
Tanpa diminta, Aidan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk Nadin yang saat ini terus menenggelamkan diri dalam pelukan ibunya.
“Tante, ini air untuk Nadin,” ujar Aidan seraya memberikan gelas kepada Damara yang masih memeluk Nadin di sofa ruang tamunya.
“Terima kasih. Kamu istrihat saja, Nak. Tante akan membawa Nadin ke kamarnya,” sahut Damara setelah memberikan Nadin minum.
Setelah sampai di kamar, Damara menyibak poni yang menutup pelipis Nadin. Hatinya kembali panas ketika melihat lebam yang cukup besar di sana. Ia pun memegang kedua pipi Nadin supaya ia bisa melihat wajah Nadin.
“Maafkan ibu, Nak,” ujar Damara menatap wajah Nadin yang masih diselimuti ketakutan.
Nadin mengamati rambut ibunya yang berantakan, seketika bayangan saat ibunya dijambak dan dirinya dipukul oleh Bu Jaim menyerang ingatannya. Air mata ibunya yang menggenang membuat tangisnya yang sejak tadi tidak bisa keluar akhirnya pecah. Ia memeluk erat ibunya dan terus menangis, perasaannya campur aduk memikirkan kejadian yang terus menimpa mereka berdua.
Ia sering dibully oleh temannya hingga membuat ia sering berkelahi. Sementara, ibunya terus dituduh menggoda suami para wanita yang ada di kampungnya. Sampai-sampai para wanita itu sering datang ke rumah untuk mengomeli ibunya dengan kata-kata yang tidak enak didengar, sama persis seperti kejadian tadi. Hanya saja, wanita-wanita itu tidak sampai memukul ibunya.
Aidan yang sejak tadi membatu di depan kamar Nadin akhirnya kembali ke kamarnya. Ia pun merebahkan tubuh kurusnya ke ranjang. Matanya yang menerawang plafon putih tidak juga menemukan titik fokus karena memorinya terus memutar kejadian yang baru saja ia temui. Selama ini ia hidup dalam lingkungan dan keluarga yang harmonis, bisa dikatakan kejadian tadi cukup mengejutkan dirinya. Tiba-tiba hatinya pun ikut bersedih saat mendengar suara tangis Nadin yang masih tertangkap oleh telinganya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Damara pergi ke rumah Pak Heri dan menjelaskan apa yang terjadi. Pak Heri yang menjadi RT di kampung Semilir itu kemudian memanggil Bu Jaim dan Bu Diah bersama orang-orang yang menggosipkan dirinya menggoda Pak Burhan. Karyawan yang kemarin ada di dekat Damara juga ikut datang ke rumah Pak Heri.
“Ibu-ibu, Bu Damara tidak pernah menggoda Pak Burhan. Kemarin saya juga ada di sana. Saya sedang makan di dekat Pak Burhan saat dia berbicara dengan Bu Damara. Mereka hanya membicarakan harga makanan yang sudah dimakan oleh Pak Burhan. Hanya itu saja, tidak ada yang lebih. Kenapa ibu-ibu sekalian malah berbicara yang tidak-tidak ?” tanya Pak Heri setelah ia membuktikan kebenaran ucapan Damara.
Para wanita yang saat itu berkumpul di rumah Pak Heri diam dan menunduk malu karena tuduhan mereka tidak terbukti.
“Tapi, kemarin saya melihat mereka berbicara, Pak.” Bu Diah yang merupakan sumber gosip itu akhirnya angkat suara.
“Apa ibu mendengar apa yang mereka bicarakan ?” tanya Pak Heri mengalihkan pandangannya ke arah Bu Diah yang merupakan ibu dari Joko.
“Tidak,” ungkap Bu Diah dengan wajah masam.
“Lalu kenapa ibu berani menuduh Bu Damara ?” Pertanyaan Pak Heri membuat Bu Diah tidak bisa berkata apa-apa.
“Lalu, kenapa ibu-ibu sekalian menganggap Bu Damara menggoda Pak Burhan ? Apa kalian sudah melihat atau mendengar Bu Damara melakukan itu ?” tanya Pak Heri kembali menatap para wanita yang ada di sana satu per satu.
“Kami hanya mendengar cerita Bu Diah,” jawab salah seorang wanita yang kemarin ikut bergosip dengan Bu Diah.
