Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
22


__ADS_3

Di tengah keheningan kelas setelah pemilihan perwakilan itu, Nadin tiba-tiba berdiri dan menyebut sebuah nama yang sama sekali tidak pernah ia sebut.


“Alan !”


Semua anak-anak yang ada di kelas sejarah seketika melongo menatap Nadin. Mereka seperti telah melihat sebuah keanehan yang mengejutkan.


“K-kamu memanggil aku ?” tanya Alan sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Iya,” jawab Nadin.


“Ada apa, Nadin ?” Alan kembali menyusuri lorong bangku yang diduduki oleh para rakyatnya untuk menuju bangku yang ditempati oleh Nadin.


“Saya tidak menolak untuk menjadi perwakilan kelas. Tapi, bagaimana kalau nanti saya kalah dan mengecewakan semuanya ?” Nadin akhirnya mengutarakan kekhwatirannya ketika ketua kelasnya itu sudah ada di hadapannya.


Alan beberapa kali mengedipkan matanya setelah menyadari tebakannya mengenai apa yang akan dikatakan Nadin padanya sangat jauh meleset dari perkiraannya.


Alan ! Kamu terlalu percaya diri sudah menganggap Nadin akan mengutarakan perasaannya padamu, batin Alan.


“Jadi, bagaimana ?” tanya Nadin kembali setelah Alan tetap terlihat bengong dan tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


“Ehem. Kamu tidak perlu khawatir. Kalau kamu kalah juga tidak apa-apa, asal kamu sudah berusaha dalam pertandingan itu. Benar kan teman-teman ?” Kini giliran Alan yang bertanya sembari melemparkan pandangannya kepada rakyatnya.


Serentak, siswa siswi di kelas itu mengucapkan “iya, tidak apa-apa” yang disertai dengan anggukkan kepala tanda setuju.


“Tuh kan, semuanya tidak menuntut kamu menang. Tapiiii, bukankah kamu berasal dari tempat yang dijuluki pulau pedas ?” tanya Alan.


“Mmm, iya,” jawab Nadin seraya mengerutkan alisnya karena heran Alan tiba-tiba mengungkit masalah daerah asalnya.


“Nah ! Berarti kamu sudah biasa makan pedas dong !” sambut Alan tiba-tiba terlihat girang.


“Yaaa, begitulah.” Nadin masih saja memberi tatapan heran kepada Alan yang tidak bisa ia tebak isi pikirannya saat ini.


“Yes ! Kalau begitu, kita punya kesempatan besar untuk menang. Benar kan teman-teman ?” tanya Alan kini memberikan senyum girang kepada teman sekelasnya.


Apa maksud ketua kelas ini ? Baru saja aku lega setelah dia mengatakan tidak apa-apa jika aku kalah. Tapi, kenapa serakang dia malah menaruh harapan besar padaku ? batin Nadin sambil menghela nafas panjang lalu duduk di kursinya.


**Priitt


Wooooo


Waaaaaaa


Priiiitttttt


Yeeee**


Suara peluit dan teriakan para siswa siswi yang sedang menonton pertandingan futsal terdengar sampai telinga Nadin dan Dira yang sedang duduk di bangku taman. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing sembari menikmati air mancur yang keluar dari mulut ikan emas buatan yang ada di tengah kolam taman itu. Sesekali keduanya terlihat menyeruput es dari sedotan yang tak kunjung lepas dari bibir mereka.


“Gelasmu bocor, ya ?” tanya Dira bermaksud menyindir Nadin yang tidak sampai lima menit menghabiskan esnya.


Sruuutttt


“Ndak tuh,” jawab Nadin langsung mengamati bagian bawah gelas plastiknya begitu ia selesai menyedot sisa air es batu yang sudah mencair.


“Hahaha, aku tadi menyindirmu Nadin. Aku bertanya seperti itu karena heran melihat esmu yang cepat habis,” jelas Dira sambil terkekeh kemudian melepaskan sedotan yang ujungnya sudah rusak karena terus ia gigit selama minum es.


“Hehe. Aku haus,” sahut Nadin terlihat malu.


“Ngomong-ngomong, tadi kenapa kamu tiba-tiba memanggil nama Alan ?” tanya Dira mulai mencari jawaban dari kebingungannya.


“Maksudmu ?” Nadin balik bertanya sambil membuka tutup kotak makannya yang berisi keripik kentang.


“Itu loh, biasanya kan kamu memanggil Alan dengan panggilan ‘ketua kelas’. Hari ini, kenapa kamu tiba-tiba memanggil namanya ? Semua teman-teman di kelas heran melihatmu,” tanya Dira lalu beranjak dari kursinya dan duduk di samping Nadin.


