
Aku kan tidak punya kuota, bagaimana aku akan mengunduh aplikasi dan meminta ojol untuk menjemputku ? pikir Nadin begitu pembicaraanya telah selesai dengan ibunya.
Brrrmmm
Nadin menoleh ke arah suara mobil itu dan melihat mobil jemputan Dira hendak meninggalkan gerbang sekolah. Ia pun tak lagi melihat Dira bersama teman-temannya tadi. Sebuah rasa sakit yang familiar di hatinya dengan cepat muncul kembali begitu ia tahu hubungannya dengan Dira tidak baik-baik saja. Sekali lagi, tidak, ini adalah kesekian kalinya ia ditinggalkan oleh temannya. Air mata pun bersedia mengalir demi mewakili perasaan sedihnya. Namun, Nadin tidak menginginkan air mata itu hingga ia segera menghapusnya dengan usapan kasar di wajahnya.
Aku memang menyedihkan, batin Nadin di sepanjang jalan yang mulai panas.
Sesekali, gadis beramput panjang itu menyeka keringatnya yang mulai bercucuran karena kepanasan sebab sinar matahari pada siang ini seperti api yang sudah melelehkan es. Bagaimana tidak, awan tebal yang tadi menghalangi langit sudah hilang tanpa sisa berkat sang surya yang baru menampakkan diri pada pukul satu siang. Dan… mungkin saja gigi Nadin akan mengering jika ia tidak membawa air dan meminumnya dalam perjalanan pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13:40 dan Nadin masih selangkah demi selangkah menapaki jalan yang biasa ia lalui untuk pulang ke rumah. Teriknya matahari sudah mulai membuat kakinya terasa panas. Ingin sekali ia membuka sepatu dan kaos kaki lalu nyeker sampai rumah. Hal itu pun ia lakukan begitu sampai di sebuah pohon beringin besar di pinggir jalan.
“Ok. Tinggal sebelah lagi,” lirih Nadin mulai membuka tali sepatu hitamnya.
Ya Tuhan, apa gadis itu akan melakukan sesuatu yang konyol lagi ?
Kenapa dia membuka sepatu ? Apa dia terluka ?
Aidan yang sedari tadi menghentikan langkahnya dan bergumam sendiri sambil memperhatikan Nadin dari kejauhan akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.
“Apa kamu terluka ?” tanya Aidan berjongkok menghadap Nadin.
“Astaga !” Nadin terkejut ketika Aidan tiba-tiba duduk di depannya dengan jarak yang sangat dekat.
“Apa kamu hantu ?! Selalu muncul tiba-tiba dan membuatku terkejut,” omel Nadin.
Kenapa kamu selalu emosi setiap berbicara denganku ? batin Aidan yang kemudian terlihat cemberut.
“Bodoh. Mana mungkin ada hantu di siang bolong. Dan kenapa kamu melepas sepatu ? Apa kakimu terluka ?” tanya Aidan.
“Tidak, kakiku hanya terasa panas,” jawab Nadin bangun dari duduknya.
“Kalau kamu tidak terluka, kenapa kamu terlihat seperti habis menangis ?
Lagi-lagi Nadin mengusap wajahnya dengan gerakan cepat setelah mendengar pertanyaan Aidan.
“Mataku hanya berair,” jawab Nadin lalu membungkuk untuk mengambil sepatunya yang tergeletak di jalan.
“Apa kamu punya masalah ?” Aidan menarik tangan Nadin yang akan melangkahkan kakinya.
“Tidak ada urusannya denganmu,” timpal Nadin dengan wajah datar tanpa melihat kepada Aidan.
“Apa kamu punya masalah dengan Dira ?” tanya Aidan lagi ingin memastikan tebakannya sebab mereka berdua tidak pernah terlihat bersama seperti biasanya.
Nadin seketika menatap wajah Aidan yang terlihat penasaran.
“Sudah kukatakan, tidak ada urusannya denganmu,” balas Nadin menarik paksa tangannya dari genggaman Aidan.
“Ok, tidak apa-apa kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaanku. Tapi, pakai dulu sepatumu.” Aidan mengalihkan pandangannya pada kaki Nadin yang telanjang.
“Bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau kakiku panas ?!” ketus Nadin.
Tak ingin berdebat terlalu lama, Aidan langsung mengambil sepatu yang dipegang gadis itu.
