Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
11


__ADS_3

‘Monster Pencabut Rumput’, itu lah nama yang saat ini cocok untuk Nadin yang sedang mencabut rumput dengan segala emosinya yang meluap karena terlambat datang ke sekolah. Tangannya terlihat sadis mencabut rumput liar itu tanpa belas kasihan. Aidan yang sedang melakukan pekerjaan yang sama dengannya sampai melongo mendengar suara rumput yang tercabut sampai ke akarnya itu.


Biasanya dia terlihat kalem. Tapi, kenapa sekarang dia malah terlihat sangar ? batin Aidan yang sedang mencabut rumput dengan santai.


“Hah, hah, hah. Aku tidak akan lagi bermain game sampai larut,” lirih Nadin sambil mengatur nafasnya yang memburu karena terlalu bersemangat melampiaskan emosinya pada rumput liar.


“Rambutmu kotor,” ujar Aidan meraih ujung rambut Nadin yang menyentuh papin blok.


Nadin menoleh dan mendapati Aidan sedang membersihkan ujung rambutnya dengan cara mengusapnya dengan pelan.


“Te-terima kasih,” ucap Nadin lalu membawa rambutnya ke depan dan meletakkannya di pangkuan saat ia duduk.


“Lututmu terluka. Aku minta maaf,” ujar Aidan setelah melihat kedua lutut Nadin yang terluka.


“Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf,” sahut Nadin sambil memperhatikan dengan teliti di mana letak kemiripan Aidan teman masa kecilnya dengan Aidan yang kini ada di depannya.


Setelah dibandingkan, Nadin melihat mereka berdua memiliki ciri yang sama. Keduanya memang sama-sama memiliki kulit putih, hidung mancung, dan bibir tipis. Hanya saja, ia tidak bisa memastikan mereka berdua orang yang sama atau bukan lantaran bentuk wajah mereka yang berbeda. Aidan yang dulu ia kenal memiliki wajah bulat. Sedangkan, Aidan yang kini sedang menatapnya memiliki wajah oval.


Apa aku tidak bisa mengenalnya karena kami sudah lama tidak bertemu ? gumam Nadin yang merasa frustasi dengan pikirannya.


“Apa kamu begitu suka melihatku ?” tanya Aidan tersenyum sambil menopang dagu setelah menyadari Nadin menatapnya begitu lama.


“Tentu saja tidak,” ketus Nadin mendelik kesal dan berdiri hendak meninggalkan Aidan. Ia langsung melangkah ke samping tanpa melihat ke bawah, akibatnya ia jatuh ke selokan kering yang ada di taman itu.


Sudah ketahuan menatapnya begitu lama, sekarang aku malah jatuh di depannya, memalukan sekali, gumam Nadin menurunkan roknya yang sedikit terangkat setelah terjatuh.


“Sini.” Aidan mengulurkan tangannya hendak membantu Nadin berdiri setelah tadi ia tidak berhasil meraih tubuh Nadin yang akan terjatuh.


Mau tidak mau, Nadin menerima bantuan Aidan karena ia kesulitan mengangkat pinggangnya dari selokan kecil itu.


“Hei, bangun ! Kenapa kamu diam saja ?” tegur Aidan yang berusaha menarik Nadin dengan sekuat tenaga.


“Aku terjepit ! Tarik lebih keras,” balas Nadin memegang erat tangan Aidan.


Nadin dan Dira melangkah gontai menuju kantin setelah otak mereka diperas pada pelajaran kimia. Nadin ingin membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah dihujani pertanyaan oleh Dira mengenai penyebab ia terlambat.


Setelah membeli makanan dan minuman, Dira mengajak Nadin melihat mading yang tadi pagi dipasang oleh klub mading. Namun, keduanya memutuskan untuk melihatnya saat pulang sekolah karena banyaknya siswa siswi yang berkumpul di tempat itu untuk melihat foto-foto kegiatan MOS.


Sepulang sekolah, Nadin dan Dira menuju mading yang berada di samping koperasi sekolah. Dira sesekali tertawa melihat foto-foto kegiatan MOS itu, sebab penampilan mereka terlihat lucu.


“Nadin Nadin !”-menepuk bahu Nadin-”Coba lihat, ini kan fotomu saat membaca puisi bersama Aidan,” ujar Dira seraya menunjuk sebuah foto.


