
Tepat pukul 14:00 siang, Dira sudah berada di kafe tempat ia akan bertemu dengan orang yang semalam berbicara dengannya. Tak berselang lama, orang yang ditunggu pun datang menghampirinya.
“Maaf ya aku terlambat,” ucap Tia sambil duduk di depan Dira.
“Tidak apa-apa, aku hanya menunggu sepuluh menit,” sahut Dira sambil mencari keberadaan satu informan yang sudah dijanjikan Tia tadi malam.
“Dias di mana ?”
“Sebelum aku masuk ke sini, aku sudah menghubunginya. Katanya, sebentar lagi akan sampai.”
Dira menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa. Seorang gadis yang baru dibicarakan pun muncul begitu saja dan bergabung bersama mereka berdua.
“Selamat siang, Dias. Namaku Dira. Maaf memintamu siang-siang datang kemari,” ujar Dira menyunggingkan senyum sambil menjabat tangan Dias.
“Selamat siang juga. Aku rasa kamu tidak perlu minta maaf karena aku datang atas kesepakatan kita. Harusnya aku yang minta maaf karena datang terlambat,” balas Dias.
“Ok. Tia pasti sudah memberitahumu mengenai rincian kesepakatan kita. Jadi, sekarang aku ingin kamu menceritakan semua yang kamu ketahui tentang Nadin,” pinta Dira.
Dias menghela nafas yang berat dan panjang sebelum bercerita, sebab saat ia akan membeberkan apa yang diketahui tentang Nadin, bayangan kehidupan teman SD-nya itu segera bermunculan seperti jamur di musim hujan.
Dira terus diam mendengar cerita Dias tanpa berkomentar apa-apa, meskipun lidah dan bibirnya sudah gatal untuk bertanya. Beberapa kali wajahnya terlihat berubah ekspresi karena hanyut dalam suasana yang dialami Nadin dalam cerita.
“Aku...”
“Kenapa ? Lanjutkan saja, jangan sampai ada ceritamu yang terlewat,” pinta Dira ketika Dias terlihat ragu.
“Aku sudah menceritakan semuanya. Aku hanya ingin meminta supaya kamu tidak memberitahu Nadin kalau aku bercerita padamu.
Dira menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Kamu tidak sedang membohongiku dengan mengarang cerita seperti ini kan ? Aku juga tidak percaya kalau Nadin dianggap anak seperti itu oleh orang-orang dan temannya,” ujar Dira memicingkan matanya.
“Aku tidak mengarang, semuanya memang pernah terjadi. Kalau saja ada teman SD ku tinggal di sini. Aku pasti bisa memintanya datang untuk membuktikan kebenaran ceritaku,” tambah Dias dengan wajah meyakinkan.
“Bagaimana kamu... tidak, bagaimana kalian bisa memperlakukan Nadin seperti itu ? Apa kalian pikir kalian itu tidak kejam ? Selain itu, apa kalian sudah memastikan apakah ucapan orang tua kalian memang benar ?”
Sekali lagi Dias menelan ludah karena bingung hendak menjawab pertanyaan yang mana.
“Aku tidak tahu dengan teman-teman yang lain apakah itu memang benar atau tidak. Saat itu, aku masih SD. Mungkin lebih tepatnya, aku memang masih kecil hingga aku tidak mencari tahu kebenarannya dari orang lain selain temanku. Waktu itu, aku menelan mentah-mentah semua perkataan ibuku.
“Bagaimana soal kalian yang tidak bersikap baik pada Nadin ?” celetuk Dira yang sejak tadi mulai emosi.
“Sekali lagi kukatakan, aku tidak tahu dengan anak-anak yang lain. Ini tentang aku yang juga bersikap tidak baik pada Nadin. Aku hanya ikut-ikutan saja supaya terhindar dari masalah yang sama dengannya,” jawab Dias.
Dira termenung mencerna ucapan Dias.
“Hah, Pasti itu pilihan terbaik untukmu,” komentar Dira mencoba mengerti posisi Dias.
“Iya.” sambut Dias dengan mantap.
“Tapi, terkadang aku menyesal dengan apa yang sudah kulakukan padanya. Seharusnya aku tidak menuruti setiap perkataan Ami untuk menjauhinya dan ikut mengejeknya,” tambah Dias yang tanpa sadar meneteskan air mata penyesalan karena mengingat apa yang sudah dialami Nadin.
