
Pukul 04:30
Suara berisik di pagi buta membuat Damara beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa keadaan rumahnya. Suara gaduh yang rupanya berasal dari dapur perlahan menuntunnya menuju ke sana.
“Sayang ?!” ucap Damara begitu melihat Nadin sedang berkecimpung di dapur.
“Oh ! Ibu. Akhh !” Nadin spontan menjauh dari wajan begitu merasakan benda panas itu mengenai tangannya. Ia buru-buru memutar keran dan mengguyur tangannya yang terasa perih dan panas. Sementara, sang ibu segera mengampiri.
“Hati-hati dong, Nak. Mana yang kena ?” tanya Damara sambil membolak-balik tangan Nadin.
“Yang ini.” Nadin menunjuk bagian punggung tangan kanannya yang sudah terlihat kecokelatan.
“Astagaaa, anakku. Tunggu sebentar, ibu ambilkan obat,” ucap Damara bergegas keluar dari dapur.
Nadin yang tidak kenal jera setelah dicium wajan panas dengan santai melanjutkan aktivitas memasaknya setelah diobati. Ia tetap ngotot untuk melakukan semuanya sendiri meskipun Damara berniat mengambil alih, sebab khusus kali ini tidak boleh ada yang ikut campur dalam masakannya.
“Hati-hati sayang,” ucap Damara melambaikan tangannya melihat keberangkatan Nadin.
“Ya, Bu,” sahut Nadin membalas lambaian sang ibu lalu mulai mengayuh sepedanya menuju rumah Aidan. Begitu sampai di sana, alangkah senangnya ia ketika asisten rumah tangga sudah menyambut di pintu masuk dan memberitahukan bahwa si tuan muda sudah bangun dan sedang bersiap-siap. Dengan riang ia menaiki setiap anak tangga dan menuju kamar Aidan dengan senyum yang mengembang. Hari ini, ia merasa lega karena tidak harus menguras emosi untuk membangunkan sang pangeran sekolah yang ternyata merupakan jelmaan batu.
“Bibi ? Apa Nadin sudah datang ?” teriak Aidan begitu mendengar suara derap kaki di balik pintunya yang tertutup.
“Sudaaah,” sahut Nadin yang tiba-tiba merasa gembira karena Aidan menanyakan dirinya.
Cklek
“Masuk, aku belum mengemas buku pelajaran,” ucap Aidan begitu membuka pintu sambil memasang dasi. Nadin yang sudah paham dengan maksud tersembunyi di balik ucapan temannya itu dengan patuh masuk ke dalam dan memasukkan beberapa buku ke dalam tas.
“Aidan, mulai sekarang biasakan dirimu mengemas buku setelah belajar di malam hari. Kamu tidak boleh seperti ini terus. Aku takut kamu akan melupakan buku atau barang yang harus dibawa ke sekolah, padahal sudah dua minggu ini aku ingatkan. Tapi, kenapa kamu tidak berubah juga ?” celoteh Nadin yang akhirnya selesai mengemas buku.
“Mungkin karena ada kamu ?” bisik Aidan tepat di telinga Nadin hingga membuatnya merinding dan spontan menjauh.
“Jangan berbisik di telingaku !” protes Nadin lalu kembali mengumpulkan beberapa buku dan alat tulis yang masih berserakan di meja belajar.
“Oh, mungkin kamu lupa. Hari ini terakhir kalinya aku menjemputmu. Hukumanku sudah selesai dan mulai minggu depan kamu harus melakukan semuanya sendiri.”
Aidan termenung mendengar ucapan Nadin, ia tidak menyadari kalau “hari terakhir” itu akan tiba juga. Ia hanya mematung memandangi Nadin yang sibuk ke sana ke mari membereskan kamarnya, ia bahkan lupa kapan Nadin dengan suka rela merapikan kamarnya yang selalu berantakan di pagi hari. Ia benar-benar menyayangkan kalau pemandangan yang sudah biasa ia lihat ini akan berakhir begitu saja.
“Astaga Aidaaan. Kenapa kamu malah bengong dan tidak menyisir rambutmu ?!”-Nadin membuka laci meja di dekat ranjang kemudian mengambil sisir di sana-“nih, sisir rambutmu !”
“Hmm, Aku pikir kamu yang akan membantuku menyisir rambut,” ucap Aidan sembari mengenakan tasnya.
