
Cip… cip… cip… cip...
Suara burung pipit di pagi hari seakan menjadi musik yang menemani sarapan Nadin. Sesekali, ia mencoba menghirup aroma mawar merah yang sudah dua hari lalu ia petik di taman kecilnya. Namun, ia tak bisa mencium aromanya karena hidungnya yang masih flu. Ibunya yang sejak tadi mengawasi sambil menyiapkan susu untuknya memutuskan untuk menjauhkan vas kecil berisi mawar merah itu dari hadapannya.
“Ibu, kenapa bunganya di bawa ke sana ?” tanya Nadin sambil terus mengunyah makanannya. Alisnya berkerut karena kesal ibunya sudah mengganggu kesenangannya.
“Kalau tidak disingkirkan, bisa-bisa kamu memakan kelopaknya untuk dijadikan lauk, Nak,” sahut Damara kemudian meletakkan botol susu coklat Nadin di meja makan. Ia tidak mau kejadian sebelumnya terulang lagi. Damara pernah beberapa kali menemukan Nadin sedang mencoba memakan kelopak mawar yang ada di taman.
“Nadin kan sudah bilang tidak akan memakan kelopak mawar lagi. Nadin juga tidak pernah menelannya. Nadin hanya mengunyahnya saja, Bu,” timpal Nadin sambil mengaduk nasi gorengnya.
“Oh ya ? Kalau ibu tidak selalu datang tepat waktu bagaimana ?” tanya Damara menatap Nadin.
“Yaa…. Mungkin Nadin akan mencoba menelannya,” jawab Nadin tersenyum.
“Apa ?!” Mata Damara terbuka lebar ketika mendengar jawaban anaknya itu.
“Bunganya sangat indah dan harum, Bu. Jadi, Nadin tertarik untuk memakannya. Kalau bunganya indah, mungkin rasanya juga enak,” jelas Nadin mengutarakan keinginannya yang tidak pernah tercapai karena selalu ketahuan oleh ibunya.
“Nak, kamu tidak boleh melakukan itu. Ibu jadi tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah,” sahut Damara terlihat khawatir mengingat dirinya yang harus meninggalkan rumah di pagi hari dan pulang pada malam hari untuk menjalankan warung yang sudah enam tahun ia kelola.
“Iya, Iya. Nadin tidak akan melakukannya lagi. waktu itu kan Nadin masih kecil. Tapi, sekarang Nadin sudah besar. Jadi, ibu tenang saja,” sahut Nadin menghabiskan makanannya lalu meminum segelas air putih.
Matahari yang baru menyingsing dari timur membiaskan cahayanya ke dapur yang juga menjadi ruang makan Damara dan Nadin. Nadin pun meraih ransel merahnya yang ada di ujung meja kemudian mengenakannya. Tak lupa Damara segera menyelipkan botol susu coklat yang tadi ia buat di kantong jaring yang ada di samping ransel Nadin.
“Nadin sekolah dulu ya, Bu,” ucap Nadin mencium tangan ibunya.
“Iya, sayang. Hati-hati di jalan ya,” sahut Damara kemudian mencium kening Nadin.
“Iya, Bu. Oh ya, kenapa mata ibu bengkak ?” tanya Nadin ketika melihat wajah ibunya.
“Ah… ini… Tadi malam ibu kurang tidur,” jawab Damara yang terlihat terkejut karena Nadin menyadari kalau matanya bengkak. Ia tidak mungkin mengatakan kalau matanya bengkak karena menangis setelah melihat apa yang dicari Nadin semalam.
“Ooh, ya sudah. Nadin berangkat ya, Bu,” ujar Nadin lalu berjalan dengan kakinya yang masih pincang.
Beberapa menit telah berlalu sejak Nadin berangkat ke sekolah. Namun, Damara masih saja berdiri di ambang pintu untuk melihat Nadin yang sudah menghilang di balik tembok. Hatinya merasa iba karena melihat Nadin yang tetap ingin masuk sekolah meskipun sedang sakit. Dalam perasaan ibanya itu, ia masih berpikir apa ia akan menanyakan tentang kata-kata yang tadi malam dicari oleh Nadin atau tidak.