“Air matamu bukan air mata buaya betina kan ?” tanya Dira tersenyum sinis.
Dias langsung menampakkan wajah tersinggung pada Dira. Sementara, Tia gugup tidak tahu harus berkata apa dan hanya diam melihat keduanya.
“Dari wajahmu, aku tahu kamu tersinggung. Tapi, ketahuilah bahwa aku hanya bertanya tanpa ada maksud menyinggungmu. Bukankah kamu sendiri juga tahu, kalau dari dulu banyak air mata palsu yang disebut dengan air mata buaya. Oleh sebab itu, aku bertanya untuk memastikan apa air matamu itu asli atau hanya dibuat-buat,” jelas Dira.
Astagfirullahal'aziim, batin Tia yang tanpa sadar menepuk jidatnya mendengar Dira.
“Apa kamu marah padaku ?” tanya Dias sambil mengerutkan alisnya.
“Iya, aku juga kesal setelah mendengar ceritamu. Aku tahu kamu bersikap seperti itu untuk menghindari masalah. Hanya saja aku tetap marah dan kesal. Mungkin karena aku temannya,” sahut Dira.
“Apa ?! Jadi, kamu benar-benar berteman dengan Nadin ?” tanya Dias terkejut.
“Tentu saja, tidak ada hubungannya denganmu kan ?”
“Aku tahu. Tapi, kamu berhati-hati lah kalau berteman dengannya,” pesan Dias.
__ADS_1
“Apa kamu sedang mencoba memfitnah Nadin supaya aku menjauh darinya juga ?”
“Tidak, aku selalu merenungkan hal ini. Lebih baik kamu mengetahuinya. Jangan buat dia terlalu banyak menyimpan kesal dan amarah padamu, sebab kalau dia sudah benar-benar marah, dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya. J-jangan sampai kamu terluka.”
“Aku tidak perlu berhati-hati dengannya jika aku bersikap baik. Dan... biar kutebak, kamu pasti pernah ikut berkelahi dengan Nadin dan akhirnya dilukai olehnya. Benar kan ?”
“Bagaimana kamu bisa tahu ?” tanya Dias dan Tia serentak.
“Sebenarnya aku hanya menebak saja. Aku menebak itu karena melihat kamu yang terus meraba pergelangan tanganmu yang tergores itu,” jawab Dira.
Waaah, selain berlidah tajam. Dia juga punya pengamatan yang bagus, pikir Tia.
“Ya, memang benar. Saat kelas enam, aku dan beberapa teman yang lain terpaksa berkelahi dengan Nadin saat berusaha melerainya berkelahi dengan Ami. Ujung-ujungnya, kami terluka juga. Luka ini seperti pengingat bahwa aku tidak boleh mengganggunya lagi,” tutur Dias.
“Yah. Meskipun Aku tidak tahu siapa yang memulai perkelahian itu, tetap saja aku merasa kalian pantas mendapatkannya. Itu sebagai balasan atas sikap kalian padanya,” timpal Dira yang entah kenapa langsung mendadak senang.
Kenapa Dia seperti sedang menusukku dengan setiap kalimat yang kuucapkan ? Apa dia tidak berpikir kalau aku akan tersinggung jika dia berkata seperti ini padaku ? Apa dia sedang menyulut emosiku supaya mengajak dia berkelahi ? pikir Dias.
“Ya sudah. Terima kasih, aku puas dengan informasimu. Sesuai kesepakatan kita, sekarang pesan apa yang kalian inginkan itu. Aku akan membayarnya dan mengirimnya ke alamat kalian masing-masing,” ucap Dira menyerahkan ponselnya supaya Dias dan Tia membeli barang yang mereka inginkan.
“Kamu serius ?” tanya Dias dan Tia karena mereka ragu kalau Dira bisa membayar tas mahal yang mereka inginkan.
“Aku serius,” jawab Nadin.
Dira melenggang pergi begitu urusannya selesai dengan Dias dan Tia. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, pikirannya tak bisa lepas dari Nadin dengan segala penyesalan yang kembali muncul.
“Aku benar-benar kagum padamu. Bagaimana bisa kamu tidak marah saat dia berkata seenaknya padamu ?” tanya Tia yang masih betah duduk di kafe bersama Dias.
