Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
28


__ADS_3

Pada pagi hari yang sudah ingin beranjak siang, Nadin mengayuh sepedanya ke sebuah toko yang biasa ia kunjungi.


Ting ting ting


Dentingan lonceng pintu membuat Saka menoleh ke arah di mana Nadin memasuki toko bunganya. Senyum lebar segera menghiasi wajahnya untuk menyambut kedatangan si gadis berambut panjang yang ia kagumi itu. Pengunjung yang sejak satu jam lalu datang dan sampai sekarang masih kebingungan untuk memilih bunga terpaksa ia tinggalkan untuk menghampiri Nadin.


“Pagi, Nadin,” sapa Saka.


“Pagi, Kak,” sahut Nadin sambil membalas senyuman Saka yang tak kunjung pudar.


“Terakhir kali aku melihatmu saat pembagian raport. Bagaimana kabarmu ?”


“Baik-baik saja.”


Kenapa dia terlihat murung dan tidak bersemangat ? Biasanya, dia selalu ceria kalau sedang berada di toko bunga, batin Saka.


“Nadin, coba lihat ini,” ucap Saka lalu menuju beberapa bunga yang berada di dekat jendela.


“Waah, baby rose !” pekik Nadin dengan mata yang berbinar menatapi pohon mawar dengan bunga yang berukuran mini berwarna merah muda.


“Aku memesannya untukmu dari penjual bunga online, apa kamu suka ?”


“Suka sekali, aku akan membeli semuanya,” sahut Nadin tanpa menoleh kepada Saka karena sibuk mengagumi mawar itu sambil mencium aromanya.


Maksudku, apa kamu menyukai inisiatifku yang sudah memesan bunga ini untukmu, dumel Saka yang merasa ragu untuk memperjelas maksudnya kepada Nadin.


Ting ting ting


“Sepertinya ada yang datang lagi, sebaiknya Kak Saka menghampirinya. Aku akan mencari bunga yang lain,” ujar Nadin memecah lamunan Saka.


“Ah, iya. Kamu pilih saja dulu,” sahut Saka lalu meninggalkan Nadin.


Tidak sia-sia aku datang kemari. Aku bisa mendapat bunga baru yang sangat aku inginkan, batin Nadin sambil tersenyum lalu berkeliling lagi di toko bunga itu.


“Permisi,” sapa gadis yang sejak sejam lalu tidak juga menemukan bunga yang diinginkannya.


“Ya ?” sahut Nadin spontan berbalik ke arah gadis itu.


“Perkenalkan, nama saya Reni,” ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya.


Eh ? Kenapa begitu tiba-tiba ? batin Nadin heran.


“S-saya Nadin,” sahut Nadin lalu menjabat tangan Reni.


“Kita sepertinya seumuran,” ucap Reni memasang senyum lebar.


“I-iya, sepertinya. Tapi, ada apa ya ?” tanya Nadin yang masih bingung dengan gadis yang tiba-tiba menghampiri dan bersikap ramah padanya itu.


“Tadi saya mendengar kalau kamu yang akan membeli bunga ini, apa benar begitu ?”


“Iya, benar.”


“Ah, jadi dari awal memang kamu yang punya bunga ini ya,” ujar Reni terlihat kecewa.


“Maksudnya ?” tanya Nadin yang semakin bingung.


“Tadi saya hendak membeli bunga ini. Tapi, pedagang bunga itu mengatakan kalau bunga ini sudah ada yang punya,” jelas Reni.


Nadin tersenyum dan menoleh ke arah di mana Saka sedang melayani pembeli di toko bunganya. Ia terkesan dengan Saka yang sudah menyiapkan bunga yang diinginkannya dan tidak menjualnya kepada siapapun meski ada yang ingin membelinya.


Melihat senyum dan tatapan Nadin kepada Saka, Reni semakin merasa kecewa. Dari ekspresi kecewanya itu, ia sampai terlihat seperti sedang menelan sesuatu yang pahit.


“Apa boleh saya bertanya sesuatu ?” tanya Reni setelah lama membisu.


“Bertanya apa ?” Nadin kembali menoleh kepada lawan bicaranya.


“Apa kalian berdua pacaran ?”


“Ha ???” mulut Nadin menganga karena terkejut mendengar pertanyaan di luar perkiraannya.


“Kenapa terkejut ?”


“Tentu saja, karena saya tidak pernah mengira akan mendapat pertanyaan seperti ini. Saya dan Kak Saka tidak memiliki hubungan seperti itu. Dia hanya kakak kelas yang cukup akrab dengan saya. Itu saja,” ungkap Nadin.


