Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
25


__ADS_3

“Uhuk uhuk.” Nadin terus terbatuk-batuk setiap kali mencium aroma pedas itu.


Nadin merasa kewalahan untuk memakan minya karena rasa pedas yang luar biasa. Selama hidupnya, ini baru pertama kali ia seperti sedang memakan cabai. Matanya berair, cairan bening pun menyusul keluar dari hidungnya.


“Ayoooo ! Terussss, cepaaatttt !” teriak para pendukung.


Nadin sempat menoleh ke samping kanannya dan melihat lawannya akan segera menghabiskan bagiannya.


Tidak boleh begini ! batin Nadin lalu menahan nafasnya dan melahap semuanya makanannya.


Akhirnya…..


“IIiiyyyaaaaaa ! SELAMAAAT ! kelas dengan perwakilan bernama Nadin Naraya, MENAAANG !” teriak Pak Yon ikut bersemangat dan gembira melihat pemenangnya.


“Yeeeeeeee.”


“Horeeeee”


“Menaaaanggg !!!” teriak teman-teman kelas Nadin.


“Hah, hah, hah, Ya Tuhan ! Bibirku !” lirih Nadin memejamkan matanya sambil menutup bibirnya yang terasa dua kali lebih besar dari aslinya. Ia meneguk seluruh air yang ada di botol tetapi panas di bibir dan tenggorokannya belum juga menghilang.


“Ayo Nadin Naraya maju ke depan,” pinta Pak Yon.


Pak Yon memanggilku kan ? Aku tidak salah dengar kan ? tanya Nadin pada dirinya sendiri sebab suara Pak Yon terdengar samar-samar di telinganya.


“Ayo sini,” panggil beliau lagi sambil memberi isyarat memanggil kepada Nadin yang masih terlihat bingung.


Nadin pun bangun dari tempat duduknya, ia benar-benar tak mengira kalau kepalanya akan pusing hingga membuat ia langsung jatuh begitu ia bangun dari kursinya.


“Astaga !” lirih siswa siswi yang melihat Nadin terjatuh. Dengan sigap, siswa yang duduk di sebelah Nadin langsung membantunya berdiri.


“Terima kasih,” ucap Nadin lalu menuju Pak Yon.


“Aduh, sampai jatuh. Apa pedas sekali sampai membuat pusing ?” tanya Pak Yon tersenyum namun merasa khawatir juga.


“Hah hah. Iya, Pak,” jawab Nadin.


“Haha, ya sudah. Sekarang kamu akan diberi minuman lagi. Ini hadiahnya, selamat,” ucap Pak Yon sambil memberikan kotak yang berisi kartu makan untuk kelasnya.


Nadin kemudian memberikan kotak hadiah itu kepada Alan dan segera pergi untuk mencari tempat yang sepi untuk mencari udara segar. Ia sudah tidak tahan dengan pedasnya, bahkan perutnya pun sudah mulai terasa panas. Sambil sedikit sempoyongan, ia dengan perlahan menyusuri tembok dan berjalan entah ke mana.


“Kamu mau ke mana ?” tanya Aidan yang tiba-tiba saja menghalangi jalan.


“Hah hah. A-aku mau ke tempat sepi, hah hah jangan ganggu aku,” jawab Nadin menunduk. Ia merasa malu kalau Aidan melihat wajahnya yang berantakan. Saat ini matanya sembab, hidungnya merah dan berair, ditambah bibirnya yang terasa membengkak membuat ia tidak sanggup menunjukkan wajahnya.


“Kalau begitu ikut aku,” ajak Aidan memegang pergelangan tangan Nadin kemudian mengajaknya dengan perlahan menaiki anak tangga untuk menuju loteng di gedung sebelah timur.


“Kita mau ke mana ?” tanya Nadin mengikuti Aidan.


“Nanti kamu juga tahu” jawab Aidan terus menaiki anak tangga bersama Nadin.


Nadin merasa nyaman ketika merasakan udara menyapu kulitnya yang berkeringat, ia pun baru menyadari kalau saat ini ia dan Aidan berada di loteng bersama Aidan. Bibirnya yang terasa bengkak pun langsung ditutupi lagi begitu ia melihat Aidan menoleh padanya.


Ya Tuhan ! Kenapa pedasnya tidak bisa hilang, perutku malah jadi panas begini, batin Nadin lalu duduk menyandar di tembok yang hanya setinggi perutnya.


“Pedas sekali ya ?” tanya Aidan sambil menyusul duduk di samping Nadin.