“Oooh, yang tadi itu ya. Aku hanya spontan saja. Tidak ada alasan khusus,” jelas Nadin.


“Benarkah ?” Dira memicingkan matanya menatap Nadin untuk mengisyaratkan supaya Nadin tidak membohonginya.


“Iya, aku selalu memanggilnya ketua kelas karena dia memang ketua kelas. Hari ini kebetulan saja, tidak ada sesuatu yang istimewa saat aku menyebut namanya” sahut Nadin kemudian mulai menikmati keripiknya lalu menggesernya ke hadapan Dira.


“Pedaaaaaaaasssss !” teriak Dira begitu mulutnya merasakan pedas keripik kentang yang tadi disodorkan Nadin. Air matanya pun menetes tanpa diminta setelah ia meminum esnya. Ia lupa kalau rasa pedas di mulut akan semakin terasa kuat saat meminum minuman dingin.


“Apa sepedas itu ?” tanya Nadin terlihat panik melihat Dira yang sesekali mengeluarkan lidahnya yang terlihat kemerahan.


Dira hanya menganggukkan kepalanya dan melesat berlari menuju kantin.


“Mana Dira ?”


“Ya Tuhan !” pekik Nadin begitu suara yang familiar itu terdengar di telinganya. Mata bulatnya pun segera menangkap sosok Aidan yang kini sedang duduk di hadapannya.


“Ish ! Kamu ini hantu ya ?! Selalu muncul tiba-tiba dan mengagetkanku !” ketus Nadin sambil menatap tajam kepada Aidan.


“Kamu sedang sakit telinga ya sampai suara langkahku yang berjalan ke sini tidak kamu dengar ?” timpal Aidan dengan wajah datarnya.


“Jangan berbicara denganku ! Aku tidak ingin berdebat denganmu,” balas Nadin lalu duduk menghadap air mancur sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Aidan hanya tersenyum saat Nadin menunjukkan kekesalannya. Ia pun menyunggingkan senyum karena ia masih bisa melihat kesamaan gadis itu saat masih kecil dulu dengan sekarang.


“Kamu jawab dulu pertanyaanku, di mana Dira ?”


“Di kantin,” ketus Nadin tanpa menoleh.


“Tuh kan, kamu tetap bicara padaku,” ucap Aidan tersenyum.


“Makanya, kamu jangan bicara denganku, Bambang ! ucap Dira semakin terlihat kesal.


“Namaku Aidan bukan Bambang,” sahut Aidan semakin tersenyum lebar.


Nadin segera mengalikan pandangannya begitu senyum Aidan berhasil menyapu rasa kesalnya. Ia tidak tahu kenapa, bagaimana senyum remaja laki-laki itu bisa seperti sihir yang dalam sekejap mampu menghapus amarahnya.


“Aku lapar,” ucap Aidan santai seperti bos yang sedang memberi sinyal kepada pembantunya supaya ia diberi makan.


“K-Kalau kamu mau, makan saja ini.” Nadin menyodorkan kembali keripik kentangnya.


“Kamu yang punya ?” tanya Aidan melihat kotak makan berwarna hijau itu.


Nadin hanya menganggukkan kepalan dan berusaha mengatur sikapnya agar tidak salah tingkah karena jantungnya mulai berolahraga. Tanpa pikir panjang, Aidan segera membuka kotak makan itu dan memakan keripik yang ada di dalamnya. Ia pun terbatuk-batuk begitu rasa pedas memenuhi mulutnya.


“Kamu kenapa ?” tanya Nadin menyipitkan matanya.


“Ti- uhuk uhuk. Aku hanya terkejut karena rasa pedasnya,” jawab Aidan sambil menutup mulutnya.


“Apa kamu yang membuat keripik ini ?” tanya Aidan.


“Iya. Kalau pedas jangan dimakan,” jawab Nadin kini duduk menghadap Aidan.


“Tidak apa-apa. Aku bisa memakannya, lagipula ini kamu yang buat,” sahut Aidan mengambil keripik itu lagi.


Memangnya kenapa kalau aku yang buat ? Apa kamu suka ? batin Nadin sambil berusaha menahan senyum malu-malunya.


Beberapa menit kemudian


“Aidan, wajahmu sudah merah begitu. Jangan makan lagi,” ujar Nadin mengambil keripik itu dari hadapan Aidan.


“Aaah ! Pedas sekali. Kenapa kamu menyiksa diri dengan makanan sepedas itu ?” tanya Aidan kemudian menghisap ujung jari dan ibu jarinya yang tadi ia gunakan untuk makan.


