Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
9


__ADS_3

Nadin meregangkan tubuhnya yang sudah duduk selama beberapa jam untuk mendengar sesi perkenalan dan ceramah dari beberapa guru yang secara bergantian masuk ke kelasnya. Matanya melemparkan pandangan ke sisi kiri kelas. Ia melihat teman-teman barunya sudah saling berbicara bahkan bercanda satu sama lain. Namun, hanya dia yang diam tanpa mau banyak bicara meskipun beberapa siswi sudah menyapanya.


Aku pasti akan senang juga jika tidak memiliki kekhawatiran untuk memiliki teman, batin Nadin yang sempat melihat Dira yang sejak MOS pertama sudah terlihat akrab dengan siswa siswi di kelas mereka itu.


Semuanya kembali duduk dengan rapi ketika tiga orang OSIS yang sejak kemarin bertanggungjawab terhadap kelas mereka masuk ke kelas.


“Adek-adek, sekarang kalian punya tugas untuk membuat puisi yang temanya tentang cinta. Bagi yang tidak membuat sesuai tema akan dihukum,” tutur Aldo yang hari ini mengubah gaya rambutnya menjadi seperti kulit durian.


Sebagian besar siswa siswi di kelas itu melongo heran mendengar perintah Aldo, tidak terkecuali dengan Nadin yang mulutnya mengaga saat mendengar suruhan membuat puisi cinta.


Bagaimana aku membuatnya ? Aku bahkan belum pernah pacaran, gumam Nadin yang mulai bingung harus menulis kalimat apa sebagai pembuka puisinya. Ia memutar-mutar pulpennya sembari menunggu pencerahan datang kepadanya.


Ia pun melirik ke arah Dira yang terlihat asyik bahkan sampai senyum-senyum sendiri saat menulis puisi.


“Kamu nggak buat ?” tanya Dira yang mendapati Nadin sedang terlihat bingung sambil menatapnya.


“Aku tidak tahu harus menulis apa,” jawab Nadin menopang dagunya yang tidak lancip.


“Kamu tidak pernah menyukai orang lain atau tidak pernah pacaran sama sekali ?” tanya Dira menghentikan jarinya untuk menulis.


Nadin hanya menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Dira.


“Kalau begitu, coba pikirkan seseorang yang bisa menumbuhkan idemu,” ujar Dira kembali melanjutkan aktivitasnya.


Siapa ya ? Joko ? Ah tidak. Bisa-bisa aku membuat puisi tentang makian kalau aku membuat puisi cinta tentang dia, pikir Nadin.


“Sepuluh menit lagi ya,” ujar Dena mengingatkan batas waktu untuk mereka.


Nadin semakin panik, takut kalau ia akan dihukum jika tidak membuat puisi. Secara tidak sengaja, matanya mengarah kepada Aidan yang sedang menulis. Seketika, banyak ide yang bermunculan di kepalanya. Nadin pun mulai menulis dengan cepat.


Nadin menghela nafas lega ketika puisinya selesai tepat waktu. Ia pun menyerahkan pekerjaannya kepada Aldo yang berkeliling untuk mengumpulkan puisi mereka.


“Bagaimana puisimu ?” tanya Dira berbisik kepada Nadin.


“Biasa saja, terima kasih atas saranmu,” sahut Nadin sedikit tersenyum.


“Sama-sama. Kamu tahu, aku sangat senang disuruh membuat puisi seperti ini. Jadi, perasaan terpendamku bisa tersalurkan,” tutur Dira semakin mendekat ke arah Nadin.


“Maksudmu ?” tanya Nadin yang tidak mengerti ucapan Dira.


“Aku menyukai seseorang, dia juga siswa baru di sini. Tapi, aku tidak pernah berani berbicara padanya. Jadi, aku mengungkapkan semua perasaanku dalam puisi itu,” jelas Dira yang memilih menuntut ilmu di sekolah negeri untuk mengikuti laki-laki pertama yang ia sukai dalam hidupnya.


“Aah. Begitu,” sahut Nadin menganggukkan kepalanya. Ia begitu kagum dengan kejujuran anak gadis yang periang itu.


Nadin lalu mengalihkan pandangannya ke arah para OSIS yang terlihat bersemangat membaca puisi mereka. Matanya pun tertuju kepada Dena yang tersenyum saat membaca salah satu puisi. Tari yang merupakan salah satu penanggung jawab kelas mereka juga ikut tersenyum dan menunjukkan puisi yang sudah ia baca kepada Dena dan Aldo. Mereka bertiga saling berbagi senyum setelah membaca puisi itu bersama-sama di dalam hati.


