Ketika Kentang Jatuh Cinta

Ketika Kentang Jatuh Cinta
17


__ADS_3

“Uuugghhh, kenapa sakit sekali,” lirih Nadin sambil meremas perutnya. Sejak kemarin ia merasa tidak nyaman dengan rasa kram di area itu.


Aku kenapa sih ?! batin Nadin sambil mengaduk-aduk nasi gorengnya.


“Nadin kenapa ?” tanya Damara yang pagi itu sarapan bersama Nadin.


“Perut Nadin hanya sedikit sakit,” jawab Nadin mulai menyendok nasinya.


“Kalau sakit, jangan sekolah. Kita ke rumah sakit setelah sarapan.” Damara terlihat khawatir kemudian mengambil air hangat untuk anaknya itu.


“Tidak perlu, Bu, Na-”-Nadin terkejut melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06:30-“Nadin terlambat, Bu !” pekik Nadin cepat-cepat menghabis sarapannya.


“Loh, katanya sakit.” Damara buru-buru meletakkan air hangat di depan Nadin.


“Udah nggak sakit lagi, Nadin berangkat ya, Bu.” Nadin segera meminum airnya begitu nasi di piringnya habis dalam waktu dua menit. Ia pun mencium tangan Damara dan bergegas berangkat ke sekolah.


Aku telat, semoga aku tidak bertemu dengan Aidan, batin Nadin sembari mengayuh sepedanya.


Nadin mendengus kesal karena apa yang terjadi tidak selalu sesuai dengan harapannya. Pagi ini ia malah bertemu dengan Aidan di depan gerbang rumahnya yang biasa ia lewati. Meskipun gugup, Nadin berusaha mengacuhkannya.


Gara-gara lama mandi, aku sampai telat dan bertemu dengan dia, gerutu Nadin cemberut.


“Nadin,” panggil Aidan yang kini berada di samping Nadin.


“Aku tidak punya urusan dengamu,” ketus Nadin tanpa menoleh ke arah Aidan.


“Tapi, aku punya urusan denganmu.” Aidan mendahului Nadin dan membentangkan sepedanya untuk menghalangi Nadin.


“Kamu ini mau apa sih ?! Kamu kan sudah bilang kalau aku ini ceroboh dan pikun. Jadi, jangan ajak aku bicara walaupun kamu punya urusan denganku. Nanti kamu malah semakin kesal dan marah. Sekarang, cepat minggir !” cerocos Nadin begitu ia menghentikan sepedanya di depan Aidan.


“Risleting rokmu terbuka,” ujar Aidan tanpa mengomentari omelan Nadin.


Nadin beberapa kali mengedipkan matanya karena antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aidan. Ia langsung meraba bagian belakangnya roknya, matanya pun terbelalak ketika mengetahui ucapan si pangeran sekolah itu memang benar. Secepat kilat ia menarik risletingnya yang terbuka.


“Terima kasih. T-tolong jangan ingat kejadian pagi ini,” pinta Nadin menunduk malu.


Huuuuh. Seandainya seseorang bisa mati karena malu, pasti dari dulu aku sudah mati. Terlalu banyak hal memalukan yang terjadi padaku. Apa aku memang benar-benar ceroboh ? batin Nadin menidurkan kepalanya di meja taman depan kelasnya.


Nadin kembali mengangkat kepalanya ketika merasakan ada yang memegang rambutnya. Ia menoleh ke samping dan menemukan Saka sudah berdiri di sampingnya.


“Tadi rambutmu menyentuh paving block, makanya aku angkat,” cetus Saka seraya duduk di depan Nadin.


“Tadi saya tidak tahu, terima kasih,” sahut Nadin sambil membersihkan ujung rambutnya.


“Kamu jangan berbicara terlalu formal denganku, kita kan sudah kenal lumayan lama. Bicara santai saja.”


“Oh, iya. Baiklah. Tapi, kakak ada urusan apa dengan sa-”-Nadin menutup mulutnya-“maksudnya, kakak ada urusan apa denganku ?”


Saka tersenyum melihat tingkah Nadin.


“Tidak ada urusan apa-apa. Aku hanya ingin menghampirimu karena tadi kebetulan melihatmu,”


“Ooh. Oh ya, terima kasih sudah mengajariku PR Kimia yang kemarin.”


“Sama-sama. Kalau kamu ada PR Kimia, kamu bisa datang ke toko. Aku akan membantumu di sana.”


“Eh ? Saya, maksudnya aku tidak bisa seenaknya mengganggu Kak Saka.”