“Benarkah ?” tanya Reni ingin memastikan dan Nadin mengiyakannya dengan anggukan kepala.


“Syukurlah,” lirih Reni langsung tersenyum lega.


Nadin termenung di depan gadis itu, pikirannya berkecamuk karena berusaha menahan keinginannya untuk menanyakan maksud si gadis mengatakan semua hal itu padanya.


“Ah, maaf. Pasti kamu bingung karena saya bertanya dan mengatakan hal yang membingungkan.”


Nadin hanya tersenyum dan kembali menganggukkan kepalanya mendengar Reni.


“Sebenarnya saya menyukai pedagang bunga di toko ini,” ungkap Reni.


“Maksudnya... kamu suka pada Kak Saka ?”


“Iya,” jawab Reni terlihat malu-malu.


“Benarkah ?!” tanya Nadin terkejut.


Kini giliran Reni yang menganggukkan kepala untuk mengiyakan pertanyaan Nadin.


“Itu sebabnya saya sering ke sini, saya sengaja berlama-lama supaya bisa puas melihatnya.”

__ADS_1


“Waah. Ka-”


“Nadin,” panggil Saka dari kejauhan.


Nadin menoleh dan melihat Saka sedang menunggunya.


“Maaf, saya ke sana dulu. Carilah bunga yang kamu inginkan,” ujar Nadin.


“Baiklah. Tapi, tolong jangan beritahu Saka tentang apa yang saya katakan padamu ya,” pinta Reni.


“Iya,” sahut Nadin lalu pergi meninggalkan Reni.


Tik tik tik


Jarum jam yang selalu berdetak di kamar Dira sudah menunjukkan pukul 22.00. Rupanya, sudah satu jam ia habiskan untuk berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.


Dira menengok ke arah penunjuk waktunya. Karena merasa sudah larut malam, ia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraannya.


“Oke, aku akan menunggumu di kafe ice cream tepat pukul dua siang,” ujar Dira sebelum mengakhiri pembicaraannya.


Dira menghela nafas panjang sambil kembali memandangi foto dirinya bersama Nadin. Ia begitu penasaran dengan apa yang sudah dilalui temannya itu.


Maaf Nadin, aku melakukan ini supaya aku bisa tahu apa yang sudah terjadi padamu. Dengan begitu, aku bisa memahami dirimu, batin Dira.


Tin tin tin


Brmmm brmmm brmmm


Sekarang ini, Nadin berdiri di pinggir jalan tepatnya di depan sebuah taman hiburan. Kemarin, sebelum pulang ke rumah, Saka sudah mengajaknya pergi. Jadi, sekarang ia menunggu dengan sabar sang kakak kelas yang akan bertemu dengannya di tempat itu.


Kak Saka bilang dia sudah berangkat saat tadi aku masih di rumah. Seharusnya, sekarang dia sudah sampai. Aku juga sudah menunggunya di tempat yang ia katakan. Tapi, kenapa dia tidak ada di sini ya ? Dia bahkan tidak menghubungiku, batin Nadin yang sedikit demi sedikit mulai resah karena sudah lima belas menit menunggu di sana.


Sesekali, ia merapikan roknya yang ditiup angin. Ia mendengus kesal sebab tidak berpikir panjang sebelum ia mengenakan rok selutut saat akan pergi ke taman hiburan.


“Apa aku telepon saja ya ? Tapi, aku tidak ingin mengganggunya. Mungkin saja dia sedang dalam perjalanan,” lirih Nadin sambil memandangi ponselnya.


Di sisi lain, Aidan yang sedang melewati taman bermain itu melihat Nadin yang sedang berdiri mematung di pinggir jalan.


“Pak, hampiri gadis berambut panjang yang menggunakan rok merah itu,” titah Aidan kepada sopirnya.


“Baik tuan.”


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt


“Kak Saka,” gumam Nadin segera menggeser tombol hijau begitu melihat nama Saka tertera di layar ponselnya.


📞 Saka :


“Nadin, apa kamu sudah sampai ?”


📞 Nadin :


📞 Saka :


“Maaf Nadin, aku sedang di rumah sakit.”


📞 Nadin :


“Ya Tuhan ! Kakak sakit ?”


📞 Saka :


“Tidak, Kak Bima mengalami kecelakaan. Aku sedang menemaninya sekarang. Orang tuaku sedang berada di luar kota dan mereka akan tiba di sini besok pagi. Jadi, Nadin... aku minta maaf karena tidak bisa datang dan bermain denganmu di sana.”


