
Damara menggigit bibir tipisnya yang bergetar menahan tangis. Matanya yang berkaca-kaca telah siap menumpahkan tetesan bening yang berusaha ia bendung. Kini, ia melihat wajah mertuanya yang kesal karena disela pembicaraannya.
“Saya tahu Nadin mirip dengan siapa. Jadi, tolong jangan bicarakan hal itu lagi,” pinta Damara.
“Bagus jika kamu tahu. Jadi, kamu akan tetap ingat dia milik siapa,” ketus Nyonya Naraya.
“Tentu saja Nadin milik saya. Saya tidak peduli wajahnya sama dengan siapa karena dia tetap anak saya. Nyonya besar yang terhormat seperti Anda tidak mungkin mengingkari janji, kan ?” balas Damara tersenyum sinis.
“Tentu saja,” sahut Nyonya Naraya tidak bisa menyangkal ucapannya.
“Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu.” Damara bangkit dari kursinya hendak pergi tetapi baru beberapa langkah, ia kembali menghampiri mertuanya yang masih duduk melihat ia pergi.
“Nyonya, saya ingin berterima kasih karena Anda telah memberikan Nadin kepada saya. Saya juga akan mengembalikan kartu kredit yang dulu Anda berikan. Saya tidak menggunakan uang Anda untuk membesarkan Nadin karena saya membesarkannya dengan uang dari usaha saya sendiri,” ungkap Damara lalu meninggalkan mertuanya yang tidak berhenti melemparkan pandangan tidak suka padanya.
Untuk pertama kalinya Nadin pergi ke rumah Dira untuk mengerjakan PR Matematika. Nadin merasa canggung ketika ia masuk ke dalam rumah Dira yang besar dan mewah. Ia pun bersalaman dan berkenalan dengan ibu Dira yang sangat ramah dan baik padanya. Dira pun mengajak Nadin ke kamarnya yang dihiasi dengan poster orang-orang tampan yang disebut dengan idol Korea itu.
Setelah makan, mereka pergi ke taman belakang rumah Dira untuk mengerjakan PR. Nadin yang duduk di sebuah kursi kayu melemparkan pandangannya ke sekeliling taman yang ditanami dengan berbagai jenis bunga. Nadin merasa nyaman ketika angin membelai lehernya yang berkeringat. Ia pun ingin terlelap di bawah rindangnya pohon kelengkeng tempat ia duduk saat ini sebab angin itu seperti menggodanya untuk memejamkan mata.
“Nadin, maaf kamu jadi menunggu lama,” ucap Dira yang baru saja kembali dari kamarnya untuk mengambil tas mereka.
“Tidak, apa-apa. Ayo kita kerjakan PR ini,” sahut Nadin.
Dari kejauhan, Hannah memandangi putrinya yang sedang belajar dengan temannya yang baru pertama kali ia ajak ke rumah. Ia lalu kembali ke dapur untuk membuatkan mereka beberapa makanan. Sementara itu, Nadin dan Dira sesekali berdiskusi untuk menjawab soal yang lumayan sulit untuk mereka jawab.
“Aaaah, akhirnya selesai.” Dira terlihat lega setelah satu jam alisnya berkerut karena berusaha menjawab soal.
Nadin tersenyum sembari memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas ketika melihat Dira yang langsung berdiri dan meregangkan tubuhnya ketika PR mereka telah selesai.
“Hoaammm.” Nadin menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya supaya ia tidak terlalu mengantuk.
“Ayo kita tidur di kamar,” ajak Dira.
“Tidak perlu, aku nyaman ada di sini. Udaranya sejuk,” sahut Nadin menidurkan kepalanya di meja.
“Kamarku juga nyaman, di sana ada AC yang akan membuatmu merasa sejuk,”
“Lebih baik di sini saja.”
“Hmmm, padahal aku ingin mengenalkanmu pada oppa-oppa yang ada di kamarku.” Dira terlihat murung dan akhirnya duduk di depan Nadin.
“Maksudmu poster itu ?” tanya Nadin kembali ke posisi duduknya.
“Iya, apa kamu tidak tertarik pada mereka ?” Kini Dira yang balik bertanya dengan bersemangat.
“Tidak. Malah aku merasa tidak nyaman. Oh ya, apa kamu tidak merasa malu saat berganti pakaian atau saat memakai sehelai handuk di depan para laki-laki di poster itu ?” Pertanyaan Nadin seketika membuat Dira tertawa.