“Aku tidak merasa diganggu, justru aku senang bisa membantumu.” Saka merasa senang karena berhasil melancarkan modusnya untuk mendekati Nadin.


“Kalau begitu, lusa saya ke toko kakak untuk mengerjakan PR lagi. Boleh ?”


“Boleh,” sahut Saka sambil tersenyum.


Nadin membalas senyuman Saka lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Alisnya berkerut ketika melihat Aidan sedang duduk bersama seorang siswi di bangku taman yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


Yang sedang bersama Aidan itu putri sekolah kan ? tanya Nadin pada dirinya sendiri.


Begitu pulang sekolah, Nadin merebahkan dirinya ke ranjang. Pikirannya melayang kepada Aidan yang tadi duduk bersama putri sekolah. Perasaannya menjadi tidak enak hanya dengan memikirkan itu.


Apa mereka pacaran ? batin Nadin menerka-nerka hubungan di antara mereka berdua.


Apa perlu aku bertanya pada Dira tentang hubungan mereka ? Biasanya kan Dira selalu tahu gosip di sekolah. Ish ! Lebih baik tanyakan saja, aku tidak suka penasaran seperti ini, gumam Nadin lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat ranjangnya.


📨Me :

__ADS_1


Dira, apa kamu sudah sehat ?


📩Dira:


Iya, Nadin.


📩Dira:


Aku dengar ada kakak kelas yang selalu memanggilmu kentang, apa itu benar ?!🤔


Eh ?! Dia tahu dari mana ? Kan dia sudah dua hari tidak masuk sekolah, ck ck ck. Sebenarnya, siapa sih agen informasinya ? Nadin menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum dengan kecepatan Dira mengetahui gosip di sekolah.


📨Me :


Iya, benar. Tapi, ada yang ingin kutanyakan padamu.


📩Dira:


Apa itu ?😏


Jantung Nadin tiba-tiba berdetak kencang ketika akan menanyakan Aidan.


📨Me :


Kira-kira sabun wajah apa yang cocok untukku ?


Huaaaaa, pada akhirnya aku malu untuk bertanya, batin Nadin sambil berguling-guling tidak karuan di kasurnya.


📩Dira :


Apa ini ?! 😱 Aku tidak salah baca kan ? Astaga ! Nadin, kamu sudah besar. Ok, besok aku juga akan masuk sekolah. Setelah pulang sekolah aku akan menemanimu. Aku tidak sabar menunggu besok.😁


📨Me :


Terima kasih.😊


“Kenapa dia jadi bersemangat,” lirih Nadin tersenyum.


Keesokan harinya Nadin berangkat sekolah seperti biasanya sehingga ia tidak bertemu dengan Aidan. Namun, ia merasa aneh ketika di sekolah Aidan tidak menggubrisnya walaupun mereka sedang berpapasan. Biasanya, anak laki-laki itu pasti akan melihat ke arahnya sambil memberikan ejekan padanya.


Aku sendiri yang memintanya untuk tidak bicara denganku. Tapi, kenapa aku malah sedih saat dia mengabaikanku ? Aku harusnya tenang dan senang, kenapa malah jadi begini ? batin Nadin sembari berjalan di koridor bagian produk kecantikan.


“Ah ? I-iya. Terimakasih.” Nadin mengambil sabun wajah itu dari Dira dan membacanya dengan teliti.


Setelah dua jam berkeliling, Nadin akhirnya selesai berbelanja. Ia tidak menyangka kalau ia akan membeli begitu banyak barang. Sabun wajah, lulur mandi, pembersih wajah, bedak, lipgloss, lotion, krim wajah, masker wajah, maskara, sampai eyeliner masuk ke dalam keranjang belanjaannya.


“Aku tidak membutuhkan ini,” ujar Nadin mengambil maskara dan eyeliner di keranjangnya.


“Itu hadiah untukmu, suatu waktu kamu pasti membutuhkannya. Jangan ditolak, kamu ini tidak pernah mau menerima pemberianku,” sahut Dira sambil merangkul Nadin menuju kasir.


“Terima kasih sudah menemaniku ke sini, terima kasih juga untuk hadiahmu” ujar Nadin meletakkan belanjaannya di keranjang sepeda.


“Iya. Lain kali, ajak aku lagi kalau kamu butuh make up,” sahut Dira.


“Tapi, apa yang terjadi ? Aku masih tidak percaya kamu akan membeli kosmetik sebanyak itu.” Dira memicingkan matanya sambil tersenyum kepada Nadin.