“Eh ?! Kok bisa sih ?” Astaga, aku terlihat seperti kuntilanak berambut gimbal.” Ucapan Nadin seketika membuat tawa Dira meledak.


“Aduuuh, Nadin. Perutku sakit. Mana ada kuntilanak yang begitu,” ujar Dira memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa.


“Iya juga sih. Tapi, mulai hari Senin. Aku mungkin akan mengatur rambutku seperti ini,” sahut Nadin kemudian melilit rambutnya hingga terlihat seperti ulekan cabai.


Dira lagi-lagi tertawa keras melihat bentuk rambut Nadin, kali ini ia sampai terduduk di lantai. Ia tidak menyangka kalau Nadin memiliki sisi yang humoris di balik wajahnya yang selalu terlihat muram itu.


Nadin hanya tersenyum menyaksikan Dira yang tak bisa berhenti tertawa. Ia pun kembali memandangi foto-foto itu. Tiba-tiba, matanya terpaku pada salah satu potret yang memperlihatkan Aidan sedang diberikan gelar pangeran sekolah di akhir acara MOS itu.


Karena dia adalah pangeran, tentu saja ada seorang siswi yang juga diberikan gelar putri sekolah. Senyum Nadin yang awalnya mengembang langsung memudar ketika melihat gadis yang diberikan gelar putri sekolah itu sedang berdiri di samping Aidan sambil tersenyum lebar. Nadin bisa melihat bahwa gadis itu merasa sangat senang bisa berdiri di samping Aidan dengan sama-sama menggunakan mahkota.


Gelar pangeran dan putri sekolah diberikan kepada satu siswa dan siswi yang paling tampan dan cantik saat MOS. Dia memang cantik, pantas saja dia dapat, gumam Nadin lalu berhenti memandangi foto itu.


“Ayo pulang, sekolah sudah sepi,” ajak nadin seraya menarik Dira supaya bangun dari duduknya.


Setelah makan malam, Nadin langsung kembali ke kamarnya. Ia memandang dirinya di depan cermin sambil menghitung jerawat yang masih setia tumbuh di wajahnya. Ia menghela nafas kecewa ketika membandingkan dirinya dengan Aidan yang memiliki wajah halus dan bersih.


“Aidan yang laki-laki saja punya wajah halus dan kulit putih. Tapi, kenapa aku yang perempuan punya wajah burik begini sih ?” keluh Nadin seraya mengetukkan telunjuknya di meja.

__ADS_1


Bahkan telapak tangannya juga halus, batin Nadin menidurkan kepalanya di meja rias sambil mengepalkan tangannya yang pernah digenggam oleh Aidan.


“Memalukan sekali ! Kulitku jadi terlihat sangat coklat bila dibandingkan dengannya !” teriak Nadin sedikit keras. Ia merasa malu ketika mengingat perbedaan warna kulit mereka yang kontras saat berpegangan tangan.


Hmm, tapi senyumnya manis, gumam Nadin tersenyum ketika membayangkan senyum Aidan.


Tok tok tok


“Nadiiin anak ibu, kamu kenapa teriak Nak ?” tanya Damara yang khawatir mendengar Nadin tiba-tiba berteriak.


“Na-Nadin tidak apa-apa, Bu,” sahut Nadin seraya berlari membuka pintu kamarnya.


“Ya sudah, sekarang Nadin cepat tidur ya, kan besok kita mau pergi ke tempat ayah,” ujar Damara mencium kening Nadin lalu pergi.


Bruk


Nadin merebahkan diri ke kasurnya yang empuk. Ia tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu dengan ayahnya.


“Iiish ! Kenapa aku tidak bisa tidur sih ?!” gerutu Nadin ketika kepalanya masih dipenuhi oleh wajah dan senyum Aidan.


Pukul lima pagi, Nadin sudah terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia lalu berkeramas meskipun pagi itu terasa dingin. Butuh waktu tiga puluh sampai rambutnya setengah kering oleh pengering rambut. Dengan sabar ia mengusapkan kondisioner di rambut hitamnya yang panjang dan lebat.


Tok tok tok


“Masuk, Nak,” ujar Damara dari dalam kamarnya ketika mendengar suara pintunya diketuk.


Damara melihat Nadin masih mengenakan handuk ketika anaknya itu masuk ke kamar dan kini duduk di sisi ranjangnya.


“Buuu, apa Nadin boleh minta bedak dan lipstik ?” tanya Nadin yang kini melihat ibunya sedang menyisir rambut.


