
Tik tik tik
Tuk tuk tuk
Suara jarum jam pada dinding kamar Nadin beradu dengan suara jarinya yang sedang mengetuk meja belajar berwarna abu muda. Pikirannya berkecamuk untuk menentukan siapa yang salah di antara dirinya dengan Dira. Perasaannya menjadi tidak karuan semenjak pulang sekolah tadi. Pikirannya tidak bisa lepas dari perdebatannya pada siang hari itu.
“Hah.” Hembusan nafas yang berat menyertai Nadin beranjak dari tempat duduk dan akhirnya menjatuhkan diri ke ranjang setelah bosan merenung di meja belajar. Matany ta yang sejak tadi terasa berat segera meminta untuk diistirahatkan setelah kedua tangannya memeluk sebuah guling.
Perlahan tapi pasti, Nadin membuka matanya dan menyadari dirinya tertidur di kelas. Matanya pun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas yang sepi.
“Nadin.”
“Ami ?” lirih Nadin.
“Iya. Aku ke sini untuk memberitahumu kalau kelas kita akan pergi berlibur ke pantai,” tutur Ami yang sudah duduk di dekat Nadin.
“Kenapa kamu mengajakku ?” tanya Nadin heran.
“Tentu saja aku mengajakmu, bukankah kita teman ? Semua anak-anak di kelas ini juga berharap kamu bisa ikut. Kita akan bermain bersama di sana,” jelas Ami lalu menyunggingkan senyum.
“Benarkah ?” Nadin menampakkan wajah ceria mendengar ucapan Ami.
“Iya, makanya aku mengajakmu,” jawab Ami.
“Baiklah.”
.
.
.
Kini, Nadin sudah berada di pantai yang dimaksud oleh Ami. Di sana ia dapat mendengar suara deburan ombak yang terhempas di bibir pantai. Laut yang biru nan gemerlap karena terpaan sinar matahari membuatnya silau. Pemandangan itu membawa rasa nyaman dan senang untuknya yang jarang pergi berlibur. Dari kejauhan, ia melihat Ami dan gerombolan teman-teman kelasnya sedang bermain air, mereka terlihat tertawa lepas. Melihat keadaan itu, ia berlari menuju mereka untuk ikut bergabung.
“Ami,” panggil Nadin memasang senyum.
Ami menoleh dan memberikan tatapan dingin hingga membuat Nadin merasa tidak nyaman.
“Apa kamu memanggilku ?” tanya Ami menghadap Nadin.
“Iya.”
“Ada apa ?”
“Aku ingin ikut bermain denganmu bersama yang lain,” ujar Nadin.
“Hah ?! Apa aku tidak salah dengar ? Kamu mau bermain denganku dan yang lainnya ?” tanya Ami dengan wajah mencibir.
“Iya,” jawab Nadin seraya menganggukkan kepala.
“Hahahaha, teman-teman. Katanya si kentang ini ingin bermain bersama kita, apa kalian mau ?” ucap Ami kepada yang lainya.
Sontak, tawa mereka pecah mendengar ucapan Ami.
“Siapa yang akan bermain dengan kentang seperti kamu ? Mengada-ngada saja, kami jelas tidak mau bermain denganmu,” ejek Ami.
“Tapi, waktu itu kamu mengajakku ke sini untuk bermain. Kenapa ucapanmu yang sekarang tidak sama dengan waktu itu ?” protes Nadin.
“Memang benar aku dan yang lainnya mengajakmu. Tapi, siapa suruh kamu ikut. Kami tetap tidak mau bermain denganmu. Benar kan teman-teman ?” tanya Ami kepada yang lainnya.
“Iya, benar.”
“Kenapa dia mau ikut ?”
“Kita kan hanya mengajaknya dan tidak berharap dia ikut ke sini.”
“Menganggu pemandangan saja.”
“Lebih baik kamu kembali saja ke mobil, sebelum kulit kentangmu yang sudah cokelat itu berubah warna menjadi kulit kentang yang sudah busuk.”
“Hahahahahaha.”
Nadin mundur selangkah demi selangkah dari teman-temannya yang tanpa rasa bersalah terus menertawakannya. Air matanya menetes mendengar apa yang mereka ucapkan itu. Ia pun berlari menuju mobil besar yang ia kendarai bersama teman-temannya tadi. Di sana ia duduk meringkuk dan menangis sejadi-jadinya.
