
Nadin mengambil handuk kecil yang ia taruh di keranjang sepeda kemudian mengelap keringatnya yang mengucur setelah berlari beberapa putaran bersama Aidan dan Saka. Ia tidak menduga kalau dua anak laki-laki itu akan kembali menyusul dan menyeretnya untuk berlari lagi.
Apa sudah mau malam ? batin Nadin saat melihat langit yang awalnya cerah kini berubah menjadi gelap karena awal hitam yang tebal.
Ia pun memutuskan untuk pulang setelah tahu kalau saat itu sedang mendung. Di tengah perjalanan, ia menghentikan sepedanya ketika baru menyadari kalau ia tidak memberitahu mereka berdua tentang kepulangannya.
Kami kan tidak punya hubungan apa-apa. Jadi, untuk apa aku berpamitan, batin Nadin lalu kembali mengayuh sepedanya.
Nadin mempercepat laju sepedanya saat mengejar lampu merah yang masih menghitung mundur untuk menjadi hijau. Sebenarnya, saat kelas enam SD ia pernah diserempet oleh sepeda motor saat menyeberang jalan pada waktu pulang sekolah dan kejadian itu benar-benar membuat ia jera. Oleh karena itu, ia selalu memanfaatkan lampu lalu lintas yang sedang merah untuk menyeberang. Sialnya, saat ini dia tiba-tiba bertemu dengan Ela yang sedang berjalan kaki bersama dua orang temannya. Nadin terpaksa menghentikan sepedanya karena Ela sudah menghalangi jalannya.
“Sore kentang,” sapa Ela sembari tersenyum palsu.
“Siapa yang kamu maksud kentang ? Maksudmu Nadin ?” tanya Kiran yang merupakan salah satu anggota OSIS dan teman Ela.
“Iya, sejak kecil namanya adalah kentang,” jawab Dira sambil menganggukkan kepalanya.
“Eh ? Aku baru tahu kalau kalian berdua saling kenal,” cetus Helen yang juga teman Ela sekaligus penggemar Aidan.
“Yah, aku juga baru tahu kalau dia satu sekolah dengan kita. Aku bertemu dengannya baru-baru ini,” jelas Ela.
Nadin hanya diam mendengar percakapan mereka bertiga. Ia rasanya ingin segera pergi dari sana karena tidak mau mendengar celotehan Ela yang pada akhirnya akan memojokkan dirinya.
“Saya permisi dulu,” ujar Nadin hendak pergi, sebab ia tidak mau meladeni Ela.
“Kenapa buru-buru ? Kamu belum memperkenalkan diri pada kakak kelasmu.” Ela dengan cekatan langsung menahan sepeda Nadin.
Nadin diam memikirkan apa ia harus mengikuti kemauan Ela atau tidak.
“Saya-”
“Namamu adalah kentang yang berasal dari pulau kecil, tepatnya di ujung desa terpencil itu kan ?” potong Ela dengan senyum mengejek.
Nadin terpaksa menelan kalimatnya yang terpotong, ia tersenyum pahit saat menyadari begitu bersemangatnya Ela ingin mempermalukannya.
“Yang aku katakan tadi benar kan, Na-din ?”
“Tentu saja”-Nadin tersenyum sinis-“salah,” timpal Nadin menatap mata Ela yang langsung melotot setelah mendengar jawabannya.
Ela mengepalkan tangan karena geram kepada Nadin. Sementara, Nadin langsung mengalihkan pandangannya kepada Kiran dan Helen.
“Nama saya yang sebenarnya adalah Nadin Naraya, bukan kentang seperti yang dikatakan Kak Ela. Dan… saya memang berasal dari desa terpencil di sebuah pulau kecil. itu saja yang ingin saya katakan, permisi.” jelas Nadin lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Ela menghentakkan kakinya dengan keras, matanya pun seperti akan keluar ketika memelototi Nadin yang semakin menjauh. Kedua temannya sampai tidak bisa berkata apa-apa setelah Nadin buka suara. Mereka tidak menyangka kalau adik kelasnya itu akan balik mempermalukan Ela.
“Dia bohong ! Jelas-jelas nama panggilannya adalah kentang ! Kalian tahu ?! Dia sangat berbahaya ! Dia pernah melukai adik sepupuku. Coba kalian lihat fotonya.” Ela segera mengambil ponselnya kemudian menunjukkan foto Ami.