📞 Nadin :


“Tidak apa-apa, Kak. Tapi, apa Kak Bima baik-baik saja ?”


📞 Saka :


“Aku berharap begitu, dia mendapat banyak luka dan belum sadar sampai sekarang.”


📞 Nadin :


“Ya Tuhan, semoga Kak Bima baik-baik saja. Emmm Kak, apa perlu aku temani ?”


📞Saka :


“Terima kasih Nadin. Tapi, aku tidak ingin merepotkanmu. Sekali lagi aku minta maaf.”


📞 Nadin :


“Ya sudah, kakak yang sabar ya. Semoga Kak Bima cepat sembuh,” ucap Nadin hendak memutuskan panggilannya. Namun, tangannya terhenti ketika Aidan yang begitu saja tiba-tiba memanggilnya.


“Aidan,” ujar Nadin begitu melihat si pangeran ada di sampingnya.


“Aidan ?” lirih Saka yang mendengar Nadin menyebut nama salah satu adik kelasnya itu.


Seharusnya aku mengiyakan tawaran Nadin supaya dia menemaniku di sini, batin Saka yang hatinya tiba-tiba melahirkan rasa penyesalan karena ada Aidan yang sedang bersama Nadin.


“Apa yang kamu lakukan di sini ?” tanya Aidan.


“Aku awalnya akan bermain di sini bersama Kak Saka. Tapi, kakaknya mengalami kecelakaan. Jadi, dia tidak datang ke sini,” tutur Nadin.


Sebenarnya, seberapa dekat Nadin dengan Saka ? Mereka sampai janjian ke sini, dumel Aidan dengan wajahnya yang kusut setelah mendengar cerita Nadin.

__ADS_1


“A-.”


“Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang ?” tanya Aidan memotong ucapan Nadin.


“Aku akan langsung pulang.”


“Jangan, ayo bermain denganku. Sudah lama kita tidak bermain bersama,” ajak Aidan lalu memegang tangan Nadin.


“Tunggu,”-Nadin menarik tangan Aidan yang juga menggenggam tangannya-“kenapa kamu mengatakan sudah lama kita tidak bermain ? Apa sebelumnya kita pernah bertemu ?”


Gadis bodoh, aku tidak akan memberitahumu kalau dulu kita memang pernah bermain bersama dan bahkan tinggal bersama, gerutu Aidan di dalam hatinya.


“Kenapa kamu terlihat kesal padaku ? Aku kan hanya bertanya,” protes Nadin.


“Aku berkata begitu karena sejak pertama kali bertemu di sekolah, kita tidak pernah bermain berdua seperti ini,” jelas Aidan yang langsung menepis pikiran Nadin yang mulai menduga-duga siapa Aidan sebenarnya.


Nadin dan Aidan lalu mulai menentukan wahana permainan yang akan mereka naiki.


“Bagaimana kalau naik roller coaster dulu ?” usul Aidan.


“Roller coaster itu seperti apa ?”


“Seperti itu.”


Nadin mengikuti ke mana arah telunjuk Aidan bergerak. Ia ternganga dan langsung merinding melihat sebuah wahana permainan yang melaju dengan kecepatan tinggi dan melalui jalur yang naik turun dan berkelok.


“Itu terlihat menakutkan,” ujar Nadin yang saat itu mendengar suara teriakan dari orang-orang yang menaiki roller coaster.


“Tidak menakutkan. Malah itu menyenangkan. Jangan takut, kamu akan duduk di sampingku saat naik di sana.”


Nadin gemetar ketika akan menaiki roller coaster. Ini pertama kalinya ia menaiki wahana permainan seperti ini. Namun, Aidan tetap meyakinkannya sehingga ia membuang semua ketakutannya.


“Tunggu, rokmu bisa terbang kemana-mana kalau naik benda ini. Ikat jaketku di pinggangmu,” ujar Aidan sembari membuka jaketnya saat melihat rok selutut yang dikenakan Nadin.


“Tapi, kamu-”


“Tidak apa-apa, ayo pakai.”


Kenapa Aidan selalu datang di saat yang tepat ? Sebenarnya, apa maksudnya melakukan ini semua untukku ? Tapi, aku tidak harus berpikir macam-macam tentang dia karena mungkin dia memang orang baik, pikir Nadin.


“Terima kasih,” ucap Nadin.


“Untuk apa ?”