Nadin hanya menganggukkan kepala sambil mengipas wajahnya.


“A-aku tidak tahu akan sepedas ini,” ujar Nadin, tak terasa air matanya mengalir kembali karena panas yang dirasakan oleh mulut dan perutnya.


“Tunggu sebentar lagi, aku sudah meminta Rudi untuk membawakan minum untukmu,” sahut Aidan terus mengawasi Nadin yang terlihat seperti cacing kepanasan.


“Apa kamu ingin ke rumah sakit ? Kamu terlihat tidak baik-baik saja. Wajahmu merah,” ucap Aidan lagi.


“Tidak, hah hah. Aku… I-ini hanya karena pedas saja. Tidak apa-apa,” sahut Nadin lalu tidur di lantai. Tangan kirinya ia gunakan sebagai bantal. Sedangkan, tangan kanannya ia gunakan untuk menahan roknya yang pendek supaya tidak tersibak oleh angin.


“Bangun, jangan tidur seperti itu,” titah Aidan segera mengalihkan pandangannya sebelum matanya menangkap rupa paha mulus Nadin yang bersembunyi di balik rok pendek yang sedikit tersibak angin.


“Kepalaku pusing, aku akan berbaring sebentar saja. Jangan berani melihat ke arahku. Kalau tidak, akan kutusuk kedua matamu,” sahut Nadin lalu memejamkan matanya.


Aidan langsung mendelik mendengar ucapan Nadin yang terdengar seperti seorang psikopat. Ia pun membuka jas seragamnya dan menutup rok Nadin dengan pakaiannya itu.

__ADS_1


Nadin yang terkejut karena merasakan sesuatu menutupi kakinya langsung bangun dan melihat jas Aidan sudah menutupi roknya yang dari tadi ingin berkibar ditiup angin. Ia melemparkan pandangannya ke sekeliling loteng untuk mencari Aidan yang tadi ada di sampingnya.


Dia kemana ? batin Nadin sambil memegangi jas Aidan. Sementara, si laki-laki yang sedang dicarinya sedang menuruni tangga loteng untuk menemui Rudi yang sedang menunggu di lantai 3.


“Terima kasih. Tapi, apa kamu menemukan sesuatu yang aneh di kantin ?” tanya Aidan sembari mengambil minuman yang dibawa Rudi.


“Iya, aku mendengar dari juru masak kantin kalau mereka hanya menggunakan cabai asli untuk bumbu minya. Tapi, mereka menemukan bungkus bom cabai di bawah meja tempat mi itu disajikan,” ungkap Rudi.


“Bom cabai ? Apa itu ?” tanya Aidan yang tljarang menonton TV.


“Itu sejenis produk bubuk cabai,” jawab Rudi yang tercengang setelah mengetahui temannya tidak mengenal produk itu.


“Ayo ke kantin,” ajak Aidan.


Mereka berdua pun bergegas menuju kantin. Di sana Aidan meminta kepada pegawai kantin supaya diberikan piring yang tadi digunakan Nadin saat perlombaan. Ia lega karena piring itu belum dicuci. Ia lalu memakan mi yang digunakan dalam perlombaan, setelah itu ia mencoba sisa bumbu yang ada pada piring Nadin. Seketika wajah Aidan memerah setelah mencoba bumbu pada piring teman perempuannya itu. Ia bahkan sampai terbatuk karena pedasnya.


“Bibi, apa bumbu yang digunakan dalam mi goreng untuk perlombaan itu semuanya sama ?” tanya Aidan kepada salah satu pegawai kantin yang sejak tadi mengikuti Aidan.


“Iya. Semuanya sama, Nak. Apa ada yang salah dengan bumbunya ?” tanya pegawai kantin perempuan yang merupakan saudara dari salah satu asisten rumah tangga Aidan.


“Rasa bumbu yang ada di piring ini sangat pedas, berbeda dengan rasa yang ada di piring ini,” jelas Aidan menunjuk kedua piring yang ada di depannya.


“Astaga kenapa bisa begitu ? Bibi benar-benar memakai bumbu yang sama,” tegas pegawai itu.


“Tidak apa-apa, Bi. Kalau begitu, saya pergi dulu. Terima kasih.”


Sialan ! Siapa yang sudah menaruh bumbu sepedas itu di piring Nadin ? batin Aidan merasa geram.


“Kenapa kamu terlihat begitu marah ?” tanya Rudi yang saat ini berjalan beriringan dengan Aidan.