“Kami sudah mendapatkan dua puisi yang akan dibaca oleh pemiliknya. Jadi, bagi yang disebutkan namanya langsung maju ke kelas,” tutur Aldo sembari memegang dua lembar puisi itu.


“Aidan Rederick dan Nadin Naraya, ayo maju,” panggil Aldo.


Siswa siswi di kelas itu serentak bersorak dan bertepuk tangan kegirangan dengan berbagai alasan. Ada yang senang karena puisinya tidak dipilih dan ada juga yang senang karena akan melihat pertunjukan seru. Sementara Nadin tidak menyangka kalau puisi menggelikan yang ia buat itu bisa dipilih. Dengan berat hati, berat kaki, dan berat langkah, Nadin akhirnya maju ke depan menyusul Aidan yang sudah lebih dulu maju. Ia heran melihat Aidan yang tetap memasang wajah dingin dan santai meskipun sedang dalam keadaan yang memalukan. Mereka berdua lalu mengambil puisi yang diberikan oleh Aldo.


“Kalian berdua saling berhadapan ya. Yang pertama membaca puisi adalah Nadin. Setelah selesai, Aidan langsung baca puisi juga,” ujar Tari memberi arahan.


Nadin :


Harapan


Di gang sepi itu aku melepas kepergiamu di bawah gerimis


Aku memandang sampai bayangmu hilang di ujung jalan


Hari pun berlalu, kulewati dengan memegang janjimu


Apa kamu bahkan masih ingat ?


Janji yang kita buat di bawah gerimis yang mengiringi perpisahan kita


Aku harap kamu ingat dan segera datang padaku


Tapi,


Jika kamu tak sanggup menemuiku

__ADS_1


Temui saja aku dalam mimpiku


Itu…


Itu cukup bagiku yang sekali pun tak pernah memimpikanmu


Namun, jika kau datang


Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyukaimu


Aidan :


Ingin


Aku tidak pandai merangkai kata menjadi sebuah puisi


Aku hanya memiliki kalimat sederhana


Dengarkan…


Aku mencarimu


untuk melihatmu


untuk menepati janjiku


Suatu hari…


Saat aku menemukanmu


Akan kukatakan, aku menyukaimu


“Cie-cieeee, itulah kata pertama yang keluar dari bibir anak-anak di kelas itu termasuk para OSIS.


Mereka serentak bertepuk tangan dan bersorak setelah mendengar puisi Nadin dan Aidan. Sedangkan, mereka berdua hanya saling pandang setelah selesai membaca puisi.


Nadin sedikit takjub kepada Aidan yang bahkan tidak melihat kertasnya dan seakan langsung berbicara padanya. Wajah Nadin pun memerah setelah Aidan mengucapkan kalimat terakhir dalam puisinya itu. Karena merasa senang, Tari membawa Nadin dan Aidan ke kelas lain supaya mereka berdua membaca puisi lagi.


Sepulang sekolah, Nadin langsung menghempaskan diri ke kasur. Ia sudah beberapa kali berguling-guling di sana sambil mengacak-acak rambutnya untuk menyingkirkan ingatan membaca puisi itu. Ia merasa kesal karena status kejombloannya menjadi tercoreng saat anak-anak lain termasuk Dira menganggapnya pernah pacaran, sebab dia mampu membuat puisi seperti itu.


Aku… aku hanya teringat pada Aidan, gumam Nadin lalu menyembunyikan wajahnya di balik boneka itu.


Sore harinya, Dira dan Aidan saling berdebat lantaran mereka berdua tidak menemukan snack atau biskuit yang harganya lima belas ribu. Sebenarnya, mereka yang ada di kelompok merah harus membawa makanan, mereka boleh membawa makanan apapun dan berapapun jumlahnya. Asal harganya harus pas lima belas ribu, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Itulah yang membuat mereka bertengkar karena meskipun sudah berkeliling di toko, mereka tetap tidak mendapatkan harga yang pas.


“Kamu diam saja di sini. Biar aku yang pergi beli,” ujar Aidan mengakhiri perdebatannya.


“Tapi kamu harus membelikan aku juga, harganya harus pas !” perintah Dira yang akhirnya bisa duduk di sofa setelah lelah berkeliling.


