
Saka melambaikan tangan begitu melihat Nadin masuk ke kafe yang ada di dekat toko bunganya. Nadin melemparkan pandangannya ke sekeliling kafe itu, ia baru tahu kalau tempat itu menyediakan fasilitas untuk belajar.
Saka menikmati setiap langkah Nadin yang mendekat ke arahnya dengan mengenakan rok selutut berwarna abu terang. Baju kaos berwarna senada dengan rok yang saat ini dikenakan Nadin membuatnya semakin tertarik sebab baju itu tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuh Nadin yang indah.
Dia lucu sekali, batin Saka ketika fokusnya beralih ke rambut Nadin yang dikepang dua. Ia pun menyunggingkan sebuah senyum begitu Nadin sudah duduk di depannya.
“Maaf, aku terlambat. Apa Kak Saka sudah lama menunggu ?” tanya Nadin sembari meletakkan tas buku dan tas selempang kecilnya di atas meja.
“Tidak apa-apa. Aku sengaja datang lebih cepat supaya kita mendapat tempat,” jawab Saka.
“Kak Saka punya PR juga ? tanya Nadin begitu melihat beberapa buku tersusun rapi di dekat Saka.
“Iya. Aku akan mengerjakannya setelah selesai menjelaskan soal mana yang tidak kamu mengerti,” jawab Saka.
Nadin kemudian mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ia mendengarkan dengan cermat apa yang dijelaskan Saka supaya dia bisa mengerjakan PR kimianya. Setelah mengerti, Nadin mulai mengerjakan soal-soal itu. Sesekali, matanya melirik ke arah Saka yang juga tengah fokus pada tugasnya. Sesaat, ia termenung memikirkan alasan kenapa ia bisa dekat seperti ini dengan kakak kelasnya itu.
Kakak ini ramah dan baik. Mungkin itu sebabnya aku dekat dengannya, gumam Nadin melanjutkan pekerjaannya.
Sebenarnya, apa yang sedang mereka lakukan ? Mengerjakan tugas kok lama sekali. Apa Nadin memang sebodoh itu pada pelajaran kimia ? gerutu Aidan yang saat ini berada di samping tempat belajar Nadin dan Saka.
Setelah kemarin mendengar perbincangan Nadin dan Saka yang akan belajar di kafe, Aidan tiba-tiba menjadi kesal dan gelisah. Sepulang sekolah, ia langsung mencari di mana letak toko bunga milik Saka kemudian mencari kafe yang dimaksud kakak kelasnya itu. Setelah menemukan tempat itu, Aidan memutuskan untuk datang ke sana pada keesokan harinya supaya ia bisa tahu apa saja yang dilakukan oleh keduanya.
Bukankah ini sama dengan kencan ? Tapi, mungkin tidak juga. mereka kan tidak pacaran, pikir Aidan sembari menyeruput jus jeruk pada gelas ketiganya.
Siang ini benar-benar panas bagi Aidan, belum lagi hatinya yang panas mengetahui Nadin sedang mengerjakan PR bersama seorang laki-laki membuat ia meminum banyak jus untuk menyejukkan tubuh dan hatinya.
Brak !
Karena kesal, tanpa sengaja tangan Aidan spontan menggebrak meja hingga membuat Nadin dan Saka yang ada di sebelahnya terkejut. Ia tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya saat ini. Awalnya, ia tidak berpikir saat menjalankan rencananya untuk mengikuti Nadin. Sekarang, ia baru sadar kalau apa yang dilakukannya ini terasa aneh baginya. Namun, walaupun merasa begitu, Aidan masih tetap ingin mengetahui apa yang dilakukan dua makhluk itu. Ingin sekali rasanya ia menghampiri mereka berdua dan menjadi nyamuk di antara mereka. Ia tidak tahu kenapa dia selalu kesal ketika melihat Nadin bersama Saka.
“Tadi itu suara apa ya ?” tanya Nadin yang baru selesai mengerjakan soal terakhir.
“Itu seperti suara meja yang dipukul,” jawab Saka lalu mengajak Nadin memesan minuman.
“Apa kamu suka tempat ini ?” tanya Saka setelah meminum jus alpukatnya.
“Iya, tempatnya nyaman dan tidak berisik,” jawab Nadin yang juga sedang menikmati jus jeruknya.
“Pasti ini pertama kalinya kamu datang ke tempat seperti ini, kan Kentang ?” tanya Ela tersenyum kepada Nadin.
