Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
31


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


“Apa yang kamu lamunkan ?” tanya Nadin yang sejak tadi mengamati Aidan memasang wajah cemberut sembari mengunyah rotinya dengan perlahan.


“Aku tidak melamun,” ketus Aidan tanpa menoleh.


“Lalu kenapa kamu pelan sekali mengunyah makananmu ? Kita bisa terlambat kalau kamu sarapan seperti ini.”


“Biarkan saja. Ini hukuman untukmu.”


“Hu-hukuman ? Memangnya aku salah apa ?!” tanya Nadin melotot.


“Kamu tidak tahu ?”


“Tentu saja tidak. Justru kamu yang tidak menyadari kesalahanmu. Kenapa setiap hari kamu menyebalkan ?! Sudah cukup kamu membuatku kewalahan untuk membangunkanmu di pagi hari. Jangan lagi uji kesabaranku dengan cara saparanmu yang tiba-tiba lelet ini !” protes Nadin emosi.


“Itu kan memang kewajibanmu, kenapa kamu jadi mengeluh ? Sekarang kamu bahkan tidak menyadari apa saja yang sudah kamu lakukan padaku.”


“Memangnya aku sudah berbuat apa ?!”


“Coba kamu ingat. Hari pertama kamu memukulku. Beberapa hari kemudian kamu memercikkan air ke wajahku dan tadi kamu memukul panci di telingaku. Apa kamu tidak punya cara lain yang lebih lembut ?!” papar Aidan ikut emosi.


“Aku sudah mencobanya ! Kamunya saja yang kalau tidur seperti batu. Cepat selesaikan sarapanmu dan berhenti mengeluh !”


“Aku belum minum susu !”


Ya Tuhan, kenapa dia seperti anak kecil ? Berhadapan dengannya benar-benar membuat jengkel, gerutu Nadin.


“Boleh aku membantumu minum ?” tanya Nadin bangun dari kursinya.


“Tidak,” ketus Aidan dengan wajah merajuk.


Nadin menepis tangan Aidan dan mengambil gelas yang digenggamnya.


“Hei, apa yang-”


Tanpa rasa kasihan, Nadin langsung meminumkan segelas susu itu kepada Aidan tanpa mempedulikannya yang langsung meronta-ronta.


“Ummmmm, ummmm.” Aidan menepuk-nepuk tangan Nadin yang tidak juga menyingkirkan gelas itu dari mulutnya.


“Diam saja dan habiskan minumanmu, kalau kamu banyak bergerak, susu ini akan tumpah ke seragammu,” ucap Nadin tersenyum sinis menatap Aidan.


Astaga, apa yang dilakukan nona muda itu kepada tuan ? batin asisten rumah tangga Aidan yang tak sengaja melihat adegan tak biasa di pagi hari itu.


Tak


Nadin buru-buru meletakkan gelas yang sudah kosong itu kemudian menjejalkan roti ke mulut Aidan untuk mencegahnya berbicara lagi.


“Pakai tasmu,” perintah Nadin melempar tas kepada Aidan kemudian memakai tas miliknya. Tanpa ragu ia menarik tangan Aidan dan membawanya keluar dari rumah.


“Kami berangkat dulu, Bi,” ucap Nadin menyunggingkan senyum kepada wanita yang sempat melihat bagaimana cara ia memperlakukan Aidan.


“I-iya, nona. Hati-hati,” balas wanita itu sambil melihat tuannya yang diseret.


Beeeepppp beeeepppp beeeeppp


Seperti biasa, siswa siswi berhamburan dari kelas begitu bel istirahat berbunyi. Tak ingin ketinggalan menyerbu kantin, Dira buru-buru membereskan alat tulisnya supaya bisa segera ke sana.


“Ayo buruan, Din. Ntar kantinnya keburu ramai,” ajak Dira yang melihat Nadin bermalas-malasan membereskan bukunya.


“Hari ini aku tidak ke kantin,” sahut Nadin.


“Perutmu sakit ?” tanya Dira ketika melihat Nadin mencengkeram perutnya.


“Hanya keram.”


“Kalau begitu, ayo kita ke UKS.”


“Tidak perlu, hanya keram biasa.”


“Keram datang bulan ya ?”


Nadin hanya mengangguk kemudian mengenakan ranselnya. “Aku tidak apa-apa. Kamu pergi saja ke kantin. Aku akan menunggumu di kelas,” tambahnya.