“Mereka kan hanya gambar. Tidak mungkin mereka mana bisa melihatku,” sahut Dira.
Hari berganti hari, minggu pun berganti bulan. Tidak terasa sudah dua bulan Nadin menjalani masa sekolahnya sebagai anak SMA. Hubungannya dengan Dira menjadi jauh lebih dekat. Namun, hubungannya dengan teman-teman lain di kelas tidak juga menunjukkan kemajuan. Akibatnya, mereka menjadi agak segan menyapa Nadin karena Nadin masih terlihat menutup diri untuk berteman dengan mereka.
Dira pun selama seminggu terakhir melancarkan aksinya untuk mulai mendekati Rudi, siswa yang ia sukai itu. Kebetulan, Rudi juga satu kelas dengan Aidan. Jadi, Dira selalu berpura-pura datang ke kelas sepupunya itu hanya untuk melihat laki-laki pujaannya. Tentu saja, ia selalu membawa Nadin yang juga tanpa sengaja sering bertemu dengan Aidan.
Entah sejak kapan dimulai, Nadin dan Aidan selalu balapan untuk saling mendahului saat bersepeda ketika mereka berangkat maupun pulang sekolah, padahal mereka tidak pernah punya kesepakatan untuk mengadakan balapan. Hal itu terjadi begitu saja. Tapi, mungkin itu terjadi setelah untuk pertama kalinya mereka sama-sama terlambat datang ke sekolah. Meskipun begitu, mereka tak pernah berbicara satu sama lain. Yang ada mereka hanya saling melempar ejekan, Aidan selalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek Nadin ketika ia lebih dulu sampai sekolah. Sedangkan, Nadin selalu menjulingkan matanya untuk membalas ejekan Aidan.
Sampai pada hari Sabtu ketika pulang sekolah, Nadin memberanikan diri untuk bertanya kepada Dira mengenai Aidan yang selama tiga hari ini tidak pernah ia lihat. Biasanya, siswa dengan tinggi yang tidak wajar itu selalu bertemu dengannya.
“Dia demam. Tapi, hari ini mungkin sudah baikan. Tadi malam aku ke sana untuk melihatnya masih hidup atau sedang sekarat,” tutur Dira yang saat ini ditemani oleh Nadin menunggu jemputannya.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu pada sepupumu ?” tanya Nadin mengerutkan alis.
“Habisnya, dia tidak pernah bicara baik-baik denganku,” keluh Dira terlihat kesal.
“Aku juga punya teman yang bermulut pedas dan suka berbicara seenaknya,” tutur Nadin menyunggingkan senyum ketika mengingat Aidan di masa kecil.
__ADS_1
“Eh ? Kamu punya teman ?!” tanya Dira terkejut.
“Tentu saja aku punya. Malah aku punya tiga, salah satunya kamu,” jawab Nadin spontan dengan matanya yang melotot ke arah Dira.
“Astaga, jiwa sosialmu rendah sekali. Hehe. Tapi, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan Aidan ?” Dira kini menidurkan kepalanya di bahu Nadin yang lebih tinggi darinya.
“Aku tidak melihatnya saat berangkat dan pulang sekolah selama tiga hari ini,” jawab Nadin dengan tatapan kosong yang ia lemparkan pada jalan raya.
“Loh, apa kalian selalu pergi dan pulang sekolah bersama-sama ?!” Dirq mengangkat kepalanya dan kini menghadap ke arah Nadin.
“Mungkin kalimat itu kurang cocok karena kami tidak pernah janjian untuk itu. Kami hanya kebetulan bertemu karena rumah kami sama-sama searah,” sahut Nadin yang kini ikut duduk menghadap Dira.
“Haha, kebetulan yang aneh ya. Andai aku dan Rudi juga seperti itu,” balas Dira tersenyum lebar membayangkan Rudi yang selalu berhasil membuat lututnya lemas ketika mereka bertemu.
Kriiittttt
Ban sepeda hitam milik Nadin seketika berhenti saat ia menarik rem tepat di depan gerbang rumah Aidan yang besar. Ia menerawang ke dalam halaman yang luas dan sepi, matanya kemudian beralih pandang ke arah balkon yang ada di lantai dua.