“Ah, itu… Aku hanya ingin mencoba saja,” sahut Nadin sambil menganggukkan kepalanya.


Dira memberikan tatapan curiga ketika melihat Nadin gugup ditanyai seperti itu.


“Apa kamu sedang menyukai seseorang ?”


“Eh ! Tidak, aku- uuugghh.” Nadin tiba-tiba meremas perutnya yang kembali nyeri.


“Kamu kenapa ?”


“Perutku sakit. Kamu pulang lah, hati-hati.”


Setelah Dira berlalu dengan mobilnya, Nadin mulai mengayuh sepedanya untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, ia kembali memikirkan pertanyaan Dira tentang dirinya yang tiba-tiba membeli kosmetik.


Aku tidak mau terlihat dekil dan burik di depan Aidan. Putri sekolah yang kemarin bersama Aidan terlihat cantik dan bersih. Berbeda denganku yang seperti ini, batin Nadin setelah menemukan alasannya membeli barang-barang itu.


Hari selanjutnya, Nadin bersama teman sekelasnya berbondong-bondong menuju perpustakaan di saat pelajaran bahasa Indonesia. Hari ini mereka ditugaskan untuk mencari beberapa contoh jenis iklan yang bisa mereka temukan di surat kabar.


“OMG, Nadin ! Di pojok sana ada Rudi !” pekik Dira. Ia meremas tangan Nadin karena senang melihat gebetannya sedang ada di perpustakaan juga.

__ADS_1


“Iya, benar.” Nadin tersenyum melihat Dira begitu kegirangan.


“Di sana ada tiga kursi kosong di dekatnya. Nanti, aku akan duduk di sebelah kanan. Kamu bisa duduk di sebelah kirinya,” jelas Dira mulai menyusun tak tik modus pendekatannya yang sedang dalam mode on.


“Eeeh ?! Kamu mau langsung duduk di sampingnya ? Nanti kakimu bisa lemah lunglai.” Nadin mengerutkan alisnya karena terkejut dengan keberanian temannya itu.


“Tidak, aku akan menahannya. Kapan lagi aku bisa duduk bersebelahan dengannya. Ini kesempatan bagus untukku. Ayo !” Dira merangkul tangan Nadin dan mendekat ke arah Rudi yang sedang duduk sendirian.


Nadin memilih duduk dengan jarak satu kursi dari Rudi. Ia tidak mau orang yang disukai Dira itu merasa tidak nyaman karena duduk di antara mereka berdua. Namun, ujung-ujungnya Nadin yang merasa tidak nyaman karena ternyata Aidan lah yang punya tempat duduk di samping Rudi. Ia sempat bersyukur tidak duduk tepat di samping teman Aidan itu karena ia tidak mau dianggap sebagai perebut kursi.


Sebelumnya, Nadin sudah mencari contoh jenis-jenis iklan yang ada di surat kabar. Jadi, sekarang dia hanya diam sembari terus merasakan detak jantungnya yang seperti sedang berdisko saat duduk bersebelahan dengan Aidan.


Lama-kelamaan wajah Nadin nampak muram karena Aidan mengacuhkannya, padahal tadi mereka sempat bertemu pandang tetapi Aidan tidak mengeluarkan satu patah kata pun padanya.


Dia tidak mengatakan apa pun padaku. Apa dia tidak mau minta maaf atas ucapan kasarnya waktu itu ? Tapi, aku sebenarnya tidak mengharapkan dia untuk minta maaf. Sekarang ini, aku hanya ingin dia menyapaku. Aku ingin bicara dengannya, walaupun hanya sedikit. Aku tidak nyaman dengan perasaanku kalau dia mengacuhkanku seperti ini, dumel Nadin di dalam hatinya.


Kreeeeek


Bunyi kursi yang ditimbulkan oleh Nadin saat mendorong kursinya ke belakang membuat beberapa siswa dan siswi yang ada di sana menoleh ke arahnya. Tapi, bunyi mengganggu itu tidak berlaku pada Aidan yang masih terus fokus pada tugasnya. Dengan wajah cemberut, Nadin pergi menuju rak buku untuk mencari bahan bacaan. Begitu dapat, ia kembali ke tempat duduknya dan membaca buku yang berjudul ‘10 Orang Paling Berpengaruh di Indonesia’.


