
Hawa dingin yang ditinggalkan hujan semalam seketika menyelimuti Nadin yang baru menginjakkan kaki di belakang rumah tempat kandang ayamnya berada. Dengan malas ia memberikan ayam-ayamnya makan sebelum mereka berkokok dan mengganggu indra pendengarannya.
“Hoaaaammmm.” Ini sudah keempat kalinya Nadin menguap karena masih mengantuk. Tadi malam ia pulang dari warung sekitar pukul dua belas dan akhirnya bisa tertidur setengah jam setelahnya.
“Nak, sudah mandi belum ?” Tanya Damara yang lagi-lagi menemukan Nadin sedang memberi makan peliharaannya.
“Belum, Nadin masih kedinginan.” Sahut Nadin menoleh ke arah ibunya.
“Kalau begitu, nanti cuci muka dulu baru ke dapur. Kita sarapan sama-sama.” Pesan Damara lalu kembali ke dapur.
Nadin baru ingat bahwa semalam ia bersama ibunya membawa pulang seorang anak laki-laki bernama Aidan. Ia menyadari hal itu ketika menemukan Aidan sedang duduk manis di dapur. Nadin pun duduk selang satu kursi dari tempat duduk Aidan. Dan seperti biasa, Nadin mengambil vas bunga yang ada di meja makan kemudian mencium aromanya. Matanya yang bulat perlahan melirik ke arah Aidan yang terlihat berusaha keras menahan matanya yang akan terpejam karena masih mengantuk seperti dirinya saat ini.
“Hooaaaaammmm.” Lagi-lagi Nadin menguap seperti Aidan. Ia lalu meletakkan vas bunga yang saat ini ia pegang kemudian menidurkan kepalanya di meja makan. Rambutnya yang menghalangi pandangan ia selipkan ke belakang telinganya.
“Loh, kamu ternyata perempuan ?!” Ujar Aidan yang terperanjat saat melihat sebuah anting emas terpasang di telinga Nadin.
Nadin langsung mengangkat kepalanya karena terkejut dengan ucapan Aidan. Sementara, Damara juga menoleh ke arah Aidan yang ternyata baru mengetahui jenis kelamin anaknya. Namun, ia hanya diam menunggu tanggapan buah hatinya itu. Tiba-tiba ia tersenyum karena merasa perkataan Aidan sangat lucu.
“Tentu saja aku perempuan, namaku kan Nadin.” Sahut Nadin dengan tatapan tajam yang ditujukan kepada Aidan.
“Nama tidak selalu menunjukkan jenis kelamin. Aku bahkan punya teman laki-laki yang namanya Winda.” Timpal Aidan dengan wajah santai.
“Haaah ?” Nadin hanya bisa menunjukkan wajah keheranan setelah mendengar penjelasan Aidan. Ia baru tahu kalau ada anak laki-laki yang diberi nama anak perempuan.
“Jadi, sejak tadi malam kamu mengira aku anak laki-laki ?” Tanya Nadin yang kini duduk menghadap Aidan.
“Iya, karena kamu terlihat tomboi.” Jawab Aidan tanpa rasa bersalah.
“Apa ?! Ka…..” Nadin tiba-tiba diam tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tahu arti satu kata terakhir yang diucapkan oleh Aidan.
“Ibu, tomboi itu apa ?” Tanya Nadin menoleh ke arah ibunya.
“Hahahahaha. Tomboi itu artinya anak perempuan yang memiliki sifat seperti anak laki-laki, Nak.” Jawab Damara yang tidak bisa menahan tawanya.
Nadin seketika mendelik ke arah Aidan. Ia memang menyadari kalau model rambut dan cara berpakaiannya terkadang seperti anak laki-laki. Tapi, ia tidak pernah merasa kalau ia memiliki sifat seperti anak laki-laki juga.
“Aku tidak tomboi. Aku akan menunjukkan kalau aku ini benar-benar anak perempuan.” Gerutu Nadin masih menatap Aidan dengan tajam.
“Eh, Nak. Kamu mau melakukan apa ? Kenapa berbicara seperti itu ?” Tanya Damara yang terkejut. Pikiran dewasanya langsung mengambil alih setelah mendengar ucapan Nadin. Ia takut kalau anaknya itu akan melakukan hal-hal yang ada di pikirannya sekarang ini.
“Nadin mau ajak Aidan main, Bu. Supaya dia tahu kalau Nadin ini perempuan.” Jawab Nadin menoleh ke ibunya lagi.