“Astagfirullohal’aziim,” lirih Pak Heri tidak percaya dengan kekuatan gosip milik Bu Diah.
Setelah semuanya diinterogasi, Pak Heri memberikan nasihat kepada ibu-ibu itu supaya tidak menuduh orang lain tanpa ada bukti yang jelas. Sementara, Bu Diah merasa sangat malu ketika ibu-ibu itu memberikan tatapan yang tidak mengenakkan setelah mereka menyadari bahwa gosip tentang suami mereka yang digoda oleh Damara berasal darinya juga.
Bu Diah memang memiliki dendam kesumat pada Damara lantaran ia pernah melihat suaminya dan Damara pernah berbicara sambil berbagi senyum, padahal saat itu ia juga salah paham. Damara tersenyum saat ia mengucapkan terima kasih ketika suami Bu Diah mengembalikan dompetnya yang terjatuh di jalan. Namun, Bu Diah yang terkenal bucin dengan suaminya malah langsung marah dan menuduh Damara tanpa mau menerima kebenaran setelah dijelaskan oleh Nadin.
Penyebab Joko mengganggu Nadin di sekolah karena ia marah setelah sering mendengar ibunya yang suka menyebut Nadin anak haram dan menganggap Damara p*****r yang menyebabkan ia selalu bertengkar dengan suaminya. Hal yang sama juga terjadi pada anak-anak lain yang suka mengganggu Nadin, mereka termakan oleh omongan ibu mereka. Seakan Nadin dan ibunya lah yang menjadi penyebab kehidupan keluarga mereka menjadi tidak menyenangkan.
Selang satu hari setelah kejadian itu. Tiba-tiba Ami datang ke rumah Nadin untuk mengajaknya bermain petak umpat. Tanpa pikir panjang, ia pun mengiyakan ajakan Ami. Aidan yang saat itu tengah berada di kamar mandi menyuruh Nadin pergi duluan dan akan menyusul setelah urusannya dengan WC telah selesai. Namun, Aidan tidak menemukan Nadin di tempat yang sudah disebutkan. Langit pun mulai mendung dan akhirnya turun hujan. Ia pun kembali ke rumah untuk mengambil payung kemudian mencari Nadin lagi. Butuh waktu yang cukup lama sampai ia menemukan Nadin sedang berteriak memanggilnya dari dalam sebuah rumah tua.
Di tengah tangisnya, ia menceritakan kalau Ami dan genknya membawanya ke rumah tua untuk bermain petak umpat. Awalnya, ia menolak. Ami yang tak ingin menyerah terus membujuknya sampai ia mau. Namun, setelah Nadin masuk ke dalam rumah tua, Ami dan genknya langsung menutup pintu dan menahan gagangnya dengan kayu sehingga ia tidak bisa keluar. Mereka meninggalkan Nadin yang menangis minta dibukakan pintu setelah Ami mengatakan, “siapa suruh ibumu memukul ibuku.”
__ADS_1
“Kamu ini bodoh sekali ! Bisa-bisanya kamu dijebak seperti itu ! Mulai sekarang sampai seterusnya kamu jangan bermain lagi dengan Anak itu !” semprot Aidan tanpa peduli Nadin yang sedang menangis.
Aidan kesal karena Nadin tidak mematuhi larangannya untuk bermain dengan Ami. Aidan melarang Nadin bukan tanpa sebab, ia melakukan itu karena ingat dengan apa yang sudah terjadi pada ibu mereka berdua. Pada akhirnya, sisa libur semester digunakan Nadin untuk bermain bersama Aidan. Ya, hanya bersama Aidan. Lala tidak bermain bersamanya karena Lala pergi mengunjungi neneknya dan akan tinggal di sana sampai tiba hari masuk sekolah.
Hari-hari yang dilalui Nadin dan Aidan sangat menyenangkan. Tapi, kalimat itu mungkin hanya berlaku untuk Nadin karena ia selalu mengajak Aidan memainkan permainan perempuan, seperti bermain masak-masakan, bola bekel, bongkar pasang kertas, congklak, dan lompat tali. Saat bermain lompat tali, Nadin mengikat salah satu ujung tali karet di pohon, lalu mereka bermain secara bergantian. Namun, Aidan tidak menduga Nadin akan mengajaknya mengambil kotoran ayam untuk memupuki tanamannya. Ia langsung muntah karena tidak tahan dengan aroma kotoran ayam yang tidak pernah dihirup oleh hidung mancungnya itu.
