Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
3


__ADS_3

Langit sore yang terlihat seperti pelangi membuat Nadin terus mendongak ke atas. Semburat cahaya warna warni itu memang selalu berhasil mencuri perhatiannya, hingga membuat ia diam terpaku untuk beberapa saat. Namun, sebelum langit semakin gelap, ia segera memetik beberapa tangkai bunga mawar merah, kuning, putih, dan oranye di tamannya. Setelah selesai, ia berlari ke dalam rumah untuk meletakkan masing-masing bunga itu dalam vas bunga yang ada di ruang tamu, dapur, kamarnya, dan kamar ibunya. Kegiatan itu merupakan aktivitas rutin yang dilakukan oleh Nadin, ia selalu mengganti bunga yang sudah ia petik setelah selang tiga hari.


Tok… tok… tok…


“Naak, ibu pulang.” Panggil Damara yang sudah dua menit berdiri di pintu teras.


“Tunggu sebentaaaar.” Sahut Nadin yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia buru-buru menuju ruang tamu untuk membuka pintu tanpa mengelap telapak kakinya terlebih dahulu. Akibatnya ia terpeleset dan…


Bugh…


“Huaaaaaa.” Tangis Nadin pecah saat terjatuh dan merasakan sakit ketika dagunya berbenturan dengan sisi meja yang ada di ruang tamu.


“Nadin ?! Kamu kenapa, Nak ?” Tanya Damara yang khawatir mendengar Nadin tiba-tiba menangis. Ia berusaha melihat anaknya dari balik jendela yang tertutup tirai. Namun, usahanya sia-sia karena tirai di ruang tamunya terbuat dari bahan yang cukup tebal.


Ceklek…


Damara langsung masuk ke dalam rumah begitu mendengar suara pintunya terbuka.


“Astaga. Kamu kenapa, Nak ?” Tanya Damara yang terkejut ketika melihat bibir Nadin berdarah dan mengenai baju putih yang saat itu digunakannya.


“Huaaaaa… Nadin jatuh terus kena eja (meja). Huaaa....” Jawab Nadin yang tidak bisa merapatkan bibirnya yang terluka.


“Ya ampun, ayo kita obati dulu lukamu, Nak.” Sahut Damara kemudian mengajak Nadin menuju ruangan yang biasa mereka gunakan untuk menonton TV.


Damara membantu Nadin membuka bajunya dengan perlahan ketika mereka sudah duduk di sofa. Sesekali Nadin meringis kesakitan saat ibunya membersihkan darah di bibirnya.


“Kenapa Nadin bisa jatuh ?" Tanya Damara sambil mengoleskan obat di bibir Nadin.


"Tadi Nadin habis dari kamar mandi, trus kaki Nadin juga masih basah pas lari. Makanya Nadin jatuh." Jawab Nadin menatap ibunya.


"Ooh, lain kali setelah selesai dari kamar mandi, lap dulu kakimu, Nak. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.” Ucap Damara yang terus mengoleskan obat di bibir Nadin. Sementara, Nadin hanya mengangguk mengiyakan perkataan ibunya.


Cip… cip… cip…


Kukkuruyuuukkkk… kukkuruyuuukkkk…


Nadin terpaksa membuka matanya yang masih mengantuk ketika mendengar suara ayam yang ia pelihara di belakang rumah. Sebenarnya, ia terbiasa mendengar suara burung pipit yang berkicau di pagi hari. Namun, ia tidak pernah terbiasa dengan suara kokokan ayamnya itu.


“Kalau aku tidak membutuhkan e’eh kalian untuk pupuk bungaku. Sudah lama aku minta ibu untuk menjual kalian.” Gerutu Nadin dalam hati sambil memberi ayam-ayamnya makan menggunakan dedak yang dicampur dengan nasi.


“Loh, Nadin.” Panggil Damara heran saat melihat Nadin yang pada pukul enam sudah bangun dan memberi makan ayam mereka.


“Ya, Bu.” Sahut Nadin menoleh hanya sebentar dan melanjutkan kesibukannya.


“Tadi malam katanya mau bangun jam tujuh. Tapi, kenapa sekarang sudah bangun ?” Tanya Damara mendekat ke arah Nadin yang sudah selesai memberi ayam-ayam itu makan.


“Ayamnya berisik sekali, mungkin mereka lapar. Makanya Nadin kasi makan.” Jawab Nadin lalu membersihkan tangannya di keran yang tidak jauh dari kandang ayamnya.