“Hmm ? Apa ibu tidak salah dengar ?” Damara balik bertanya karena ia begitu terkejut ketika Nadin meminta make up. Sebelumnya, Nadin tidak pernah memakai barang seperti itu.


“Tidak, Bu. Ini pertama kalinya Nadin menemui ayah. Jadi, Nadin ingin terlihat rapi dan cantik. Yah meskipun Nadin tidak cantik sih,” jelas Nadin menyunggingkan senyum.


“Boleh, boleh,” jawab Nadin yang juga terlihat bersemangat untuk didandani.


Lima belas menit telah berlalu. Akhirnya, Damara selesai mendandani Nadin. Ia hanya memakaikan BB krim, bedak, dan sedikit lipstik di wajah dan bibir anaknya itu.


“Anakku cantik sekali,” lirih Damara ketika melihat wajah Nadin dari cermin.


“Waah, apa berdandan itu sehebat ini ? Pantas saja perempuan suka berdandan,” ujar Nadin ketika melihat wajahnya yang terlihat lebih cerah dan segar setelah berdandan.


Kriririrng


Suara lonceng di pintu masuk toko Saka berbunyi ketika Nadin masuk ke sana. Mendengar ada yang datang, Saka bangkit dari duduknya dan menemui pembelinya itu. Ia menajamkan penglihatannya ketika berusaha mengenali wajah Nadin yang berpenampilan tidak seperti biasanya. Langkahnya terhenti saat Nadin berjalan ke arahnya.


Saka begitu terpesona dengan penampilan Nadin hari ini, ia suka dengan gaun panjang berwarna hitam yang saat ini dikenakan adik kelasnya itu. Rambut panjang Nadin yang tergerai dan diapit oleh dua buah kepangan di sisi kiri kanan kepalanya membuat Saka berbisik di dalam hatinya mengatakan, “gadis ini adalah tipeku.”


“Kak Saka, saya beli krisan putih dua puluh tangkai,” ujar Nadin berhasil menyadarkan Saka yang sempat hanyut dalam pikirannya.


“I-iya. tunggu sebentar.” Aidan segera membungkus bunga itu untuk Nadin.


“Kamu pagi-pagi sudah berdandan cantik dan membeli bunga. Mau pergi ke mana ?” tanya Saka tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


“Saya ingin mengunjungi ayah saya,” jawab Nadin sambil membayar bunganya.


“Apa kamu serius akan memberikan krisan putih untuk ayahmu ?” tanya Saka heran.


“Tentu saja, ayah saya sudah lama meninggal,” sahut Nadin menerima bunganya.


“Oh, maaf,”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Saya pamit ya, terima kasih bunganya.” Nadin keluar dari toko bunga itu tanpa tahu Saka tak mengalihkan pandangannya sampai ia tidak terlihat lagi dari kaca bening tokonya.


Air mata Damara menetes semenjak kakinya melewati gerbang makam pribadi milik keluarga Naraya. Rasa sedih yang mendalam ketika ia mengantar suaminya menuju peristiratahan terakhir kembali terasa saat ia datang ke sana untuk kedua kalinya. Langkahnya terhenti di depan makam dengan nisan terukir nama Lingga Naraya. Ia pun hanya menganggukkan kepala untuk memberitahu Nadin bahwa makam itu adalah makam ayahnya.


Jadi benar aku punya ayah bernama Lingga Naraya, batin Nadin yang juga menitikkan air mata.


Nadin lalu duduk di depan makam yang pinggirnya dilapisi marmer itu. Perasaan sedih dan bahagia bercampur di dalam hatinya. Ia merasa sedih karena setelah empat belas tahun ia hidup, baru sekarang ia bisa mengunjungi ayahnya. Ia pun merasa bahagia, setidaknya mereka bisa bertemu walaupun hanya makam yang mewakili keberadaan ayahnya yang terkubur di bawah sana.


Ayah, sekarang Nadin sudah besar. Nadin akan sering-sering datang menemui ayah, gumam Nadin seraya meletakkan krisan putih di depan nisan ayahnya.


Setelah berdoa, Damara mengelus nisan suaminya sebelum pergi. Nadin pun melakukan hal yang sama dengan ibunya.


