Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
5


__ADS_3

Beberapa menit telah berlalu. Tapi, Nadin tidak juga menemukan Aidan. Teriakannya yang semakin kencang saat memanggil teman barunya itu mengagagetkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Beberapa di antara mereka melayangkan tatapan heran ke arah Nadin yang terlihat seperti anak ayam kehilangan induknya.


“Nak, kamu mencari siapa ?” tanya seorang perempuan paruh baya yang akhirnya peduli dengan Nadin.


“Saya mencari teman saya,” jawab Nadin yang terus meneteskan air mata. Saat ini ia benar-benar terlihat menyedihkan.


“Bagaimana ciri-cirinya ?” tanya perempuan itu mulai merasa iba.


“Dia laki-laki, kulitnya putih, tingginya sama dengan saya, matanya sipit. Dia menggunakan celana hitam pendek dan baju kaos coklat,” papar Nadin masih ingat dengan sosok Aidan yang tiba-tiba memenuhi kepalanya.


Perempuan itu diam untuk mengingat-ngingat apa dia pernah bertemu dengan anak yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Namun, kenyataannya ia juga tidak pernah bertemu dengannya. Nadin kemudian melanjutkan pencariannya, ia berlari kecil sambil melihat ke segala arah. Dan...


Buughhh…


Nadin terpental ke tanah setelah menabrak seseorang yang ada di depannya.


“Nadin !” panggil Aidan yang juga ikut terjatuh saat menabrak Nadin, ia pun segera bangun dan membantu Nadin berdiri.


“Tadi kamu kemana saja ?! Aku mencarimu ?! Aku pikir kamu hilang, aku takut sekali ! Huuaaaa.” Tangis Nadin pecah setelah ia mengomeli Aidan yang saat ini sudah berdiri di hadapannya. Sementara, Aidan hanya diam dan terus memegang tangan Nadin yang terasa dingin dan gemetar. Ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Nadin tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


“Diamlah, kamu kan sudah bertemu denganku,” pinta Aidan mencoba menenangkan Nadin. Namun, Nadin yang ditenangkan tidak juga menghentikan tangisnya. Akhirnya, ia mengajak Nadin ke tempat yang lebih sepi supaya mereka berdua tidak menjadi pusat perhatian.


Kini, Nadin duduk berdua bersama Aidan di pinggir lapangan basket yang tidak jauh dari tempat diadakannya festival itu. Aidan merasa bingung karena tidak tahu cara menghadapi anak perempuan yang sedang menangis, ia hanya bisa membantu Nadin menghapus air matanya seraya membujuk supaya ia menghentikan tangisnya.


“Aku yang salah, seharusnya aku tidak melarangmu untuk berbicara denganku. Maafkan aku,” ujar Nadin membuka pembicaraan setelah tangisnya mereda.


“Aku juga minta maaf sudah pergi tanpa memberitahumu,” sahut Aidan terus memandang wajah Nadin yang terlihat cantik di bawah sorotan lampu jalan berwarna kuning.


Suasana menjadi hening ketika Nadin dan Aidan selesai bermaaf-maafan. Keduanya hanya duduk melihat kendaraan yang lalu lalang di jalan Raya yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


“Apa kamu ingin pulang ?” tanya Aidan menoleh ke arah Nadin.


“Tidak, nanti saja kita pulang, aku ingin pergi ke festival,” jawab Nadin mengalihkan pandangannya ke arah Aidan. Kini kedua anak Adam itu saling bertemu pandang. Mereka saling memandangi wajah masing-masing di bawah cahaya lampu temaram.


“Kenapa dia terlihat tampan ?” pikir Nadin setelah memandang lekat-lekat wajah Aidan yang sama sekali tidak terlihat seperti orang Indonesia.


“Kalau begitu ayo kita pergi,” ajak Aidan kemudian bangun dari tempat duduknya.


Tiba-tiba ia terkejut ketika Nadin tanpa permisi menggenggam tangannya.


“Tapi, kamu jangan jauh-jauh dariku. Aku akan memegang tanganmu supaya kita tidak berpisah lagi,” tegas Nadin yang hanya berjarak dua langkah dari Aidan.


“Baiklah,” sahut Aidan ikut menggenggam tangan Nadin.