“Ooh, ya sudah. Asal jangan bertengkar saja.” Timpal Damara merasa lega.
“Astaga, Damara. Mikir apa sih kamu. Anakmu kan masih kecil dan polos.” Batin Damara dalam hati.
Setelah selesai sarapan, Damara membawa Nadin dan Aidan ke warung. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Pak Heri yang merupakan pak RT di kampungnya. Damara menggunakan kesempatan itu untuk memberitahu Pak Heri mengenai masalah yang dialami Aidan, ia melakukan itu supaya pak RT dan orang-orang tidak salah paham saat melihat dirinya dan anaknya tiba-tiba tinggal bersama anak laki-laki yang tidak mereka ketahui asal usulnya.
“Baiklah, Bu Damara. Saya akan memberitahu warga yang lain jika ada yang menanyakan soal Aidan.” Ujar Pak Heri setelah mendengar cerita Damara.
“Terima kasih, Pak Heri. Kalau begitu saya permisi dulu.” Sahut Damara lalu menyalakan sepeda motor yang ia gunakan. Pak Heri pun pergi setelah selesai berbicara dengannya.
“Nadiiin.” Panggil Lala dari kejauhan saat melihat Nadin sedang berdiri di depan rumahnya.
Nadin yang akan naik ke kendaraan pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lala.
“Nadin ayo kita main sebentar.” Ajak Lala begitu sampai di hadapan Nadin.
Tanpa pikir panjang, Nadin mengiayakan ajakan Lala. Ia meminta ibunya untuk berangkat duluan ke warung. Sementara, Aidan memilih tinggal bersama Nadin.
__ADS_1
“Nadin, siapa anak ini ?” Bisik Lala yang sejak tadi menatap Aidan tanpa henti.
“Namanya Aidan.” Jawab Nadin. Ia pun menjelaskan apa yang terjadi pada Aidan karena Lala juga penasaran kenapa Nadin tiba-tiba bersama anak laki-laki. Padahal, setahunya Nadin tidak suka berteman dengan anak laki-laki karena mereka kebanyakan suka mengganggu dirinya.
“Hai, namaku Lala.” Ujar Lala dengan tersenyum kepada Aidan.
“Iya.” Sahut Aidan yang hanya berdiri dengan wajah datar sambil memasukkan tangannya di saku celana pendek yang saat ini ia gunakan.”
“Apa kamu tidak memperkenalkan dirimu juga ?!” Tanya Nadin mendelik ke arah Aidan. Sejak tadi pagi dia sudah dibuat kesal dengan setiap perkataan yang keluar dari bibir Aidan yang tipis dan merah itu.
“Dia kan sudah tahu namaku. Untuk apa aku memperkenalkan diri.” Sahut Aidan dengan ekspresi yang heran.
“Tetap saja kamu harus melakukannya ! Sini !” Timpal Nadin sambil menarik tangan Aidan yang berdiri agak jauh darinya.
“Ayo, kenapa kamu diam saja ?!” Bisik Nadin ketika menyadari Aidan diam saja.
Sementara, Lala hanya tersenyum kaku karena merasa canggung dengan keadaannya saat ini.
“Halo, namaku Aidan.” Ucap Aidan sambil sedikit tersenyum.
“Ha… Halo juga.” Sahut Lala tersenyum semakin lebar.
“Ayo masuk.” Ajak Lala lalu membuka pintu halamannya yang terbuat dari bambu.
Kini, Nadin bersama Lala dan Aidan duduk di kursi bambu yang ada di bawah pohon jambu air milik Lala. Bagian bunga jambu yang berbentuk seperti rambut itu berjatuhan sedikit demi sedikit dan menghinggapi kepala ketiga anak itu.
“Nadin, aku minta maaf karena akhir-akhir ini aku tidak pernah bermain denganmu.” Ujar Lala yang saat ini menampakkan wajah bersalah.
“Kenapa kamu minta maaf ? Kamu kan boleh memilih dengan siapa kamu ingin bermain.” Sahut Nadin.
“Sebenarnya, aku ingin bermain bersamamu. Tapi, Ami dan genknya terus mengajakku bermain.” Timpal Lala.
“Tidak, aku tidak mau menjadi genknya. Aku lelah di suruh-suruh oleh mereka. Tapi, aku heran kenapa Ami melarang anak-anak perempuan yang lain bermain denganmu. Kamu punya masalah apa dengannya ?” Tanya Lala lagi.
