap menampakkan wajah dingin padanya. Ia menyangka Aidan sudah menunggu lama jadi dia membuat ekspresi seperti itu.
“Maaf, aku terlambat,” ujar Nadin meletakkan tasnya di atas meja.
“Apa kamu menggunakan parfum ?” tanya Aidan yang seketika mencium aroma buah sejak Nadin masuk ke tempat ia duduk saat ini. Ia mengernyitkan alisnya karena ini pertama kalinya ia mencium parfum dari tubuh Nadin.
“I-iya, apa aromanya menyengat ?” Nadin tiba-tiba menyesal memakai parfum setelah Aidan bertanya.
“Tidak, aku suka parfummu,” jawab Aidan dengan jujur.
Nadin langsung menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri supaya tidak tersenyum lebar di depan Aidan. Ia merasa sangat senang Aidan menyukai parfumnya. Sementara itu, Aidan mengamati Nadin dengan teliti, ia baru menyadari kalau Nadin mulai sedikit berbeda dari sebelumnya. Sekarang ini, kulitnya sudah mulai terlihat lebih cerah dan menguning seperti saat ia kecil dulu. Jerawatnya pun sudah mulai berkurang dan kini hanya tersisa bekasnya yang sedikit kecokelatan. Ia pun terkesima ketika melihat empat tahi lalat Nadin yang berjejer di sebelah kanan.
Dekat hidung sebelah kanan satu, di atas bibir kanan satu, di dagu kanan satu, di tulang selangka sebelah kanan satu, kenapa empat titik itu bisa berderet dengan rapi ? Dan... kenapa sekarang aku baru menyadarinya ? batin Aidan di tengah rasa takjubnya.
Tidak lama kemudian, Dira datang dan bergabung dengan mereka berdua ketika Aidan masih asyik memandangi deretan titik hitam di tubuh Nadin.
__ADS_1
“Pagi Nadin, kamu cantik sekali,” ucap Dira ketika ia mendaratkan bokongnya di sofa.
“Pagi. Kamu juga cantik,” sahut Nadin seraya mengeluarkan bukunya.
Tanpa banyak basa basi, mereka bertiga mulai belajar dan mengerjakan soal yang sama. Nadin merasa senang karena ia bisa menjawab lima soal pertama dari buku paket yang dibawa Aidan dari rumahnya. Namun, pada soal selanjutnya ia tanpa sadar mulai mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja karena ia tiba-tiba lupa dengan cara menjawab soal itu.
Nadin melirik ke arah Dira yang baru selesai di nomor tiga. Matanya kemudian berpaling kepada Aidan yang juga tengah fokus pada soal. Ia sampai menggeleng-gelengkan kepala saat melihat tangan Aidan begitu cepat ketika menulis jawaban.
Apa dia benar-benar pintar seperti yang digosipkan itu ? tanya Nadin lalu mencari buku catatannya di dalam tas. Ia baru ingat kalau di sana ada contoh soal yang modelnya sama dengan soal yang saat ini ia jawab.
Aku lupaaaaaa ! teriak Nadin di dalam hatinya lalu mendengus kesal karena ia ternyata lupa membawa buku itu.
Bagaimana aku harus mengerjakan soal ini ? Apa aku bertanya pada Dira ? Tapi, nanti Aidan akan tahu kalau aku tidak bisa. Aku kan tidak mau terlihat bodoh di depannya, keluh Nadin lalu melemparkan pandangannya ke pada Aidan lagi. Ia lalu menyelipkan pensil ke telinga kirinya kemudian menopang dagu untuk menikmati wajah Aidan yang terlihat semakin tampan saat sedang serius begini.
Aidan yang menyadari dirinya sedang diawasi langsung menoleh kepada Nadin yang sedang senyum-senyum sendiri melihat dirinya. Sementara, Nadin langsung memalingkan wajahnya begitu tertangkap basah sedang mencuri pandang.
“Ada yang kamu tidak bisa ?” tanya Aidan melepas pensilnya.
“Eh ?! Kamu bertanya padaku ?” Nadin langsung menoleh kepada Aidan.
“Tentu saja, bukankah dari tadi kamu melihatku ?”
Ya Tuhan ! Aku ketahuan ! batin Nadin merasa malu.