“Astaga !” Kiran dan Helen terkejut saat melihat wajah Ami yang memiliki goresan panjang di dekat bibirnya.
“Aku benar kan ? Gara-gara si kentang itu, adikku menjadi tidak percaya diri setiap kali keluar rumah. Aku tidak bisa memaafkannya,” gerutu Ela yang masih dipenuhi amarah.
Gluduk gluduk gluduk
Suara guntur mulai terdengar ketika Nadin akan menyeberang. Lampu lalu lintas yang menghijau membuat ia harus berhenti di depan zebra cross yang jaraknya dua meter dari tempat ia berdiri. Ia menghabiskan waktu menunggunya dalam lamunan, membayangkan bagaimana ia harus menjalani kehidupan sekolahnya di saat Ela sudah memperlihatkan kebenciannya. Ia tiba-tiba merasa sedih sampai rasanya ingin menangis. Ia menggigit bibir bawahnya supaya tidak meneteskan air mata di pinggir jalan.
Giandra yang saat itu kebetulan berhenti karena lampu merah begitu terkejut saat melihat Nadin. Jantungnya yang semula adem ayem tiba-tiba berdetak kencang semenjak melihatnya. Putra pertama keluarga Naraya itu merasa begitu familiar dengan sosok Nadin, padahal ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia terkejut karena wajahnya sama persis dengan wajah Lika yang merupakan istrinya. Ia semakin menajamkan pengelihatannya untuk memastikan kemiripan anak gadis yang sedang berdiri di pinggir jalan itu dengan wajah istri tercintanya.
Mereka benar-benar mirip, batin Giandra.
Rintik-rintik air yang mulai jatuh dari langit membuat pandangan Giandra ke arah Nadin menjadi terhalang. Rasanya ia ingin keluar dari mobilnya dan memberikan payung atau jas hujan kepada Nadin yang kini diguyur hujan. Nadin yang saat itu tersadar dari lamunan langsung menyeberang jalan tanpa peduli dengan hujan yang membasahi bajunya. Giandra merasa gelisah begitu melihat Nadin lewat di depannya. Di tengah derasnya hujan, ia bisa melihat wajah Nadin yang terlihat sedih dari dalam mobilnya. Ia lalu memutuskan untuk turun dari mobil. Tapi, ia harus mengurungkan niatnya itu ketika lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
Mobil yang saat ini dikendarai ia parkir di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, Giandra langsung keluar dari mobilnya. Akal sehatnya seperti menghilang ketika mencari Nadin di tengah derasnya hujan. Ia mondar mandir di jalur yang baru saja dilalui oleh Nadin. Namun, dia tidak bisa menemukan anak gadis itu yang sudah masuk ke dalam rumahnya sebelum ia menepikan mobil.
“Hooaaaaam.” Nadin segera menutup mulutnya yang kecil saat menguap. Ia kesal karena selalu saja mengantuk setelah selesai olah raga. Beruntung ia olah raga di jam ketiga. Jadi, ia bisa tidur sebentar di waktu istirahat saat pelajaran yang membutuhkan gerak fisik itu telah usai.
Nadin duduk di sebuah bangku panjang yang ada di dekat koperasi. Ia duduk di sana untuk menunggu Dira yang sedang punya urusan mendesak dengan toilet. Kerongkongannya yang masih haus membuat ia meneminum kembali air putih yang baru saja ia beli.
“Aku benar-benar tidak bisa membedakan kebodohan dan kecerobohanmu,” ketus Aidan yang saat ini berdiri di samping Nadin.
“Uhuk uhuk. Kenapa kamu tiba-tiba datang dan berbicara seenaknya padaku ?!” omel Nadin mendelik ke arah Aidan. Ia memegang lehernya yang sakit setelah tersedak oleh air.
“Hah, Aku tidak percaya kalimat itu akan keluar dari kamu yang pernah pergi tiba-tiba,” timpal Aidan dengan suara yang terdengar seperti sedang flu.
Pergi tiba-tiba ? Apa maksudnya ? Ah, apa yang dia maksud itu saat aku pulang duluan dari taman ? pikir Nadin mencoba menebak maksud ucapan Aidan.
__ADS_1
“Apa kamu sedang menyindirku ?” tanya Nadin memicingkan matanya.
“Itu kamu sadar sendiri,” jawab Aidan.
