
Apa kamu pernah menyukai seseorang ? Kalau iya, apakah dia pernah memegang tanganmu ? Kalau pernah, bagaimana rasanya ? Apakah rasanya seperti ada yang tumbuh dan bermekaran di hatimu ? Atau, apakah kamu rasanya akan terbang karena senang ? Setidaknya, dua hal itu lah yang saat ini dirasakan Nadin ketika Aidan tiba-tiba memegang tangannya sambil menunjukkan sedikit perhatian untuknya.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri dan tidak menjawab pertanyaanku ?” tegur Aidan.
“Ah ?! Mmm. Iya, sepertinya tanganku keseleo saat bermain voli,” sahut Nadin setelah berpikir keras untuk mengingat pertanyaan Aidan sebelumnya.
“Ya sudah. Ayo jalan,” ajak Aidan.
Kenapa aku sering melihat dia melamun dan senyam senyum sendiri ? Dia tidak mungkin tiba-tiba jadi gila kan ? pikir Aidan sambil sesekali melirik Nadin.
“Permainanmu bagus,” puji Aidan memecah keheningan di antara mereka berdua.
Nadin terkejut dan menghentikan sepedanya bersama langkahnya yang terhenti.
Dia menyukai permainanku ? Kalau begitu, apa dia-, Nadin berlari kecil menyusul Aidan yang sudah agak jauh di depannya.
“Apa tadi kamu melihat aku bermain voli ?” tanya Nadin kini berjalan beriringan dengan Aidan.
“Iya. Aku melihat permainan bagusmu yang bar-bar,” sahut Aidan dengan senyum mengejeknya.
Kamu baru saja memujiku, sekarang kamu malah menjatuhkanku, gerutu Nadin mendelik kesal
“Aku tidak bar-bar, aku bermain dengan hati-hati !” protes Nadin.
“Kalau begitu, kenapa kamu bisa keseleo ?” balas Aidan.
“Itu… mungkin karena aku tidak melakukan pemanasan !”
“Makanya, itu namanya bar-bar. Lain kali, pemanasan dulu dong.”
Pada akhirnya aku yang kalah debat, gerutu Nadin.
“Aku tidak sabar menunggu kamu bertanding lagi,” tambah Aidan.
“Kenapa begitu ?” tanya Nadin kembali merasa senang.
“Karena aku tidak sabar melihat bagian tubuhmu yang mana lagi yang akan kamu buat keseleo,” cibir Aidan lalu tertawa lepas.
“Aidan Rederick ! Kamu menyebalkan ! Semoga kamu yang keseleo saat pertandingan besok !” rutuk Nadin lalu melangkahkan kakinya dengan cepat.
Keesokan harinya, pada pukul 07:30 Nadin sudah duduk di anak tangga teratas yang ada di sisi barat lapangan tempat diadakannya pertandingan futsal. Ia memilih untuk duduk tepat di bawah pohon mangga supaya ia tidak kepanasan ketika matahari sudah meninggi saat menonton pertandingan yang akan diikuti oleh Aidan. Gadis yang hari ini berkepang dua itu terlihat tidak sabar menunggu doanya terkabul supaya ia bisa menyaksikan bagaimana sang pangeran sekolah akan terjatuh saat pertandingan hingga membuat ia keseleo.
“Satu jam lagi,” lirih Nadin ketika ia menengok jam tangan hitam yang baru kemarin dibelikan oleh ibunya.
“Hoaaammm”. Ini pun sudah ketiga kalinya Nadin menguap semenjak ia duduk di bawah pohon mangga yang rindang itu. Ia masih merasa kurang tidur karena tadi malam ia nekat begadang saat memainkan game Super Mario kesukaannya.
Sembari mengisi kekosongannya menunggu pertandingan dimulai, Nadin memilih untuk mengambil dua novel yang tadi ia pinjam di perpustakaan. Setelah beberapa saat, ia pun memutuskan untuk membaca novel yang berjudul ‘Badai Pasti Berlalu’. Sementara, novel yang satunya lagi ia taruh di atas tasnya yang berada di sampingnya. Tak sampai sepuluh menit, ia yang sudah mengantuk berat akhirnya terlelap saat membaca novel itu.