Apa yang aku lakukan ? Mana mungkin dia yang sedang sakit malah duduk di balkon saat cuaca panas begini, pikir Nadin yang menyadari perbuatannya. Ia pun kembali mengayuh sepedanya, meninggalkan gerbang di mana Aidan juga selalu menatap dirinya yang masih harus mengayuh sepeda untuk bisa sampai di rumahnya, Aidan tanpa sadar selalu melakukan hal itu sebelum masuk ke dalam rumahnya saat pulang sekolah.
Apa dia tidak sekolah lagi ? batin Nadin yang sempat menoleh ke arah rumah Aidan saat ia lewat di depan sana.
Nadin mengayuh sepedanya dengan perlahan karena memikirkan kenapa ia selalu merasa ada yang kurang saat berangkat dan pulang sekolah tanpa adanya Aidan
Hatinya yang terasa sepi membuat perasannya tidak nyaman. Langit yang perlahan terlihat mendung membuat moodnya semakin buruk.
Begitu sampai di depan gerbang sekolah, Nadin berhenti untuk memeriksa tasnya untuk mencari topi yang harus dipakai saat upcara. Setelah selesai, Nadin menuntun sepedanya. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Ia melangkah mundur saat pintu mobil di depannya itu terbuka.
Ini seperti mobil Aidan, gumam Nadin.
Memang benar itu adalah mobil Aidan karena tidak lama setelah pintu mobil terbuka, Aidan langsung mengeluarkan kaki panjangnya dari mobil dan kini sudah berdiri di depan Nadin.
Nadin terperangah ketika melihatnya membuka masker dan langsung menjulurkan lidah untuk mengejek Nadin yang sempat tidak mengenalinya. Karena kesal, Nadin langsung menginjak kakinya dan meninggalkannya yang meringis kesakitan.
Hah ?! Biasanya dia tidak pernah mengeluarkan lidahnya untuk mengejekku, gumam Aidan tersenyum karena menganggap wajah Nadin terlihat lucu saat membalas ejekannya.
Nadin bersenandung kecil sembari mengeluarkan buku Matematikanya, ada perasaan senang di hatinya karena mengetahui Aidan sudah masuk sekolah.
“Apa kamu sangat suka dengan Matematika ? Sampai-sampai kamu bernyanyi seperti itu,” ujar Dira yang sejak tadi memperhatikan Nadin.
“Tidak, aku tidak begitu suka dengan pelajaran itu,” sahut Nadin kini mengeluarkan pensil, penghapus, dan sepupu alat tulis yang lainnya.
“Oh ya, Aidan sudah masuk hari ini,” tutur Dira menidurkan kepalanya di meja.
“Iya, tadi pagi aku sudah bertemu dengannya,” sahut Nadin tersenyum ceria.
Dira mengerutkan alisnya ketika melihat senyum yang dibuat oleh teman dekatnya yang pemurung itu. Sebelumnya, dia tidak pernah seperti ini saat membicarakan orang lain.
“Apa kamu menyukai Aidan ?” tanya Dira memegang pundak Nadin.
Nadin terperanjat mendengar pertanyaan Dira.
“Aku tidak pernah menyukainya,” jawab Nadin dengan mata melotot.
“Santai, santai. Aku hanya bertanya, jangan ngegas.” Dira lagi-lagi menepuk bahu Nadin sambil tersenyum.
“Lagi pula, aku tidak tahu bagaimana rasanya menyukai orang,” tambah Nadin sambil menopang dagunya.
“Ck, ck, ck. Sini, pagi ini aku akan memberimu pelajaran pertama sebelum pelajaran Matematika,” ujar Dira merangkul pundak Nadin.
“Gini ya, kalau kamu sedang menyukai seseorang-”
“Menyukai laki-laki atau perempuan ?” potong Nadin.
__ADS_1
“Laki-laki lah !” sahut Dira dengan alisnya yang langsung berkerut.
“Gini ya, kalau kamu sedang menyukai laki-laki, kamu akan merasa senang, malu, dan grogi saat melihat atau bertemu dengannya. Kamu pasti akan selalu memikirkannya. Kamu tidak akan suka ketika melihat dia berbicara dengan perempuan lain. Jantungmu akan berdetak kencang hanya dengan mendengar suaranya. Kalau bertemu, kakimu akan lemas,” jelas Dira dengan semangat.