“Nomor berapa yang kamu tidak bisa ?” tanya Aidan menarik buku Nadin.
“Nomor enam,” jawab Nadin dengan wajah lesu karena harapannya untuk tidak terlihat bodoh sudah hancur.
Aidan mulai menjelaskan Nadin soal yang tidak bisa ia kerjakan. Namun, gadis berkuncir ini seperti tidak fokus dengan apa yang saat ini ia dengarkan karena matanya terus terpaku pada wajah Aidan. Dalam hati, ia merutuk matanya yang tidak lepas dari wajah anak laki-laki itu. Setelah selesai di bagian wajah. Ia beralih ke jakun Aidan yang terus bergerak saat ia bicara. Ia tidak tahu kenapa dirinya begitu tertarik dengan benda di balik leher Aidan yang putih dan mulus itu. Sebelumnya, ia pernah memperhatikan jakun milik Saka tetapi ia sama sekali tidak tertarik saat melihatnya.
Apa aku aneh ? batin Nadin.
“Sudah paham ?” tanya Aidan menoleh kepada Nadin yang langsung terkesiap begitu ditanya.
“Baiklah, bagian mana yang tidak kamu mengerti ?”
“Semuanya,” jawab Nadin spontan hingga membuat tawa Dira meledak.
“Hahahahaha, Nadin sejak kapan kamu jadi telmi (telat mikir) begini ?” tanya Dira yang sejak tadi hanya fokus dengan dirinya sendiri.
Nadin hanya tersenyum kecut kepada Aidan yang tidak bisa berkata apa-apa padanya. Kini, Aidan percaya kalau otak Nadin memang tidak bekerja pada pelajaran kimia.
“Dengarkan baik-baik,” titah Aidan. Nadin hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan Aidan.
Satu menit kemudian, Nadin menoleh ke arah Aidan yang tidak juga mengucapkan sepatah kata untuk menjelaskannya.
“Kenapa kamu diam saja ?” tanya Nadin.
“Aku akan menjelaskanmu kalau kamu menjawab beberapa pertanyaanku,” sahut Aidan melipat kedua tangannya di atas meja.
Ini adalah kesempatannya untuk berbicara secara pribadi dengan Nadin sementara Dira sedang pergi ke toilet.
“Apa yang ingin kamu tanyakan ?”
“Apa hubunganmu dengan kakak kelas yang bernama Saka itu ?”
“Kenapa tiba-tiba menanyakannya ?”
“Aku hanya ingin tahu.”
“Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya.”
__ADS_1
“Benarkah ?”
“Apa aku terlihat berbohong ?”
“Aku hanya ingin memastikan. Lalu, apa kamu menyukainya ?”
“Tidak. Kenapa kamu menanyakan hal-hal semacam ini ? Apa kamu menyukai Kak Saka ?” tanya Nadin heran.
“Aku tidak homo,” ketus Aidan setelah beberapa saat ia melongo mendengar pertanyaan Nadin.
Aku menyukaimu gadis bodoh, batin Aidan lalu memulai penjelasannya.
Setelah dirinya memimpikan Nadin, ia menjadi lebih sering memikirkannya. Lama-kelamaan, ia pun menyadari kalau sebenarnya ia menyukai dan ingin memilikinya. Oleh sebab itu, sekarang ia menanyakan hubungannya dengan Saka supaya dia bisa menentukan langkah selanjutnya.
Tidak terasa hari sudah beranjak sore ketika Nadin, Aidan, dan Dira memutuskan untuk pulang ke rumah. Kini hanya Nadin dan Aidan yang berada di parkiran sepeda sebab Dira baru saja dijemput oleh sopirnya.
“Kamu kenapa ?” tanya Aidan yang melihat Nadin berjongkok di depan sepedanya.
“Aku kekenyangan,” jawab Nadin menekan perutnya yang terasa kembung karena kebanyakan isi.
“Kalau begitu kita pulang sambil jalan-jalan saja. Ayo bangun, rambutmu kotor.” Bukannya menarik tangan Nadin untuk membantunya berdiri, Aidan malah mengangkat rambut Nadin yang menyentuh paving block.
