
Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya Nadin dan Aidan tiba di sebuah gedung bertingkat yang lebih terlihat seperti bangunan bergaya Eropa. Ketika turun dari mobil, Nadin sudah bisa melihat gemerlap lampu kristal yang berada di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba Nadin merasa gelisah dan menghentikan langkahnya sebelum masuk.
“Tunggu dulu,” ucap Nadin.
“Ada apa ?” tanya Aidan menoleh dan menghampiri Nadin yang ternyata berada di belakangnya.
“Emmm, a-apa kamu mencium bau amis dariku ?”
Aidan mengerutkan alisnya karena tidak mengerti dengan pertanyaan Nadin.
“Maksudku, apa aku bau amis ?”
Aidan lebih mendekat lagi dan menunduk untuk mengendus Nadin. Sementara, Nadin segera mundur ketika melihat perbuatan Aidan.
“Apa yang kamu lakukan ?” tanya Nadin memeluk tubuhnya sendiri.
“Aku sedang mencium apa kamu amis atau tidak. Dan kamu tidak amis,” jawab Aidan lalu mundur selangkah dari Nadin.
“Ah, iya. Tapi, kenapa harus mengendus ?” gerutu Nadin yang terdengar samar-samar di telinga Aidan.
“Kenapa kamu bertanya begitu ? Apa ada sesuatu yang mengganggumu ?” Kini Aidan memperhatikan Nadin dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
“Tidak ada. Berhentilah melihatku.”
“Ya sudah, ayo masuk,” ajak Aidan .
Nadin menyegerakan langkahnya mengekori Aidan. Namun, tangannya tanpa sadar menarik baju teman laki-lakinya itu ketika matanya menangkap sebuah tulisan yang terukir indah di atas pintu masuk.
“Ada apa lagi ?” Aidan menoleh sambil berusaha menahan senyumnya karena merasakan perasaan yang berbeda ketika Nadin menarik bajunya. Ia merasa gadis itu sedang bersikap manja padanya.
“Bukankah ini restoran yang sedang mengadakan makan gratis untuk 100 siswa yang pertama datang ?” tanya Nadin menampakkan wajah gelisah.
“Iya.”
“Aku rasa kita harus pergi, ini sudah pukul delapan, mungkin seratus siswa sudah datang,” jelas Nadin.
Aidan tersenyum simpul melihat kekhawatiran Nadin.
“Apa kamu menganggap aku akan mengajakmu ke sini untuk makan gratis ?” tanya Aidan.
Nadin hanya menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Aidan.
“Tenang saja, aku tidak mengajakmu untuk itu,” tanpa permisi Aidan memegang tangan Nadin dan mengajaknya masuk.
“Apa kamu berpikir kalau aku gengsi untuk diajak makan makanan gratis lalu kamu mengatakan 'tenang saja' ? Aku tidak bermaksud seperti itu. Waktu pulang sekolah, aku sempat mendengar dua orang yang akan datang ke sini, mereka mengatakan kalau restoran ini adalah tempat makan sultan. Kalau mereka mengatakan hal itu, pasti makanan di sini harganya mahal sekali, aku khawatir tidak bisa membayar,” jelas Nadin menarik paksa tangan Aidan.
“Astaga Nadin, kamu semakin besar semakin cerewet ya. Kenapa kamu mengkhawatirkan hal itu ? Kamu datang ke sini bersamaku. Jadi, jangan memikirkan hal-hal yang sepele,” sahut Aidan tersenyum.
“Ta- ,”
“Selamat malam, tuan,” sapa seseorang yang memutus ucapan Nadin. Dan Nadin baru sadar kalau mereka berdua sudah masuk di restoran megah itu.
“Malam,” sahut Aidan.
“Saya sudah menyiapkan tempat yang tuan pesan. Saya akan menunjukkan tempatnya. Mari.”
Dua anak Adam dan Hawa itu lalu mengikuti seorang pria yang sejak tadi menunggu mereka. Nadin pun membebaskan tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Aidan sebelum orang-orang di tempat itu melihatnya. Akan tetapi, tanpa ia sadari beberapa dari siswa dan siswi di sekolahnya sudah ada yang melihatnya bergandengan tangan.
Ya Tuhan ! Apa kami akan memakai alat menyebalkan ini ? batin Nadin ketika dirinya dan kedua laki-laki yang sedang bersamanya berdiri di depan lift.