“Sudah jelas kalau ada yang mengerjai Nadin. Dia berani memberikan makanan pedas itu kepada Nadin,” sahut Aidan dengan sorot matanya yang tajam.


“Jadi, apa kamu ingin mencari pelakunya ?”


“Tentu saja. Aku akan melihat CCTV di kantin, dengan begitu aku akan mengetahui pelakunya,” .


“Tungu, tunggu, tunggu, aku rasa kamu tidak harus melakukan itu. Nanti aku akan memintanya pada pegawai kantin saat mereka akan tutup,” ucap Rudi yang langsung menghalangi langkah Aidan.


“Kamu tidak perlu melakukan itu untukku, Rudi.”


“Apa kamu sudah mencuri di kantin dan takut aku melihat aksimu di CCTV ?” tanya Aidan menaikkan sebelah alisnya.


Rudi langsung mendelik dan mendengus kesal kepada Aidan yang sudah menuduhnya sembarangan.


“Gila, aku tidak pernah mencuri. Aku ingin membantumu supaya kamu bisa langsung menemui Nadin ! Dia pasti sudah menunggu lama,” cerocos Rudi yang terlihat emosi sampai urat lehernya terlihat menyembul.


“Astaga ! Aku lupa. Ya sudah, nanti kamu kirim rekamannya lewat email ya,” pinta Aidan bergegas menemui Nadin.


“Dasar, bisa-bisanya anak gedongan itu menuduhku yang aneh-aneh,” gerutu Rudi yang masih melihat Aidan setengah berlari untuk menemui Nadin.


Tik tik tik


Ctaak !


Aidan tersentak begitu mendengar suara tombol enter yang ditekan sendiri olehnya. Sampai saat ini, ia heran kenapa jari lentiknya yang indah itu tidak pernah bisa memperlakukan keyboard laptop dengan lembut.


Tidak rusak lagi kan ? batin Aidan sambil mencoba menekan tombol enter lagi, dan ternyata tombolnya masih baik-baik saja, tidak seperti beberapa keyboard sebelumnya yang rusak oleh jarinya.


Sebuah email yang masuk membuat ia beralih fokus kepada layar laptop, jarinya pun berdansa di atas kursor untuk membuka isi email yang baru masuk dari Rudi. Berulang kali ia mendengus kesal melihat video yang baru saja ia terima. Matanya yang menyorot tajam seperti akan menusuk tiga orang yang ada di balik layar itu.


Ternyata kalian. Dan... dia lagi, batin Aidan setelah menemukan pelaku yang sudah mengerjai Nadin. Ia pun mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya, saat ini ia sedang memikirkan balasan apa yang sesuai dengan perbuatan orang yang sudah mengerjai Nadin.


“Baiklah, aku tahu apa yang harus dilakukan” lirih Aidan menyeringai lalu menyambar ponselnya yang tergeletak di meja.


Tut Tut Tut


📞 Aidan :


“Aku ingin data pribadi orang-orang di dalam file yang kukirim tadi. Aku mau data itu terkumpul besok pagi.”


📞 Yoga :


“Baik.”

__ADS_1


Aidan merebahkan diri ke ranjang begitu perbincangannya selesai dengan Yoga yang merupakan mata-mata kepercayaannya.


Kapan aku bisa pulang bersamamu lagi, batin Aidan sebelum ia hanyut dalam tidur malamnya.


Di pagi hari yang tidak begitu cerah, semua siswa siswi bubar dari lapangan begitu pengumuman juara kelas telah usai. Selepas pengumuman itu, ada yang menampakkan wajah gembira dan ada pula yang berwajah biasa. Tentu saja, yang berekspresi gembira adalah mereka yang mendapat juara kelas ataupun yang sudah tidak sabar untuk libur sekolah selama satu minggu. Namun, berbeda dengan Nadin yang meskipun mendapat juara kelas. Ia tetap berwajah datar, sama datarnya dengan dada Dira yang diam-diam selalu iri dengan milik Nadin.


“Nanti siang kita pergi ke Resgold yuk.”


“Ah ?! Jangan ngadi-ngadi deh, di sana kan restorannya para sultan.”


“Yaelah, kamu ternyata belum tahu. Setiap libur semester, restoran itu memberikan makan gratis untuk 100 orang pelajar yang pertama datang ke sana. Kita bisa pesan dan makan sepuasnya di sana.”


“Waah ! Kalau begitu, ayo ke sana !”