Sementara itu, Nadin dalam perjalanannya menuju sekolah di pagi hari Sabtu yang dingin membuat ia menggigil. Ia pun beberapa kali bersin di sepanjang jalan. Sisa air hujan yang masih menggenang di beberapa lekukan tanah membuatnya harus melompat.
“Adududuudu…. Sakit sekali,” ringis Nadin ketika merasakan sakit di kaki kirinya karena mendarat terlalu keras.
“Nadiiinnn,” panggil seorang anak perempuan yang berseragam sama dengan Nadin.
Mendengar namanya dipanggil. Nadin menoleh ke arah kanan, dari kejauhan ia melihat temannya yang bernama Lala sedang berlari ke arahnya. Rambutnya yang dikuncir menjadi dua mirip seperti telinga kelinci yang turun naik saat ia berlari.
“Kenapa kamu lari ? Aku kan bisa menunggumu,” sahut Nadin menatap wajah Lala yang sudah berkeringat.
“Aku tidak mau kamu menunggu lama. Kamu kan selalu pagi-pagi datang di sekolah,” timpal Lala yang merupakan teman dekat Nadin. Semenjak kelas satu, Lala sudah mengetahui kalau Nadin memang selalu pertama tiba di sekolah. Bahkan, ia pernah menemukan Nadin sedang berdiri sendirian di depan gerbang sekolah yang masih belum terbuka.
__ADS_1
“Aku selalu datang pagi karena kita kan harus menyeberang jalan raya. Kalau masih pagi, jalan juga masih sepi. Jadi, kita bisa menyeberang jalan tanpa bantuan orang lain” balas Nadin.
“Iya, aku mengerti. Ayo kita jalan,” ajak Lala.
Di sepanjang jalan, mereka membicarakan tentang banyak hal. Mulai dari PR yang susah, guru yang galak, sampai ulangan semester yang akan diadakan hari Senin depan. Mereka membicarakan hal itu sepanjang jalan hingga tak terasa mereka kini sudah sampai di kelas.
“Apa benar kemarin kamu berkelahi dengan Joko ?” ranya Lala setelah selesai membicarakan topik yang selalu membuatnya malas masuk sekolah.
“Kamu tahu dari mana ?” tanya Nadin kemudian duduk di bangkunya yang berada di barisan paling depan.
“Mmm, itu… Aku tahu dari Ami,” sahut Lala lalu duduk di sebelah Nadin.
“Ooh.” Nadin hanya berwajah datar mendengar jawaban Lala. Ia tidak heran kalau Lala sampai mengetahui kejadian kemarin. Ami dan gengnya memang suka bergosip. Jadi, mungkin saja salah satu di antara mereka ada yang memberitahu Lala. Apalagi saat itu Ami bersama gengnya menyaksikan Nadin berkelahi dengan Joko tanpa ada niat untuk melerai mereka berdua.
Tap... tap... tap...
Nadin dan Lala menoleh untuk melihat pemilik suara langkah kaki itu. Mata Nadin langsung menyorot tajam ketika mendapati Joko sedang menatap tajam ke arahnya juga. Ia tidak berkedip sedikitpun saat mengawasi Joko yang sedang berjalan ke bangkunya dengan kakinya yang pincang karena terluka. Ia masih kesal ketika mengingat Joko yang kemarin mengganggunya sampai ia harus berkelahi dengannya.
Bugh…
“Adoooh.” Joko berteriak kesakitan ketika ia tanpa sengaja menabrak meja guru karena terus menatap Nadin saat berjalan. Ia berjongkok menahan rasa sakit di tulang pinggangnya yang menabrak meja.
“Pftt…” Seketika Nadin dan Lala mengalihkan pandangannya dan menutup mulutnya masing-masing supaya suara tawa mereka tidak terdengar oleh Joko.
Di saat yang sama, Damara sedang bersiap-siap untuk berangkat menuju warung miliknya yang berada di pinggir jalan raya yang biasa dilalui oleh Nadin. Tak lupa ia membawa baju ganti untuk Nadin, karena anaknya itu biasanya mampir ke warung dan diam di sana sampai ia menutup warung.
“Mina, maaf aku terlambat,” ujar Damara yang baru saja sampai di warungnya yang memiliki 11 orang karyawan termasuk Mina yang merupakan ibu Lala.
“Tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur,” jawab Damara kemudian meminum air yang tadi ia bawa dari rumah.
“Kamu tidak mungkin kurang tidur kan ? Kamu tidak perlu menyembunyikannya,” timpal Mina yang merupakan sahabat Damara sejak kecil.
Damara hanya diam, ia menunduk dan beberapa kali menghela nafas panjang. Suasana hening di warung itu lama kelamaan menjadi bising ketika kendaraan mulai lalu lalang di sana.
“Kamu tahu kan kalau Bu Diah, istri Pak Dali yang paling sering datang ke rumahku untuk marah-marah. Dia juga yang paling sering berkata kasar padaku, menganggap aku tuna****la, ja***g, dan p***cur. Aku tidak tahu kalau ternyata Nadin mendengarnya. Tadi malam, dia meminjam hp ku, dan ternyata selain dia gunakan untuk belajar, dia juga menggunakan hp itu untuk mencari kata-kata yang diucapkan oleh Bu Diah dan para istri yang lain. Aku takut kalau Nadin akan benci padaku dan merasa malu karena kata-kata yang sering diucapkan padaku itu. Aku…” Damara tidak mampu melanjutkan kalimatnya lagi, air matanya langsung tumpah begitu Mina merangkulnya dalam pelukannya.
“Sabar Damara, aku tahu bagaimana dirimu yang sebenarnya. Lagipula tidak semua orang yang menganggapmu begitu. Aku akan memberitahu Bu Diah kalau dia hanya salah paham padamu. Kamu tenanglah.” Ujar Mina mencoba menenangkan Damara.
“Mina, biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Aku juga sudah seringkali menjelaskan pada Bu Diah kalau dia hanya salah paham. Tapi, dia tetap tidak mau menerima penjelasanku,” sahut Damara dalam isak tangisnya.
“Baiklah, kamu yang sabar ya,” timpal Mina.
Sebagai sesama janda yang ditinggal mati oleh suami, Mina tahu apa yang dirasakan oleh Damara. Orang-orang akan mudah salah paham jika mereka terlihat berbicara dengan laki-laki. Oleh sebab itu, ia dan Damara selalu berusaha menjaga jarak dengan lelaki manapun. Meskipun begitu, ada saja yang berbicara tidak baik tentang mereka sehingga tidak jarang ia dan Damara berbagi pundak sebagai tempat bersandar saat menghadapi masa-masa yang sulit seperti ini.
Ting tooong… Ting tooong… Ting tooong…
Bel yang berbunyi sebanyak tiga kali menandakan bahwa sudah waktunya pulang sekolah. Wajah anak-anak yang semula kusut karena sudah kepanasan dan merasa lapar seketika berubah menjadi ceria.
__ADS_1
“Anak-anak, ingat untuk belajar ya. Minggu depan sudah mulai ulangan kenaikan kelas. Jangan terlalu banyak bermain dan jangan sampai ada yang tinggal kelas. Mengerti ?” tanya Pak Anton yang merupakan guru Matematika di kelas Nadin sekaligus wali kelasnya.
“Mengerti, pak guru,” jawab Nadin bersama seluruh teman-teman kelasnya.
Setelah berdoa, masing-masing siswa di kelas empat itu bersalaman dengan Pak Anton lalu keluar dari sana. Saat giliran Joko, Pak Anton berpesan supaya ia tidak berkelahi lagi, terutama dengan anak perempuan. Nadin pun diberikan nasihat yang sama ketika bersalaman dengan Pak Anton.
“Nadin, tadi pas istirahat siang kenapa kamu dan Joko dipanggil sama Pak Anton ke ruang BK ? Aku lihat Ami dan gengnya juga ikut dipanggil. Ada masalah apa ?” tanya Lala sambil menikmati es krimnya yang cepat meleleh karena sengatan matahari.
“Hanya membicarakan masalah kemarin,” jawab Nadin yang juga sibuk memakan es krimnya.
“Terus terus ?” tanya Lala dengan penuh rasa ingin tahu.
Sebelumnya di jam istirahat
“Nadin dan Joko. Sekarang siapa yang lebih dulu menjelaskan kenapa kemarin kalian berdua bertengkar di kelas ?” tanya Pak Anton yang sedang duduk di meja ruang BK. Sementara, Nadin, Joko beserta Ami and the geng berdiri di depannya. Sebenarnya, Ami dan teman-teman sepenggosipnya sama sekali tidak berhubungan dengan perkelahian Nadin dan Joko. Hanya saja, mereka ikut dipanggil ke ruang BK untuk menjadi saksi.