“Aku tidak menyiksa diri, aku juga tidak menganggap keripik ini pedas. Kamunya saja yang tidak bisa makan pedas,” ketus Nadin kemudian memakan keripiknya yang sudah tersisa sedikit.


“Uuuh, kamu memang tidak berubah,” ucap Aidan lalu meraih botol susu coklat di depan Nadin.


“Eh, itu punyaku ! Tadi aku sudah meminumnya !” pekik Nadin berusaha merebut susunya.


“Apa kamu tidak jijik ?! Setidaknya, jangan pakai sedotan yang sudah kupakai !” omel Nadin karena tingkah Aidan yang tidak biasa.


Rasa jijikku sudah hilang saat dulu kamu sering kali seenaknya memasukkan permen lollipop yang sudah kamu hisap ke dalam mulutku, jawab Aidan dalam hati sambil sambil menyeringai. Tiba-tiba, si pangeran itu menjulingkan matanya sambil tetap menyedot minumannya, membuat Nadin terperanjat dan tersenyum lebar.


Apa aku harus menjulingkan mataku setiap hari supaya kamu selalu tersenyum ceria seperti sekarang ? batin Aidan menikmati senyum Nadin yang ceria.


Keesokan harinya, Nadin bergegas menuju lantai dua yang ada di atas kelas sejarah usai pertandingan yang diikutinya selesai. Hari ini ia dan teman-teman setimnya mendapat juara dua untuk pertandingan voli. Ia menghembuskan nafas lega ketika tidak mendapati seorang pun di lantai dua itu.


“Ya Tuhaaaan,” lirih Nadin memejamkan matanya rapat-rapat sambil terus menggenggam erat pergelangan tangan kanannya yang nyeri hebat setelah digunakan bermain voli. Ia pun merosot ke lantai karena menahan sakit dan lelah yang dirasakan saat ini.


Cuit cuit cuit


📩Dira :


Nadin, di mana ? Tadi aku nyari kamu, kamu kabur ke mana selesai main ? Ayo ke kantin.


📨Me :


Aku mau ganti baju dulu. Kamu duluan aja.


📩Dira :


Tidaaaaakkkkk. Kamu ganti aja dulu. Kalau sudah selesai, chat aku.


📨Me :


Iya.


“Haaaahhh.” Nadin berselonjor di lantai keramik cokelat yang licin bersamaan dengan helaan nafasnya. Ia berencana untuk istirahat lima menit saja kemudian berganti pakaian supaya Dira tidak perlu menunggu lama.


“Nadin,” panggil Saka yang saat ini berdiri tidak jauh dari Nadin.


“Ya Tuhan,” pekik Nadin memegang dadanya karena terkejut.


Kenapa laki-laki suka muncul tiba-tiba sih ? batin Nadin.


“Kamu ngapain sendirian di sini ?” tanya Saka sambil mendekat ke arah Nadin yang juga langsung berdiri.


“Istirahat, Kak,” jawab Nadin lalu menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


“Tadi aku menonton pertandinganmu, permainanmu bagus. Selamat ya.” Saka tersenyum lalu melemparkan pandangannya ke bawah gedung tempat ia berada saat ini.


“Terima kasih,” sahut Nadin yang sudah mengerti maksud Saka mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Ia pun melangkahkan kakinya ke samping supaya tidak terlalu berdiri dekat dengan kakak kelasnya itu.


“Kenapa kamu semakin menjauh ?” tanya Saka heran.


“Aku bau keringat, Kak.” jawab Nadin.


Saka tersenyum dan terlihat seperti mendengus ke arah Nadin.


“Kamu tidak bau, santai saja,” ucap Saka semakin tersenyum lebar.


“Eh ? Padahal kupikir bau.” Nadin pun ikut mendengus dirinya yang sejak tadi bermandi keringat.


Sepulang sekolah, Nadin duduk di samping Dira yang sudah berulang kali menengok jam tangannya. Ia sesekali mendengus kesal karena mobil beserta sopir yang bertugas menjemputnya belum juga datang. Sementara, Nadin tetap setia menemaninya yang sejak tadi menggerakkan kaki ke sana kemari karena gelisah.


“Sabar, mungkin ada yang harus dikerjakan oleh sopirmu,” ucap Nadin menenangkan Dira.


“Tapi, seharusnya dia menelpon atau memberi pesan kalau datangnya telat. Hah, menyebalkan. Kamu jadi ikut menunggu lama, padahal kamu harus segera mengobati tanganmu,” oceh Dira kini melihat tangan kanan Nadin yang sedikit membengkak.