Aidan melenggang keluar dari rumah besarnya tanpa mengiyakan perintah Dira. Ia terus saja berjalan meskipun Dira berteriak memanggilnya yang sudah masuk ke mobil.


“Dasar adik sepupu kurang ajar, beraninya dia mengabaikan aku,” gerutu Dira yang bibirnya sudah terlihat seperti bebek karena manyun.


“Hah, di mana aku harus menemukan jajan dengan harga pas ?” lirih Nadin setelah keluar dari toko Airlangga tanpa mendapat apa-apa.


Ia pun menuntun sepedanya dengan langkah gontai. Keningnya terus berkerut karena sedang memikirkan cara menyelesaikan masalahnya itu.


“Apa kamu berniat menabrakku setelah mengintipku di toilet ?” tanya Aidan ketika ban depan sepeda milik Nadin membentur dirinya saat berjalan berlawanan arah dengannya.


“Ah ?! Maaf,” sahut Nadin hendak menghindar dari Aidan. Namun, Aidan lebih cepat menarik tangannya.


“He-hei, apa yang kamu lakukan ?!” tanya Nadin terkejut seraya mencoba melepas tangannya dari genggaman Aidan yang erat.


“Menurutmu apa ?” tanya Aidan menaikkan sebelah alisnya.


“I-ituu, besok saja kita bahas masalah itu. Ini sudah gelap, aku ingin cepat mencari jajan.” Nadin mengalihkan pandangannya karena tidak mampu membalas tatapan tajam Aidan.


Apa dia kesal karena aku terus menghindar ? Dia terlihat marah, batin Nadin yang tangannya mulai terasa dingin karena udara malam.


"Apa kamu sudah punya jajan untuk dibawa besok ?" tanya Nadin.


"Belum," sahut Aidan tanpa melepas pandangannya dari Nadin.


“Ah, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan ? Aku akan membantumu mencari jajan. Setelah itu, biarkan aku pergi,” usul Nadin dengan mata berbinar menatap Aidan karena sudah menemukan ide untuk mendapatkan jajan dengan harga pas.

__ADS_1


“Bagaimana caramu ?” tanya Aidan melonggarkan genggamannya.


“Ikuti saja aku. Kita akan pergi ke warung,” jawab Nadin.


“Sebentar,” Aidan melambaikan tangannya memanggil sopirnya yang bernama Pak Rio-”tolong ambil tali,” pinta Aidan yang tak mau melepaskan tangan Nadin.


“Baik,” sahut Pak Rio lalu menuju mobilnya yang terparkir di halaman toko itu.


“Hei, apa yang akan kamu lakukan ?!” berontak Nadin yang terkejut mendengar Aidan meminta tali. Ia sudah berpikir kalau dia akan diculik. Ia melepaskan sepedanya dan hendak lari. Namun, Aidan memegang kedua tangannya sampai ia terbentur ke bagian belakang sebuah mobil.


“Ma-maaf, apa punggungmu sakit ?” tanya Aidan yang merasakan tubuh Nadin terbentur dengan keras.


“Aku hanya tidak sengaja melihatmu di toilet, apa harus kamu menculikku untuk balas dendam ?” tanya Nadin yang sudah takut dan hendak menangis tanpa menghiraukan pertanyaan Aidan.


“Heee ? Aku tidak akan menculikmu,” sahut Aidan heran.


“Lalu kenapa kamu menyuruh orang itu mengambil tali ?!” tanya Nadin terlihat emosi.


“Itu untuk mengikat sepedamu di mobilku. Jangan berpikir berlebihan,” sahut Aidan.


“Bagaimana aku tidak berpikir berlebihan ? Kamu menyuruh orang mengambil tali dan kamu tidak mau melepas aku !” timpal Nadin tidak suka dengan perlakuan Aidan yang membuatnya takut.


“Itu supaya kamu tidak menghindariku lagi,” ucap Aidan mendekatkan wajahnya ke wajah Nadin.


“Ka-kamu terlalu dekat !” Nadin mendorong Aidan saat melihat sopir itu sudah datang.


Nadin terpaksa masuk ke mobil Aidan karena sepedanya sudah diikat di bagian atas mobil merah Aidan yang terlihat mewah. Mobil itu pun berhenti di depan sebuah warung yang menjual berbagai jajan dengan harga eceran.