“Haha, padahal ibu baru saja akan memberi mereka makan. Syukurlah, ibu terbantu karena Nadin. Terimakasih ya, Nak.” Ujar Damara mengelus kepala Nadin dengan lembut.


“Ya, Bu.” Sahut Nadin tersenyum sambil memandang wajah ibunya.

__ADS_1


“Eeh ? Hahahaha, Nadin anakku. Ayo masuk ke dalam dan mandi. Setelah itu, baru kita sarapan.” Ujar Damara setelah melihat Nadin yang bahkan belum memersihkan kotoran di matanya.


Nadin memandang wajahnya lekat-lekat di cermin yang terpasang di kamar mandinya. Ia kemudian menganggukkan kepalanya setelah memperkirakan penyebab kenapa tadi ibunya tertawa.


“Ibu menertawakan kotoran di mataku atau menertawakan bibirku yang jontor ?” Tanya Nadin dalam hati sambil memperhatikan bibirnya yang lebam dan bengkak. Ia kemudian membuka pakaiannya dengan perlahan supaya tidak mengenai bibirnya. Setelah lima menit mengaduk-ngaduk air di bak mandi untuk memutuskan apakah akan mandi atau tidak, ia akhirnya mengguyur seluruh tubuhnya dengan air. Hal itu sering dilakukan ketika merasakan air yang akan ia gunakan mandi terasa dingin di pagi hari.


“Uuuuuh,,, dingin sekaliiiii…” Lirih Nadin menggigil sambil melihat ibunya yang sedang menyiapkan sarapan.


Melihat Nadin yang sudah duduk manis di meja makan setelah selesai mandi, Damara langsung menuang air hangat dari termos dan mengambil handuk kecil.


“Sini ibu kompres dulu bibirmu, Nak. Supaya tidak bengkak lagi.” Ujar Damara duduk di depan Nadin. Ia merasa sedih saat melihat dagu anaknya ikut lebam akibat berbenturan dengan meja ruang tamu itu.


“Bibirnya pasti tergigit saat dagunya terbentur dengan meja, makanya bisa terluka seperti ini.” Pikir Damara yang dengan perlahan mengompres bibir Nadin.


Nadin hanya diam dan terus menatap wajah ibunya. Ia selalu heran melihat ibunya yang memiliki mata sipit, bibir tipis, hidung yang tidak terlalu mancung, wajah oval, dan kulit sawo matang. Berbeda dengan dirinya yang memiliki mata dan wajah yang bulat, hidung yang sedikit mancung, kulit yang kuning. dan bibir yang agak tebal di bagian bawah.


“Ibu, kenapa kita berdua tidak mirip ? Gara-gara itu, orang sering bilang kalau Nadin seperti bukan anak ibu.” Ucap Nadin masih mengamati wajah ibunya.


Seketika tangan Damara berhenti karena terkejut mendengar perkataan Nadin. Ia meletakkan handuk yang ia pegang sambil menarik nafas panjang dan memutar otak untuk memikirkan jawaban paling tepat untuk anaknya itu.


“Sayang, kamu tidak mirip dengan ibu karena kamu lebih banyak mengambil wajah ayahmu. Itu sebabnya orang-orang mengatakan kamu bukan anak ibu. Tapi, meskipun begitu, kamu tetap anak anak ibu. Kamu percaya pada ibu kan, Nak ?” Tanya Damara setelah menjelaskan pada Nadin.


“Iya, Nadin percaya.” Jawab Nadin tersenyum.


“Anak pintar. Ibu sangat menyayangimu.” Ucap Damara menempelkan keningnya di kening Nadin. Sementara kedua tangannya memegang pundak Nadin. Hatinya terasa sakit saat menyadari kalau ia memang benar-benar tidak mirip dengan Nadin.


Setelah selesai sarapan, Nadin bersama ibunya pergi ke warung. Saat masuk di parkiran, Damara melihat Mina sedang menyapu warung. Ia juga melihat karyawan yang lain tengah mengelap meja dan merapikan kursi karena sebentar lagi warung akan dibuka. Nadin yang sejak tadi memeluk ibunya dengan erat saat dibonceng dengan motor akhirnya turun karena mereka sudah sampai di warung.


“Iya, bibi Mina. Tapi, Lala di mana ?” Tanya Nadin sambil mengedarkan pandangannya mencari teman dekatnya itu.