“Apa kamu anak kecil ?! Nih sisir sendiri, kalau tidak mau ya sudah,” omel Nadin memasukkan sisir itu ke dalam genggaman Aidan dan segera membuang muka. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tiba-tiba merasa malu karena Aidan memintanya melakukan pekerjaan itu.
“Ya sudah, ayo kita berangkat.” Aidan meletakkan kembali sisir yang diberikan Nadin di atas ranjang kemudian keluar dari kamar.
“Hei ! Rambutmu berantakaan !”
Tak !
“Kenapa kamu membawa benda itu ke sini ?” tanya Aidan ketika sisir itu sudah tergeletak di atas meja makan.
“Jangan banyak tanya. Setelah sarapan, sisir rambutmu,” sahut Nadin kemudian mengeluarkan kotak makan dari dalam tas plastik yang dibawanya.
“Ini kan hari terakhirmu menjalani hukuman. Setidaknya, lakukan hal yang istimewa untukku.”
Tangan Nadin terhenti mendengar ucapan Aidan, sebab sekarang ini ia memang sedang melakukan 'hal istimewa' itu untuknya. menyadari hal itu, ia menjadi malu dan malah berusaha menutupinya.
“Kenapa aku harus melakukan sesuatu yang istimewa untukmu ? Nih makan. Hari ini tidak usah makan roti.” Nadin meletakkan kotak makan yang berisi nasi goreng di hadapan Aidan.
“Ini untukku ?!” tanya Aidan terkejut sambil menatap Nadin dan nasi goreng itu secara bergantian.
“Iya.”
“Kamu membuatnya sendiri ?!”
Kali ini, Nadin mengiyakannya dengan anggukan kepala. Sementara, Aidan yang senang dibuatkan sarapan tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan makanan itu.
“Ah kenyang. Aku baru tahu kalau kamu pintar memasak,” ucap Aidan kemudian meminum segelas air putih lalu meminum susu.
“Tidak, a-aku tidak cukup pintar,” sahut Nadin salah tingkah karena dipuji.
__ADS_1
“Hmm begitu ya. Tapi, terima kasih. Aku anggap ini sebagai salah satu hal istimewa yang kamu lakukan untukku,” tambah Aidan lalu bangkit dari kursinya.
“A-apanya yang istimewa ? Aku kebetulan ingin makan nasi goreng dan karena aku membuat terlalu banyak jadi sekalian aku bawakan untukmu,” dalih Nadin berusaha menyangkal kebenaran ucapan Aidan.
“Iya, iya. ayo berangkat,” balas Aidan tersenyum.
“Hei ! Aku serius. Kenapa kamu tersenyum seperti itu ?! Kamu meledekku ? Kamu tidak percaya ?!”
“Haha, cepatlah. Nanti kita terlambat.”
“Jangan tertawa ! Eh, Aidan ! Itu rmbutmu masih berantakan!” teriak Nadin sambil mengambil sisir kemudian mengejar Aidan yang sudah keluar dari rumah.
Biiiipppp biiiippp biiiipppp
Bel sekolah yang menandakan waktu belajar akan dimulai membuat Nadin berlari dari parkiran sepeda sampai di kelas. Bibirnya seketika mengucapkan kata syukur yang diiringi dengan helaan nafas lega saat tidak menemukan gurunya belum tiba di sana. Perutnya pun tiba-tiba lapar lagi setelah diajak berlari, membuat ia menjadi tidak tenang ketika menjalani kegiatan belajar.
Di samping merasa tidak nyaman karena lapar, Nadin pun merasa risih melihat Nina yang sesekali menemui Aidan untuk menanyakan cara menjawab soal. Ia sudah memerintahkan kepalanya untuk memahami Nina karena ia menganggap sikapnya itu adalah sesuatu yang wajar. Namun, hatinya tetap menolak untuk mengerti hingga membuat ia tak bisa menyembunyikan perasaan tidak suka. Sesekali, ia melirik bahkan menoleh kepada Aidan yang duduk di sebelah bangkunya untuk melihat bagaimana ia berinteraksi dengan Nina saat membantunya menjawab soal.
“Haaaah.”
“Kamu tidak bisa menjawab soal ?” tanya Dira ketika mendengar helaan nafas Nadin yang panjang.
“Tidak, malah aku sudah menjawab semuanya,” sahut Nadin meletakkan pensil yang sejak tadi ia selipkan di telinga.
“Lalu ada apa ? Kenapa kamu murung begitu ?”
“Aku sedang berpikir. Sepertinya aku punya penyakit hati.”