“Jangan sentuh aku ! Tanganmu sudah terkena kotoran ayam,” ujar Aidan segera menjauhkan diri dari tangan Nadin yang siap mengelus punggungnya.
“Eeh ? Kan aku pakai sarung tangan,” sahut Nadin sambil berusaha menahan tawanya. Sebenarnya, ia ingin menertawakan Aidan. Namun, keinginannya itu diurungkan karena kasihan melihatnya.
Pada suatu hari, Aidan mengajukan protes kepada Nadin.
“Kenapa kamu selalu mengajakku memainkan permainan perempuan ?” protes Aidan yang berusaha menyadarkan dirinya kalau ia seorang laki-laki.
“Supaya kamu percaya kalau aku ini perempuan,” jawab Nadin dengan mata yang terbuka lebar.
Aidan diam setelah mendengar jawaban Nadin. Ia tidak menyangka kalau Nadin akan membuktikan ucapannya saat ia menganggap Nadin tomboi.
“Oke, oke. Aku percaya kamu perempuan,” timpal Aidan.
Hari berikutnya, Aidan mengajak Nadin bersepeda setelah ia menemukan sebuah sepeda tua tergeletak di belakang rumah. Namun, ia terpaksa mengajari Nadin karena Nadin tidak bisa mengendarai sepedanya. Kesabaran Aidan benar-benar diuji karena Nadin selalu jatuh dan menabrak pagar maupun tembok rumah orang.
Sebelum matahari tenggelam di balik bukit, Aidan membonceng Nadin untuk pulang ke rumah. Tak disangka, sepeda tua yang mereka kendarai tiba-tiba patah menjadi dua hingga mereka berdua terjatuh. Akhirnya, mereka berdua pulang sambil membawa potongan sepeda itu.
Keesokan harinya, Damara sengaja tidak datang ke warung untuk menghabiskan waktu bersama Nadin dan Aidan. Aidan begitu senang dan bersemangat ketika Damara mengajak ia dan Nadin pergi memancing di kolam. Setelah membawa bekal makanan, mereka bertiga berangkat menuju kolam yang ada di sawah milik Damara.
Di saat yang sama, Damara sibuk mengambil gambar Nadin dan Aidan yang sedang memancing. Sebelumnya, ia juga mengambil foto dirinya bersama kedua anak itu saat baru sampai di sawah untuk dijadikan kenang-kenangan.
“Iiisshhh. Kenapa ikannya tidak memakan umpanku ?” gerutu Nadin seraya membuang pancing bambu yang ia gunakan untuk memancing. Kini, pancing itu berenang di ke tengah kolam setelah dicampakkan oleh Nadin.
“Hahahahaha.” Damara dan Aidan tidak bisa menahan tawa melihat Nadin yang bermuka masam setelah membuang pancingnya.
Itulah alasan Damara memberi Nadin pancing bambu karena ia tahu kalau Nadin tidak memiliki kesabaran dalam hal memancing. Sedangkan, Aidan diberi pancing yang biasa digunakan oleh almarhum suaminya. Sebenarnya, kamera dan pancing itu merupakan peninggalan dari suami tercintanya. Kedua benda itu bisa mengingatkannya bahwa ia dan suaminya pernah menghabiskan waktu bersama menggunakan benda-benda itu.
Pada malam Kamis yang bertepatan dengan malam ulang tahun Nadin, kedua orang tua Aidan datang ke rumah Nadin untuk menjemput Aidan. Nadin terkejut ketika kedua orang tua Aidan tiba-tiba membawa kue ulang tahun dan dengan suka rela merayakan ulang tahunnya, padahal ulang tahunnya besok.
Sebelumnya, Aidan menghubungi orang tuanya untuk memberitahu kalau Nadin akan ulang tahun pada tanggal 20 April. Jadi, dia meminta ayahnya untuk membawa sepeda baru untuk Nadin sebagai hadiah. Ia tidak menyangka kalau orang tuanya sampai membawa kue dan beberapa kado untuk Nadin. Tentu saja Nadin merasa senang karena biasanya ia selalu merayakan hari kelahirannya itu hanya bersama ibunya. Namun, kesenangannya tidak bertahan lama ketika Aidan dan orang tuanya berpamintan untuk pulang.