Keduanya terkejut melihat Ela yang tiba-tiba sudah ada di samping mereka. Saka memasang wajah datarnya kepada Ela yang suka seenaknya nimbrung dan menguping pembicaraan orang lain. Sedangkan, Nadin menghela nafas panjang supaya otaknya tetap berpikir positif dengan kedatangan Ela.
“Ow, sepertinya kalian berdua tidak mengharap kedatanganku,” ucap Ela dengan muka temboknya duduk di samping Nadin walaupun tidak dipersilakan.
Perempuan yang tadi kan orang yang pernah memanggil Nadin dengan sebutan kentang ? gumam Aidan yang tadi sempat menengok ke arah Ela.
“Kamu ada urusan apa ?” tanya Saka.
“Aku ada urusan denganmu untuk membicarakan tugas kelompok kita,” jawab Ela.
“Bukankah masing-masing orang sudah punya bagiannya sendiri ? Apa bagianmu sudah selesai ? Kalau begitu, kamu bisa menyerahkannya padaku sekarang.”
“Ah, itu. Aku belum menyelesaikannya. Ada beberapa hal yang belum aku mengerti. Jadi, aku ingin menanyakannya padamu.
Saka kemudian menjelaskan bagian yang belum dimengerti oleh Ela. Nadin sempat kagum melihat kepintaran Saka dalam menjelaskan materi pelajaran. Meskipun ia tahu kalau Saka adalah murid IPA terpintar di angkatannya, ia tetap takjub padanya.
“Ok, aku sudah mengerti. Tapi, aku ingin di sini sebentar lagi. Aku mau menghubungi adikku yang dulu pernah menjadi teman si Kentang,” ucap Ela tanpa ragu.
Sepertinya percuma aku berpikir positif. Kenyataannya, dia memang ingin mempermalukan aku, batin Nadin.
“Namanya adalah Nadin, kenapa kamu seenaknya membuat panggilan untuk orang lain ?” tegur Saka yang sudah mengetahui kalau teman sekelasnya itu selalu memanggil Nadin dengan sebutan kentang.
“Aku tidak seenaknya, itu memang panggilannya sejak kecil. Iya, kan Kentang ?” Ela menoleh kepada Nadin yang mulai berwajah muram dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Kamu boleh pergi sekarang,” usir Saka.
“Sebentar, aku sudah terhubung.” Ela sengaja mendekat kepada Nadin supaya Ami bisa melihatnya saat mereka video call.
“Ami, bagaimana kabarmu ?” tanya Ela tersenyum kepada Ami.
📱📞Ami :
“Aku baik-baik saja, Kak. Eh ? Bukannya itu Nadin ?”
__ADS_1
📱📞Ela :
“Kamu melihatnya ? Kalau begitu bicaralah dengannya.” Ela lalu memposisikan ponselnya ke depan Nadin.
Nadin dan Ami terlihat gugup saat saling memandang dari layar ponsel itu. Nadin bisa melihat dengan jelas bekas luka pada wajah Ami.
📱📞Ami :
“Nadin, bagaimana kabarmu ?”
📱📞Nadin :
“Aku baik-baik saja. Kamu ?”
📱📞Ami :
“Aku juga baik-baik saja. Aku-”
“Yah, terputus. Sinyal di sana memang tidak begitu bagus.” Ela kemudian membuka galeri ponselnya untuk mencari foto Ami.
“Saka, ini adikku yang tadi berbicara. Namanya Ami.” Ela menunjukkan foto Ami.
“Kamu lihat luka di wajahnya kan ? Sebenarnya, luka itu di buat oleh si kentang ini waktu kelas tiga SMP,” tutur Ela.
Saka sempat terkejut setelah melihat foto Ami. Ia tidak percaya kalau gadis yang terlihat kalem dan lembut seperti Nadin akan membuat orang lain sampai terluka seperti itu. Tapi, dia tidak langsung menghakimi Nadin karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.
Kenapa Ela selalu menyalahkan aku ? Apa Ami tidak memberitahu kejadian yang sebenarnya ? batin Nadin dalam perasaannya yang mulai sedih dan kacau.
Cuit cuit cuit
Nadin segera mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya begitu mendengar suara pesan masuk.
📩Ibu :
Sayang, kalau sudah selesai langsung pulang ya. Hubungi ibu kalau Nadin pulangnya malam. Hati-hati.
