
“Nadin,” panggil Dira dengan berbisik.
“Ya ?” sahut Nadin menoleh
“Jawab dengan jujur, aku sudah banyak mendengar gosip ini.”
“Gosip apa ?”
“Apa benar kamu pacaran dengan Aidan ?”
“Eeh !!!!”
Dira tersentak melihat respon Nadin yang terkejut.
“A-aku tidak pacaran dengannya. Bagaimana bisa ada gosip seperti itu ?”
Dira menghela nafas kecewa karena gosip yang didapatnya tidak benar-benar terjadi.
“Mereka menganggap kalian pacaran karena ada anak dari sekolah kita yang melihatmu pergi ke Resgold saat makan malam gratis itu. Ada juga yang melihatmu pergi ke taman bermain bersamanya. Apa kamu benar-benar pergi bersama adikku yang menyebalkan itu ?” tanya Dira berusaha mengorek kebenaran.
“I-itu benar,” jawab Nadin.
“Waaw !”-Dira menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya tampak tidak percaya-“ Bagaimana kalian bisa pergi bersama ? Aku tidak melihat kalian begitu dekat. Sebaliknya, aku sering melihat kalian bertengkar kalau bertemu. Apa pertengkaran kalian itu menunjukkan betapa akrabnya kalian ?” celoteh Dira.
“Ah... itu... aku tidak tahu kami dekat atau tidak. Semuanya terjadi begitu saja. Hanya kebetulan saja,” sambut Nadin merasa malu.
“Tapi, kenapa kamu terlihat sangat terkejut saat mengetahui aku pergi bersamanya ?”
“Tentu saja aku terkejut, malah aku merasa tidak percaya. Gini ya, aku sering mengajak Aidan keluar. Entah itu bermain atau apa, dia sering kali menolakku. Aku bahkan bisa menghitung dengan jari berapa kali dia mau keluar bersamaku,” gerutu Dira dengan urat lehernya yang terlihat menyembul saat menggibahi Aidan.
“A-aku tidak tahu kalau dia seperti itu. Aku malah berpikir sebaliknya karena kalian terlihat begitu dekat. Tapi, kamu yang sabar ya, sabar,” sahut Nadin sambil menepuk dengan perlahan pundak Dira.
“Cek cok....”
Semua siswa dan siswi kelas sepuluh yang berkumpul di dalam aula mengalihkan perhatiannya pada Pak Yon yang tiba-tiba mengucapkan dua kata yang terdengar aneh tetapi lucu di telinga mereka.
“Assalamu'alaikum, selamat pagi menuju siang anak-anak,” ucap Pak Yon di sela-sela perbincangan dan tawa para murid yang ditujukan padanya.
“Wa'alaikumussalam, selamat siang,” sambut para murid serentak.
Setelah menyampaikan maksudnya mengumpulkan semua murid kelas sepuluh, Pak Yon selaku wakasek kesiswaan membacakan nama murid yang masuk ke dalam jurusan IPA, IPS, dan bahasa Indonesia.
Suasana dan raut wajah tegang terpancar pada wajah para siswa dan siswi yang menunggu namanya disebut.
“Yang namanya bapak sebutkan sekarang masuk ke kelas X IPA 1. Pertama, Aidan Rederick, Alya Wirasih......,”
Gedung Aula terdengar sedikit riuh ketika nama Aidan disebutkan masuk ke dalam kelas IPA. Para siswi yang sekelas dengan Aidan pun lebih girang karena mereka satu kelas dengan pangeran sekolah yang mereka kagumi.
“Nadin Nadin, kita tidak masuk ke kelas IPA. Sekarang giliran pembagian untuk kelas IPS,” ucap Dira setelah beberapa kali menepuk pundak Nadin.
“Oh ya ? Syukurlah kita tidak masuk ke kelas IPA. Aku tidak suka kimia. Kalau begitu, ayo kita dengar sama-sama,” sahut Nadin merasa sedikit kecewa.
Aku tidak mungkin satu kelas dengannya, batin Nadin menunduk.
5 menit kemudian
“Hooaaam.” Dira mulai mengantuk karena namanya tidak juga disebut. Tidak berselang lama, Nadin ikut menguap karena tertular oleh uapan Dira.
“Berikutnya, yang masuk ke kelas X IPS 4 adalah ........, ......., ........, Dira Wibowo,....., ........., ......., Nadin Naraya, ......., .......”
Setelah beberapa menit yang lalu dihabiskan untuk khawatir. Kini, Nadin dan Dira saling berpelukan karena senang bisa berada di kelas yang sama.