Tap tap tap


Dira terlihat dongkol menyusuri lorong kelas setelah lama berjejal di tengah kerumunan siswa siswi di kantin. Bersamaan dengan itu, niat modusnya pun berkelebat begitu menangkap sosok Rudi yang tengah duduk di bangku taman bersama Aidan. Ia termangu melihat keduanya sembari memikirkan alasan apa yang harus digunakan supaya bisa menghampiri mereka.


Hehehe. Aku tahu, batinnya lalu pergi melancarkan serangan.


Tanpa basa-basi, Dira meletakkan dua botol susu di hadapan Aidan dan Rudi. Keduanya pun hanya menatap bingung kepada Dira yang hanya senyum dan langsung mendudukkan diri di kursi kosong dekat gebetannya.

__ADS_1


“Awalnya aku ingin memberikannya pada Nadin. Tapi, aku baru ingat kalau dia sedang tidak boleh minum susu. Daripada sia-sia, aku berikan saja pada kalian,” jelas Dira lalu menancapkan pipet ke salah satu botol susu itu kemudian memberikannya kepada Rudi.


“M-makasih,” sambut Rudi tersenyum canggung dan dibalas oleh Dira dengan senyum yang lebih lebar.


“Apa Nadin sakit ?” tanya Aidan sembari ikut menyedot minumannya seperti Rudi.


“Ya,” jawab Dira yang akhirnya memutuskan untuk sedikit berlama-lama bersama mereka.


“Sakit apa ?”


“Hanya sakit bulanan.”


“Sakit bulanan ? Itu penyakit apa ?” tanya Aidan tampak sangat bingung


“Ini rahasia perempuan. Jangan kepo,” jawab Dira memonyongkan bibir, sedang tangannya sibuk merapikan barang bawaannya.


“Pergi dulu ya. Bye Rudi.” Dira melambaikan tangan sambil tersenyum kepada Rudi.


“Kamu kesal ?” tanya Rudi yang melihat Aidan berwajah cemberut setelah Dira pergi.


“Kelihatan ya ?” balas Aidan.


“Kamu begitu gara-gara Dira tidak mau memberitahukan Nadin sakit apa ?”


Aidan diam saja dan melempar pandangan ke sembarang tempat tetapi Rudi sudah tahu kalau jawabannya pasti 'iya'.


“Kenapa kamu tidak langsung bertanya pada Nadin ?”


“Aku takut,” lirih Aidan menunduk dengan wajah lesu.


“Hah ?! Apa aku tidak salah dengar ? Hahahaha.” Rudi sampai menepuk meja dan menekan perutnya sendiri karena tak bisa menghentikan dirinya menertawakan Aidan. Sementara yang ditertawakan hanya menatap tajam kepada ia yang tertawa sampai berlinang air mata. Ia yang ditatap seperti itu langsung berubah ke dalam mode serius kemudian sedikit mendekat kepada Aidan.


“Sebenarnya, apa yang sudah kamu lakukan padanya ? Kenapa kamu jadi takut ?” tanya Rudi setengah berbisik.


“Aku tidak melakukan apa-apa. Aku rasa beberapa hari ini aku bersikap seperti biasanya. Tapi, dia yang malah bersikap sebaliknya. Tadi pagi aku sedikit memprotes perbuatannya padaku, dia malah jadi semakin menyeramkan,” jelas Aidan.


“Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu ?”


“Tadi pagi dia me-...”


“Me... apa ?”


“Sudahlah. Tidak perlu membahasnya,” sahut Aidan mulai merasa malu mengingat kejadian bagaimana ia dipaksa oleh Nadin.


“Hei ! Pikiranmu terlalu jauh untuk ukuran anak kelas satu SMA. Nadin tidak pernah melakukan hal seperti itu !”


“Lalu apa ?”


“Aku tidak mau membahasnya. Sekarang aku hanya penasaran dia sakit apa.”


“Yah, kalau soal itu sih. Aku rasa kamu tidak perlu khawatir. Dari ucapan Dira aku juga sudah bisa menebak kalau Nadin sedang... datang bulan,” jelas Rudi dengan berbisik di kalimat terakhirnya.


“Ooh, yang itu,” sambut Aidan setelah memahami ucapan Rudi.


“Kamu bilang akhir-akhir ini Nadin bersikap tidak biasa padamu kan ? Sebenarnya aku juga sering mendapatinya melotot ke arahmu saat kamu bertatapan dengannya. Pffft.” Rudi terpaksa menutup bibirnya supaya tawanya tidak meledak lagi.


“Kamu mengejekku lagi ?”