📨Me :
“Kak Saka, ibu memintaku segera pulang kalau PR ini sudah selesai. Jadi, tidak apa-apa kan kalau aku pulang duluan ?” tanya Nadin sembari memasukkan bukunya ke dalam tasnya.
“Iya, pulang saja. Tidak apa-apa. Sebentar lagi aku juga akan pulang,” jawab Saka.
“Hati-hati kentang, semoga kamu cepat sampai rumah dengan sepedamu, ya.” Ela memberikan senyum mengejek kepada Nadin yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
“Terima kasih.” Nadin kemudian melenggang pergi dari sana. Ia merasa lega karena bisa menjauh dari Ela.
Haha. Kamu berterimakasih padaku ? Aku kan sudah mengempeskan ban sepedamu, gumam Ela.
Begitu tahu Nadin pulang, Aidan segera membayar dan keluar dari kafe itu. Ia memperlambat langkahnya supaya Nadin tidak menyadari kalau dia sedang mengikutinya.
Eh ?! Aku pipis ya ? Tapi kok rasanya aneh, batin Nadin menghentikan langkahnya ketika merasakan ada sesuatu yang keluar secara tiba-tiba dari bawah sana. Perutnya yang kembali kram membuatnya semakin tidak nyaman.
Tak ingin berlama-lama di tempat itu, Nadin langsung meletakkan tas bukunya ke dalam keranjang sepeda. Pikirannya menjadi semrawut ketika melihat ban sepedanya kempes lagi, padahal tadi ban sepedanya itu baik-baik saja. Saat berjongkok untuk melihat ban sepedanya, ia menemukan penutup bannya tergeletak di dekat kakinya. Rasanya dia ingin memaki karena emosi saat mengetahui ban sepedanya sengaja dikempeskan oleh seseorang.
Hati-hati Kentang, semoga kamu cepat sampai rumah dengan sepedamu, ya.
“Apa dia yang melakukannya ?” lirih Nadin setelah mengingat apa yang dikatakan Ela.
Nadin seketika menutup wajahnya karena merasa sangat sedih dengan perlakuan Ela padanya. Air matanya pun tumpah tanpa bisa ia bendung, ia kesal karena tidak bisa menahan tangisnya. Aidan yang saat itu sudah berada tidak jauh dari parkiran segera berlari menuju Nadin yang tengah berjongkok di depan sepedanya.
“Nadin, kamu kenapa ?” tanya Aidan kini ikut berjongkok di depan Nadin. Ia khawatir begitu menyadari Nadin tengah menangis.
“Jangan lihat aku. Tinggalkan aku,” sahut Nadin dalam isak tangisnya.
“Bagaimana aku bisa meninggalkamu ? Kenapa kamu menangis ? Apa kamu diganggu oleh kakak kelas yang perempuan itu ?”
Ini memalukan, aku tidak ingin terlihat lemah dan cengeng di depannya. Tapi, bagaimana aku bisa mengendalikan air mata ini ? batin Nadin setelah Aidan menyerbunya dengan pertanyaan.
Nadin mengangkat wajahnya setelah menghapus air matanya. Ia menangkap raut khawatir di wajah Aidan.
“Apa kamu diganggu ?” tanya Aidan memicingkan matanya, ia begitu kesal dengan orang yang sudah membuat Nadin menangis.
Nadin menggelengkan kepalanya dan air matanya mulai menggenang lagi tanpa diminta.
__ADS_1
“Aku sudah membuat kesalahan, dulu aku pernah melukai Ami, adik sepupunya Kak Ela. Dan tadi, aku berbicara dengan adiknya itu, aku juga sudah melihat wajahnya. Pantas saja Kak Ela marah padaku, ternyata aku memang membuat bekas luka di wajah Ami. Aku pikir sekarang ini Kak Ela akan balas dendam padaku. Aku… aku seperti tidak bisa lepas dari bayang-bayang Ami,” tutur Nadin tanpa sadar bercerita kepada Aidan.
“Kamu tidak perlu takut, kamu hanya perlu membalas jika dia menganggumu lagi. Lakukan seperti yang sudah kamu lakukan sebelumnya. Kamu juga tidak perlu merasa bersalah sudah melukai Ami. Dia pantas mendapatkannya setelah apa yang dia lakukan padamu,” sahut Aidan membantu menyeka air mata Nadin.
“Kenapa kamu berbicara seperti kamu sudah mengetahui segalanya tentang aku ?” tanya Nadin tidak berniat menepis tangan Aidan seperti sebelumnya.
“Mungkin aku memang tahu segalanya dari ceritamu tadi,” jawab Aidan tersenyum.