“Kamu pasang sendiri atau aku yang pasangkan,” ucap Aidan tidak peduli dengan apa yang dikatakan gadis di depannya itu.
Nadin menghela nafas berat dan kembali merebut sepatunya. Tidak ada gunanya melawan lagi sebab Aidan sudah menampakkan wajah menyeringainya yang terkesan memaksa baginya.
“Aku akan pasang sendiri,” sahut Nadin lalu berjongkok memasang sepatunya.
__ADS_1
Heran, kenapa aku selalu mengalah padanya ? Apa karena rasa suka ? batin Nadin sembari memasang kembali sepatunya.
Krik krik krik krik
“Hehehemmm hehehemmm, hemm hemm hemm,” Damara bersenandung kecil bersama para jangkrik yang baru pertama kali didengarnya. Malam ini, janda beranak satu itu sedang membuat cookies untuk anak perempuan satu-satunya.
Di tengah kesibukannya, ia menyempatkan diri untuk menengok Nadin yang sedang menonton TV di ruang tengah yang berada di samping dapurnya. Ia mulai merasa khawatir dengan perubahan ekspresi dan sikap anaknya yang sejak kemarin hanya diam dan berwajah murung. Ia takut kalau anak gadisnya itu sedang bermasalah dengan urusan sekolah atau temannya. Jadi, pada kesempatan ini, ia akan mencari tahu penyebab anaknya menjadi seperti itu.
“Sayang,” panggil Damara sambil membawa piring berisi makanan yang tadi ia buat.
Nadin menoleh dan memberikan senyum simpul kepada ibunya yang kemudian duduk di sampingnya.
“Ayo makan,” ajak Damara meletakkan piring itu di atas meja tepat di depan Nadin.
“Waah.” Senyum Nadin langsung mengembang begitu melihat cookies cokelat di depannya. Tangannya pun segera menjemput beberapa keping untuk dimakan.
“Terima kasih, Bu. Tapi, kenapa ibu tidak mengajak Nadin untuk ikut membantu ?” tanya Nadin setelah ia selesai menelan apa yang dia kunyah.
“Ibu tidak ingin mengganggumu menonton tv. Jadi, ibu kerjakan sendiri. Apa Nadin suka ?” Damara merangkul Nadin yang tak henti-hentinya memakan cookies buatannya.
“Enak sekali. Nadin suka cokelatnya,” sahut Nadin masih dengan senyum mengembangnya. Ia pun menjatuhkan kepalanya ke bahu ibunya.
Damara bersyukur karena sudah melihat Nadin ceria kembali, setidaknya cokelat yang saat ini dimakan oleh anaknya bisa mengubah raut wajahnya yang terlihat sedih.
“Nadin kenapa suka sekali menonton film U & I ?” tanya Damara heran melihat Nadin yang tidak bosan-bosannya menonton film dari negara tetangga yang menceritakan dua anak kembar botak, padahal ia berpikir kalau diusia anaknya yang sekarang, ia akan lebih senang menonton film tentang percintaan seperti para gadis pada umumnya.
“Mereka anak-anak yang lucu. Ibu tidak lihat betapa lucunya si kembar U & I saat bermain dengan teman-temannya ?”
“Tentu saja ibu melihatnya, Nak.”
Mereka berdua pun hanyut dalam film yang berbahasa Malasyia itu.
“Nadin suka toleransi yang mereka tunjukkan. Mereka berasal dari latar belakang, rupa, dan karakter yang berbeda. Tapi, mereka bisa saling menerima dan tetap bermain bersama. Bagaimana caranya supaya Nadin bisa seperti anak-anak itu, Bu ? Nadin ingin sekali punya teman yang banyak. Kalaupun tidak bisa, tidak apa-apa kalau Nadin hanya punya satu teman saja, asalkan dia menerima Nadin apa adanya. Tapi,... kenapa rasanya sulit sekali mendapatkan teman yang seperti itu ? Sebenarnya apa yang salah dengan Nadin ?” Nadin segera menghapus air matanya yang kembali mengalir, ia selalu tak kuasa membendung air matanya kalau sudah berbicara atau mengingat masalah ‘teman’ yang menurutnya sulit untuk didapatkan.
