Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
16


__ADS_3

“Pffttttt. Hahahahaha.” Dira tertawa sampai berguling-guling di lantai setelah mendengar jawaban Nadin.


Sementara, Nadin segera menjauhkan diri dari Aidan setelah ia mencerna ulang apa yang sudah dikatakannya. Ia beberapa kali menepuk bibirnya yang terkadang selalu keceplosan ketika berbicara. Saat ini ia memilih untuk berdiri menghadap tembok sambil menutup wajahnya yang terasa panas karena malu. Lain halnya dengan Aidan yang berusaha untuk tidak tersenyum lebar dan tetap bersikap cool meskipun ia juga tengah merasa senang dan besar kepala setelah dikatakan seksi oleh Nadin.


Dia terlihat lucu, batin Aidan tersenyum memandangi Nadin yang tak kuasa menunjukkan wajahnya.


“Tante memanggilmu,” ujar Aidan setelah Dira menghentikan video musiknya.


“Nadin, kamu jangan malu. Aku tahu kamu tidak sengaja mengatakannya,” pesan Dira sebelum keluar menemui ibunya.


Nadin hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Dira. Ia pun membalikkan badan ketika mengira Aidan sudah pergi bersama sepupunya itu. Kenyataannya, ia masih berdiri pada posisinya semula. Saat ini, Aidan sedang bersandar di samping pintu kamar Dira yang berwarna biru muda. Karena tidak nyaman berduaan dengan Aidan di dalam sana, Nadin akhirnya melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar itu. Ia pun tetap menunduk tidak berani membalas tatapan Aidan yang terlihat seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Begitu sampai di mulut pintu, Aidan dengan sigap menarik tangan Nadin dan membuatnya bersandar di tembok yang tadi ia tempati.


“Apa yang kamu lakukan ?!” tanya Nadin memberikan tatapan tidak suka kepada Aidan yang juga menampakkan wajah kesal padanya.


“Aku hanya ingin menahanmu supaya tidak menghindar dariku lagi,” sahut Aidan. Ia segera menghalangi Nadin dengan kedua tangannya yang ditempelkan ke tembok ketika melihat gerak gerik Nadin yang akan kabur lagi.


“Kenapa kamu selalu menghindariku ?” tanya Aidan menunduk ke arah Nadin.


Astaga, kenapa benjolan di lehernya bergerak terus, batin Nadin yang terpaksa melihat jakun Aidan karena ia tidak berani menatap wajahnya. Alhasil, jantungnya semakin berdetak kencang ketika melihat pemandangan itu. Sebenarnya itulah penyebab Nadin mengakui kalau Aidan terlihat seksi saat tadi ia ditanya.


“Kenapa kamu diam saja ?”


“Kamu terlalu dekat. Mundur dulu.” Nadin mendorong tubuh Aidan dengan keras. Tapi, Aidan tidak mau menyingkir dan tetap kekeh berdiri di depannya.


“Kamu jawab dulu pertanyaanku,” pinta Aidan yang masih terus menunduk melihat Nadin yang belum juga membalas tatapannya.


“Aku tidak bisa memberitahumu mengenai alasanku menghindarimu. Lagi pula kita berdua bukan siapa-siapa. Jadi, tidak masalah kan kalau aku menghindar,” jelas Nadin.


Hati Aidan langsung memanas dan terasa sakit setelah mendengar ucapan Nadin. Saat ini ia benar-benar merasa marah dan kecewa.


“Kamu bilang kita bukan siapa-siapa ?! Coba kamu lihat aku baik-baik.”


Aku tidak bisa melihat wajahmu Bambang ! Kakiku saja sudah lemas berdiri sedekat ini denganmu, batin Nadin tidak juga melihat ke arah Aidan.


“NADIN,” panggil Aidan terpaksa memegang dagu Nadin.


Nadin akhirnya mendongak memandangi wajah Aidan. Jantungnya seperti akan keluar dari tempatnya karena berdetak terlalu kencang. Kakinya terasa semakin melemah, sebab saat ini mereka berdua saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.


“Apa kamu tidak mengenalku sama sekali ?” tanya Aidan lagi.


“Aku kenal, kamu kan Aidan Rederick,” jawab Nadin.