“Untuk semuanya. Aku senang hari ini kamu datang menghampiriku.”


Pipi Aidan seketika bersemu merah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah mendengar ucapan Nadin.


“Iya, ayo naik,” ajak Aidan yang berusaha menahan senyumnya.


Nadin berteriak sekencang-kencangnya bersama orang-orang yang naik bersamanya. Meskipun awalnya takut, ia lama-kelamaan merasa wahana yang menegangkan ini sangat menyenangkan.


“Hoeek.”


“Loh, Aidan ? Kamu mau muntah ?” tanya Nadin terkejut melihat Aidan yang sudah pucat pasi sambil menutup mulutnya yang siap mengeluarkan isi perutnya.


Nadin segera menanyakan letak toilet pria kepada petugas di sana dan langsung mengajak Aidan pergi. Ia terlihat seperti seorang laki-laki yang sedang menunggu istrinya melahirkan sebab dengan wajah khawatirnya, ia mondar mandir di depan toilet pria untuk menunggu Aidan yang sedang muntah di dalam sana.


Begitu keluar dari toilet, Nadin mengajak Aidan duduk di sebuah kursi panjang dan memberikannya minyak kayu putih.


“Apa kamu masih mual ? Apa kamu sudah sarapan ?” tanya Nadin sambil mengelap keringat dingin yang ada di kening Aidan.


“Tidak.”


Nadin langsung mengomeli Aidan yang tidak menyempatkan diri untuk sarapan. Tak sampai lima menit, ia pun terdiam dan pergi meninggalkan Aidan untuk membeli beberapa makanan.


Apa dia sedang menunjukkan perhatiannya padaku ? batin Aidan lalu tersenyum setelah dimarahi Nadin.


“Loh ! Aidan di mana ?” gumam Nadin melemparkan pandangannya ke sekeliling.


Aku tidak mungkin kehilangan orang yang bernama Aidan lagi kan ? pikir Nadin yang tiba-tiba teringat dirinya yang pernah terpisah dengan Aidan, temannya di masa lalu.


“Nadin,” panggil Aidan dari belakang.


“Aidan, kamu kemana saja ?!”


“Aku-,”


“Aku pikir kamu pergi atau menghilang setelah tadi aku memarahimu. Maaf kalau aku sudah bersikap kasar padamu,” potong Nadin meneteskan air mata.


“Nadin, jangan menangis. Aku tidak meninggalkanmu atau semacamnya. Aku hanya pergi membuang sampah,” jelas Aidan lalu mengajak Nadin duduk kembali.


Pada hari Minggu ini, Nadin dan Aidan menghabiskan waktu mereka di taman bermain sampai menjelang malam. Mereka menaiki banyak wahana yang menantang adrenalin, sampai-sampai suara Nadin terdengar serak karena berteriak sepanjang hari.


“Apa kamu senang ?” tanya Aidan ketika dirinya dan Nadin berada di dalam biang lala yang merupakan wahana terakhir yang mereka naiki.


“Senang sekali. Berada di sini membuatku mengingat kenangan masa kecilku,” jawab Nadin.


“Masa kecil ?”


“Iya, dulu aku punya satu teman laki-laki. Suatu malam, kami pergi ke sebuah festival dan menaiki biang lala. Awalnya aku takut. Tapi, dia terus membujukku sampai aku mau. Dari sana aku bisa melihat lampu yang gemerlap, indah sekali. Oleh sebab itu, aku suka naik wahana ini. Dan kamu tahu ? Dia sempat menghilang seperti kamu pada siang tadi. Saat itu aku sampai menangis mencarinya di tengah keramaian. Aku takut, aku pikir dia benar-benar menghilang,” tutur Nadin sambil matanya tetap tertuju pada lampu-lampu kota yang menyala.


“Tapi, kalian bertemu kan ?” tanya Aidan tersenyum.


“Iya, kami bertemu... aduh, maaf. Kenapa aku malah bercerita,” sahut Nadin.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku senang mendengar ceritamu,” balas Aidan yang sudah senang bukan kepalang karena Nadin masih ingat tentang dirinya.


Perkataannya pada siang tadi membuatku kembali mengira kalau dia benar-benar Aidan yang sedang pura-pura tidak mengenalku. Tapi, ternyata bukan. Jika dia memang si kecil Aidan yang dulu. Dia pasti tahu kalau aku Nadin. Aku kan sudah bercerita tentang kami di masa lalu, batin Nadin merasa sedih.


__ADS_2