
Nadin beberapa kali menarik nafas sembari melihat gerbang sekolahnya. Di samping kiri gerbang itu tertera identitas sekolahnya yang bernama SMA Negeri 1 J. Sebelumnya, ia merasa tidak yakin bisa memasuki sekolah yang isinya anak-anak pintar dan kaya itu. Namun, ibunya selalu memberi semangat dan keyakinan pada dirinya bahwa ia pasti bisa masuk ke sana asal mau berusaha dengan rajin belajar. Ternyata benar, sekarang ia bisa tersenyum lega karena bisa menimba ilmu di sekolah favorit dengan usahanya sendiri.
Baru selangkah ia melangkahkan kaki, sekelebat bayangan teman-teman SD dan SMPnya segera menyerbu ingatannya, membuat ia mundur beberapa langkah bersama sepedanya.
Apa mereka akan mengerjaiku seperti teman-temanku sebelumnya? Apa mereka juga akan mengejek wajahku yang seperti ini ? Bagaimana ini ? Apa aku kembali saja dan tidak usah sekolah ? Aku tidak mau kejadian sebelumnya terulang lagi. Pikiran-pikiran itu memenuhi kepala Nadin hingga membuat kakinya terasa tertahan untuk melangkah maju.
Ia berpikir seperti itu karena merasa jera dan takut setelah apa yang dia alami sebelumnya. Pikirannya pun melayang ke masa lalunya lagi.
Beberapa hari setelah berpisah dengan Aidan, hari di mana ia mulai sekolah sebagai siswi kelas lima SD akhirnya tiba. Hari pertama masuk sekolah itu merupakan kenangan buruk baginya. Bagaimana tidak, Nadin sudah datang pagi-pagi supaya bisa memilih tempat duduk yang dia inginkan. Begitu dapat, Joko malah datang dan memarahinya karena menganggap ia sudah merebut tempat duduknya. Nadin yang ngotot tidak mau pindah mendapat pukulan dari Joko tepat di punggungnya hingga membuat ia memuntahkan isi perutnya dan akhirnya pingsan. Joko pun mendapat teguran keras dari gurunya karena dia sering kali ketahuan mengganggu Nadin.
Kelas enam pun sama, ia sering kali dijauhi oleh teman-teman perempuannya karena hal sepele, seperti saat pemilihan ketua kelas. Nadin dijauhi karena hanya dia yang memilih anak laki-laki sebagai ketua kelas, padahal Ami sudah memerintahkan supaya semua anak perempuan memilih salah satu genknya yang sudah ditentukan untuk dijadikan ketua kelas.
Naasnya, saat SMP pun Nadin sekelas dengan Ami. Karena ulah Ami yang menyebarkan kalau panggilannya saat SD adalah kentang, hampir semua siswa siswi yang mengenalnya ikut memanggilnya kentang. Beruntung Nadin tidak lupa kalau ia memiliki nama asli.
Kelas tiga merupakan saat-saat paling berat yang harus dilalui oleh Nadin. Berat badannya tiba-tiba melonjak sampai angka 60 kg. Jerawat batu pun ikut tumbuh seakan ingin menambah penderitaan Nadin, kulitnya yang semula kuning langsat perlahan berubah menjadi coklat dan terlihat kusam.
“Pas sekali kan mirip kentang ?” tanya Ami kepada genk barunya yang ia bentuk setelah kelas tiga SMP. Nadin hanya diam mendengar ucapan Ami. Ia menelan amarahnya bersama ejekan Ami karena ia memang menyadari kalau itu adalah penampilan terburuknya.
Jauh sebelumnya, Ami sudah dijelaskan oleh ibunya kalau ia bertengkar dengan ibu Nadin hanya karena salah paham. Jadi, dia meminta Ami untuk berhenti mengganggu Nadin. Namun, meskipun sudah dijelaskan. Ami tetap membully Nadin karena itu sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan dan tidak bisa ia tinggalkan.
Nadin pun sempat tidak ingin masuk sekolah karena perlakuan Ami bersama genknya. Anak laki-laki di kelasnya yang sebelumnya cuek malah ikut membully dirinya. Akibatnya, Nadin menjadi penyendiri dan tidak mau bermain dengan siapapun. Ia tersenyum hanya saat pembagian rapor saja karena merasa sedikit senang sudah bisa mempertahankan prestasinya dan selalu mendapat juara satu.