“Iya, lalu apa yang bisa kamu ingat setelah melihatku ?”


“Apa maksudmu ?” Nadin menyingkirkan tangan Aidan dari dagunya.


Aidan langsung mengalihkan pandangan seraya menggigit bibirnya sendiri untuk menahan kekesalannya. Ia tersenyum sinis kepada Nadin yang masih memperlihatkan wajah bingung.


“Kamu ini gadis ceroboh yang benar-benar pikun, ya,” ketus Aidan.


“Hah. Aku salah apa ? Kenapa kamu berbicara seperti itu padaku ?” Nadin rasanya ia ingin menagis karena Aidan menganggapnya ceroboh dan pikun.


Aidan segera mundur dari hadapan Nadin ketika ia melihat genangan air di mata gadis itu. Sedangkan, Nadin langsung menundukkan kepala supaya Aidan tidak melihat wajah sedihnya. Ia melewati Aidan yang berdiri mematung saat melihatnya mengambil tas dan keluar dari kamar Dira.

__ADS_1


Aku hanya ingin menghukumnya dengan membiarkan dia mencari tahu sendiri tentang siapa aku. Walaupun begitu, aku sudah membantunya untuk mengingat. Tapi, kenapa dia tidak peka dengan tindakan dan perkataanku tadi ? Apa dia sebodoh itu ? Uurrrgghhh ! Sial, aku malah jadi emosi dan membuatnya sedih, apa tadi dia menangis ? batin Aidan duduk di sofa yang ada di kamar Dira sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Udara pagi di musim panas menyengat kulit Nadin sampai membuat ia menggigil saat mengayuh sepeda. Gara-gara jantungnya yang terus berdetak kencang tidak karuan setiap kali bertemu Aidan membuat ia harus berangkat sekolah pada pukul enam pagi supaya tidak bertemu dengan anak itu. Sudah sebulan ia melakukan hal ini. Oleh sebab itu, Aidan bertanya kenapa dia terus menghindar darinya.


Aku menghindarinya karena sudah lelah dengan perasaan tidak karuan yang terus menghampiriku setiap kali bersamanya. Tapi, kenapa aku malah semakin terus memikirkannya dan ingin tetap melihatnya ?Aku kenapa siiih ? batin Nadin yang kini bersandar di depan gerbang sekolah yang masih sepi dan belum dibuka.


Apa aku menyukainya ? tanya Nadin dalam hati ketika kembali mengingat penjelasan Dira mengenai ciri seseorang yang mulai menyukai lawan jenisnya. Ia merosot duduk di depan gerbang sekolah sambil memeluk lututnya yang kedinginan karena udara pagi.


Bremmmm bremmmm breemmmm


Nadin segera bangkit dari duduknya ketika sepeda motor Pak Kodri yang merupakan satpam di sekolahnya itu berhenti di depannya.


“Udaranya makin dingin ya, Neng,” cetus Pak Kodri sembari membuka gerbang.


“Iya, pak,” sahut Nadin kemudian masuk ke dalam sekolah setelah gerbangnya terbuka.


Rasa kantuk tanpa ampun menyerang Nadin yang saat ini sedang mengerjakan tugas biologi. Guru yang harusnya mengajar di jam terakhir itu sedang sakit. Jadi, beliau hanya berpesan kepada guru piket supaya kelasnya menjawab soal latihan di LKS (Lembar Kerja Siswa). Kelas mereka hanya boleh mengerjakan di kelas atau di perpustakaan. Nadin yang sekarang ini hanya sendiri memilih mengerjakan tugas di perpustakaan karena Dira juga sedang tidak masuk sekolah gara-gara giginya sakit lagi.


Nadin menulis sambil menopang dagunya untuk mengantisipasi kepalanya yang akan terbentur di meja saat ia tidak sadar tiba-tiba terlelap. Ternyata, usahanya sia-sia karena beberapa saat setelah itu kepalanya benar-benar terbentur dengan keras. Penjaga dan siswa siswi yang ada di sana sampai terkejut dan menoleh ke arahnya. Sementara itu, ia meringis kesakitan karena jerawatnya lagi-lagi beradu dengan permukaan meja.


“Kamu tidak apa-apa ?” tanya Aidan yang saat itu ada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas kelompok. Wajah tampannya memperlihatkan wajah khawatir kepada Nadin.