Damara langsung memeluk Nadin yang tanpa sadar menceritakan keluh kesahnya. Ia memeluknya dengan erat dan sesekali mencium kepala anaknya itu. Kini ia sudah tahu penyebab anaknya menjadi pemurung beberapa hari ini.
“Nadin anak ibu, tidak ada yang salah denganmu. Nadin anak yang baik. Nadin hanya perlu bersabar dan belajar bergaul dengan orang lain atau teman-teman di sekolah,” jelas Damara setelah ia berusaha mengendalikan emosinya yang ikut sedih melihat Nadin. Ia harus kuat dan memberi semangat kepada anaknya.
“Nadin takut, Bu,” balas Nadin sambil menyeka air matanya.
Damara membelai rambut Nadin dan menghadapkan wajah anaknya itu ke wajahnya supaya mereka bisa saling bertemu pandang.
“Ibu mengerti, Nak. Coba pelan-pelan saja, pasti bisa. Nadin harus memberanikan diri. Ibu yakin, Nadin pasti akan mendapatkan teman yang sangat baik suatu saat nanti,” jelas Damara lalu memberikan senyum lebar kepada Nadin.
Ada perasaan lega dan senang melihat senyum ibunya. Ia pun ikut tersenyum dan merasa yakin kalau nanti ia akan mendapat teman yang benar-benar baik, teman yang menerimanya apa adanya meskipun ia selalu diikuti oleh bayang-bayang masa kecilnya yang suram.
Keesokan Harinya
Byurrrrrr byurrr byurrrr
“Aaarrrggghhhh ! Dingiiiin !” teriak Nadin dari kamar mandi ketika dirinya mengguyurkan air ke tubuhnya.
Kenapa airnya harus sedingin ini ? Kalau tidak sekolah, aku tidak akan mau mandi pagi, gerutu Nadin sambil mengenakan handuk setelah ia selesai mandi.
Beberapa langkah setelah memasuki gerbang sekolah, Nadin berhenti dan tertegun di sana karena bingung hendak pergi ke mana. Tidak ada tempat yang menjadi tujuannya saat ini. Ia pun berjalan dengan perlahan sambil memikirkan kemana ia akan pergi.
Tidak seharusnya aku seperti ini, aku sudah terbiasa sendiri. Kenapa aku harus hilang arah saat tidak ada seorang pun yang bersamaku ? Lebih baik aku ke taman saja, batin Nadin lalu menuju tempat itu. Ia berjalan lurus tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Saat ini ia tidak ingin bertegur sapa dengan siapapun, ia memutuskan akan berbicara jika ada yang mengajaknya bicara. Selain itu, ia tidak ingin memperburuk perasaan sedihnya dengan memikirkan hal-hal yang sudah terjadi padanya. Jadi, ia memutuskan untuk bermain game favoritnya sebelum pertandingan dimulai.
“Nadin !”
__ADS_1
Nadin terperanjat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang keras. Ponsel yang tadi ia gunakan bermain game pun sampai terjatuh. Nadin menarik nafas lega ketika tidak mendapati retakan sedikit pun pada layar ponselnya yang mendarat di paving block.
“Nadin, untunglah aku menemukanmu di sini. Ayo kita ke lapangan, peserta yang lain sudah berkumpul,” ajak Alan ngos-ngosan.
“Ini baru pukul setengah sembilan, apa yang akan kita kerjakan di sana selama setengah jam ?” tanya Nadin setelah ia melihat jam di ponselnya.
“Kita akan menunggu. Sekarang, ayo bangun. Kalau kamu malas cepat sampai di sana, kita bisa pelan-pelan saja jalannya.” Alan kini menarik tangan Nadin dengan pelan supaya gadis itu mau mengangkat bokongnya dari tempat duduknya.
Kenapa anak itu menarik tangan Nadin ? Dan kenapa gadis ceroboh itu mau-mau saja dipegang tangannya ? gerutu Aidan yang selalu saja kebetulan melihat Nadin bersama dengan ketua kelasnya. Ia menatap Nadin dengan tatapan yang tajam. Sedangkan, Rudi yang saat ini duduk di dekatnya mencari tahu kemana arah mata temannya itu memandang. Ia pun tersenyum simpul ketika mengetahui arah mata Aidan tertuju kepada Nadin yang sedang berjalan beriringan dengan Alan.