“Aku hanya geli melihat cara interaksi kalian. Tapi, dalam beberapa hari sikapnya pasti akan kembali normal. Kamu tahu ? Biasanya sikap perempuan akan berubah kalau "masa bulanannya" datang. Jadi, aku sarankan kamu tidak membuatnya kesal atau tersinggung karena pada masa-masa itu mereka sangat sensitif sehingga mudah marah. Sebaiknya, kamu menghindar dulu. Kalau tidak mau, kamu harus berhati-hati,” pesan Rudi sembari menepuk-nepuk pundak Aidan.


“Kamu berbicara seperti ini seolah-olah aku akan pergi berperang saja,” balas Aidan tidak percaya.


“Loh, aku berbicara yang sebenarnya. Menghadapi perempuan yang sedang "begitu" tidak jauh berbeda dengan berperang. Kita harus memikirkan strategi untuk menghadapainya. Aku tahu hal itu karena aku punya kakak perempuan. Kalau dia datang bulan, dia seperti berubah menjadi singa. Uugh, menyeramkan. Aku harus menghindar,” tutur Rudi sambil mengusap-usap kedua lengannya.


Perasaan Nadin yang sedang buruk sepertinya ikut mempengaruhi suasana hati Dira yang selalu pergi ke mana-mana bersamanya. Begitu sampai di kelas geografi, Dira langsung menidurkan kepalanya seperti yang dilakukan Nadin begitu sampai di kelas. Keduanya terlihat lesu dan layu di pelajaran terakhir.


“Lehermu kenapa merah begini ?” tanya Rudi yang kebetulan melihat tengkuk Aidan. Dira yang mendengar pertanyaan Rudi langsung bangun dan memeriksa adiknya.


“Kamu habis berkelahi ya ?!” tanya Dira.


“Tidak apa-apa. Aku juga tidak pernah berkelahi,” jawab Aidan mengusap-usap leher bagian belakangnya.


“Lalu kenapa lehermu merah ? Kamu dipukul atau sudah jatuh ?” serbu Dira yang suka khawatir berlebihan kalau ada yang tidak beres dengan Aidan.


“Tidak pernah. Aku tidak tahu ini bekas apa,” dalih Aidan yang baru ingat bagaimana ia mendapatkan tanda seperti itu. Nadin pun bangun begitu menyadari apa yang sudah dia lakukan dan ikut mengamati leher Aidan. Benar saja, di sana jelas berbekas jari-jarinya yang sudah mencengkeram leher Aidan.


“Nadin, ini benar bekas tangan kan ? Coba kamu lihat,” ucap Dira.


“I-iya benar,” sahut Nadin lalu memalingkan wajahnya begitu Aidan menoleh ke arahnya.


“Cepat beritahu aku, siapa yang memukulmu !” titah Dira.

__ADS_1


“Dira, kamu marah ya ?” tanya Nadin.


“Tentu saja aku marah, aku tidak mau adikku dipukul begini,” jawab Dira.


Nadin tiba-tiba berwajah muram mendengar jawaban Dira.


“Dira, sebenarnya aku yang-...”


“Ennn.... Nadin ! Bukannya kamu sedang sakit perut ?!” potong Aidan. Ia sudah menebak kalau dia akan menceritakan kejadian sebenarnya kepada Dira. Jadi, ia harus mencegahnya.


“Eh ?! I-iya. Kenapa ?” tanya Nadin terkejut.


“Ayo aku antar kamu ke UKS, ayo ayo.” Aidan menarik tangan Nadin dan membawanya keluar dari kelas.


“Kalau guru datang, beri tahu saja aku dan Nadin izin ya,” pesan Aidan sebelum ia menghilang dari balik pintu bersama Nadin.


Tap tap tap


Nadin kewalahan mengikuti langkah Aidan yang terlampau cepat untuknya. Ia tidak ada bedanya dengan berlari saat mengikuti Aidan yang sedang berjalan buru-buru.


“Soal lehermu... Aku minta maaf,” ucap Nadin begitu ia duduk di ranjang UKS, sementara Aidan berdiri menghadapnya.


“Hm ? Leher ?”-Aidan memegang lehernya lalu mengerti apa yang dimaksud Nadin-“Aku baik-baik saja. Bekasnya akan hilang dengan sendirinya,” jelas Aidan setelah sempat terkejut mendengar permintaan maaf Nadin. Ia pikir gadis itu tidak peduli padanya.


“Aku juga sering memperlakukanmu dengan tidak baik selama beberapa hari ini. Maaf,” tambah Nadin.


Aku kenapa sih ? Aku rasa, tadi aku masih marah saat dia mengajakku ke sini. Tapi, kenapa aku tiba-tiba menjadi sedih ? batin Nadin.


Aidan menghela nafas panjang dan menduduki kursi yang ada di belakangnya.