Melihat Nadin, Joko, dan Ami cs. tidak berbicara. Akhirnya, Pak Anton meminta Joko menjelaskan lebih dulu. Namun, bibir Joko pun diam seribu bahasa.
Dari mana Pak Anton tahu kalau kemarin aku dan Kentang ini bertengkar ? tanya Joko dalam hati. Kentang merupakan panggilan yang digunakan Joko untuk Nadin. Sebenarnya, bukan hanya dia yang memanggil Nadin dengan sebutan itu. Semua anak-anak yang suka mengganggu Nadin juga melakukan hal yang sama dengan Joko. Mereka memanggil Nadin kentang karena mereka tahu Nadin sangat suka memakan kentang.
“Kalau begitu Nadin saja yang menjelaskan. Ayo, Nak. Jangan takut,” bujuk Pak Anton.
“Kemarin setelah selesai les, saya, Joko, Ami, Mia, Siti, Caca, dan Tari punya piket membersihkan kelas. Waktu itu Joko meminta saya membantunya menyelesaikan bagiannya menyapu bangku karena dia ingin pulang lebih awal,” tutur Nadin menatap Pak Anton. Sementara Joko mulai terlihat gelisah saat Nadin mulai berbicara.
“Lalu apa yang membuat kalian berdua bertengkar ?” tanya Pak Anton dengan sabar.
Nadin diam menunduk sambil menggigit bibirnya yang terlihat bergetar menahan tangis.
“Nadin,” panggil Pak Anton sebagai isyarat supaya Nadin melanjutkan ceritanya.
“Saya pasti mau membantunya kalau dia meminta dengan cara yang baik. Tapi, dia meminta bantuan saya sambil menarik rambut saya dan menyebut saya anak p***cur dan anak haram. Dia terus melakukan itu sampai saya terjatuh. Jadi, saya memukulnya. Soal vas bunga di kelas, saya tidak sengaja memecahkannya. Saya minta maaf. Tapi, saya sudah membawa gantinya,” jelas Nadin.
Awalnya Nadin tidak ingin menceritakan masalah ini kepada siapapun termasuk ibunya. Tapi, entah kenapa cerita tentang perkelahian itu sampai di telinga Pak Anton. Kini, giliran Pak Anton yang diam setelah mendengar pengakuan Nadin. ia menarik nafas panjang karena tidak menyangka Joko bisa mengatakan hal itu pada Nadin.
“Ami, apa benar yang diceritakan Nadin ?” tanya Pak Anton kini mengalihkan pandangannya pada Ami.
“Benar, Pak. Kemarin saya dan teman-teman yang lain ada di kelas saat Nadin dan Joko bertegkar.” Ungkap Ami.
“Iya, benar Pak.” Sambut geng Ami membenarkan.
“Baiklah, lain kali siapa pun di antara kalian melihat ada yang berkelahi. Tolong kalian lerai. Jangan sampai ada yang berkelahi lagi. Mengerti ?” tanya Pak Anton sambil menatap murid-muridnya secara bergantian.
“Dan untuk Joko, kamu tidak boleh meminta tolong dengan cara seperti itu, apalagi sampai berkata yang tidak sopan. Mengerti kan ?” tanya Pak Anton menatap Joko yang terus menunduk karena kesalahannya sudah terbongkar.
“Mengerti, Pak,” sahut Joko menatap wali kelasnya itu.
“Oooh. Jadi begitu ceritanya. Dasar Joko, awas saja kalau dia berani ganggu kamu lagi. Giliran aku yang akan menghajarnya,” gerutu Lala lalu membuang stik es krimnya dengan keras karena emosi.
__ADS_1
“Tapi, apa kamu tahu arti p***cur dan anak haram itu ?” tanya Lala lagi.
“Tidak. Aku sudah mencarinya di internet. Tapi, aku tetap tidak tahu apa maksud kata-kata itu,” jawab Nadin dengan wajah frustasi. Kini mereka berdua hanya saling tatap dengan wajah bingung.