Kenapa aku harus capek-capek mikirian dia ?! Dia memang orang menyebalkan bermulut pedas yang tidak punya rasa bersalah. Kalau dia tidak mau minta maaf ya sudah ! Aku tidak mengharap itu darinya, gerutu Nadin sambil membuka lembaran pertama dengan sedikit kasar.


Baru tujuh menit membaca, rasa kantuk yang tidak tertahankan mulai menyerang Nadin. Ia kesal karena setiap membaca buku ia selalu mengantuk. Ia sampai berpikir kalau buku sama seperti lagu nina bobo yang sangat ampuh untuk membuatnya cepat mengantuk dan tidur. Akhirnya ia menidurkan kepalanya ke meja dan menutup wajahnya dengan buku yang tadi ia ambil.


“Maaf Bu guru, tadi saya tidak sengaja tertidur.” Nadin terkesiap dan segera bangun ketika merasakan tangannya tergeser.


“Nadin, tadi kamu tidur ya?” tanya Dira yang saat ini sedang melongo melihatnya bersama Aidan dan Rudi.


“Jangan pedulikan aku, lanjutkan saja pekerjaan kalian,” sahut Nadin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Dira bersama dua anak laki-laki yang sedang duduk bersamanya segera menutup mulut untuk menahan tawanya yang siap meledak. Sedangkan, Nadin tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa menutup wajahnya yang memerah karena malu. Ia berniat ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tapi, ia mengurungkan niatnya karena waktu pelajaran bahasa Indonesia akan berakhir.


“Nadin,” sapa Saka yang baru saja masuk ke perpustakaan untuk mencari buku.


Seketika mata Aidan melirik tajam ke arah Saka yang ia herankan selalu muncul untuk menyapa Nadin.


“Eh, Kak Saka,” sahut Nadin menoleh ke arah Saka.


“Aku ingin mencari buku dan melihatmu di sini. Sekalian saja aku memberitahumu kalau besok kita mengerjakan PR di kafe dekat tokoku saja. Besok ada kakakku yang menjaga toko. Jadi, kita bisa santai mengerjakannya,” ujar Saka yang tidak menyadari dirinya sedang disorot oleh Aidan.


Mengerjakan PR di kafe ?! batin Aidan terkejut.


“Oh, ka-”


Nadin menoleh ke arah Aidan yang tiba-tiba membuang muka darinya.


Apa dia sengaja menyenggol kakiku ? batin Nadin.


“Kalau begitu, besok aku ke sana. Terima kasih,” sahut Nadin melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong.


Apa ?! Gadis ceroboh ini bahkan bicara santai dan mengiyakan kakak kelas ini ? gerutu Aidan lalu menginjak kaki Nadin.


“Aduh,” lirih Nadin ketika merasakan kakinya terinjak, ia lagi-lagi menoleh kepada Aidan yang bersikap seperti tidak pernah melakukan apa-apa.


“Kenapa ?” tanya Saka ketika menyadari ada keanehan di antara mereka berdua.


“Tidak apa-apa, kak. Kita ketemunya setelah pulang sekolah kan ?” Nadin pura-pura tersenyum untuk menyembunyikan kejengkelannya pada makhluk bermulut pedas itu.


“Iya. Kalau begitu aku pergi dulu.”


Teeettt teeeettt teeeetttt


Bel pulang berbunyi tepat setelah Saka meninggalkan Nadin. Tidak mau melewatan waktu balas dendam, Nadin langsung menginjak kaki Aidan dengan keras.


“Aduuh !” pekik Aidan lalu memicingkan matanya kepada Nadin karena ia tahu kalau kakinya diinjak oleh gadis maniak kentang itu.


“Aku sengaja melakukannya. Jadi, aku tidak akan minta maaf,” ketus Nadin kemudian melenggang pergi bersama Dira.


“Kamu mengganggu dia ?” tanya Rudi menutup bukunya.


“Mungkin,” jawab Aidan beranjak dari kursinya.


“Aku pikir Nadin menyukaimu. Aku terkadang tanpa sengaja menangkap basah dia sedang melihatmu dalam waktu yang lama,” ungkap Rudi.


“Eh ? Apa iya ? Kalau begitu, apa kamu tahu kalau ada seseorang yang sedang mendekatimu juga ?” tanya Aidan yang sudah lama menyadari Dira menyukai Rudi.

__ADS_1


“Masa ? Kok aku nggak tahu ya,” sahut Rudi terkejut.


Dua remaja laki-laki yang sama-sama tidak peka dengan kelakuan dua orang gadis yang sedang menyukainya itu akhirnya keluar dari perpustakaan.


__ADS_2