Mereka berdua kemudian menuju komidi putar dan memilih salah satu kuda untuk dinaiki. Sesekali Nadin menoleh ke arah Aidan yang berada di sampingnya. Ia pun tertawa lepas ketika melihat Aidan yang mulai pusing karena wahana yang mereka naiki itu berputar.


“Oeek. Uuh.” Aidan meringis karena merasa mual dan pusing setelah menaiki komidi putar.


“Apa kamu mau muntah ?” tanya Nadin sembari mengelus punggung Aidan dengan perlahan. Ia melakukan itu karena teringat dengan ibunya yang selalu mengelus punggungnya saat dia ingin muntah juga.


“Tidak, aku hanya mual saja,” jawab Aidan lalu berdiri setelah beberapa saat ia duduk untuk menghilangkan pusingnya.


Ini sebabnya aku tidak suka komidi putar, batin Aidan.

__ADS_1


Keduanya lalu membeli air minum dan beberapa makanan. Setelah itu, Aidan mengajak Nadin untuk naik biang lala. Namun, Nadin yang takut ketinggian secara spontan menolak ajakan Aidan.


“Kamu tidak perlu takut, kamu kan naik bersamaku. Nanti kamu juga pasti suka setelah melihat pemandangan dari atas biang lala,” bujuk Aidan tanpa menyerah meskipun keinginannya berkali-kali ditolak oleh Nadin.


“Ya sudah, ayo naik,” sahut Nadin mencoba mengumpulkan keberaniannya sebelum naik wahana itu.


Nadin terus menutup matanya karena takut akan terjatuh dari biang lala yang saat ini ia naiki bersama Aidan. Ia bahkan mempererat genggamannya, Aidan yang menyaksikan tingkah Nadin hanya bisa tersenyum karena menganggap sikap Nadin itu lucu.


“Kita sudah berada di puncak, ayo buka matamu. Pemandangannya indah,” ujar Aidan menggerak-gerakkan tangannya yang tidak mau dilepas oleh Nadin.


Nadin pun perlahan membuka matanya, rasa takutnya seketika hilang saat ia melihat lampu-lampu yang menyala dari setiap rumah di sekitar lapangan itu. Lampu yang berkelap kelip dari wahana lain yang ada di bawah semakin membuat Nadin kegirangan.


“Waaah, indah sekali,” lirih Nadin dengan senyum yang lebar.


“Kamu suka ?” tanya Aidan terus menatap Nadin yang tidak henti-hentinya mengukir senyum di wajahnya.


“Iya, suka sekali,” jawab Nadin tanpa menoleh ke arah Aidan.


Sembari menikmati pemandangan, Nadin dan Aidan menyantap makanan yang sempat mereka beli sebelum naik biang lala. Setelah turun dari tempat itu, mereka berkeliling lagi untuk melihat barang-barang yang dijual oleh para pedagang yang ada di sana. Langkah Nadin terhenti ketika ia melewati sebuah arena permainan lempar kaleng susun. Pandangannya tertuju pada sebuah boneka Doraemon yang menjadi salah satu hadiah permainan itu.


Melihat Nadin yang tertarik dengan boneka, Aidan mengeluarkan uang sepuluh ribu agar ia bisa mencoba permainan itu. Aturannya, ia hanya perlu menjatuhkan semua kaleng yang tersusun dengan tiga kali lemparan bola tenis. Jika tidak ada satu pun bola yang bisa menjatuhkan semua kaleng maka ia tidak akan mendapatkan hadiah. Namun, jika ia bisa menjatuhkan semua kalengnya maka ia dapat memilih dengan bebas salah satu hadiah yang sudah disiapkan.


Nadin merasa tegang ketika Aidan hendak melempar bola. Raut kecewa tergambar di wajahnya saat melihat bola yang Aidan lempar tidak bisa menjatuhkan semua kaleng. Aidan yang menyadari ia begitu antusias dengan permainan itu akhirnya mengajaknya untuk melempar bola. Namun, hal yang sama terjadi pada Nadin. Ia juga tidak bisa menjatuhkan semua kaleng penyok itu.


“Horeeeee.” Nadin bersorak gembira ketika bola terakhir yang dilempar Aidan dapat menjatuhkan semua kaleng. Tanpa sadar ia langsung memeluk Aidan saking senangnya. Perasaan senangnya semakin bertambah ketika Aidan memberikan boneka Doraemon yang dia inginkan.