Tentu saja aku tahu apa yang sudah terjadi padamu. Aku kan teman yang kamu lupakan, gerutu Aidan.
“A-aku harus pulang,” ucap Nadin lalu beranjak dari duduknya. Ia tidak tahan lama-lama berhadapan dengan Aidan.
Mata sipit Aidan seketika melebar saat melihat ada noda darah di bagian belakang rok Nadin. Jantungnya berdetak begitu cepat karena ini pertama kalinya ia melihat darah seorang perempuan. Ia segera bangun dan memegang lengan Nadin dari belakang karena takut orang yang ada di sekeliling parkiran akan melihat rok gadis itu.
“Aidan ?! Apa yang kamu lakukan ?” hardik Nadin terkejut. Ia berusaha melepaskan diri dari Aidan yang memegangnya dengan kuat.
“Diam, kamu ti-”
Bugh
“Uuggh,” Aidan meringis ketika merasakan siku Nadin mengenai perutnya dengan keras.
“Kamu aneh sekali ! Kenapa kamu suka melakukan hal-hal mesum padaku ?!” bentak Nadin.
“Seharusnya aku yang merasa aneh padamu yang begitu ceroboh. Aku menahanmu seperti ini karena ada darah di belakang rokmu ! Aku tidak mau orang lain melihatnya !” timpal Aidan.
“Eh ? D-darah ?!” Jantung Nadin tiba-tiba mulai berpacu begitu mendengar kata darah.
Aidan melepaskan lengan Nadin dan membiarkan gadis itu melihat ke belakang roknya. Nadin begitu terkejut dan duduk lagi setelah melihat ada banyak darah di belakang roknya. Ia takut sekaligus malu pada Aidan.
“Apa kamu tidak tahu kalau kamu sedang... i-itu ?” tanya Aidan tiba-tiba menjadi malu.
“Itu apa maksdmu ?!”
“Ish, maksudku datang bulan !”
“Tapi, aku tidak pernah sekalipun mengalaminya.”
“Berarti ini pertama kalinya bagimu.”
“Kok bisa sih ?” tanya Nadin dengan wajah kebingungan.
Aidan seketika melongo mendengar ucapan Nadin.
“Ya bisa lah, kamu kan perempuan !” sahut Aidan lalu mengamati barang bawaan Nadin yang bisa digunakan untuk menutupi roknya. Sayangnya, Nadin tidak punya barang yang dicarinya. Jadi, ia membuka jaketnya dan menarik Nadin untuk berdiri membelakanginya lagi. Tangannya begitu cepat melingkarkan lengan bajunya ke pinggang Nadin sebelum gadis itu berbalik lagi.
“Kenapa kamu memakaikanku bajumu ?! Apa kamu tidak merasa jijik kalau nanti bajumu kena ? tanya Nadin tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Aidan untuknya.
“Daripada jijik, aku lebih tidak nyaman kalau orang lain melihat rokmu,” timpal Aidan mulai merasakan udara menyapa kulitnya.
“Tapi-”
“Tidak apa-apa. Pakai saja. Aku tidak merasa jijik meskipun bajuku kena,” potong Aidan.
Hati Nadin tiba-tiba terasa hangat mendengar ucapan Aidan. Ia sampai melupakan rasa malunya dan menyunggingkan senyum manis untuk Aidan.
“Terima kasih,” kata Nadin.
“Ayo kita pulang sama-sama,” ajak Aidan.
“Sepedaku kempes, aku harus memompanya dulu.
“Kalau begitu kita jalan saja. Di perempatan sana ada tukang pompa. Biar aku yang menuntun sepedamu.
Kini mereka berdua berjalan beriringan. Nadin merasa senang dan sedikit melupakan kesedihannya. Ia beberapa kali menoleh ke arah Aidan yang tetap menatap lurus ke depan. Ini pertama kalinya ia berjalan kaki bersama seorang laki-laki setelah masuk SMA.
Walaupun dia bermulut pedas dan menyebalkan, dia memiliki sisi yang baik dan lembut. Berjalan berdua dengannya tidak
buruk juga, batin Nadin tersenyum.
“Aku minta maaf, waktu itu aku mengatakan hal yang kasar padamu,” ungkap Aidan melihat ke arah Nadin.
“Iya. Tapi, kamu ada benarnya juga. Aku ini memang gadis yang ceroboh,” sahut Nadin membalas tatapan Aidan.
__ADS_1