Nadin hanya diam dan memikirkan masalah apa yang sudah ia buat dengan Ami. Tapi, seingatnya dia tidak pernah membuat masalah ataupun berkelahi dengan Ami.
“Aku tidak pernah membuat masalah dengannya. Sudahlah, aku tidak mau memikirkan itu. Toh bukan sekarang saja dia seperti ini padaku.” Sahut Nadin yang sudah tahu kebiasaan Ami yang suka mendominasi dan sok berkuasa di antara anak-anak perempuan di kelasnya.
“Tapi, kalau nanti setelah masuk sekolah kamu tiba-tiba diajak bermain bersama mereka, apa kamu akan membiarkanku sendirian ?” Tanya Lala kini terlihat khawatir dengan nasibnya.
“Aku rasa setelah aku tidak mau mengikuti keinginannya, dia akan mengajakmu dan menyuruh anak-anak yang lain untuk menjauhiku.” Tutur Lala, ia terus memikirkan hal-hal yang akan menimpa dirinya setelah membuat masalah dengan Ami.
“Kamu tidak usah khawatir. Kan masih ada aku, aku akan bermain dengan siapapun yang aku mau. Aku juga tidak perlu mengikuti keinginannya. Kalau nanti dia juga tidak membiarkan teman-teman yang lain untuk bermain bersamaku ya biarkan saja, aku sudah terbiasa main sendiri.” Jelas Nadin. Lala yang mendengar ucapan Nadin seketika merasa lega.
“Terimakasih, Nadin.” Ucap Lala kini bisa tersenyum riang.
“Iya.” Sahut Nadin.”
Nadin dan Lala menghabiskan waktu satu jam untuk berbicara, mereka berdua terlihat asyik dengan obrolannya dan akhirnya lupa dengan keberadaan Aidan karena Aidan juga hanya diam dan tidak berbicara apapun.
“Lala, sekarang aku harus ke warung . Ibuku bisa khawatir kalau aku tidak ke sana.” Ucap Nadin setelah sadar kalau ia sudah lama berada di rumah Lala.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita memetika jambu dulu. Supaya kamu bisa membawanya ke warung.” Sahut Lala kemudian pergi ke belakang rumahnya untuk mengambil alat yang biasa ibunya gunakan untuk memetik jambu.
Nadin dan Lala mecoba memetik jambu dengan alat yang dibawa oleh Lala. Namun, mereka tidak berhasil menggunakannya. Akhirnya, Nadin memutuskan untuk memanjat pohon jambu itu.
“Eh, eh. Kamu mau ngapain ?!” Tanya Aidan yang terkejut melihat Nadin yang terlihat seperti akan memanjat.
“Mau naik ke pohon jambu ini, kenapa ?” Tanya Nadin dengan ekspresi yang biasa saja.
__ADS_1
“Ah ? Kamu mau manjat pohon ?!” Tanya Aidan semakin terkejut.
“Iya.” Jawab Nadin masih tetap menatap Aidan.
“Kamu kan perempuan.” Timpal Aidan yang tidak percaya dengan jawaban Nadin.
“Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Aku sudah biasa memanjat pohon.” Balas Nadin mulai memanjat.
“Hei, turun kamu ! Kamu bisa jatuh. Biar aku saja yang memanjat !” Teriak Aidan melihat Nadin benar-benar memanjat pohon jambu yang lumayan tinggi itu.
“Ibuku bisa dimarahi oleh orangtuamu kalau nanti kamu jatuh saat memanjat.” Timpal Nadin mulai memetik jambu merah itu.
Di sepanjang jalan menuju warung, Aidan masih tidak percaya saat membayangkan kembali bagaimana Nadin berjalan dengan santainya di atas pohon sambil berpegangan pada ranting-ranting pohon itu.
“Apa kamu selalu seperti ini ? Memanjat seperti tarzan ?” Tanya Aidan yang saat ini membantu Nadin membawa jambu.
“Ha ?! Kamu bilang aku Tarzan ?” Tanya Nadin melotot kepada Aidan.
“Iya.” Jawab Aidan menoleh ke arah Nadin yang tiba-tiba diam dan kini berada di belakangnya.
“Aku ini perempuan, mana bisa disamakan dengan tarzan ? Tarzan itu kan laki-laki.” Protes Nadin.