“M-maksudku bukan penyakit fisik, bukan,” tambah Nadin sebelum Dira heboh karena salah paham dengan maksud ucapannya.
“Ya Tuhan, aku terkejut sekali. Lalu penyakit apa yang kamu maksud ?”
“Hmm, akhir-akhir aku sering iri dan kesal pada hal-hal kecil. Menurutmu apa kedua hal itu termasuk penyakit hati ?”
“Ya menurutku sih termasuk. Tapi, hal kecil apa itu ?”
“Bukan hal penting. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”
“Iy… Loh, Nadin. Tanganmu kenapa melepuh begini ?!” tanya Dira meraih tangan kanan Nadin.
Dira menggeleng-gelengkan kepala karena tak bisa berkata apa-apa setelah mengetahui apa yang terjadi pada Nadin pagi ini. Setelah diingat-ingat lagi, ia sering mendapati Nadin terluka. Dan setiap kali ia menanyakan kenapa dia bisa mendapatkan luka, Nadin selalu menjawab kalau dia terluka saat memasak. Ia tidak habis pikir kalau anak gadis yang terlihat kalem dan bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah itu ternyata ceroboh saat memasak.
“Kamu terluka setiap kali memegang pisau, kakimu pernah seperti udang rebus karena ketumpahan air mendidih, dan sekarang kamu terbakar karena wajan. Jangan bilang kamu pernah diestrum gara-gara menyolokkan rice cooker ?”
“Bagaimana kamu bisa tahu ?” tanya Nadin terkekeh.
“Ya Tuhan ! Aku hanya menebak saja. Sebenarnya bagaimana caramu memasak ? Kamu ini mau masak atau mau coba bunuh diri sih ?!”
Ketika waktu istirahat tiba, Nadin memilih untuk duduk di bangku taman sementara menunggu Dira yang sedang berburu makanan di kantin. Ia beberapa kali mengedarkan pandangan ke tempat itu tetapi tidak juga menemukan keberadaannya di sekitar sana, padahal teman yang sedang ia cari itu sedang berjejal di dalam kantin bersama para pemburu lainnya. Daripada menemukan Dira, ia malah lebih dulu menemukan keberadaan Ela yang kebetulan sedang lewat di depan taman. Sialnya lagi, ia bahkan bertemu pandang dengannya. Dalam hati, ia berharap supaya kakak kelasnya itu tidak datang menghampiri dan membuat masalah dengannya.
“Nadin,” panggil Saka yang kebetulan lewat dan melihatnya sendiri.
“Kak Saka,” sahut Nadin melambaikan tangan.
“Tanganmu kenapa ?” tanya Saka langsung duduk dan meraih tangan kanan Nadin.
Kreekkkk
Dalam sekali remas, botol air mineral yang sudah kosong langsung remuk dalam genggaman Aidan ketika dari kejauhan ia melihat Saka memegang tangan Nadin. Nina yang awalnya berniat untuk menghampiri pun memilih mundur saat melihat ia memasang wajah kesal sambil menatap ke arah yang tidak diketahuinya.
Kenapa aku harus tetap melihat pemandangan seperti itu ? batin Aidan mendengus kesal.
“Kalau kesal, hampiri saja mereka. Sekalian jadi obat nyamuk biar kakak kelas itu pergi,” saran Rudi setelah melihat Aidan berwajah masam.
“Aku ? Kesal ? Hah, yang benar saja,” sangkal Aidan masih tetap mengawasi Nadin dan Saka.
“Ya sudah, alihkan pandanganmu dan berhenti memasang wajah seperti orang yang ingin memukul,” titah Rudi.
“Ayo pergi,” ajak Aidan bangun dari tempat duduknya.
“Kemana ?” tanya Rudi mendongak Aidan sembari meminum susu cokelatnya.
__ADS_1
“Kita harus membicarakan tugas kelompok,” timpal Aidan meninggalkan Rudi yang segera menyusulnya.
“Aku tuh nanya kamu mau ke mana !” protes Rudi yang tak digubris Aidan.
Dira yang saat itu baru kembali dari kantin mempercepat langkahnya ketika melihat adik sepupu dan gebetannya sedang menuju Nadin.
“Aidan, Rudi, baru saja aku ingin mencari kalian,” ucap Dira ketika sudah berpapasan dengan mereka berdua.
“Oh,” sahut Aidan dengan wajar datar lalu melenggang melewati Dira.
“Ooh ?! Apa maksudmu ?” tanya Dira kesal.