Hingga pada suatu sore tepat di hari pengumuman kelulusan mereka, Ami bersama genknya pura-pura merasa bahagia karena Nadin tetap mendapat juara satu sampai tamat SMP. Nadin pun diajak pulang bersama genknya. Namun, kali ini Nadin langsung menolak ajakan Ami. Ami dan genknya memaksa Nadin untuk ikut dengan cara sama-sama merangkul Nadin dan membawanya ke sebuah gang sepi yang jarang dilewati orang. Di sana mereka mengeluarkan tepung, telur, minyak, dan lumpur dari tas mereka masing-masing kemudian melempari dan menyirami Nadin.
“Sekarang udah benar-benar mirip kentang goreng kan ?” tanya Ami sambil tertawa bersama teman-temannya.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku ?! Aku tidak pernah mengganggu kalian !” teriak Nadin yang emosinya sudah sampai ubun-ubun.
“Kami melakukan ini untuk dijadikan kenang-kenangan terakhir. Ayo foto dulu,” jawab Ami dengan santai tanpa rasa bersalah.
Nadin menempis tangan Ami yang ingin megambil fotonya hingga ponselnya terjatuh dan retak. Karena marah, Ami langsung menjambak rambut Nadin. Tidak terima diperlakukan seperti itu, Nadin ikut menjambak Ami. Teman-temannya yang ingin membantu pun habis terkena pukulan Nadin.
“Kamu mau buat kenang-kenangan terakhir kan ?” tanya Nadin yang kini sudah duduk di atas Ami yang terlentang di tanah, “sini, biar aku juga membuat kenang-kenangan terakhir untumu,” ujar Nadin kemudian mencakar pipi kanan Ami dengan kukunya yang panjang.
Ami berteriak ketika merasakan kuku Nadin membuat goresan di wajahnya. Benar saja, teman-teman Ami terlihat ketakutan saat melihat darah keluar dari pipi Ami yang sudah dicakar oleh Nadin. Tanpa pikir panjang, mereka langsung lari meninggalkan Ami.
“Semoga lukamu ini berbekas supaya kamu tetap ingat kalau aku yang membuat wajahmu seperti ini. Atau apa perlu aku membuat luka di bibirmu juga ?” tanya Nadin seraya menekan kukunya di bibir Ami.
“Tidak, tolong jangan lakukan itu. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengganggumu lagi,” sahut Ami yang menampakkan ketakutan di matanya.
Setelah Damara melihat Nadin pulang dalam keadaan tubuh kotor karena dilempari tepung, telur, minyak, dan lumpur. Damara akhirnya memutuskan untuk pindah ke ibu kota supaya Nadin tidak diganggu lagi oleh teman-temannya. Ia begitu sedih karena baru sekarang Nadin bercerita kalau ia sering dibully. Mereka pun pindah ke sebuah rumah yang berdekatan dengan universitas. Di sana Damara kembali membuka tempat makan dengan memanfaatkan halaman belakang rumahnya yang luas dan berhadapan langsung dengan bagian belakang fakultas FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).
“Dek, kenapa diam di sini ?” suara seorang laki-laki yang merupakan anggota OSIS tiba-tiba menyadarkan Nadin dari ingatan buruknya. Ia segera menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang siswa yang berseragam sama dengannya sedang menatap dirinya.
“I-iya, saya akan masuk,” sahut Nadin setelah menoleh ke arah kakak kelas yang memiliki wajah tampan itu.
__ADS_1
“Pakai atributnya yang lengkap ya, sekarang akan ada pemeriksaan kelengkapan,” pesan kakak OSIS itu lagi.
“Itu… saya mau ke toilet dulu, apa saya boleh pakai nanti setelah kembali ?” tanya Nadin yang tiba-tiba kebelet pipis setelah disapa.
“Boleh, tapi cepat ya."
Kakak OSIS yang bernama Saka itu terus memandang Nadin yang sedang berlari menuju parkiran sepeda dan segera menuju toilet setelah sepedanya terparkir.
“Rambutnya panjang sekali,” lirih Saka terlihat kagum melihat sosok Nadin.