“Makasi, Aidan,” ujar Nadin tersenyum senang. Sedangkan, Aidan hanya menganggukkan kepala karena masih terkejut ketika Nadin tiba-tiba memeluknya.


Nadin dan Aidan memutuskan untuk kembali ke warung saat jam tangan Aidan hampir menunjukkan pukul sepuluh. Kini, Aidan menggantikan Nadin membawa boneka besar itu dengan cara menggendongnya di punggungnya. Ia tersenyum ketika mengingat Nadin yang hampir mematahkan pancing yang ia gunakan dalam permainan pancing botol, yaitu permainan mendirikan botol menggunakan alat pancing.


Dengan sigap, Aidan langsung mengambil pancing dari tangan Nadin sebelum benar-benar dipatahkan. Pemilik arena permainan dan orang-orang yang bermain bersama Nadin tidak bisa menahan tawa setelah melihat tingkah Nadin yang mereka anggap lucu.


“Maaf, Pak. Teman saya memang kurang sabar. Ini pancingnya,” ujar Aidan segera memberikan pancing itu kepada pemiliknya meskipun permainannya belum berakhir.


“Hahaha. Tidak apa-apa, Nak. Temanmu lucu sekali,” sahut pemilik permainan itu.


Aidan hanya tersenyum kemudian menggandeng Nadin meninggalkan tempat itu.


“Hahahaha, hahahaha.” Aidan tertawa kencang di sepanjang perjalanan menuju warung setelah mengenang semua kajadian itu. Nadin yang baru pertama kali melihat Aidan tertawa hanya memasang tampang heran.


“Kamu kenapa ?” tanya Nadin.


“Aku hanya ingat saat kamu ingin mematahkan pancing itu,” jawab Aidan di sela-sela tawanya yang membuat perutnya terasa sakit.


Nadin lama-lama menjadi malu setelah mengingat kejadian itu juga. Ia memutuskan untuk tidak memainkan permainan itu lagi.


Sepulangnya dari warung, Damara melihat Bu Jaim bersama suaminya sedang berdiri di depan pintu masuk halaman rumahnya. Hatinya mulai tidak nyaman hanya dengan melihat ekspresi istri Pak Burhan itu dari kejauhan. Semakin dekat jarak antara dirinya dengan mereka, semakin jelas pula ia melihat tatapan Bu Jaim yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. Damara mematikan mesin motornya lalu menghampiri pasutri itu. Sementara, Nadin dan Aidan diminta untuk tetap berada di atas motor.


“Ada urusan apa Pak Burhan dan Bu Jaim malam-malam begini datang kemari ? Kalau ada yang perlu dibicarakan, masuk saja dulu,” ajak Damara hendak membuka pintu halamannya.


“Heh, janda murahan. Aku mendengar kalau hari ini suamiku datang ke warungmu untuk makan, bisa-bisanya kamu menggunakan kesempatan itu untuk menggodanya,” ungkap Bu Jaim dengan tatapan mengerikan seperti tatapan pemeran hantu di film horor. Ia bahkan mengabaikan ajakan Damara.


“Ibu, kamu ini–”

__ADS_1


“Bapak diam saja ! Ini urusan antara aku dengan perempuan ini.” Potong Bu Jaim tidak memberikan suaminya kesempatan untuk menjelaskan dengan benar mengenai kejadian sebenarnya.


Damara menghela nafas panjang supaya emosinya tidak naik karena tuduhan ini.


“Dari mana Bu Jaim dengar kalau saya menggoda Pak Burhan ?” tanya Damara mencoba tetap tenang.


“Aku mendengarnya dari Bu Diah,” ketus Bu Jaim dengan tatapan penuh percaya diri.


“Dari mana Bu Diah tahu kalau saya menggoda suami ibu ? Apa Bu Diah juga diberitahu oleh orang lain ? Coba bawa semua sumber informasi ibu yang mengatakan kalau hari ini saya menggoda suami ibu,” sahut Damara dengan suara yang halus namun terkesan menantang.


Mendengar ucapan Damara, Bu Jaim terlihat gelagapan memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada Damara.


“Aku tidak perlu membawa banyak orang datang kemari, toh yang mereka katakan juga benar. Kamu kan memang janda yang suka mengganggu suami orang,” cibir Bu Jaim sambil tersenyum sinisnya.