Ting
Pintu lift terbuka begitu suara 'ting' terdengar. Nadin pun segera bergeser ke samping begitu beberapa orang keluar dari ruang sempit berwarna emas itu. Kedua matanya yang bulat seketika terbuka lebar saat mendapati Ela beserta dua gengnya keluar dari sana dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Make up mereka terlihat berantakan setelah lama diguyur air mata mereka sendiri. Tak ketinggalan bibir mereka yang merah merekah terus mengeluarkan suara hah hah, hingga terlihat jelas mereka sedang merasakan pedas yang luar biasa.
Nadin sempat heran saat Ela tidak menggubrisnya sama sekali, padahal biasanya kakak kelas itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengganggunya saat mereka bertemu. Ia pun bertambah heran melihat Aidan yang tiba-tiba selalu tersenyum sinis setelah berpapasan dengan Ela.
“Ayo masuk,” ajak Aidan.
Nadin menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam lift itu. Ia memegang erat pegangan yang terdapat di sana supaya tidak terjatuh seperti pengalaman pertamanya naik benda yang tidak disukainya itu.
__ADS_1
“Aduh !” Nadin sedikit oleng ketika kepalanya pusing merasakan lift mulai bergerak. Aidan yang berada di sampingnya dengan sigap memeganginya.
“Kamu kenapa ?” tanya Aidan terlihat khawatir.
“Tidak apa-apa, aku hanya belum terbiasa naik lift,” jawab Nadin segera melepas tangan Aidan dari lengannya.
“Pfftt,” pelayan laki-laki yang sedang bersama mereka berdua berusaha keras menahan tawanya dengan menutup mulut.
“Kenapa ketawanya ditahan ? Teruskan saja, saya tidak akan tersinggung,” ucap Nadin sambil menyandar.
“Maaf,” sahut laki-laki itu sedikit membungkukkan badannya kepada Nadin.
“Memangnya sudah berapa kali kamu naik lift ?” bisik Aidan penasaran.
“Dua kali, yang pertama saat di mall ketika aku akan ke lantai 3 bersama Dira.”
Raut wajah Nadin perlahan berubah menjadi terlihat sedih ketika dirinya menyebut nama Dira.
“Jangan katakan sesuatu yang membuatmu sedih,” pinta Aidan sambil mengamati wajah Nadin yang terus menunduk.
Apa kamu tahu apa yang kupikirkan ? gumam Nadin yang ikut menoleh kepada Aidan.
Begitu sampai di meja mereka, Nadin begitu terpesona melihat pemandangan kota yang dapat ia lihat dari dalam sana. Ia tak henti-hentinya memandangi lampu-lampu kota yang terlihat seperti bintang di langit malam.
“Apa kamu suka tempat ini ?” tanya Aidan yang merasa puas melihat Nadin akhirnya tersenyum.
“Iya, suka sekali,” jawab Nadin tanpa mengalihkan pandangannya kepada Aidan.
Aidan ingat kembali saat di mana ia mengajak Nadin naik biang lala di masa kecil mereka. Ia merasa Nadin tidak berubah karena tetap menyukai pemandangan lampu-lampu yang dapat ia lihat dari ketinggian.
“Berhentilah melihat ke luar, pesan dulu makanan yang kamu inginkan,” titah Aidan begitu seorang pelayan datang membawakan menu untuk mereka.
Pupil Nadin bergetar ketika melihat harga dari setiap makanan yang ada di sana. Ia membuka setiap lembaran tapi tidak menemukan satu pun makanan yang mampu ia bayar sendiri.
“Aku yang mentraktirmu, pesan saja apapun yang kamu mau,” tambah Aidan.
Kenapa aku merasa tidak nyaman ditraktir begini ? pikir Nadin.
Tuk tuk tuk
“Aidan,” panggil Nadin.
“Ya ?” sahut Aidan yang sejak tadi terus mengamatinya.
“Aku penasaran, kenapa Ela dan teman-temannya tadi terlihat sangat kepedasan ? Selain itu, di menu ini tidak ada yang menyediakan makanan pedas,” ungkap Nadin.
“Mereka memang memesan sendiri makanan pedas itu dan itu khusus untuk mereka bertiga,” sahut Aidan menyeringai.