“Lala tidak ikut. Kalau dia tahu Nadin akan datang hari ini, dia pasti akan ikut.” Jawab Mina lalu berjalan beriringan bersama Damara.


“Kenapa hari ini Nadin menggunakan masker.” Tanya Mina yang tidak pernah melihat Nadin memakai benda itu.


“Bibirnya terluka. Aku tidak mau lukanya terkena debu makanya kupakaikan masker.” Timpal Damara lalu meletakkan tasnya di meja kasir.


“Astaga, padahal dua minggu yang lalu kakinya terluka. Sekarang dia terluka lagi.” Ucap Mina terkejut.


“Yah, makanya aku membawanya kemari, supaya aku bisa mengawasinya dengan baik. Aku tidak mau dia terluka lagi. Sekarang juga sedang musim hujan, aku tidak tega meninggalkan dia sendirian di rumah.” Tutur Damara seraya melihat Nadin yang sedang duduk di dekat meja kasir sambil memakan kentang rebus yang ia bawa dari rumah.


Jari-jari lentik Nadin terlihat menari di meja kasir ketika suara musik yang mengalun dari lapangan tempat diadakannya festival terdengar sampai warung ibunya yang semakin ramai menjelang malam. Festival itu diselenggarakan setiap tahun untuk merayakan berdirinya Desa Semilir, yaitu desa tempat Nadin tinggal saat ini. Penduduk yang berasal dari Desa Bambu, yaitu desa yang berada di sebelah Desa Semilir juga banyak yang datang untuk melihat festival yang diadakan selama seminggu itu. Berbagai lomba diadakan untuk memeriahkan acara. Selain itu, wahana bermain juga disiapkan untuk menarik minat para pengunjung. Festival ini memang sangat dinanti oleh para karyawan yang bekerja di warung ibu Nadin. Sebab, warung tempat mereka berkeja saat ini dibuka sampai pukul sepuluh malam, berbeda dari hari biasanya yang buka sampai pukul tujuh malam. Dengan begitu, gaji yang mereka terima pada bulan diadakannya festival juga semakin banyak.


“Hoaaammm... Adududuhh...” Ringis Nadin karena merasa kesakitan ketika bibirnya yang terluka melebar saat menguap. Ia beberapa kali mengedipkan matanya lalu menyadari kalau tadi ia tertidur.


“Udah jam sebelas ya.” Lirih Nadin ketika matanya tertuju pada jam dinding yang ada di ruangan kasir itu. Karena mendengar warungnya sudah tidak ramai lagi, Nadin beranjak dari sofa tempat ia tertidur kemudian keluar mencari ibunya.


“Ibuuu...” Panggil Nadin seraya berjalan ke arah ibunya yang sedang duduk di meja pelanggan sambil menghitung penghasilan malam itu.


“Iya, sayang. Sini sama ibu.” Sahut Damara menoleh ke arah Nadin yang berjalan sambil mengucek matanya.


“Loh, ini lagi hujan ya, Bu ?” Tanya Nadin yang tidak lagi merasa mengantuk karena mendengar suara hujan yang sangat deras.

__ADS_1


“Iya, Nak. Kita akan pulang setelah hujannya reda.” Jawab Damara terus melanjutkan aktivitasnya.


Nadin kemudian berjalan menuju pintu warungnya yang sudah tertutup namun belum dikunci. Saat ini ia tidak lagi mendengar suara musik, yang ada hanya suara derai hujan bersama klakson dan mesin kendaraan yang masih lalu lalang di depan warungnya. Ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Seketika udara dingin dan terpaan air hujan langsung menyerbu wajahnya. Tiba-tiba, matanya yang bulat langsung terbuka lebar ketika mendapati seorang anak laki-laki yang terlihat seusia dengannya sedang berdiri di depan warungnya. Tanpa pikir panjang Nadin segera menghampiri anak laki-laki itu.


“Hei, kenapa kamu sendirian di sini ?” Tanya Nadin sambil berteriak karena besarnya suara hujan malam itu.


“Aku sedang menunggu orangtuaku.” Jawab anak laki-laki itu berteriak juga.


Nadin melihat pakaian anak laki-laki itu sudah mulai basah karena terkena air hujan.


“Siapa namamu ?” Tanya Nadin yang berusaha menutup kepalanya dengan tangan mungilnya supaya air hujan itu tidak mengenai kepalanya.