“Aku sudah mengerti kenapa kamu seperti itu. Aku juga bersalah padamu. Tapi, apa perutmu masih sakit ?”


“Sedikit... astaga, Aidan ! Bukannya sekarang kita ada ulangan geografi ?!” tanya Nadin terbelalak.


“Iya benar. Aku baru ingat,” sahut Aidan santai.


“Kita harus kembali ke kelas,” ajak Nadin turun dari kasur.


“Kamu kan sakit.”


“Ulangan lebih penting dari sakit. Ayo balik !” Nadin membawa Aidan keluar dari ruang UKS tanpa menyadari kalau ia sedang menggenggam tangannya.


Nadin semakin mempercepat langkahnya meskipun ia sudah lega ketika dari kejauhan ia menyorot kelas geografi dan tidak mendapati guru di sana.


“Bu guru belum datang, ayo cepat,” ucap Nadin tersenyum kepada Aidan yang mengikuti di belakangnya.


Apa perempuan yang sedang datang bulan memang seperti ini ? Perasaannya seperti rollercoaster yang selalu naik turun, batin Aidan tersenyum setelah menyadari suasana hati Nadin yang berubah begitu cepat.


Keesokan Harinya


Udara pagi yang seharusnya masih terasa segar meskipun sedang berada di dalam kelas tiba-tiba terasa sesak untuk dihirup oleh Nadin ketika ia mendapati Nina sang putri sekolah ada di dalam kelas yang sama dengannya. Entah kenapa, kata "saingan" muncul begitu saja dalam kepalanya saat mengetahui Nina pindah ke kelasnya.


“Permisi, kamu Nadin kan ?” tanya Nina yang sudah berdiri di samping Nadin.


“Oh. Iya, benar,” jawab Nadin menoleh bersama Dira.


“Apa boleh aku duduk di sini ? Kamu dan Aidan terlalu tinggi meskipun saat duduk. Jadi, aku tidak bisa melihat papan tulis,” tutur Nina.


Nadin menoleh ke belakang dan melihat letak Nina duduk. Memang benar, dia, Aidan, dan Nina duduk satu baris. Tidak heran kalau Nina tidak bisa menatap papan tulis dengan leluasa.


“Baiklah, Dira ayo pindah,” ajak Nadin lalu duduk di belakang Aidan karena posisi duduk Nina memang di belakang Aidan.


“Aidan, bagaimana rasanya belajar IPS ? Aku gugup sekali, tolong bantuannya ya,” ucap Nina langsung menghadap Aidan begitu mendapatkan tempat duduk yang dia inginkan.


“Kenapa aku harus membantumu ? Kalau kamu tidak percaya diri untuk belajar setelah pindah jurusan. Lebih baik kembali saja ke jurusan awalmu,” sahut Aidan dengan wajah datar.


“Pfffttt, uhuk uhuk uhuk.” Dira tersedak mendengar ucapan Aidan ketika ia meminum air.


“Bu-bukan begitu maksudku,” balas Nina terlihat malu.


“Oh.”-Aidan menoleh kepada Nadin yang bengong setelah mendengar ucapannya tadi kepada Nina-“Eh, jerapah betina. Kamu duduk di depan. Kamu tidak akan bisa melihat papan kalau kamu duduk di belakangku,” ucap Aidan bangkit dari tempat duduknya dan diikuti oleh Rudi.


“Siapa yang jerapah betina ?!” timpal Nadin emosi.


“Kamu. Apa kamu tidak tahu kalau di kelas ini kamu dijuluki jerapah betina ?”


“Dia bohong kan ?” tanya Nadin kepada Dira yang juga langsung menggelengkan kepala. Karena takut dibohongi oleh Dira, Nadin menoleh ke samping dan bertanya perihal julukannya itu.


“Y-yaaa. Memang benar, kamu adalah perempuan paling tinggi di kelas ini. Jadi, kamu dijuluki seperti itu. Tapi, tenang saja. Aidan juga dijuluki jerapah jantan, dia kan laki-laki yang paling tinggi di sini, bahkan paling tinggi di antara semua siswa di sekolah ini,” ungkap Arka yang ditanyai oleh Nadin.


“Kamu tidak percaya padaku ya ? Di kelas ini, kalian adalah pasangan jerapah tahu,” bisik Dira yang kemudian diikuti cekikikannya.

__ADS_1


Wajah Nadin seketika bersemu merah mendengar ucapan Dira. Ia pun dengan patuh pindah ke tempat duduk Aidan.


Yah, tidak apa-apa. Asal pasanganku adalah Aidan, batin Nadin menyembunyikan wajahnya di balik buku.


__ADS_2