“Oh begitu. Tapi, berhentilah tersenyum aneh seperti itu. Memangnya apa yang membuatmu senang sampai selalu saja tersenyum ?”
“Aku tersenyum karena ada kamu dan karena sesuatu yang lain,” jelas Aidan lalu memasang senyum polos.
Jawaban Aidan membuat Nadin terpaksa memalingkan wajahnya ke jendela kaca. Ia berusaha menahan senyumnya yang akan merekah. Beberapa kali ia mengipas dirinya dengan tangannya sendiri karena tiba-tiba merasa gerah.
Bagaimana ini ? apa yang harus aku lakukan ? Kenapa aku merasa senang sekali, batin Nadin yang sudah salah tingkah.
****Sebelumnya****
“Apa mereka sudah ada di sana ?” tanya Aidan yang baru saja turun dari mobilnya dan langsung disambut oleh tiga orang bawahannya.
“Sudah tuan. Kami sudah membawa mereka ke lantai dua,” jawab ketiga pria dewasa bersetelan serba hitam.
Aidan melonggarkan dasinya dengan kasar sambil terus melangkah dengan terburu-buru. Sekarang ini ia harus menyelesaikan urusannya dengan tiga orang perempuan dan harus kembali lagi ke sebuah hotel tempat orang tuanya mengadakan pesta.
Ia menyeringai ketika melihat tiga wanita yang sedang duduk dengan penuh kebanggaan di sebuah ruangan khusus.
“Apa kalian melihat wajah Nadin waktu itu ? Lucu sekali kan ? Pasti cabai itu membakar mulutnya, hahaha.”
“Hahahaha.”
Percakapan yang bagus sekali. Tunggu dan lihat saja, apa nanti kalian bisa tertawa dan membicarakan dia lagi, gumam Aidan melangkah menuju Ela yang sedang bersama Kiran dan Helen.
__ADS_1
Masih beberapa langkah Aidan sampai di meja mereka bertiga, ekor mata Helen sudah menangkap sosok Aidan yang sedang berjalan ke tempat mereka. Sontak ia langsung berdiri, kedua temannya yang terkejut dan heran melihat tingkahnya pun ikut melihat ke mana arah matanya memandang.
“Aidan,” ucap mereka berbarengan.
“Apa kalian sudah menunggu lama ?” tanya Aidan lalu memasang senyum tidak ikhlas.
“T-tidak terlalu lama,” jawab Helen terlihat gembira.
“Tunggu, tunggu, tadi seseorang mengatakan kalau ada yang akan bertemu dengan kami. Oleh sebab itu, dia menyediakan tempat khusus ini. Berarti orang itu adalah kamu ?” tanya Kiran yang tak kalah terlihat girang melihat Aidan datang menemuinya.
Aidan hanya menganggukkan kepalanya lalu meminta mereka untuk duduk. Sementara, Ela hanya diam saja. Perasaannya menjadi tidak tenang semenjak Aidan datang menemui ia dan teman-temannya.
“Apa kalian sudah memesan makanan ?” tanya Aidan kembali membuka pembicaraan.
“Sudah,” jawab mereka bersamaan.
Aidan menoleh kepada salah satu bawahannya dan menganggukkan kepala. Laki-laki yang diberi isyarat itu pun langsung memberi perintah kepada seseorang lewat alat komunikasi yang terpasang di telinganya. Selang beberapa saat, seorang pelayan datang membawakan makanan yang tidak asing dalam ingatan Ela, Kiran, dan Helen.
“Sepertinya, Anda salah mengantar makanan. Kami tidak memesan makanan ini,” ucap Ela kepada pelayan laki-laki itu.
“Dia tidak salah mengantar makanan, aku lah yang meminta mereka untuk membawa makanan ini untuk kalian,” timpal Aidan dengan senyum liciknya.
“Tapi, kami tidak pernah memesan mi ini,” tambah Kiran.
“Taburkan bubuk cabai itu ke piring mereka masing-masing,” perintah Aidan kepada para bawahannya tanpa menggubris ucapan Kiran.
“Aidan ! Apa yang kamu lakukan ?!” bentak Ela.