Nadin mendengus kesal kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Tunggu sebentar, jangan coba-coba pergi dari sini,” ujar Aidan kemudian masuk ke dalam koperasi.
Nadin mengerutkan alisnya melihat kepergian Aidan. Ia bingung dengan sikapnya yang akhir-akhir ini selalu memerintah dirinya, padahal ia bukan teman ataupun pembantu yang harus menuruti setiap perkataannya. Namun, anehnya. Nadin selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh anak laki-laki itu.
“Simpan ini, bila perlu bawa setiap hari !” Aidan meletakkan sebungkus pipet dan tisu di pangkuan Nadin yang kembali duduk di bangku panjang itu.
“Ini untuk apa ?” tanya Nadin bertambah bingung dengan dua benda yang diberikan oleh Aidan.
“Pipet itu kamu gunakan untuk minum. Kamu jangan lagi langsung minum dari botol, apa kamu tidak sadar kalau air yang kamu minum itu merembes dan mengalir di lehermu ?
Nadin memegang lehernya yang sudah basah.
“Sebelum seragammu basah, gunakan tisu itu untuk mengelap air di lehermu !” perintah Aidan terlihat emosi.
Deg deg deg
Bukannya marah karena diperintah dengan cara dimarahi, Nadin malah terharu dengan apa yang dilakukan Aidan untuknya. Hatinya pun terasa hangat karena senang laki-laki ABG itu memperhatikannya. Seperti biasa, jantungnya kembali berolahraga karena saat ini ia sedang menatap wajah Aidan yang masih terlihat segar.
“Kenapa malah bengong ?! Cepat lap lehermu !” ketus Aidan.
Sambil mengerucutkan bibir, Nadin menuruti apa yang dikatakan Aidan.
“Lain kali kamu jangan seperti ini, masa kamu harus belajar lagi bagaimana caranya minum,” cetus Aidan yang kini sudah duduk di samping Nadin.
“Dari mana kamu tahu kalau aku pernah belajar minum ?” tanya Nadin yang terkejut setelah mendengar ucapan Aidan.
Aidan terperanjat karena kelepasan membicarakan salah satu kenangan yang pernah mereka lalui bersama, di mana ia juga pernah mengajari Nadin untuk minum dari gelas dan botol supaya air yang ia minum tidak merembes seperti tadi.
“Itu… melihat kecerobohan dan kebodohanmu. Mana mungkin kamu tidak pernah belajar melakukan itu,” jawab Aidan berusaha menutupi identitasnya dirinya.
Nadin tersenyum kecut setelah beberapa saat sebelumnya ia mengira Aidan yang sekarang adalah temannya di masa lalu. Anak laki-laki yang saat ini duduk di sampingnya memang selalu berhasil membuat ia dilema semenjak pertama kali mereka bertemu. Setiap hari, ia selalu menebak-nebak apakah mereka berdua orang yang sama atau bukan. Kepalanya pun rasanya ingin meledak setiap kali memikirkan hal itu.
“Akhirnya, mid kita selesai. Nadin, ayo ke rumahku. Kita karokeaaaannnnn,” ajak Dira yang lama kelamaan menunjukkan hobinya kepada Nadin.
“Eh ? Aku tidak pernah karokean,” sahut Nadin mengenakan tasnya kemudian keluar dari kelas bersama Dira.
“Tidak apa-apa. Ini akan jadi yang pertama bagimu. Setelah itu, kita akan sering-sering melakukannya,” sahut Dira terlihat gembira dan bersemangat.
Nadin segera menjauhkan dirinya dari Dira karena merasa aneh dengan ucapan temannya itu. Mereka berdua lalu menyusuri lorong kelas yang mulai terlihat sepi. Hari Sabtu ini adalah hari terakhir mereka mengikuti mid semester. Jadi, mereka pulang lebih awal. Di tengah perjalanan, tepatnya di depan ruang UKS, Nadin segera berbalik arah ketika melihat Aidan sedang berjalan ke arah mereka berdua.
“Eh tunggu sebentar, itu ada Aidan. Aku ingin memberitahunya sesuatu,” ujar Dira yang saat ini tengah diseret oleh Nadin untuk menghindar dari Aidan.
“Ka-kalau begitu, aku akan menunggumu di depan gerbang sekolah.”
“Jangan, tunggu sebentar saja.”