Apa dia sedang tidur ? gumam Aidan ketika ia kebetulan melihat Nadin dari sisi lapangan sebelah utara. Ia hendak menemuinya tetapi langkahnya terhenti ketika matanya menyorot Ela yang perlahan mendekati gadis itu dari belakang. Dengan sigap, ia segera bersembunyi di balik tiang ring basket supaya Ela tidak menyadari bahwa ada yang sedang mengawasinya.
Sementara itu, Ela duduk di samping Nadin sambil memandanginya dari atas sampai bawah. Di tengah pengamatannya, ia tak henti-hentinya mencela penampilan adik kelasnya yang ia anggap kampungan dan culun itu. Ia lalu mulai memikirkan apa yang akan dilakukan untuk mengerjainya. Senyumnya pun mengembang ketika ia mendapat ide untuk mengambil novel milik Nadin. Ia terlebih dahulu melambai-lambaikan tangannya di depan Nadin untuk mengetahui apakah dia benar-benar tidur atau tidak. Setelah mengetahi bahwa Nadin memang sedang tidur, ia pun dengan perlahan mengambil novel yang ada di atas tas Nadin kemudian langsung pergi dari sana sambil cengegesan.
Gadis ceroboh itu ternyata benar-benar tidur, dia sampai tidak tahu kalau Ela mengambil bukunya, gerutu Aidan lalu pergi menyusul Ela yang sudah menghilang di balik tembok.
“Ela !” panggil Aidan sambil mempercepat langkahnya supaya ia bisa mengejar kakak kelasnya itu.
Ela berbalik dan menemukan Aidan tengah berjalan ke arahnya. Tanpa tahu siapa yang tadi memanggilnya, ia langsung sedikit merapikan rambutnya karena pangeran sekolah terlihat tengah menghampirinya. Ia pun menyunggingkan senyum manis dan terlihat malu-malu di depan Aidan. Sedangkan, Aidan membalas senyum itu dengan senyuman sinis. Tanpa basa-basi, Aidan mengambil buku yang sedang dipegang Ela.
“Aidan, kenapa kamu mengambil buku itu tanpa permisi ? tanya Ela terkejut.
“Untuk apa aku harus melakukan itu ? Kamu juga mengambil buku ini tanpa permisi,” sahut Aidan dengan wajah dinginnya yang tidak suka dengan perbuatan Ela.
Ela gelapan ketika perbuatannya diketahui. Ia memicingkan matanya setelah menyadari Aidan yang sebagai adik kelas tidak memanggilnya ‘kakak’.
__ADS_1
“Kenapa kamu berbicara tidak sopan ? Bukannya kamu harus memanggilku kakak ?”
“Aku tidak perlu sopan pada orang yang tidak punya sopan santun. Tadi aku melihat sendiri kamu mengambil buku ini dari Nadin tanpa memberitahu dia. Kalau melihat perbuatanmu tadi. Apa masih perlu aku sopan padamu, kakak kelas yang sedang belajar menjadi maling ?”
“Aku bukan maling !” teriak Ela. Ia terlihat naik pitam karena dipanggil maling.
“Oh ya ? Lalu, kenapa kamu diam-diam mengambil buku milik Nadin ? Kamu pikir orang lain tidak melihatnya ?” Aidan memberikan tatapan tajam kepada Ela yang sudah melotot dari tadi.
Ela pun menunduk malu setelah tidak tahu harus mengelak seperti apa dari Aidan, ia menggenggam tangannya yang dingin dan gemetar.
“Kali ini aku melepaskanmu dengan syarat kamu tidak boleh mengganggu Nadin lagi,” ucap Aidan lalu pergi meninggalkan Ela yang kemudian terduduk lemas.
Di sisi lain, Nadin tengah bingung karena ketika terbangun ia tidak menemukan salah satu novelnya di atas tas. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya untuk mencari buku itu. Berulang kali ia mengitari pohon mangga tempat ia bersandar tadi setelah berpikir mungkin saja ada seseorang yang sengaja mengerjainya. Namun, hasilnya nihil. Ia tidak menemukan novel yang sudah ia pinjam di perpustakaan itu.
“Di mana buku itu ?” lirih Nadin, jantungnya terus berdetak kencang ketika memikirkan buku pinjamannya benar-benar hilang.
“Sudah bangun, ya,” ucap Aidan yang berada tidak jauh dari Nadin.
“Iya,” sahut Nadin sambil mondar-mandir pada anak tangga ketiga.
“Apa kamu sedang mencari buku ini ?” Aidan menunjukkan novel Nadin yang tadi diambil oleh Ela.