“Huuhuhuuu. Hiks, huuuhuuu, huuuhuuuu, hiks.” Nadin terus menangis dan akhirnya tersadar setelah merasakan sebuah tangan yang lembut menepuk pipinya dengan perlahan.
“Nadin, Nadin. Bangun, Nak.” Damara terus menepuk pipi dan pundak Nadin supaya anaknya itu segera tersadar dari mimpinya.
__ADS_1
Dalam sekejap, Nadin terkesiap dan membuka matanya yang sudah sembab. Kesadarannya segera berkumpul dan mengingatkannya bahwa kejadian yang baru saja dialaminya adalah mimpi.
Mimpi ya ? batin Nadin merasa lega. Tapi, air matanya kembali menetes, sebab ia sedih karena mimpi tadi sama persis dengan kejadian yang pernah ia alami.
“Sayang, kamu mimpi buruk ya ?” tanya Damara merangkul tubuh Nadin.
Nadin mengangguk kemudiab memeluk ibunya dengan erat.
Di dalam mimpi pun aku masih terjebak dengan perkataan dan bujukan Ami ? Aku bodoh sekali. Kenapa aku harus memimpikannya ? Aku tidak mau mengalami hal seperti itu lagi, batin Nadin dalam pelukan sang ibu.
Paginya, langit mendung adalah pemandangan yang pertama kali dilihat oleh Nadin saat keluar dari rumah. Perasaannya berubah menjadi kalut hanya dengan melihat gumpalan awan kehitaman itu. Langkahnya yang ringan perlahan menuruni tiga anak tangga di teras rumahnya. Dengan sabar ia menunggu Damara yang akan mengantarnya ke sekolah. Mulai hari ini dan beberapa hari selanjutnya, ia tidak akan membawa sepeda sebab tangannya yang bengkak sedang tidak bisa digunakan untuk mengendarai benda itu.
Di sepanjang perjalanan, Nadin hanya menatap kosong sambil terus memegangi rok selututnya agar tidak berkibar di tengah jalan. Sesampainya di lampu lalu lintas yang berwarna merah, ia mengamati jejak hujan semalam yang seakan tidak ingin menghilang begitu saja.
Hujan di tengah musim panas ya, gumam Nadin sembari melemparkan fokusnya pada genangan air dan aspal yang terlihat licin oleh guyuran hujan.
Aku benci hujan, rutuk Nadin di dalam hati karena memorinya akan kembali mengenang masa-masa sedihnya setiap kali fenomena air jatuh dari langit itu terjadi. Baginya, hujan hanya akan menyisakan genangan yang menyebalkan dan kenangan yang menakutkan.
Begitu tiba di sekolah, kaki Nadin langsung melangkah menuju perpustakaan untuk mengembalikan novel yang beberapa hari lalu ia pinjam. Bibirnya pun membingkai senyum tipis ketika mengenang kembali waktu saat Aidan mengembalikan salah satu novel pinjamannya yang sempat hilang.
“Dek,” sapa seorang pegawai perpustakaan yang melayani pengembalian buku.
“Ya ?” sahut Nadin spontan.
“Itu rambutnya apa tidak mau dipotong ?” komentar si pegawai laki-laki itu.
“Kalau saya mau memotongnya, pasti dari dulu sudah saya potong tanpa harus menunggunya sampai sepanjang ini,” jelas Nadin kemudian tersenyum tipis.
Pegawai itu seketika kehilangan kata-kata setelah mendengar jawaban Nadin.
“Jangan diambil hati, mungkin dia sedang PMS,” bisik teman seprofesinya yang sempat mendengar perbincangan mereka.
Aidaaan, kapan kita akan bertemu supaya aku bisa memenuhi janjiku untuk memperlihatkanmu bagaimana penampilanku saat berambut panjang. Sebenarnya kamu di mana ? Apa kamu masih hidup ? batin Nadin yang akhirnya mendaratkan bokongya di bawah rindangnya pohon mangga yang ada di dekat sisi tangga teratas tempat pertadingan futsal akan dimulai.
Di sisi lain, Dira yang baru saja datang di sekolah juga langsung menuju tempat di mana Nadin berada. Namun, langkahnya terhenti ketika sudah berada tidak jauh darinya. Ia berpikir dua kali untuk mendatangi temannya itu saat dirinya mengingat perdebatan mereka pada siang hari kemarin.