“Bukannya kamu yang selalu lemas saat bertemu dengan Rudi,” sahut Nadin tersenyum.
“Tapi, sepertinya aku pernah merasakan salah satunya,” tambah Nadin.
“Benarkah ? Saat kamu bertemu dengan siapa ?” tanya Dira terlihat antusias.
“Saat aku bertemu dengan bebek yang pernah mengejarku,” jawab Nadin langsung menoleh ke arah Dira yang selama beberapa saat melongo mendengar jawaban anehnya itu.
“Apa kamu menyukai bebek ?!”
“Tentu saja tidak. Tapi, jantungku berdetak kencang saat melihatnya dari jauh,” jelas Nadin.
“Nadin, itu namanya takut. Aku tidak tahu kamu ini polos atau memang bodoh,” sahut Dira menepuk jidatnya.
Teeeet teeeet teeeet
Semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing ketika bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, Nadin dan Dira langsung menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah bernyanyi dengan tidak merdu.
“Astaga, aku lupa membayar susu ini,” ujar Dira mengagetkan Nadin.
“Aku pergi dulu, kamu tunggu dulu ya.” Dira memberikan belanjaannya kepada Nadin lalu pergi.
Nadin bersandar di tembok kelas sejarah yang berdekatan dengan kelasnya yang akan belajar bahasa Indonesia. Ia menundukkan kepalanya supaya tidak ada yang melihat atau menyapanya.
“Nadin,” panggil Saka yang kebetulan lewat di depannya.
“Eh, Kak Saka,” sahut Nadin tidak menyangka akan ada yang menyapanya.
Kenapa mereka terlihat dekat ? batin Aidan yang melihat Nadin bersama Saka dari balik jendela kelasnya yang terbuka. Ia terus memperhatikan keduanya yang asyik berbicara.
“Uhuk, uhuk. Ehem.” Aidan langsung meminum air mineralnya lalu kembali mengawasi Nadin.
Sementara itu, Nadin langsung menoleh ke arah Aidan karena ia tahu suara batuk itu adalah milik Aidan. Ia begitu terkejut saat mendapati Aidan sedang berada tidak jauh darinya. Aidan yang saat itu langsung menjulingkan matanya membuat Nadin tidak bisa menahan senyum lebarnya.
Dia tersenyum, gumam Aidan yang hanyut dalam senyuman Nadin.
Saka ikut melihat kemana mata Nadin memandang, ia penasaran dengan objek yang sampai membuat Nadin tersenyum manis seperti itu. Ia pun mendapati Aidan yang ternyata menjadi fokus pandangan Nadin.
“Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Aku akan menunggumu di toko,” ujar Saka lalu pergi ke kelasnya.
Toko ? Apa mereka akan bersama-sama pergi ke toko ? tanya Aidan pada dirinya sendiri.
Nadin kembali menoleh ke arah Aidan dengan tatapan melotot. Sedangkan, Aidan hanya memberikan tatapan heran karena tiba-tiba ditatap seperti itu.
“Kentang !”
Mata Aidan yang sipit terbuka lebar ketika mendengar seorang siswi yang tidak ia kenal menyebut kentang. Ia pun melihat dengan jelas raut wajah Nadin tiba-tiba berubah saat mendengar nama keduanya itu.
Ela, batin Nadin ketika melihat seseorang yang ia kenal sedang berjalan ke arahnya.
“Waah ternyata kamu sekolah di sini ya. Tapi, apa kamu masih mengenalku ?” tanya siswi yang dipanggil Ela oleh Nadin.
“Masih,” jawab Nadin tanpa berkedip menatap Ela yang merupakan kakak sepupu Ami.
Ela memberikan senyum sinis kepada Nadin yang saat ini menampakkan wajah tidak bersahabat.
“Kamu hebat Nadin, aku tidak percaya gadis yang terlihat lugu dan cupu sepertimu bisa membuat bekas luka di wajah adikku,” sindir Ami seraya memberikan tatapan tajam kepada Nadin yang merupakan adik kelasnya.
“Kenapa tidak tanyakan alasannya pada Ami ?” tanya Nadin lalu pergi meninggalkan Ela.
__ADS_1
Siapa dia ? Tadi dia memanggil Nadin dengan sebutan kentang, batin Aidan yang kini mulai penasaran dengan siapa Nadin sebenarnya.