“A-aku mau pipis”-Nadin lansung pura-pura berekspresi seperti sedang kebelet buang air kecil-“aku akan menemui di gerbang sekolah setelah selesai dari toilet. Jangan tunggu aku,” sahut Nadin kemudian pergi dari sana. Dalam hati, ia bersyukur dengan otaknya yang sangat pintar membuat alasan di saat-saat genting.
Aidan seketika memasang wajah kesal dan cemberut ketika Nadin kabur lagi saat mereka bertemu. Ia heran dengan sikap anak gadis itu yang akhir-akhir ini selalu menghindarinya. Mereka pun tidak pernah berangkat atau pulang sekolah bersama selama beberapa minggu ini.
Gadis bodoh, apa kamu sebegitu pikunnya sampai tidak mengenali aku ! Sekarang kamu malah terus menghindariku, gerutu Aidan.
Sesampainya di rumah, Nadin dan Dira segera makan siang. Hari itu, ibu Dira membuat berbagai masakan berbahan kentang. Tak lupa, ia membuat beberapa camilan kentang untuk Nadin juga. Sampai-sampai Nadin merasa tidak enak dengan perlakuan baik yang diberikan oleh ibu temannya itu.
“Tante, saya sangat berterimakasih karena sudah diperlakukan dengan baik. Tapi, apa yang tante lakukan ini tidak berlebihan ?” ujar Nadin terlihat malu.
“Tidak perlu sungkan. Tante senang kamu berteman dengan Dira dan selalu membantunya belajar. Jadi, sudah sewajarnya tante memperlakukanmu dengan baik,” sahut ibu Dira tersenyum.
“Saya tidak melakukan banyak hal untuk Dira, dia memang pintar.”
“Iya, tidak apa-apa. Sekarang ayo makan.” Ibu Dira kembali ke dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.
Satu jam kemudian, Nadin dan Dira bermain di dalam kamar. Keduanya saling membantu menguncir rambut masing-masing. Dira begitu kagum pada Nadin yang sekarang sudah terlihat seperti tokoh Usagi Tsukino dalam film Sailor Moon kesukaannya. Ia pun segera mengabadikan momen kebersamaan mereka pada hari itu.
Dira :
Fake love
__ADS_1
Fake love
Suara sumbang Dira yang menyanyi menggunakan mikrofon langsung memenuhi telinga Nadin. Tawanya pecah ketika suara temannya itu serak saat nada tinggi. Setelah lelah, Dira meminta Nadin untuk menyanyikan lagu yang disukainya.
Nadin benar-benar sebuah kejutan, aku tidak menyangka dia bisa menyanyi dengan baik, batin Dira seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar suara merdu Nadin saat menyanyikan lagu my old story.
“Ok, sekarang kita nyanyi lagu ini, aku sangat ingin menyanyikannya karena tadi pagi aku melihat Rudi terlihat seksi.” Dira kemudian memutar sebuah lagu yang dulu pernah didengar oleh Nadin.
................
................
................
................
“Giliranmu,” ujar Dira sambil menari-nari di tengah musik.
“Ok,” sahut Nadin.
Nadin :
Kamu lah makhluk Tuhan
Yang tercipta, yang paling seksi
Cuma kamu yang bisa
Membuatku terus menjerit
Dira :
Ah ah ah
Uh uh uh
Ah ah ah
Uh uh uh
Ya Tuhan ! Apa dia benar temanku ?! teriak batin Nadin yang terkejut ketika mendengar Dira menyanyi dengan suara yang sedikit aneh.
“Tolong mukanya dikondisikan,” tegur Dira sambil tersenyum melihat mulut dan mata Nadin yang masih terbuka lebar karena terkejut.
...............
...............
...............
..............
“Nadin sebentar lagi bagianmu. Jangan diam saja. Kenapa kamu tidak menari ? Ayo nari,” ajak Dira.
“Tapi, kamu jangan mengeluarkan suara aneh lagi,” pinta Nadin.
“Iya.”
Nadin :
Kamu lah makhluk Tuhan
yang tercipta yang paling
Buuugghhh
“Seksi.”
Aidan tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Apa menurutmu aku ini seksi ?” tanya Aidan yang saat ini sedang memegangi Nadin yang hampir jatuh saat menabraknya ketika berputar.
“Iya.” Bibir Nadin spontan mengiyakan pertanyaan Aidan.
__ADS_1