“Aku sedang melakukan apa yang pernah kalian lakukan kemarin. Kalian pasti ingat saat di mana kalian menaburkan satu bungkus bubuk cabai ke dalam makanan yang akan dimakan Nadin saat perlombaan. Waktu itu, Nadin tidak pernah meminta dan tidak pernah memesan kalian untuk menaburkan bubuk cabai sebanyak ini ke dalam piringnya kan ?! Jadi, kenapa kalian melakukan itu ? Sekarang jawab apa alasan kalian ?” tanya Aidan di sela-sela gemertak giginya saat berbicara karena menahan amarahnya yang siap meledak di depan mereka.
Kiran dan Helen sama-sama diam menatap Ela yang tak kunjung membuka bibirnya untuk menjawab pertanyaan Aidan.
“Kalian hanya ingin balas dendam kan ?” tanya Aidan.
“Kami tidak balas dendam, Ela lah yang membalas dendam,” timpal Helen.
Ela seketika menyorot tajam kepada Helen yang memojokkan dirinya.
“Meskipun begitu, kamu dan Kiran sama saja dengan Ela, kalian berdua sudah membantunya untuk membuat Nadin menderita. Jadi, kalian juga harus merasakan apa yang dirasakan Nadin waktu itu. Sekarang kalian bertiga makan mi ini sampai habis, aku akan memberi kalian waktu 15 menit.”
“Tunggu, apa buktinya kami melakukan itu ? Jangan seenaknya menuduh kami !” protes Ela berusaha mengelak.
Aidan langsung merasa jijik dengan ucapan Ela yang masih ingin membela diri. Sementara itu, salah satu bawahan Aidan langsung mengeluarkan laptop dan meletakkannya di depan Aidan.
“Ini adalah rekaman CCTV yang ada di kantin. Wajahmu jelas-jelas ada di sana bersama dua temanmu ini. Sangat menjijikkan melihatmu mengelak dan membela diri, padahal kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan,” ungkap Aidan setelah memperlihatkan video yang ada dalam laptop itu.
Seperti ada panah yang langsung menusuk hati dan telinga Ela bersama dua temannya. Helen dan Kiran bahkan sampai menelan ludah karena tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Aidan. Mereka berdua benar-benar tidak menyangka kalau bibir tipis yang dimiliki pangeran tampan di sekolah mereka itu sangat pedas.
“Kenapa kamu melakukan ini pada kami ? Apa kamu disuruh oleh Nadin untuk membalas dendam ?” tanya Ela setelah menelan semua rasa malunya.
“Dia tidak ada hubungannya dengan ini, aku melakukannya atas kemauanku sendiri. Bukankah kamu juga sama ? Kamu membully Nadin karena ingin membalaskan dendam adik sepupumu yang bernama Ami itu kan ? Aku adalah teman Nadin. Jadi, saat ini aku hanya ingin membalas perbuatan kalian terhadapnya. Itu saja,” jelas Aidan.
Setelah apa yang dikatakan Aidan, Ela dan temannya tidak bergeming sedikitpun untuk memegang sendok.
“Ok, kalau kalian tidak mau memakannya juga tidak apa-apa. Dengan senang hati aku akan membuat ayah kalian bertiga berhenti total dari pekerjaannya supaya mereka bisa mengajari kalian menjadi anak yang baik,” ujar Aidan tersenyum.
“Apa maksudmu !” tanya ketiga gadis remaja itu terkejut.
“Jangan pura-pura bodoh, kalian pasti mengerti maksudku. Sekarang kalian ambil sendok itu dan makan semuanya. Kalau tidak, kalian tahu sendiri akibatnya.”
“Jangan mengancam kami ! Mana mungkin kamu bisa melakukan itu !” balas Ela.
“Tentu saja bisa, ayah kalian bekerja di perusahaan ayahku,” timpal Aidan menyeringai.
Mata mereka terbelalak mengetahui kenyataan bahwa ayah mereka bekerja di perusahaan milik orang tua Aidan. Dengan terpaksa mereka mengambil sendok dan menyuap mi itu. Tak sampai lima detik, rasa panas sudah menyerbu lidah mereka. Aidan tak hentinya tersenyum puas ketika melihat mereka bisa merasakan apa yang Nadin rasakan waktu itu.
📨Aidan :
Pastikan mereka menghabiskan makanannya, baru beri mereka makanan yang sudah mereka pesan. Mungkin mereka punya video dan menguploadnya di medsos. Jadi, periksa ponsel mereka dan hapus semua video tentang Nadin.
📩Byan :
__ADS_1
Baik, tuan.
Aidan memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah menerima balasan dari bawahannya.