Orang tua Aidan sangat berterimakasih kepada Damara karena sudah menjaga anak mereka dengan baik. Mereka pun memberikan sejumlah uang kepada Damara. Namun, Damara menolaknya karena ia sudah menganggap Aidan seperti Anaknya sendiri.
Kini, Nadin dan ibunya berdiri di gang tempat ia akan melepas kepergian Aidan. Lampu mobil yang akan dikendarai Aidan memperlihatkan titik-titik gerimis yang perlahan membasahi kepala Nadin. Air mata Nadin menetes dengan perlahan karena sedih ketika melihat Aidan menaiki mobilnya.
Kaki Nadin spontan melangkah menuju Aidan yang tiba-tiba keluar dari mobil dan menghampirinya juga. Aidan langsung menggenggam kedua tangan Nadin. Sekarang mereka berdua berdiri di antara orang tua masing-masing.
“Kenapa kamu menangis ?” tanya Aidan membantu Nadin menyeka air matanya.
__ADS_1
“Apa kamu akan ke sini lagi ?” tanya Nadin ikut menggenggam tangan Aidan.
“Tentu saja, aku akan ke sini lagi saat aku punya kesempatan. Jadi, jangan menangis,” sahut Aidan menatap wajah Nadin tanpa berkedip.
Nadin hanya mengangguk mengiyakan Aidan.
“Ingat, kamu tidak boleh bodoh. Jangan sampai kamu dikerjai lagi. Lawan siapa saja yang berani mengerjaimu.” Pesan Aidan.
Lagi-lagi Nadin hanya mengangguk mengiyakan.
“Dan juga... apa kamu bisa memanjangkan rambutmu sampai kita bertemu lagi. Aku ingin melihat rambutmu yang panjang saat kita bertemu nanti. Kamu mau ?" tanya Aidan penuh harap.
“Iya, aku mau,” jawab Nadin meskipun ia
heran dengan permintaan Aidan.
“Jaga dirimu baik-baik.” Tangan Aidan semakin menggenggam erat tangan Nadin.
“Iya, kamu juga,” sahut Nadin.
“Sampai jumpa,” ujar Aidan seraya mencium kedua tangan Nadin.
Nadin begitu terkejut saat Aidan mencium tangannya. Sementara itu, pipinya langsung terasa hangat mendapat perlakuan seperti itu.
“Sampai jumpa juga,” sahut Nadin yang dibarengi dengan tetesan air matanya. Ia terus berdiri di gang itu tanpa memperdulikan gerimis yang terus menyerbunya. Ia masuk ke dalam rumah begitu mobil yang dikendarai Aidan sudah menghilang dari pandangannya.
LIMA TAHUN KEMUDIAN
Tok tok tok
“Nadiin, ayo bangun sayang. Kamu kan harus pagi-pagi berangkat sekolah,” panggil Damara setelah mengetuk pintu kamar Nadin.
Mendengar suara ibunya memanggil, Nadin bergegas membuka pintu.
“Nadin sudah bangun, Bu. Sudah mandi juga, sekarang tinggal mengepang rambut saja,” sahut Nadin sembari membuka pintu.
Damara begitu terkesan melihat Nadin yang saat ini sudah berdiri di depannya dengan mengenakan seragam SMA. Senyumnya mengembang karena senang Nadin tumbuh dengan sangat baik. Sekarang ini Nadin memiliki tinggi 163 cm dan ia harus mendongak setiap kali berbicara dengan anaknya itu.
“Kapan kamu akan memotong rambutmu, Nak ?” tanya Damara yang sedang membantu Nadin mengepang rambutnya yang hampir mencapai lutut.
“Kalau sudah bertemu Aidan,” sahut Nadin yang juga sibuk mengepang rambutnya.
Damara tersenyum, ia selalu mendapat jawaban yang sama setiap kali bertanya kapan anaknya itu akan memotong rambut.
“Hati-hati di jalan, Nak. Kamu pasti akan mendapat teman yang baik,” ujar Damara sembari meletakkan perlengkapan MOS Nadin ke kerangjang sepeda. Tak lupa ia mencium kening Nadin sebelum dia berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Setelah sepuluh menit mengayuh sepeda, akhirnya Nadin tiba di depan gerbang sekolah. Seperti biasa, ia adalah siswi yang pertama tiba di sekolah nomor satu di ibu kota itu.