Sebaiknya aku ke sana atau tidak ? Kemarin kan… apa dia marah ? Sudahlah, lebih baik aku pergi saja. Dia bahkan tidak menoleh padaku, batin Dira kemudian pergi meninggalkan lapangan.
Nadin bangun dan meregangkan tubuhnya yang sudah lama diajak duduk. Ia pun memutuskan pergi ke kantin ketika perutnya meminta untuk diisi. Perasaan aneh mulai menghinggapi dirinya ketika ia berjalan sendirian, biasanya ia selalu pergi ke mana-mana bersama Dira.
Apa dia belum datang ? Kemarin dia sudah mengatakan kalau dia akan menemuiku di lapangan, pikir Nadin sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Dira.
“Nadin,” panggil Alan setengah berlari menuju Nadin yang sudah menoleh kepadanya.
“Ya ?” tanya Nadin.
“Aku hanya ingin memberitahumu kalau besok adalah hari pertandingan makannya. Tempatnya di lapangan pukul sembilan tepat,” tutur Alan.
“Iya. Saya sudah membaca pengumannya di mading,” sahut Nadin.
“Ok, jangan sampai telat ya.”
“Iya.”
Krik krik krik
Keduanya sama-sama terdiam dan suasana hening segera menyerbu mereka berdua selama beberapa waktu.
“Emmm, kalau tidak ada lagi yang harus dibicarakan, saya akan pergi,” ucap Nadin memecah keheningan di antara dirinya dengan sang ketua kelas.
“Eh ? I-iya. Maaf. Kenapa aku malah diam ya ? Ya sudah, aku pergi dulu,” ucap Alan setelah tadi ia sempat melamun menatapi Nadin.
Nadin hanya mneganggukkan kepalanya dan berbalik meninggalkan Alan yang bahkan belum berniat beranjak dari tempatnya berpijak.
“Nadin.”
Nadin kembali menoleh ketika Alan memanggil namanya untuk kedua kalinya.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri di pertandingan besok,” ucap Alan sedikit mengencangkan suaranya sebab Nadin sudah berada agak jauh dari tempatnya.
Sekali lagi Nadin menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Alan.
“Tapi, aku harap kamu menang,” tambah Alan.
Nadin tersenyum lebar mendengar ucapan Alan dan pergi meninggalkannya. Si ketua kelas yang disenyumi malah semakin betah memandangi punggung Nadin yang perlahan tapi pasti menjauh dari jangkauannya.
Hah, apa-apaan senyum manis itu ? Coba kalau kamu sedang bicara denganku, pasti kamu akan lebih sering menampakkan wajah judes dan marah-marah padaku, gerutu Aidan yang tak sengaja melihat mereka berbincang, di hatinya pun terbersit penyesalan karena sudah melihat hal itu. Ia lalu menuju lapangan dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
Tanpa sengaja, rupanya obrolan Nadin didengar oleh Helen yang kebetulan sedang bermain ria dengan temannya yang lain. Ia pun segera meninggalkan kawanannya begitu Nadin dan Alan berpisah, ia tidak sabar menemui Ela untuk memberitahunya apa yang baru saja ia dengar.
Pada waktu luang seperti ini, tidak sulit bagi Helen untuk menemukan Ela yang suka ngerumpi. Ia hanya perlu berjalan santai melalui taman yang ada air mancurnya lalu lurus menuju kantin, sebab jika ia tidak menemukan Ela di taman ia pasti akan menemukannya di kantin. Dan ternyata benar, saat ini gadis rumpi itu sedang duduk di kantin bersama Kiran.
“Ela ! Kiran !” panggil Helen. Ia mendengus kesal sambil mempercepat langkahnya ketika kedua temannya tidak mendengar panggilannya.
“Kalian sedang membicarakan apa sampai-sampai tidak mendengar aku yang memanggil ?” tanya Helen duduk di depan mereka berdua.
“Pasti kamu manggilnya dari jauh kan ?” tanya Kiran memberikan tatapan tajam kepada Helen yang punya kebiasaan memanggil orang dari tempat jauh.
“Aku memanggil kalian dari sana, masa nggak dengar sih ?” Helen menunjuk sebuah deretan kelas yang jaraknya sepuluh meter dari kantin.
Kiran mendengus kesal dan siap menerkam Helen yang memiliki kebiasaan buruk itu, sedang Ela hanya diam menyeruput jusnya.
“Sudah, sudah. Jangan bertengkar, kenapa kamu baru datang Helen ?” tanya Ela melepas gelas minumannya.