Nadin menengok ke sana kemari untuk menemukan toilet, ia baru sadar kalau ia tidak tahu di mana tempat yang ingin dituju itu. la meremas roknya dan menggigit bibir bawahnya karena sudah tidak tahan, beruntung matanya menangkap tulisan 'toilet' sehingga ia langsung bergegas menuju ke sana.
"Astagaaa, itu toilet laki-laki atau perempuan sih ?" lirih Nadin mempercepat langkahnya.
"Masuk aja lah, toh ini juga masih pagi. Pasti belum ada yang datang." Nadin mendorong pintu salah salah satu toilet yang berjajar tiga itu dengan kuat.
Brakkkk
Pintu terbuka lebar, Nadin berdiri mematung di depan pintu itu dan…
“Aaaaaaaaaaaaaa,” Nadin dan seorang siswa yang berada di dalam toilet itu sama-sama berteriak karena terkejut.
Mata Nadin yang saat itu terbuka lebar ketika berteriak sempat melihat kalau siswa itu ternyata sedang pipis. Sementara, siswa itu langsung bersandar ke tembok sembari menyembunyikan miliknya yang berharga. Tanpa pikir panjang, Nadin mengambil langkah seribu untuk meninggalkan siswa yang syok itu.
Bagaimana ini ? Apa aku akan dibully dan dipanggil cewek mesum gara-gara kejadian ini ?
Tunggu, apa dia sekolah di sini ? Mata Nadin langsung terbelalak ketika pertanyaan itu muncul di kepalanya.
“Ayoook, adek-adek baru semuanya kumpul di sini untuk memeriksa kelengkapan atribut dan bawaan kalian !” himbau Saka yang tadi menyapa Nadin di depan gerbang, sekaligus orang yang tadi berbaik hati mengantarnya menuju toilet perempuan.
Mendengar himbauan itu, Nadin segera mengambil tas kantong plastik merahnya yang berukuran besar, kemudian memakai topi kerucut berwarna merah, tak lupa ia mengenakan nam tagnya yang hanya memperlihatkan nama dan nama panggilannya saja. Setelah lengkap, ia berlari menuju para kakak OSIS yang sudah berdiri di gerbang sekolah.
“Panjang sekali rambutnya, Dek,” ucap Dena, salah seorang anggota OSIS di sekolah itu.
“Iya, Kak,” sahut Nadin dengan jantung yang terus berdetak kencang. Ia mulai khawatir saat Dena memeriksa kelengkapan barang yang sudah diminta untuk dibawa. Ia takut kalau sampai ada yang terlupakan. Akhirnya, Dena memperbolehkan Nadin menuju lapangan tempat diadakannya upacara penyambutan setelah ia selesai memeriksa barang dan menghitung kepangan Nadin yang harus berjumlah lima belas.
Upacara penyambutan yang dilakukan di lapangan upacara membuat Nadin merasa gerah karena sinar matahari mulai terasa panas ketika menyentuh kulitnya. Setelah selesai, semua peserta MOS (Masa Orientasi Siswa) diperintahkan untuk segera memasuki kelas yang sudah ditentukan.
Nadin akhirnya merasa nyaman setelah duduk di kelas yang terasa sejuk berkat adanya AC. Saat ini ia berada di kelas bahasa Inggris 1 yang merupakan tempat berkumpulnya peserta MOS kelompok merah. Ia pun tidak memperdulikan siapa yang duduk di dekatnya. Ia hanya tersenyum tipis untuk mengiyakan ketika ada rekan MOSnya yang meminta izin untuk duduk di sampingnya.
Astagaaa, kenapa dia bisa ada di kelompok merah juga ? pekik Nadin dalam hati seraya menutup mulutnya ketika melihat siswa yang ia temui di toilet itu sedang berjalan mencari tempat duduk. Ia segera mengalihkan pandangannya saat 'siswa toilet' yang tampak seperti idol itu secara acak melemparkan pandangan ke arahnya.
Dia tidak melihatku kan ? batin Nadin terus menunduk.
“Kamu kenapa ?” pertanyaan siswi yang sedang duduk di sampingnya itu membuatnya terkejut.
__ADS_1
“A-aku tidak apa-apa,” sahut Nadin seraya menggelengkan kepalanya.