“Tunggu dulu, kita harus ganti baju dan dandan. Dimulainya juga pukul 18:00.”


“Kyaaaa. Ayo kita pulang,” teriak dua siswi itu dengan riang. Mereka berdua setengah berlari tanpa melihat ke depan hingga menabrak Nadin yang tadi tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


“Aduh, maaf,” ucap dua siswi itu dengan serentak sambil sedikit membungkukkan badan.


“Tidak apa-apa,” sahut Nadin menyunggingkan senyum. Ia lalu melangkah gontai meninggalkan lapangan untuk menuju parkiran sepeda setelah dua anak hawa itu pergi.


Apa pergi makan gratis bersama teman itu menyenangkan ? batin Nadin yang sekalipun tidak pernah melakukan itu dengan siapapun.


Siang pun berganti malam, lampu-lampu dari setiap rumah, jalan, dan gedung bertingkat di kota tempat Nadin tinggal mulai menyala. Angin malam yang terasa sejuk menyapa kulitnya dengan lembut. Angin itu pun seperti tidak tahu malu karena sudah tanpa izin menyelinap ke dalam celah terbuka di bawah lengan baju kaosnya yang pendek, hingga membuat ia merasa bagian tubuhnya yang tertutup sedang diraba.


“Adududuh !” Nadin berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang sedang mengayuh sepeda pada malam Minggu ini. Ia turun dari sepeda itu dan mendapati rantai kendaraannya putus.


“Astagaaaa, padahal rumah masih lumayan jauh,” lirih Nadin.


Sementara Nadin memeriksa sepedanya, sebuah mobil dengan lambang kuda berjingkrak berhenti tepat di belakangnya.


Tap tap tap


Suara derap langkah itu seketika membuat Nadin menoleh untuk melihat orang yang sedang mendekat padanya.


“Aidan !” lirih Nadin duduk terkulai.


“Kamu kenapa ?” Aidan langsung duduk di depan Nadin yang tadi terlihat ketakutan.


“A-ku hanya terkejut, aku pikir siapa.”


“Rantai sepedamu putus,” ujar Aidan ketika matanya tertuju pada rantai sepeda Nadin.


“Iya. Aku akan pulang.” Nadin bangun dan mendorong sepedanya.


“Ayo kita makan malam,” ajak Aidan.


Nadin menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Aidan yang mendekat padanya.


“Malam ini aku tidak punya teman makan. Jadi, ayo makan bersamaku.”


Apa aku harus menolak ? Ibu pasti tidak mengizinkanku. Tapi, aku tidak enak untuk menolak. Dia hanya meminta untuk ditemani makan. Dia juga sering membantuku, batin Nadin.


“Bagaimana ?” tanya Aidan meminta kepastian.


“Tapi kita harus pulang sebelum pukul 10. Ibuku sedang mengunjungi temannya, aku tidak mau ibuku khawatir saat tidak menemukanku di rumah saat dia pulang,” jelas Nadin setelah ia ingat ibunya sedang keluar.


Senyum lebar langsung terukir dalam bibir Aidan.


“Ayo kita pergi.”


“Tapi sepedaku.” Nadin menahan Aidan yang sudah menggenggam tangannya.


“Ada yang akan menjaganya untukmu.”


“Tapi bajuku.” Lagi-lagi Nadin menahan langkahnya.


“Bajumu sudah bagus, kamu sudah cantik. Jadi, jangan khawatirkan penampilanmu,” sahut Aidan menggandeng Nadin masuk ke dalam mobilnya.


Deg deg deg


Jantung Nadin serasa akan berlari ketika mendengar ucapan si pangeran yang sedang duduk di sampingnya ini. Ia tidak percaya kalau ia terlihat cantik di depannya, padahal ia hanya memakai baju kaos, rok selutut, dan sepatu. Namun, ia bersyukur karena sebelum berangkat ke toko tadi ia sempat memakai sedikit bedak dan lipstik. Dan ia baru ingat kalau saat ini rambutnya dikepang dua. Dengan sigap ia membuka pita yang melilit ujung rambutnya untuk melepas kepangnya.

__ADS_1


“Jangan dibuka, aku suka melihat rambutmu yang seperti itu,” ujar Aidan yang sejak tadi memperhatikan tingkah Nadin yang terus memperhatikan baju dan rambutnya.


Apa dia suka melihat gaya anak cupu ? gumam Nadin yang sudah salah tingkah di dalam mobil.


__ADS_2