Mata Nadin seketika terbuka lebar melihat buku yang saat ini dipegang Aidan. Ia dengan tergesa-gesa menapaki setiap anak tangga supaya bisa cepat sampai di depan sosok laki-laki yang seumuran dengannya itu.
“Syukurlah, aku pikir buku ini hilang,” ucap Nadin terduduk lemas setelah ia memeriksa novel itu.
Aidan pun duduk di samping Nadin yang bibirnya terlihat pucat. Ia juga bisa melihat tangan Nadin terlihat bergetar karena ketakutan.
“Apa kamu setakut itu kalau buku ini hilang ? Kamu sampai terlihat pucat dan tanganmu bergetar,” tanya Aidan sembari menyipitkan matanya karena diterpa oleh sinar mentari pagi.
“Tentu saja aku takut,” jawab Nadin langsung menyembunyikan kedua tangannya di balik punggungnya.
“Kalau hilang kan bisa diganti dengan buku yang sama. Mudah kan ?”
“Ini bukan masalah mudah atau tidaknya bisa diganti. Aku mempermasalahkan tanggungjawabku dalam menjaga buku yang kupinjam. Rasanya sangat memalukan kalau aku sampai menghilangkan buku perpustakaan.”-Nadin menunduk lesu-“ah ! Tapi, kenapa buku ini bisa ada padamu ?” tanya Nadin menghadap Aidan. Matanya yang terbuka lebar seperti memberi isyarat kepada Aidan bahwa pertanyaannya harus dijawab.
“Ah ?! Kalau dia mau pinjam kan dia bisa membangunkan dan memberitahuku. Siapa orangnya ?” tanya Nadin terlihat kesal.
Dia bukan orang yang mau meminjam novelmu, gadis bodoh. Apa kamu tidak menangkap maksud kalimatku tadi ? omel Aidan di dalam hatinya yang kesal karena Nadin tidak menyadari kalau seseorang memang berniat mengerjainya.
“Aku tidak akan memberitahumu,” sahut Aidan memalingkan wajahnya dari Nadin.
“Kok kamu begitu sih ?!”
“Itu hukumanmu karena tidur di sembarang tempat. Lain kali jangan seperti ini lagi. Belum tentu aku selalu bisa tepat ada di sekitarmu saat seperti ini,” pesan Aidan kemudian berdiri dan menuruni anak tangga. Kini ia berdiri menghadap Nadin supaya ia bisa menghalangi matahari yang terus menerpa wajah Nadin hingga membuatnya terlihat tidak nyaman.
Jadi, tadi dia membantuku mengambil buku ini. Baiknya. Kalau begitu, aku tidak akan mendoakannnya terluka saat bertanding,
batin Nadin tersenyum.
“Terima kasih,” ucap Nadin mendongak Aidan.
“Sama-sama,” sahut Aidan lalu pergi untuk mengganti seragamnya.
“Aidan !” pangil Nadin tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya.
Aidan menoleh dan melihat Nadin.
“Semoga nanti kamu menang,” ujar Nadin setengah berteriak.
Aidan terkejut mendengar ucapan Nadin, ia pun tersenyum malu dan berlalu meninggalkan Nadin yang terus melihat kepergiannya.
Priiiitttttttt
__ADS_1
Suara peluit yang panjang dari guru olah raga yang bertugas sebagai wasit menandakan pertandingan futsal telah dimulai. Suara teriakan para pendukung dari masing-masing kelas langsung memenuhi telinga Nadin yang duduk di tangga teratas. Yang tidak di sangka, Dira yang saat ini duduk di sampingnya malah berteriak histeris melihat Rudi yang sedang bertanding bersama Aidan, padahal yang bertanding bukan kelasnya juga. Namun, seperti biasa Nadin hanya tersenyum dan memaklumi tingkah temannya itu yang terkadang lupa malu, lupa diri, lupa tempat, dan lupa akhlak saat melihat Rudi.
Ya Tuhan, tadi Aidan membantuku menemukan bukuku. Jadi, aku membatalkan do'aku yang sudah mendoakan dia terluka saat pertandingan. Semoga dia menang. Amin, lirih Nadin dalam hati sembari matanya terus mengikuti ke mana Aidan berlari di lapangan itu.
Ia memilih untuk tetap diam dan tidak bersorak seperti siswi yang lain. Ia hanya menikmati bagaimana permainan Aidan di tengah lapangan sambil mengaguminya yang terlihat sangat mencolok di antara para pemain.