“Menurutmu ?” Nadin mendelik kesal ke arah Aidan sambil menaikkan ujung bibir kanannya. Meskipun menampakkan wajah kesal, ia begitu deg degan melihat siswa terpopuler itu tiba-tiba sudah ada di samping kanannya.


Apa dia masih marah padaku ? batin Aidan tidak membalas ucapan Nadin.


Nadin melenggang pergi menuju kamar mandi ketika salah satu penjaga perpustakaan menyarankannya untuk membasuh wajah supaya ia tidak mengantuk lagi.


“Ini sudah lewat dua hari setelah dia menganggap aku ceroboh dan pikun. Apa dia tidak punya rasa bersalah sampai tidak mau minta maaf ?” gerutu Nadin sembari mengelap wajahnya dengan telapak tangannya setelah mencuci muka.


Begitu masuk ke dalam perpustakaan, Nadin kembali duduk di samping Aidan yang sedang berdiskusi dengan temannya. Ia berusaha tetap fokus mengerjakan beberapa soal yang belum terjawab agar matanya tidak tergoda untuk menoleh ke arah di mana Aidan berada. Namun, fokusnya terpecah ketika mendengar suara bisik-bisik teman sekelasnya yang sedang membicarakan Aidan yang duduk di depan mereka. Nadin melihat dengan jelas bahwa mereka tertarik dengan pangeran sekolah itu. Tiba-tiba ia tersenyum senang karena merasa sedikit menang dari para siswi itu.


Mereka sangat mengaguminya. Tapi, apakah mereka pernah berinteraksi dengan Aidan, seperti yang pernah aku lakukan? Aidan bahkan pernah meminjamiku hoodienya, celoteh Nadin di dalam hatinya.


Tidak lama kemudian, senyum Nadin memudar setelah ditelan oleh rasa mindernya ketika melihat perbedaan warna kulitnya dengan kulit Aidan. Ia tidak menyadari tangannya yang ia taruh di atas meja bersebelahan dengan tangan Aidan yang juga ada di atas meja.


Kulitnya putih seperti susu. Sedangkan, kulitku cokelat seperti sawo busuk, batin Nadin lalu pindah ke tempat lain.


Kenapa dia malah pergi ? gumam Aidan yang melihat kepergian Nadin menuju sebuah meja kosong.


Kediaman Giandra Naraya


*Srrrr**rr srrrrrrr srrrrrr***


“Sepertinya, suamiku tercinta minta ditabok”, lirih Lika ketika mendengar suara air dari kamar mandi begitu ia masuk ke kamar. Ia sudah bisa menebak kalau suaminya sedang mandi. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kemudian duduk di ranjangnya.


Tap tap tap


Giandra keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang masih menutupi bagian pinggang sampai lututnya. Langkahnya terhenti ketika sepasang matanya tertuju pada gaun tidur merah yang dikenakan oleh Lika. Dengan senyum nakal, ia berjalan ke arah istrinya saat naluri lelakinya terpancing oleh belahan dada yang terlihat dari gaun malam milik ibu dari anaknya itu.


“Pakai baju dulu,” cetus Lika tanpa menoleh ke arah Giandra dan terus fokus pada ponselnya.


Giandra pun spontan berbalik arah begitu mendapat perintah. Ia beberapa kali menoleh ke arah Lika yang seperti tidak menghiraukannya.

__ADS_1


Istriku kenapa sih ? Dekat-dekat saja tidak boleh, batin Giandra sembari mengancingkan piyama merahnya.


“Sayaaang, lihat apa sih ?” tanya Giandra kini sudah duduk di samping Lika sambil mengintip apa yang sedang dilihat oleh istrinya itu.


“Lihat hp lah,” ketus Lika.


Giandra menghela nafas panjang sambil mengambil ponsel Lika dengan lembut. Ia kemudian meraih kedua bahu istrinya sampai mereka berdua duduk berhadapan.


“Kamu kenapa ? Dari tadi cemberut terus.” Giandra menatap ke dalam mata Lika, berharap ia bisa mengetahui penyebab istrinya berekspresi seperti itu.