“Namaku Aidan.” Jawab anak laki-laki yang bernama Aidan itu.


“Ayo tunggu mereka di dalam. Kamu bisa kedinginan di sini.” Ajak Nadin.


“Aku akan menunggu mereka di sini. Sebentar lagi mereka pasti akan menemukanku.” Sahut Aidan tanpa terlihat terganggu dengan bajunya yang mulai basah.


“Menemukanmu ?!” Tanya Nadin terkejut lalu diam untuk mencerna perkataan anak yang berdiri di depannya itu.


“Astaga, jadi kamu ini anak yang hilang, anak yang tersesat, atau anak yang dibuang ?” Tanya Nadin dengan wajah polosnya. Ia bertanya begitu karena ia tiba-tiba teringat dengan kisah beberapa anak yang mengalami ketiga hal itu dalam sinetron yang ia tonton.


Seketika, Aidan melongo mendengar pertanyaan Nadin.


“Aku bukan ketiganya, aku hanya terpisah dari orang tuaku.” Jawab Aidan terlihat sedikit kesal karena pertanyaan Nadin.


“Ya sudah, terserah kamu ini anak apa. Sekarang, ayo masuk. Kamu bisa kedinginan di sini. Ibuku punya hp, kamu bisa menelepon orang tuamu dengan itu.” Bujuk Nadin yang mulai kedinginan.


“Tidak perlu.” Timpal Aidan. Ia sudah ingat pesan orang tuanya agar tidak terbujuk oleh siapapun untuk pergi bersama siapa saja saat berada di tempat asing.


“Ayo masuk, tidak apa-apa.” Ajak Nadin sambil menarik tangan Aidan. Sementara, Aidan memberontak tidak mau diajak masuk.


“Nadin, anakku !!!” Pekik Damara ketika tidak melihat anaknya ada di sekitarnya. Ia segera keluar dari warung dan menemukan Nadin sedang menarik anak laki-laki masuk ke warung mereka.


“Nadin, siapa anak laki-laki ini, Nak ?” Tanya Damara heran. Ia berusaha mengatur nafasnya karena jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian tadi.


“Namanya Aidan, Bu. Nadin menemukannya di luar dan mengajaknya masuk. Katanya dia terpisah dengan orang tuanya. Apa boleh ibu meminjamkannya hp untuk menghubungi orang tuanya ?” Tanya Nadin menatap ibunya.


“Tentu saja, Nak.” Sahut Damara.


“Nak, jangan takut. Tente bukan penculik atau orang jahat. Tante adalah pemilik warung ini. Ayo masuk dulu. Nanti tante akan meminjamkanmu hp.” Bujuk Damara sambil berjongkok menatap Aidan yang mulai menggigil.


Damara lalu buru-buru membeli pakaian untuk Nadin dan Aidan di toko kecil yang ada di depan warungnya. Setelah mengganti pakaian, Aidan menelpon orang tuanya.


Betapa terkejutnya Damara, Nadin, dan Aidan ketika ibu Aidan yang saat itu berbicara memberitahu mereka kalau jembatan yang menghubungkan Desa Semilir dengan Desa Bambu terputus karena banjir. Sementara orang tua Aidan saat ini sudah berada di Desa Bambu. Sebelumnya, Aidan dan orang tuanya terpisah di tengah keramaian dan mereka berpikir Aidan mencari mereka di Desa Bambu. Oleh sebab itu, mereka tidak menemukan Aidan di sana.


Damara pun akhirnya menawarkan diri untuk menjaga Aidan, mengingat Aidan tidak punya keluarga di Desa Semilir. Ia juga melakukan hal itu karena tidak tega melihat kedua orang tua Aidan yang sangat khawatir. Jadi, untuk sementara waktu, Aidan akan tinggal bersamanya sampai jembatan darurat untuk menghubungkan kedua desa itu selesai dibuat.


“Jadi aku akan tinggal bersama anak ini ya.” Gumam Nadin dalam hati sambil mengangguk-anggukan kepalanya menatap Aidan.


Tidak lama kemudian, Damara keluar dari dapur dengan membawa tiga gelas minuman hangat bersama kue kering kesukaan Nadin.

__ADS_1


“Anak-anak, minum ini dulu supaya kalian tidak kedinginan.” Ujar Damara yang kemudian ikut duduk bersama Nadin dan Aidan untuk menunggu hujan reda.


__ADS_2