“Kita ? Apa kamu mau pulang bersamaku ?” tanya Nadin berusaha terlihat kalem meskipun saat ini ia merasa bersemangat dan harap-harap cemas akan pulang bersama Aidan.
“Iya. Oh ya, apa kamu memakai minyak goreng pada rambutmu ?” tanya Aidan ingin menggoda Nadin. Ia tidak menyangka kalau rambut Nadin yang harum akan selembut itu saat disentuh.
Senyum Nadin langsung memudar mendengar Aidan, rasanya ia ingin menonjok Aidan yang tidak tahu kalau dirinya sudah menghabiskan banyak kondisioner hari ini.
“Iya ! Tadi aku memakai minyak goreng bekas ibuku yang sudah menggoreng ikan asin, puas !” ketus Nadin lalu menuntun sepedanya meninggalkan Aidan yang tersenyum menang karena berhasil menggoda dan membuatnya kesal.
Satu minggu kemudian
Hari-hari menyiksa saat menjalani ulangan semester telah berlalu, siswa siswi di SMA N 1 J mulai berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya untuk menentukan siapa saja yang akan mengikuti lomba saat class meeting. Acara tersebut merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh OSIS setiap ulangan semester telah usai.
“Nadin ikut main voli ya,” ujar Alan, sang ketua kelas bar-bar yang bertubuh gempal.
“Iya.” Nadin mengiyakan begitu saja tanpa ada niat untuk menolak seperti teman-teman perempuannya yang lain.
Seperti biasa, dia manut dan nurut, batin Alan tersenyum sambil menulis nama Nadin di papan. Sebenarnya, ia adalah salah satu siswa di sekolah itu yang ingin mendekati Nadin. Namun, karena Nadin tidak menunjukkan ketertarikan padanya, ia jadi mengurungkan niat dan mundur pelan-pelan.
“Selanjutnya, lomba balap karung. Si-,”
“Aku, aku yang akan ikut balap karung.” Semua menoleh kepada Dira yang mengajukan diri dengan suka rela. Alan pun langsung menulis namanya di papan tulis.
“Apa kamu serius ?” tanya Nadin benar-benar tidak menduga kalau temannya itu akan benar-benar ikut.
“Iya, kemarin aku sudah dapat informasi kalau Rudi menyukai tipe gadis yang tidak biasa. Jadi, aku akan mengikuti lomba ini. Ini kan lomba yang tidak biasa,” jelas Dira terlihat sumringah dan bersemangat.
“Semoga nanti kamu bisa mendapatkan Rudi ya,” balas Nadin tersenyum sambil merangkul pundak Dira. Ia sangat mengagumi usaha Dira dalam mendekati dan menarik perhatian Rudi.
Seandainya, aku juga bisa tahu gadis seperti apa yang disukai Aidan, batin Nadin menghela nafas panjang.
Hari class meeting
“Dira cepaaatttt ! Ayoo lariiiiii. Terusss !” teriak Nadin bersama teman-teman kelasnya yang lain untuk menyemangati Dira. Ia tidak sabar menunggu Dira selesai mengikuti lomba ini, sebab ia ingin memberitahu Dira bahwa Rudi ikut menontonnya.
Hari selanjutnya, giliran Nadin yang mengikuti perlombaan voli. Semua yang melihat Dira tersenyum ketika dia tidak kalah histeris memberi semangat untuk Nadin. Berkat kerja sama yang baik, Nadin dan teman-temannya berhasil mengalahkan lawannya. Ini pertama kalinya ia merasa senang berada di tengah kerumunan orang di sekolah. Sebelumnya, ia selalu merasa tertekan karena kebanyakan dari temannya selalu memberikan cibiran dan memanggilnya kentang hingga membuat ia malu dan bahkan tidak bisa mengangkat wajahnya sendiri.
“Kenapa kamu jalan kaki ?” tanya Aidan yang bersepeda di samping Nadin yang memilih berjalan kaki sambil menuntun sepedanya.
“Tanganku sedikit sakit,” jawab Nadin.
__ADS_1
Aidan turun dari sepedanya dan menghalangi Nadin.
“Gadis ceroboh, tanganmu sepertinya keseleo. Apa karena bermain voli tadi?” Aidan tiba-tiba memegang tangan kanan Nadin yang memang sudah bengkak.