“Aku kesal karena mas tidak mau mendengarkan aku. Mas kan baru sembuh dari flu, kenapa sekarang malah mandi malam-malam ?” gerutu Lika dengan alisnya yang berkerut.


Imutnya, batin Giandra yang malah tersenyum ketika sedang dimarahi. Ia berniat memberikan kecupan pada bibir Lika. Namun, Lika segera meletakkan telapak tangannya pada bibir Giandra yang sudah dekat dengan wajahnya.


“Ok, ok. Aku minta maaf. Tapi, aku mandi karena merasa gerah,” ucap Giandra.


“Sa-sayang, kamu mau kemana ?” tanya Gindra ketika Lika turun dari ranjang dan menuju lemari.


“Sayang, apa kamu akan mengambil selimut untuk aku gunakan tidur di ruang kerja lagi ?” Giandra terlihat gusar melihat istrinya membuka lemari dan mencari sesuatu di sana.


Lika akhirnya menemukan handuk kecil yang ia cari. Dengan langkah santai, ia kembali ke ranjang dan menghadap Giandra sambil bertumpu pada kedua lututnya. Ia mulai mengeringkan rambut suaminya yang masih basah setelah keramas tadi. Giandra tersenyum lalu memeluk pinggang Lika yang lansing. Wajahnya ia benamkan di sela-sela dua daging empuk milik istrinya itu.


Setelah puas menghirup aroma tubuh Lika yang wangi, Giandra mendongak ke arah Lika sambil tersenyum manis. Lika yang ditatap seperti itu tidak mampu menahan senyumnya. Ia meletakkan kedua tangannya pada kedua bahu suaminya lalu mencium keningnya.


“Lain kali, jangan mandi malam. Aku tidak mau mas sakit lagi,” ucap Lika lalu kembali mengeringkan rambut Giandra.


“Iya. Tapi, sebenarnya aku kena flu karena hari Minggu itu aku terkena hujan saat mengejar seorang gadis yang sangat mirip denganmu,” ungkap Giandra.


“Mirip denganku ?” tanya Lika terkejut. Ia kemudian duduk menghadap suaminya.


“Iya. Aku tahu kamu tidak mirip dengan keluargamu yang lain kecuali dengan ibumu. Tapi, anak gadis yang kulihat itu mirip sekali denganmu. Apa ada keluargamu yang tidak kamu kenalkan padaku ?”


“Tidak, aku tahu semua keluargaku. Apa hanya kebetulan saja ?”


“Aku juga berpikir begitu. Tapi, aku seperti punya perasaan yang dekat dengan anak itu. Makanya aku sampai mengejarnya. Jujur saja, aku pikir dia adalah anak perempuan kita,” tutur Giandra tersenyum.


Lika seketika menundukkan wajahnya. Ia begitu sedih melihat suaminya yang sampai menganggap gadis asing sebagai anaknya.


“Kamu kenapa ?” Giandra mengangkat dagu istrinya sampai mereka bertemu pandang.


“Maaf karena aku sudah tidak bisa melahirkan anak untumu lagi, mas,” ujar Lika. Air matanya menetes untuk mewakili perasaan sedihnya yang terkadang selalu muncul.


“Seandainya, aku bisa melahirkan anak kita dengan selamat. Aku pasti bisa memenuhi harapan mas yang ingin mempunyai anak perempuan. Aku-”


Giandra segera memagut bibir Lika sebelum istrinya itu semakin menyalahkan dirinya sendiri. Tangannya yang kekar merangkul tubuh Lika. Sedangkan, bibirnya masih tetap memberikan sentuhan lembut pada bibir pasangan hidupnya itu.


“Kenapa bibir manismu selalu berucap untuk menyalahkan diri sendiri ? Kamu tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Lagi pula, mungkin itu yang terbaik untuk anak kita,” ujar Giandra memeluk Lika sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


“Aku minta maaf,” lirih Lika tenggelam di dalam pelukan hangat suaminya.


“Iya, bukankah dulu aku memberitahumu kalau aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu sedih,” sahut Giandra.


“Tapi, bagaimana rupa anak gadis itu ?” tanya Lika.

__ADS_1


“Wajahnya mirip sekali denganmu. Dia terlihat tinggi dan rambutnya sangat panjang.” Jelas Giandra.


__ADS_2