“Lihat kakinya Aidan. Duh, putih dan mulus sekali !” bisik salah seorang siswi yang duduk di sebelah kanan Nadin.
“Iya, aku juga ingin punya kaki yang indah seperti dia !” sahut temannya.
Setelah perbincangan dua siswi yang tidak dikenalinya itu, Nadin baru menyadari kalau lapangan tempat ia menonton saat ini sangat ramai dari sebelumnya.
Ternyata gosip yang mengatakan banyak siswi yang menantikan pertandingan Aidan itu benar ya. Banyak sekali yang menonton hari ini, batin Nadin setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi lapangan.
Aku dan Aidan sangat berbeda. Dia populer karena ketampanan. Sedangkan, aku populer karena bullyan, lirih Nadin merasa minder.
Dua hari setelahnya
📩Dira :
Pagi, Nadin😁. Pukul 10 nanti Alan meminta kita untuk berkumpul di kelas sejarah. Katanya sih, ada yang akan didiskusikan.
📨Me :
Pagi juga.
Ya. Terima kasih.
📩Dira :
NADIN NARAYA, sudah sepuluh menit aku menunggumu membalas pesanku. Aku pikir kamu tidak punya pulsa juga. Baru saja aku akan menelponmu.
📨Me :
Serius ?! Tadi aku baru bangun untuk ke kamar mandi lalu menyempatkan diri melihat hp. Apa kamu tidak sadar kalau sekarang ini kamu mengirimkan pesan di jam dua pagi ?
📩Dira :
Hehe maaf. Tadi aku baru ingat kamu tidak punya kuota jadi aku langsung mengirimimu pesan supaya kamu tidak ketinggalan info kelas kita.
Apa dia perlu mem-bolt kata kuota ? lirih Nadin masih tetap memandang layar ponselnya.
📨Me :
Astagaa, terima kasih Dira. Kamu memang baik karena tetap setia memberitahu aku yang selalu tidak punya kuota. Sudahlah, sekarang lebih baik kita tidur
Lihat saja, besok aku akan membeli kuota, batin Nadin lalu meletakkan ponselnya di atas meja lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Tidak lama kemudian, ia kembali terlelap dalam tidurnya.
Tepat pada pukul 10:00, Nadin bersama teman sekelasnya berkumpul di ruang sejarah. Alan yang sejak tadi mengobrol dengan wakilnya akhirnya maju ke depan kelas.
“Teman-teman, sesuai dengan pengumuman yang sudah saya sebarkan di grup, hari ini kita akan memilih salah satu di antara kita semua yang akan menjadi wakil kelas untuk mengikuti lomba makan pedas. Tidak usah berlama-lama. Sekarang ayo angkat tangan, siapa yang bersedia menjadi perwakilan kelas kita ?” Alan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dan tidak menemukan ada yang mengangkat tangan.
“Baiklah, tidak ada yang mengajukan diri. Kalau begitu, begini saja. Kita akan pilih perwakilan secara acak. Kita semua menulis nama sendiri dan memasukkannya di dalam gelas. Saya akan memilih satu kertas tanpa melihat. Siapapun orang yang terpilih nanti harus menjadi perwakilan kelas kita. Bagaimana ?” tanya Alan lagi.
Setelah semuanya setuju, Alan mulai mengumpulkan nama teman-teman kelasnya yang ditulis dalam kertas kecil. Setelah itu, dia mengaduk-aduk kertas itu dalam gelas kecil yang sudah disediakan dan mengambil satu kertas sambil menutup mata. Sementara itu, wajah risau jelas terpancar dari wajah teman-temannya termasuk Nadin.
“Rapunsel,” lirih Alan ketika melihat nama yang tertulis pada kertas yang sudah diambilnya itu.
“Maksudmu ?” tanya Gilang, si wakil ketua kelas.
“Nadin Naraya, kamu yang akan menjadi perwakilan kelas kita,” ucap Alan setelah ditanyai Gilang.
“Hah ?! A-aku ?!” ucap Nadin terkejut.
__ADS_1
“Iya, ini namamu. Bagaimana ?” Alan memperlihatkan nama Nadin yang tertulis di kertas itu.
“Baiklah,” sahut Nadin mulai khawatir kalau nanti ia tidak bisa menang dan akhirnya akan disalahkan oleh teman-teman kelasnya.