“Aku sebenarnya marah, rasa maluku seperti sudah diinjak rata oleh setiap ucapannya. Tapi, apa boleh buat. Aku tidak mau berkelahi atau berdebat dengannya. Lagi pula, sekarang ini aku sedang penasaran. Kira-kira bagaimana pedas ucapannya kepada Ami yang jelas-jelas sebagai otak dari pembullyan Nadin ?”
Ketika sore merangkak menuju malam, Nadin duduk meringkuk di tempat tidurnya. Di sela-sela gerak tangan kirinya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk, tangan kanannya terlihat ragu untuk menyentuh nama Dira yang tertera di kontak ponselnya. Malam ini, ia ingin membicarakan masalah di antara mereka. Ia berniat untuk meminta maaf atas apa yang sudah dikatakannya. Namun, ponsel Dira tidak bisa dihubungi hingga ia harus mengurungkan niatnya.
Semua pikiran buruk segera menyerbu otaknya. Ia mulai menganggap Dira sudah tidak peduli padanya lagi dan hubungan pertemanannya sudah berakhir begitu saja. Hatinya sangat sedih sampai membuat dirinya menangis.
“Nadin, kenapa matamu sembab, Nak ?” tanya Damara begitu melihat Nadin duduk di meja makan.
“Nadin tadi mencoba menghubungi Dira. Tapi, ponselnya tidak aktif,” sahut Nadin terlihat sedih.
“Tidak apa-apa, Nak. Asal sudah dicoba. Nanti coba hubungi lagi,” saran Damara.
Aku tidak akan menghubungi dia lagi, Bu. Aku malu, bagaimana kalau dia menolak berbicara denganku, balas Nadin dalam hati.
“Nadin, lain kali ceritakan semua masalahmu pada ibu. Jangan dipendam sendiri. Ibu tidak mau melihatmu sedih begini. Ibu akan mendengar semua ceritamu seperti tadi. Bisa kan ?” tanya Damara.
“Iya, Bu,” jawab Nadin melanjutkan makan malamnya.
Kukkuruyuuukkkk
Kukkuruyuuukkkk
Nadin terkesiap begitu mendengar suara kokok ayamnya. Kesadarannya yang masih belum terkumpul memaksa matanya mencari letak jam dinding untuk melihat waktu.
“Aku telat !” pekik Nadin segera mencampakkan selimut yang setiap malam memeluk tubuhnya untuk berpaling pada kamar mandi.
Ia berpamitan pada ibunya tanpa sarapan terlebih dahulu. Ia bahkan tidak sanggup menunggu ibunya menyiapkan bekal karena takut terlambat.
“Aduh !” rintih Nadin ketika lututnya menabrak sudut daun pintu tempat ia menyimpan sepeda.
“Hati-hati sayang !” teriak Damara masih melihat kepergian Nadin dari gerbang rumah mereka.
Ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester. Jadi, Nadin tidak ingin terlambat di hari pertamanya itu. Ia menghembuskan nafas lega ketika dari kejauhan ia melihat gerbang masih menganga untuk menerima siswa siswi yang akan masuk ke sekolah.
Begitu sampai di depan gerbang, Nadin terpaksa menarik rem sepedanya saat sebuah pintu mobil terbuka dan menghalangi jalannya. Sepasang kaki jenjang keluar dari lubang pintu mobil sport yang ada di depannya. Seseorang yang keluar dari sana memaksanya tidak berkedip dan tidak berpaling ke arah lain. Saat ini, ia sedang melihat Aidan yang sudah berdiri di hadapannya. Dalam rasa takjub, ia terus mendongak Aidan yang menggunakan kaca mata.
“Ya Tuhan, tampan sekali ! Dia terlihat semakin pintar dengan kaca mata itu,” teriak Nadin dalam hati. Ia benar-benar terpesona dengan wajah Aidan beserta tatanan rambutnya yang diatur sedemikian rupa hingga menampakkan alisnya yang lebat dan tertata rapi.
Para siswi yang lain pun menghentikan langkahnya memasuki sekolah hanya untuk mengagumi Aidan.
“Apa yang kamu lihat ?” tanya Aidan memicingkan matanya.
__ADS_1
“A-aku melihat langit,” jawab Nadin segera menundukkan kepalanya.
Sebelah alis si pangeran sekolah spontan terangkat karena mendengar jawaban Nadin yang tidak masuk di akalnya.
“Tapi, kenapa tadi kamu malah melihatku terus ?”
“Aku sedang melihat langit lewat matamu.”