“Saya tidak tahu apa yang dikatakan oleh mereka. Hari ini Pak Burhan memang datang ke warung saya untuk makan. Tapi, saya tidak pernah menggodanya. Kami hanya berbicara saat Pak Damar membayar tagihan makanannya. Itu saja,” jelas Damara.


“Alaaaah, alasan,” celetuk Bu Jaim yang memiliki tubuh gemuk nan melar itu.


Lagi-lagi Damara menghela nafas berat. Kali ini ia sampai memejamkan matanya untuk meredam emosinya yang sudah sampai kerongkongan.


“Pak Burhan, bukan maksud saya mengusir. Bagaimana kalau hal ini kita bicarakan besok pagi, saya akan membawakan karyawan saya yang bisa menjadi saksi kalau saya tidak menggoda bapak. Supaya istri bapak tidak salah paham kepada saya,” ucap Damara ketika mengingat Nadin dan Aidan yang mungkin saja sudah mengantuk.


“Kurang ajar, beraninya kamu mengusir kami sebelum masalah ini selesai. Kamu mau menghindar ya, dasar janda j****g tidak tahu diri !” maki Bu Diah lalu menarik rambut Damara karena merasa tidak puas masalahnya belum diselesaikan.


“Bu, kenapa Bu Jaim seperti ini ? Lepaskan !” pinta Damara yang mencoba membebaskan rambut tebalnya.


“Bu, kamu jangan seperti ini ! Lepaskan Bu Damara ! Kamu salah paham, kenapa kamu percaya dengan omongan orang yang suka bergosip !” bentak Pak Burhan berusaha melepas cengkeraman tangan istrinya dari rambut Damara.


“Ibu !” teriak Nadin ketakutan saat melihat ibunya dijambak. Ia berlari ke arah ibunya meskipun ibunya melarang. Aidan pun ikut turun mengikuti Nadin.


“Lepaskan ibuku ! Lepaskan !” teriak Nadin terus berusaha menarik tangan Bu Jaim dari rambut ibunya.


“Apa-apaan anak haram ini ikut campur urusan orang tua !” bentak Bu Jaim melayangkan genggamannya untuk menyingkirkan Nadin yang menghalanginya melakukan pembalasan.


Bugghhh…


"Aduuuh," ringis Nadin ketika tubuh mungilnya terhempas begitu keras ke tanah saat kepalan tangan Bu Jaim mengenai pelipisnya. Ia merasa pusing dan tidak bisa berdiri. Aidan yang melihat kejadian itu segera menghampiri Nadin.


Amarah yang sejak tadi ditahan Damara langsung meledak begitu melihat Nadin tersungkur. Ia masih bersabar ketika dirinya dituduh dan dihina seenaknya. Tapi, ia benar-benar tidak terima dengan hinaan dan perlakuan yang diberikan kepada anaknya.


“Beraninya kamu memukul anakku !” teriak Damara yang dibarengi gerakan tangannya yang ikut menjambak Bu Jaim.


Istri Pak Burhan yang tidak tahan dengan jambakan Damara melepaskan tangannya dan kini menarik tangan Damara dari rambutnya. Namun, usahanya sia-sia karena Damara lebih dulu menarik tangannya sendiri bersama rambut Bu Jaim yang ikut tercabut.


“Bu Damara, tolong lepaskan istri saya,” pinta Pak Burhan berusaha menarik istrinya dari jangkauan Damara.


“Diam di sana, Pak Burhan ! Kesabaran saya sudah habis menghadapi istri bapak yang tidak bisa diajak bicara baik-baik,” tandas Damara menatap Pak Burhan dengan tajam karena ia tidak bisa mengendalikan istrinya.


“Tangan mana yang tadi kamu gunakan untuk memukul anakku, hah ?!” tanya Damara memegang kedua tangan Bu Jaim dengan keras.


“Tangan kanan ya,” tebak Damara kemudian menggigit tangan kanan Bu Jaim. Seketika Bu Jaim berteriak kesakitan.


Aidan yang sejak tadi menemani Nadin akhirnya menghampiri dan menarik Damara yang belum puas menggigit Bu Jaim.

__ADS_1


“Tante, sudah. Lebih baik kita urus Nadin !” ujar Aidan terus memegang Damara dengan tenaganya yang kecil. Damara akhirnya melepaskan gigitannya begitu Aidan menyebut Nadin.


Sementara, Pak Burhan segera memegangi istrinya yang lemas karena syok dengan kebrutalan Damara.


__ADS_2