“Sudah sudah, jangan diambil hati. Suasana hatinya sedang tidak bagus,” bisik Rudi lalu tersenyum. Dira yang awalnya terlihat kesal seketika ikut tersenyum dan menunduk malu.
“Kak Saka, sudah lama ya di sini ?” tanya Dira lalu duduk bersama Aidan dan Rudi.
“Tidak, baru saja. Aku juga akan pergi sekarang,” sahut Saka tersenyum.
“Cepat sekali, Kak.”
“Ya, aku harus pergi ke perpustakaan. Oh ya Nadin, ingat ya nanti sore,” pesan Saka sebelum meninggalkan Nadin bersama ketiga temannya itu.
“Iya, Kak,” sahut Nadin.
Rudi tersenyum lebar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Aidan semakin berwajah kesal ketika menyaksikan bagaimana obrolan terakhir antara Nadin dan Saka.
“Ada yang lucu ?” bisik Dira kepada Rudi setelah ia melihat gebetannya itu terus saja tersenyum.
“Iya. Kamu tidak tahu ?” tanya Rudi, lalu Dira hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Coba kamu tebak, kalau tebakanmu benar. Kamu boleh meminta apa pun sebagai imbalannya,” tantang Rudi.
Wajah Dira seketika berbinar mendengar ucapan Rudi.
“Apa yang kamu maksud lucu itu gaya rambutnya Aidan ?” tanya Dira.
“Yah, salah. Sayang sekali,” sahut Rudi.
“Lalu apa ?” tanya Dira penasaran.
“Rahasia,” jawab Rudi lalu kembali menghabiskan minumannya.
“Dari tadi kalian membicarakan apa sampai berbisik begitu ?” tanya Aidan curiga.
“Ra-ha-si-a. Ya kan, Ru-di ?” balas Dira lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Rudi hingga membuat ia tersedak oleh minumannya. Sementara itu, Nadin segera mengeluarkan tisu dan memberikannya kepada Rudi.
“Kamu tidak apa-apa kan ?” tanya Dira kepada Rudi.
“Tidak apa-apa,” sahut Rudi lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia merasa malu dan benar-benar tidak menyangka Dira akan melakukan hal seperti itu padanya.
Ya Tuhan, di mana urat malu kakakku ini ? batin Aidan memijat pelipisnya.
“Aidan, apa kamu sudah memotong rambutmu ? Kenapa gaya rambutmu berbeda ?” tanya Dira yang sejak pagi tadi penasaran dengan model sisiran rambut adiknya yang berbeda dari biasanya. Sebenarnya, bukan hanya dia saja yang penasaran. Siswi yang lain pun ikut membicarakannya karena model sisirannya yang tiba-tiba seperti model sisiran siswa teladan.
Nadin terkejut mendengar pertanyaan Dira dan langsung melihat kepala Aidan. Ia baru ingat kalau tadi pagi ia terpaksa menyisir rambut Aidan karena anak laki-laki itu sama sekali tidak mau menyisir rambutnya.
“Oh ini ya, ini model yang dibuat oleh staylist rambutku,” jawab Aidan sambil mengusap rambutnya, sementara matanya melirik kepada Nadin.
Kenapa kamu malah melihatku ? batin Nadin melotot kepada Aidan, seakan-akan matanya dapat berbicara seperti itu.
“Kamu suka ?” tanya Rudi.
“Tentu saja, mulai besok dan seterusnya aku akan menyisir rambutku seperti ini,” sahut Aidan menyeringai.
Nadin segera mengatupkan bibirnya untuk menahan senyumnya yang ingin mengembang setelah mendengar Aidan. Karena salah tingkah, ia tanpa sengaja meraih minuman yang ada di sisi kanannya dan langsung meminumnya.
“Nadin, i-itu, yang kamu minum adalah minumannya Aidan,” ucap Dira.
“Ha ?!” Nadin terperanjat dan menyadari kalau minumannya ada di sebelah kiri, ia menoleh kepada Aidan yang ternyata sedang menatapnya sambil menopang dagu.
“Kamu kenapa, Nadin Naraya ?” tanya Aidan lalu tersenyum lebar.
__ADS_1
“A-aku, tidak apa-apa, aku tidak sengaja,” jawab Nadin lalu menyembunyikan wajahnya yang terasa panas karena malu.
Dira tergelak melihat tingkah Nadin sementara Rudi tidak berani ikut tertawa karena takut Nadin akan semakin malu.