Astaga ! Apa yang sudah kukatakan ! Pekik Nadin di dalam hatinya dan langsung menutup mulutnya. Ia melihat Aidan yang juga menampakkan wajah terkejut setelah mendengar ucapannya.
Sebelum Aidan berbicara, Nadin segera berbaik arah dan masuk lewat sisi gerbang yang lain sambil terus menepuk bibirnya yang terkadang tanpa sadar mengeluarkan kalimat aneh tatkala ia terpesona.
Apa dia sedang menggodaku ? pikir Aidan sambil masuk ke dalam sekolah dengan langkahnya yang pelan.
Upacara telah selesai dilakukan, semua siswa siswi termasuk Dira meninggalkan lapangan yang mulai memanas terkena sinar matahari. Ia terus menyusuri lorong sekolah untuk mencari keberadaan Nadin.
“Aidan !” panggil Dira lalu berlari kepada Aidan yang berada di ujung lorong.
“Ada apa ?” tanya Aidan berbalik ke arahnya.
“Aku mencari Nadin. Apa tadi kamu melihatnya ?”
“Iya. Tadi aku bertemu dengannya di depan ruang UKS.”
“Baiklah. Terima kasih,” balas Dira hendak meninggalkan Aidan.
“Apa kamu akan berbaikan dengannya ?” tanya Aidan yang tiba-tiba menarik tangan kakak sepupunya itu.
Dira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum walaupun ia bingung dari mana Aidan mengetahui kalau hubungannya dengan Nadin sedang tidak baik.
“Baguslah,” tambah Aidan ikut tersenyum lega.
Mana dia ? Katanya tadi ada di depan ruang UKS, batin Dira yang tidak menemukan Nadin di depan ruang kesehatan itu.
Ia pun melanjutkan pencariannya, lalu...
Brugh
Dira terjatuh bersama Nadin yang tiba-tiba muncul dari belokan lorong kelas. Keduanya bangun dan menatap satu sama lain dengan perasaan canggung.
“Nadin,” lirih Dira dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Dira,” panggil Nadin.
Keduanya maju selangkah dan saling memeluk dengan erat. Mereka terisak bersama, entah menangisi apa yang sudah terjadi atau menangisi diri mereka yang berbaikan lagi. Yang jelas, perasaan sedih dan bahagia mereka bercampur.
“M-maafkan aku Nadin, aku seharusnya tidak mengatakan hal yang buruk padamu,” ucap Dira menyeka air matanya begitu rangkulannya terlepas dari Nadin.
Nadin menganggukkan kepalanya yang juga sedang mengelap air matanya.
“Aku mengerti, kamu melakukan itu untuk kebaikanku sendiri. Maaf kalau sikapku mengganggumu,” balas Nadin.
Setelah itu, mereka mencari tempat duduk yang agak sepi supaya mereka bisa berbicara dengan leluasa.
“Nadin, sekali lagi aku minta maaf karena sebelumnya aku sudah mencari informasi tentangmu di masa lalu,” ucap Dira menatap Nadin yang terlihat cukup terkejut mendengar pengakuannya.
“Apa saja yang kamu tahu tentang aku ?” tanya Nadin menoleh kepada Dira.
“Tentang bagaimana teman-temanmu memperlakukanmu dan bagaimana anggapan orang tentang kamu dan ibumu. Sekali lagi, maafkan aku,” sahut Dira.
“Dira, aku bukan anak p*l*c*r yang suka menggoda suami orang ? Aku punya ayah kandung. Hanya saja, aku kurang beruntung karena ayahku meninggal sebelum aku lahir hingga dia tidak punya kesempatan untuk menjelaskan kepada semua orang dan teman-temanku bahwa aku ini bukan anak haram dari seorang p*l*c*r,” jelas Nadin.
Dira tak kuasa menahan tangis ketika melihat Nadin yang terus menunduk menitikkan air matanya. Ia ikut sedih lalu merangkul Nadin dalam pelukannya.
“Iya, Nadin. Aku percaya padamu,” sahut Dira sambil menepuk punggung Nadin dengan perlahan punggung Nadin.
“Apa kamu akan tetap mau jadi temanku ?” tanya Nadin.
“Tentu saja aku mau, kalau kamu ?”
__ADS_1
“Aku mau,” balas Nadin.
Sembari menghabiskan waktunya bersama Rudi, Aidan senyum-senyum sendiri melihat Nadin dan Dira yang sudah berbaikan dan bersama lagi.