“Itu tidak penting. Yang penting itu, tadi aku mendengar kalau Nadin mengikuti pertandingan besok,” tutur Helen dengan wajah serius.
“Bukankah besok hanya ada pertandingan makan ?” tanya Ela kepada Kiran.
“Iya ben-… ah iya, aku lupa memberitahumu kalau Nadin juga ikut. Tapi, apa ada yang penting dengan hal itu ?”
Aku heran, kenapa dalam gengku ini anggotanya menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, batin Helen menopang dagunya.
“Tentu saja ada yang penting, aku bahkan punya rencana bagus untuk pertandingannya besok. Tapi, aku butuh bantuanmu Kiran,” jawab Ela setelah merenung beberapa saat.
Tanpa komando, Kiran membawa telinganya ke bibir Ela yang siap membisikkan rencana. Tentu saja, Helen ikut merapat supaya ia bisa mengetahui dan ikut membantu rencana gengnya.
Di saat Ela sedang berkumpul dengan teman dekatnya, Nadin malah duduk sendiri tanpa ditemani Dira. Ia hanya diapit oleh siswa siswi yang sudah datang untuk menonton pertandingan penentuan juara untuk permainan futsal. Sesekali, lehernya memanjang dan matanya menengok ke kiri kanan untuk mencari sosok Dira.
“Kyaaaaa, astaga lihat ! Itu Aidan.” Seorang siswi tak dikenal Nadin menunjuk ke arah Aidan yang memasuki lapangan bersama timnya.
Nadin hanya melihat sekilas kepada Aidan kemudian sibuk kembali mencari Dira. Ia pun hendak melambai ketika matanya tepat mengarah kepada mata Dira yang juga sedang melihat ke arahnya. Namun, gerakannya tertahan ketika Dira langsung mengalihkan pandangannya. Perasaan tidak nyaman langsung menyerbu hatinya.
Mungkin dia tidak melihatku, batin Nadin mencoba berpikir positif.
Sepulang sekolah, Nadin melangkah gontai menuju gerbang sekolah. Wajahnya yang muram menunjukkan bahwa hari ini ia sama sekali tidak menikmati waktunya di sekolah karena merasa ada yang aneh dengan hubungan pertemanannya.
Sesampainya di gerbang sekolah, Nadin menemukan Dira sedang duduk bersama teman sekelas mereka. Dira yang sempat menangkap bayangan Nadin dari ekor matanya pun menoleh. Keduanya terlihat canggung saat saling bertukar pandang. Dira yang sebelumnya menganggap Nadin marah akhirnya memalingkan wajah kemudian melanjutkan perbincangannya.
Kenapa Dira seperti ini ? Apa dia marah karena ucapanku kemarin ? batin Nadin.
Mendapat perlakuan seperti itu, Nadin segera menyingkirkan dirinya dan berdiri di sisi kanan gerbang untuk menunggu ibunya datang menjemput. Matanya pun mulai terasa gatal untuk melirik Dira, memastikan apakah temannya itu akan menoleh kepadanya atau tidak.
Sekali
dua kali
tiga kali
.
.
.
Tanpa sadar air mata Nadin menetes dengan sendirinya karena berapa kali pun ia menoleh, Dira tak juga menoleh kepadanya.
Nadin, kamu sudah sering mendapat perlakuan seperti ini. Kenapa kamu malah sedih dan menangis ? Ayo lah, kamu kuat menghadapi hal seperti ini. Kamu kuat, kamu kuat.
Semakin Nadin mengucapkan dua patah kata itu, semakin pula air matanya mengalir deras. Ia merasa menyedihkan mengatakan hal itu pada dirinya sendiri, kata itu hanya membuat ia mengingat bagaimana hal menyedihkan yang ia lalui di masa lalunya.
Cip cip cip
📩Ibu :
Sayang, ibu minta maaf tidak bisa menjemputmu. Motor kita sepertinya bermasalah. Jadi, ibu perlu membawanya ke bengkel dulu. Anak ibu pakai ojol dulu ya ? Tidak apa-apa kan ?
📨Me :
Tidak apa-apa, Bu. Nadin akan pakai ojol.
📩 Ibu :
Jangan lupa foto plat motor ojolnya dan kirimkan pada ibu. Untuk jaga-jaga.
Hati-hati sayang.
__ADS_1
Sebuah senyum tersungging dari bibir Nadin setelah membaca pesan ibunya.