Sebenarnya apa yang kamu bicarakan bersamanya sampai kamu tertawa beg*i***tu ? Ok, masih aku pantau, dumel Aidan lagi.
“Hahaha, mau sampai kamu akan cemberut seperti itu ?” tanya Rudi yang sejak tadi terkekeh.
Aidan segera merubah raut wajahnya begitu mendengar pertanyaan Rudi.
“Aku tidak merasa seperti itu,” sahut Aidan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal dengan telunjuknya.
Plok plok plok
Waaaaaa
Plok plok plok
Riuh sorakan dan tepuk tangan para siswa siswi memenuhi lapangan basket tempat diadakannya pertandingan. Sebagian besar siswa siswi di sana memenuhi lapangan untuk menyaksikan pertandingan terakhir itu. Mereka tidak sabar untuk melihat siapa yang akan memenangkan lomba makan makanan pedas.
“Assalamu’alaikum warahmatullohiwabatuh, selamat pagi anak-anaaaaak,” sapa Pak Yon yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
Siswa siswi yang ada di sana pun menyahut dengan serentak. Setelah itu, para perwakilan kelas pun menuju lapangan dan duduk di tempatnya masing-masing begitu Pak Yon memanggil mereka.
Nadin merasa gugup karena berada di tengah kerumunan, ia tidak berani mengangkat wajahnya dan terus menunduk.
“Nadin ! Semangat !” teriak Alan melambai-lambaikan tangannya kepada Nadin.
Nadin tersenyum simpul melihat Alan dari kejauhan. Senyumnya pun memudar ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok Aidan yang tengah berdiri di samping ring basket. Ia tidak menyangka Aidan akan menonton pertandingan yang ia ikuti saat ini.
“Semuanya, harap tenang. Bapak akan mengumumkan hadiah yang akan didapatkan kelas kalian jika perwakilan kalian itu memenangkan pertandingan ini,” ucap Pak Yon yang tengah berdiri di depan para peserta.
Tak perlu berbicara dua kali, siswa siswi yang ada di sana pun langsung diam.
“Jadi, kelas yang menang nanti akan mendapatkan kartu makan siang gratis selama satu bulan penuh dan berlaku setelah libur semester ini selesai.”
Sontak semua siswa siswi berteriak dan bertepuk tangan gembira mendengar hadiah yang akan mereka dapatkan. Setelah diberitahu aturan pertandingannya, para OSIS yang bertugas membawakan makanan super pedas itu lalu meletakkan mi goreng di depan para peserta. Aidan menaikkan sebelah alisnya ketika ia melihat hanya piring Nadin yang warnanya berbeda dengan peserta lain. Namun, meskipun curiga, ia tidak ingin berpikir macam-macam dan berharap tidak ada yang mengerjai Nadin pada pertandingan ini.
“Satu… dua… tiga… Mulai !”
Semua peserta termasuk Nadin segera memakan mi yang ada di depan mereka. Namun, Nadin langsung terbatuk begitu mi yang berwarna merah itu masuk ke dalam mulutnya, ia tidak bisa meminum air karena pasti akan didiskualifikasi.
Ya Tuhan, pedas sekali ! teriak Nadin dalam hati. Sialnya, ia langsung cegukan karena makanan pedas itu hingga membuat ia agak kesulitan saat makan.
“Ayo Nadin kentang ! Kentang ! Nadin Kentang !” teriak Ela terlihat girang dan bersemangat. Ini lah saat yang tepat baginya untuk mempermalukan Nadin.
Aidan yang mendengar julukan Nadin pun langsung naik pitam. Ingin sekali ia meremas mulut kakak kelasnya yang kurang kerjaan itu.
“Ayo kentang ! Semangat !” siswa siswi yang lain pun jadi ikut menyemangati Nadin dengan embel-embel kentang di balik namanya berkat ulah Ela.
Nadin sempat terkejut mendengar julukannya itu. Namun, ia harus tetap fokus memakan minya kalau ingin memenangkan pertandingan.
Ayo Nadin, kamu pasti bisa. Kalahkan kelasnya Ela, supaya dia tidak bisa makan gratis di kantin, batin Nadin memakan minya dengan secepat mungkin.
__ADS_1
Para guru dan semua siswa di sana merasa tegang dan terus berteriak melihat para peserta yang berusaha memakan mi yang sangat pedas itu. Dan......