“Oh. Perkenalkan, namaku Dira Wibowo, panggil saja aku Dira,” siswi berparas cantik itu memperkenalkan dirinya sembari tersenyum hangat kepada Nadin.
“Namaku Nadin," sahut Nadin tersenyum kaku menyambut jabatan tangan Dira.
“Ayo kita berteman,” ajak Dira semakin mengembangkan senyumnya.
Aku tidak ingin berteman, batin Nadin melepaskan jabatan tangannya tanpa membalas ajakan Dira.
Nadin cukup heran dengan Dira yang tampak tidak ambil pusing meskipun ia tidak memberikan jawaban. Ia malah tiba-tiba mengajaknya membicarakan nama-nama boyband yang tidak pernah Nadin ketahui.
Tidak lama kemudian, tiga orang anggota OSIS masuk ke dalam kelas untuk memberitahu kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan. Setelah itu, dimulailah acara perkenalan yang sangat tidak diinginkan oleh Nadin karena ia tidak ingin berdiri di depan kelas menghadap begitu banyak teman barunya.
Jantung Nadin seakan ingin menembus dadanya ketika ia mendapat giliran untuk memperkenalkan diri. Dengan langkah berat, ia menuju ke depan kelas. Ia tidak berani mengangkat kepalanya karena takut dengan pandangan teman barunya terhadap dirinya. Ia mulai merasa tidak nyaman ketika mendengar suara bisik-bisik perlahan sampai ke telinganya.
“Ayo perkenalkan diri, Dek,” titah Aldo yang merupakan satu-satunya OSIS laki-laki di kelas itu.
Nadin mengangkat kepalanya, ia rasanya ingin kabur dari kelas ketika melihat 'siswa toilet’ itu sedang menatap ke arahnya. Ia menelan ludahnya dan buru-buru mengalihkan pandangan.
“Sebentar, coba adek baru yang duduk paling belakang di pojok kiri juga maju ke depan,” Pinta Dena yang sejak awal sudah tertarik dengan siswa yang dimaksud itu.
Dug dug dug
Nadin merasa akan pingsan karena jantungnya berdetak begitu cepat. Ia merasa sangat gugup ketika ‘siswa toilet’ itu berjalan ke arahnya dan kini sudah berdiri di sampingnya. Nadin menggeser tubuhnya ke kanan supaya memiliki jarak yang cukup banyak dengannya.
“Nama saya Aidan Rederick, panggilan Aidan." 'Siswa toilet' yang baru saja memperkenalkan dirinya itu berhasil membuat Nadin menoleh ke arahnya dengan mata terbuka lebar.
Aidan ? Apa benar kamu Aidan ? gumam Nadin sambil terus menatap Aidan yang jauh lebih tinggi darinya.
Tapi aku tidak tahu dia Aidan yang kukenal atau tidak. Dulu aku tidak sempat menanyakan nama lengkapnya, batin Nadin yang masih tidak percaya dengan kebetulan yang membuat bingung dirinya itu.
Nadin tidak menghiraukan sorakan kagum para siswi yang terpesona dengan Aidan karena ia hanya fokus pada pikirannya.
"Hei !" Aidan sedikit menyentuh lengan Nadin yang saat ini hanya menunduk.
"Eh ?" Nadin terkejut dan mendongak Aidan yang tidak percaya kalau dia sedang melamun.
"Perkenalkan dirimu," bisik Aidan.
Nadin lalu melihat sekilas ke arah para anggota OSIS yang sedang memberi isyarat supaya ia memperkenalkan dirinya. Ia pun menarik nafas panjang untuk memberanikan diri berbicara.
"Nama saya Nadin Naraya, saya bisa dipanggil Nadin," ucap Nadin dalam sekali tarikan nafas.
Kini hal yang sama terjadi pada Aidan, ia seketika menoleh ke arah Nadin yang sudah memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Secara tidak sengaja Nadin menoleh lagi ke arah Aidan yang kini menatap dirinya juga tanpa berkedip. Ia ingin sekali bertanya apakah Aidan yang saat ini ada di sampingnya adalah anak laki-laki bermulut pedas yang dulu pernah memberinya kenangan berharga semasa kecilnya. Namun, keinginan itu seketika terhapus ketika bayangan Aidan saat di dalam toilet berkelebat di dalam ingatannya yang bandel tidak mau melupakan kejadian itu.