“Ah, tadi di rumah Lala kamu ingin memanjat juga kan ? Kalau kamu bisa memanjat, berarti kamu yang jadi Tarzan, kamu kan laki-laki.” Ucap Nadin lagi dengan perasaan puas bisa membalas perkataan Aidan.
“Kalau begitu kamu Tarzan perempuan.” Ujar Aidan tidak mau kalah.
“Mana bisa, aku pernah menonton film itu. Tidak ada Tarzan perempuan di sana !” Protes Nadin yang urat lehernya terlihat muncul karena kesal.
“Kalau begitu kamu pasangannya Tarzan.” Balas Aidan sambil tersenyum.
“Tidak mau. Kamu jangan berbicara lagi denganku.” Ujar Nadin dengan wajah kusut lalu mendahului Aidan berjalan menuju warung.
Aidan hanya tersenyum melihat Nadin yang kesal sambil terus berjalan cepat tanpa menoleh ke arahnya. Sesampainya mereka di warung, Nadin tidak mau berbicara dengan Aidan sampai menjelang malam. Sepanjang hari Nadin hanya diam tanpa menggubris Aidan. Damara yang juga selalu sibuk sepanjang hari tidak tahu kalau Nadin tidak mau bermain dengan Aidan. Ia hanya berpikir Nadin tidak berbicara dengan Aidan karena mereka belum terlalu akrab.
“Ibu, Nadin mau ke festival.” Ujar Nadin kepada ibunya yang sedang duduk di meja kasir.
“Tidak bisa, Nak. Ibu sedang tidak bisa menemanimu.” Sahut Damara menoleh ke arah Nadin yang saat ini berdiri di sampingnya.
“Nadin kan sudah besar, Nadin berani pergi sendiri. Tempatnya juga dekat.” Balas Nadin dengan wajah memelas.
“Nadin tidak boleh pergi sendiri. Kalau Nadin mau pergi, ajak Aidan juga.” Ujar Damara.
Nadin hanya diam saja untuk memikirkan apakah ia akan mengajak Aidan atau tidak.
“Gimana ?” Tanya Damara lagi.
“Iya deh, Nadin mau.” Jawab Nadin dengan wajah cemberut.
Damara kemudian mengampiri Aidan yang sedang duduk di sofa ruang kasir itu. Ia meminta Aidan untuk ikut bersama Nadin supaya ia tidak bosan berada di warung terus. Aidan pun setuju untuk pergi bersama Nadin. Setelah diberikan uang, Nadin dan Aidan pergi ke tempat diadakannya festivsl itu. Sebelumnya, Damara juga berpesan supaya mereka tidak berpisah dan pulang ke warung secepatnya.
Di sepanjang perjalanan, Nadin hanya diam dengan wajah yang kusut. Namun, wajahnya yang kusut tiba-tiba berubah menjadi ceria setalah sampai di tempat festival itu. Ia begitu girang melihat lampu kelap-kelip yang menghiasi tempat itu.
“Mmm, aku mau beli permen kapas.” Ujar Nadin dengan suara yang agak besar dengan harapan Aidan mengikutinya. Sesekali ia sengaja melihat ke segala arah untuk memastikan Aidan ada di dekatnya.
“Pak, saya beli permen kapasnya dua ya.” Ujar Nadin begitu sampai di depan gerobak penjual manisan itu. Ia begitu asyik melihat mesin pemutar gula itu hingga tidak sempat menoleh ke arah Aidan lagi.
“Terimakasih, Pak.” Ujar Nadin lagi ketika ia sudah membayar dan mendapatkan permen kapas itu. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika tidak menemukan Aidan ada di dekatnya. Jantungnya langsung berdegup kencang, ia terus melihat ke segala arah untuk mencari keberadaan Aidan. Ketakutan dan kekhawatirannya semakin bertambah ketika Aidan tidak muncul juga mengampiri dirinya.
“Aidaan ! Aidaaan ! Aidaaan !” Panggil Nadin dengan suara yang agak kencang. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang menoleh ke arahnya. Nafasnya mulai terasa sesak karena jantungnya berdetak terlalu kencang. Air matanya kini mulai menetes karena takut Aidan benar-benar hilang.
__ADS_1
“Aidaaan, hiks. Aidaaan, kamu di mana Aidaaaan, hiks, hiks, hiks.” Panggil Nadin di tengah keramaian itu sambil tetap memegang kedua permen kapasnya.