“Kamu tidak perlu merasa bersalah, aku akan di sini sampai ada yang menjemputmu,” sahut Nadin.


“Terima kasih, Nadin,” balas Dira menidurkan kepalanya di pundak Nadin.


“Oh ya, hari Minggu setelah pembagian rapor. Teman-teman di kelas kita berencana untuk pergi berlibur. Kita akan menginap di rumahku yang ada di dekat pantai, kamu ikut kan ?” tanya Dira mengangkat kepalanya dari bahu Nadin. Ekspresi wajahnya jelas berharap supaya Nadin bersedia untuk ikut.


“Liburan ya,” lirih Nadin menatap kosong ke arah jalan raya yang sedikit sepi di siang hari itu.


“Biarkan dia bermain sendiri, siapa suruh dia mau ikut. Siapa yang akan bermain dengan kentang. Hahaha.”


Kalimat itu kembali muncul dengan jelas dalam ingatan Nadin. Kalimat yang jelas diucapkan oleh Ami kemudian disambut oleh komentar berupa ejekan dari teman laki-laki dan perempuan si perundung itu.


“Maaf Dira, aku tidak bisa ikut,” ucap Nadin menatap Dira.


“Kenapa ?” tanya Dira menampakkan wajah murung.


Bagaimana ini ? Aku tidak mungkin memberitahu Dira alasanku tidak mau ikut.


“Aku…-”


“Apa kamu tidak bisa ikut di hari Minggu ? Kalau begitu, ayo pergi pada hari berikutnya. Aku akan memberitahu teman-teman yang lain mengenai perubahan rencana supaya kamu bisa ikut,” tambah Dira.


“Dira, sebenarnya aku tidak suka pergi berlibur,” ungkap Nadin.


“Kenapa ?” tanya Dira yang terkejut, sebab ini pertama kalinya ia menemukan gadis yang tidak suka berlibur.


“Teman-teman yang lain selalu menanyakanmu akan ikut atau tidak. Ayolah, sekali saja, Nadin. Aku tidak mau mereka berbicara buruk tentangmu karena tidak ingin bergaul dengan mereka,” bujuk Dira.


“Bergaul seperti apa ? Bukankah aku sesekali berbicara dengan mereka ?”


“Hmmm, itu tidak cukup Nadin. Kamu terlalu menutup diri. Jadi, mereka menganggap kamu pilih-pilih teman.”


Nadin hanya diam tidak mengomentari ucapan Dira. Pikirannya berkecamuk untuk menentukan bagaimana harus merespon kalimat Dira.


“Nadin, ayo dong. Tunjukkan pada mereka kalau kamu tidak seperti itu. Ikut ya ?”


“Aku tidak bisa, Dira. Bukankah aku sudah memberitahumu alasannya ?”


“Masa aku harus memberitahu mereka alasanmu yang sebenarnya ?”


“Kalau begitu, katakan saja aku akan mengunjungi ayahku pada hari Minggu. Aku akan benar-benar pergi di hari itu.”


“Kamu kan bisa pergi di hari yang lain. ”


“Dira, jangan memaksa. Aku tetap tidak akan pergi.”


“Sepertinya kamu tidak menganggapku sebagai temanmu. Makanya kamu tidak mau ikut.”


“Bukan begitu, kamu temanku.”


“Makanya, beritahu aku apa alasannya kamu tidak suka berlibur.”


“Maaf Dira, aku tidak ingin membahas hal ini.”


“Apa susahnya bercerita ? Kamu hanya tinggal bicara saja, kan ? Sebenarnya, aku juga tidak suka orang yang menutup diri,” ungkap Dira yang tanpa sadar sudah membuat Nadin tersinggung dengan ucapannya.


Deg


Nadin terkejut dan tidak percaya kalau Dira akan mengucapkan kalimat seperti itu padanya.


“Dari awal, aku sudah berusaha menghindarimu dan aku tidak pernah meminta untuk jadi temanmu. Kalau kamu tidak suka orang yang menutup diri. Kenapa kamu mengajakku berteman ? Dan... kalau kamu tidak suka, kamu boleh bermain dengan yang lain.


Tidak lama setelah Nadin menyelesaikan kalimatnya, mobil yang menjemput Dira akhirnya datang. Suasana menjadi canggung ketika Dira hendak beranjak dari duduknya.


“A-aku pulang dulu. Kamu hati-hati,” ucap Dira.

__ADS_1


“Iya, kamu juga hati-hati,” balas Nadin melihat kepergian Dira.


__ADS_2