Langkah Damara masih terasa berat seperti sebelumnya saat ia meninggalkan tempat yang penuh dengan duka itu. Ia sesekali menoleh ke arah makam suaminya yang berjejer rapi dengan makam anggota keluarganya yang lain. Tangannya pun merangkul Nadin yang berjalan di sampingnya, ia tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran Nadin. Sebab, anaknya itu hanya diam saja setelah meninggalkan makam ayahnya.


“Damara,” panggil seorang wanita yang kini berdiri di dahadapan Damara dan Nadin.


Jantung Damara seakan ingin keluar dari tempatnya ketika mendapati nyonya besar keluarga Naraya yang tidak lain adalah mertuanya kini sudah berdiri di depannya. Ia melepaskan rangkulannya dan menggenggam tangan Nadin dengan erat.


Saat ini ia berharap Nadin masih kecil supaya ia bisa menyembunyikannya dari nenek kandungnya itu. Namun, apa daya. Nadin bahkan lebih tinggi darinya sehingga ia tidak bisa menarik Nadin ke belakangnya.


“Nyonya,” sapa Damara setelah ia diam untuk beberapa saat.


Nyonya Naraya yang memiliki nama asli Ayu Kasmirah itu kini mengalihkan pandangannya kepada Nadin. Ia terkejut begitu melihat Nadin yang kini sudah besar, rasanya dia ingin memeluknya. Namun, perasaan bersalahnya yang tiba-tiba muncul seakan melarangnya untuk menyentuh cucu perempuannya itu.


“Nadin, beliau adalah kenalan ibu. Ayo sapa,” ujar Damara menoleh ke arah Nadin.


“Selamat pagi, Nek. Nama saya Nadin,” ucap Nadin sambil mencium tangan neneknya yang tidak ia ketahui.


Nyonya Naraya mengernyitkan alisnya karena heran Nadin tidak mengenalinya. Ia pun menatap Damara yang juga ikut menyalaminya.


“Bagaimana kabarmu, Nak ?” tanya nyonya Naraya yang ingin sekali menyebut Nadin cucunya.


“Baik, Nek,” jawab Nadin tersenyum manis.


Mirip sekali, aku bahkan tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa ia adalah cucuku, gumam Ayu tersenyum kepada Nadin.


Nadin akhirnya diminta pulang lebih dulu oleh Damara karena mertuanya ingin berbicara dengannya. Ia pun sudah berpesan kepada Nadin untuk tidak turun tepat di depan rumah saat diantar pulang oleh sopir mertuanya. Hal itu dilakukan Damara supaya sopir dan mertuanya tidak mengetahui tempat tinggal mereka.


Kini, Damara dan mertuanya berada di sebuah restoran. Ia tidak menyangka kalau wanita yang pernah bersikeras melarangnya untuk menikahi anak bungsunya itu sekarang dengan suka rela mengajaknya duduk bersama.


“Bagaimana kabar nyonya ?” tanya Damara membuka pembicaraan.


“Baik, kamu juga pasti baik-baik saja kan ?”


Dia masih saja berbicara dengan nada sinis, batin Damara yang berusaha memaklumi mertuanya.


“Iya, aku baik-baik saja,” sahut Nadin tersenyum kecil.


“Apa kamu tidak memberitahu anak itu kalau aku adalah neneknya ?!”


Nadin bisa menangkap aura kekesalan dari nada dan ekspresi mertuanya saat bertanya dengan alis yang berkerut.


“Nyonya, bagaimana Anda bisa mengatakan ‘anak itu’ pada cucu Anda sendiri ?” sindir Damara.


“Apa kamu sedang menyindirku ?” tanya nyonya Naraya heran melihat Damara yang entah mendapat keberanian dari mana sehingga ia berani menyindirnya.


“Maaf kalau Anda merasa tersindir. Saya juga minta maaf sudah mengatakan hal itu. Saya lupa bahwa sebelumnya Anda mengatakan kalau di dalam keluarga Naraya tidak membutuhkan cucu perempuan," ungkap Damara.


Ucapan Damara benar-benar membuat hatinya terpukul. Memorinya yang sudah tua terpaksa mengingat kembali apa yang telah ia katakan.


“Aku tahu itu adalah kesalahanku. Tapi, kalau aku lihat dia mirip sekali dengan- ”

__ADS_1


“Cukup. Tolong jangan lanjutkan lagi,” pinta Damara sambil memberi isyarat dengan tangannya supaya mertuanya tidak melanjutkan kalimatnya.


__ADS_2