“Pilih jajan yang kamu suka sampai harganya lima belas ribu,” perintah Nadin ketika mereka sudah berdiri di depan warung.


Nadin lalu meminta pedagang di warung itu mencatat nama-nama jajan yang mereka ambil beserta harganya. Nadin senang karena belanjaannya kini sudah cukup lima belas ribu.


“Apa tidak masalah kita menggunakan nota seperti ini ?” tanya Aidan setelah menerima nota belanjaannya berupa tulisan tangan dalam selembar kertas.


“Tentu saja tidak apa-apa. Mereka hanya meminta kita untuk belanja lima belas ribu dan tidak melarang kita untuk belanja di mana saja. Jelaskan seperti yang kukatakan tadi kalau besok kamu ditanya oleh kakak OSIS soal nota ini,” jelas Nadin merasa puas karena ia bahkan sudah punya alasan untuk melawan jika besok ia dimarahi.


“Benar juga,” sahut Aidan seraya tersenyum karena merasa kagum dengan ide Nadin.


Deg


Manis sekali, gumam Nadin ketika jantungnya berdetak keras saat melihat Aidan menarik senyum di bibir tipisnya yang merah.


Keesokan harinya, Dira tiba-tiba memeluk Nadin begitu ia sampai di kelas dan menemukan Nadin sedang duduk sendiri seperti biasanya.


“Nadiiin, terima kasih karena sudah membantuku membeli jajan. Aku akan mengganti uangmu,” ujar Dira melepas tas kantong plastiknya.


“Tidak perlu. Itu hanya ucapan terima kasih karena sebelumnya kamu sudah menolongku juga,” sahut Nadin sambil memakai topi kerucut merahnya sebelum para OSIS itu datang memeriksa kelengkapan seperti yang biasa mereka lakukan.


Tin tiiin tiiiinnnn


Suara klakson mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang mengiringi langkah Nadin menuntun sepedanya untuk pulang ke rumah. Ia tersenyum lega karena kegiatan MOS sudah berakhir hari ini. Tapi, ia merasa ada yang aneh ketika mengingat Aidan yang selalu memberikan tatapan dingin padanya itu tidak akan sekelas lagi dengannya.


Harusnya aku merasa senang karena kami tidak sekelas lagi, gumam Nadin menghentikan langkahnya.


Apa karena nama mereka mirip sehingga aku terus memikirkan dia ? tanya Nadin pada dirinya sendiri yang terus melihat ke depan dengan tatapan kosong.


Ah, sudahlah. Tidak perlu dipikirkan lagi. Nadin melanjutkan langkah kakinya menuntun sepeda yang bannya pecah ketika ia baru keluar dari gerbang sekolah.


Damara membiarkan Nadin tidur sampai menjelang malam setelah anaknya itu makan siang pada sore hari. Ia pun membangunkan Nadin ketika jam dinding di ruang tamunya sudah menunjukkan pukul sembilan belas.


“Bu, besok kan hari Minggu. Apa kita bisa pergi mengunjungi ayah ?” tanya Nadin yang sejak kecil tidak pernah datang ke makam ayahnya.


“Maaf, Nak. Besok ini ibu sudah ada janji dengan pemilik toko mebel yang akan membawa kursi dan meja,” sahut Damara yang tiba-tiba menghentikan aktivitas menjahitnya.


“Bagaimana kalau minggu depan ?” usul Nadin meletakkan kertas jadwal pelajaran yang sejak tadi ia baca.


“Iya sayang,” sahut Damara lalu menghela nafas berat. Dalam hati ia berdoa supaya mereka tidak bertemu dengan nyonya besar Naraya itu.


“Nak, ibu ingin memberikan ini untukmu.” Damara mengeluarkan ponsel baru untuk Nadin.


“Hp ? Nadin kan masih punya hp yang diberikan oleh orang tua Aidan saat ulang tahun dulu,” ujar Nadin melihat ponsel android yang sedang banyak diminati oleh orang-orang.


“Itu kan sudah lama, Nak. Ini hadiah karena kamu sudah bisa masuk di SMA itu. Tapi, ibu punya satu syarat,” tutur Damara.

__ADS_1


“Apa itu, Bu ?” tanya Nadin yang akhirnya merasa sangat senang karena mendapat hp baru.


“Kamu tidak boleh punya sosial media,” jawab Damara dengan wajah serius.


__ADS_2