Drrrtttt Drrttt Drrrtttt
Nadin meraih ponselnya yang berkedip-kedip sambil bergetar ketika ia sudah keluar dari kamar mandinya.
📩 Dira :
Besok dan seterusnya aku akan duduk denganmu. Jadi, jangan duduk dengan siapapun.
Nadin mengernyitkan alisnya membaca pesan dari Dira yang masuk pada pukul dua tengah malam. Ia tidak habis pikir kalau kebiasaanya mengirim pesan pada waktu yang tidak tepat belum juga hilang.
📨 Nadin :
Iya, iya. Tapi, aku pikir kamu akan duduk dengan yang lain.
📩 Dira :
Tidak mungkin.
📨 Nadin :
Ya sudah. Sekarang lebih baik kamu tidur. Ini masih tengah malam.
__ADS_1
📩 Dira :
Tidaaaaakkkk !!!!! Nadin ! Nadiiiiinnnn. Aku masih belum selesai bicara. Aku mau curhat ! Aku tidak bisa tidurrrr !🙀
Nadin menelantarkan ponselnya di ujung ranjang tanpa memeriksa pesan yang masuk lagi. Ia ingin cepat-cepat pergi ke alam bawah sadar karena masih sangat mengantuk. Dalam kesadarannya yang tersisa, ia sedikit berangan-angan. Seandainya ini bukan waktunya tidur, ia pasti akan membicarakan banyak hal dengan Dira sedikit lebih lama. Kalau bisa, ia juga ingin mengatakan kalau ia memiliki harapan untuk satu kelas dengan adik sepupunya itu.
Ketika pagi menjelang, Nadin mengayuh sepedanya menuju sekolah bersama semilir angin yang menyapu kulitnya dengan lembut.
Hari ini, hatinya terasa tentram hingga senandung kecil pun tak ketinggalan mengiringi langkah kakinya menuju kelas bahasa Indonesia 1.
Dari kejauhan, Nadin melihat Aidan sedang membaca buku di dalam kelas. Tanpa pikir panjang, ia mendekati jendela tempat remaja laki-laki itu menyandarkan pundaknya saat membaca buku.
Dari jarak dua meter, Nadin menghentikan langkah dan membiarkan matanya terpaku memandangi sosok Aidan yang terlihat dari samping. Tanpa sadar, mulutnya sedikit terbuka karena kagum dengan garis wajah Aidan yang ia lihat dari sisi lain.
Dia... indah sekali, batin Nadin tersenyum seperti gadis yang sedang mengagumi sebuah lukisan.
Semua kenangan sejak ia pertama kali bertemu diputar kembali di dalam kepalanya. Entah mengapa ia merasa senang menyadari dirinya pernah menghabiskan waktu bersama. Senyum manis lagi-lagi terukir di bibirnya yang sering kali disebut seksi oleh siswa laki-laki di kelasnya saat masih SMP.
Sret
Aidan menggeser jendela tempat ia bersandar tadi kemudian membalas tatapan Nadin yang sedang melihat dirinya.
Apa yang sedang dilamunkan gadis itu pagi-pagi begini ? batin Aidan yang tetap menyorot Nadin.
Nadin yang menyadari dirinya hanyut dalam kenangan segera meninggalkan tempat ia berpijak dan langsung menuju kelasnya. Ia beberapa kali menepuk jidatnya karena merasa dirinya bodoh sampai tidak mengetahui kalau Aidan ternyata sedang melihatnya.
Nadin tersentak begitu salah satu kakinya berada di mulut pintu. Ia segera berbalik arah dan menyandar pada daun pintu. Ia menengok ke atas untuk melihat nama kelas yang akan ia masuki itu.
Ini sudah benar kelas bahasa Indonesia 1. Tapi, kenapa Aidan ada di dalam ? Setahuku dia adalah anak IPA 1. Untuk apa dia berada di sini pagi-pagi ? Atau... apa aku salah lihat ? batin Nadin kebingungan.
Nadin sekali lagi mengintip dari balik pintu. Sebelah matanya melotot ke arah Aidan yang kembali duduk manis membaca bukunya.
Aku tidak salah lihat, itu memang dia. Apa aku masuk saja ? pikir Nadin.
Ia menghela nafas panjang untuk mengumpulkan semua keberanian dan membuang semua rasa malunya untuk masuk ke kelas.
Aidan meletakkan bukunya dan menoleh kepada Nadin yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.
“Pagi, Nadin Naraya,” sapa Aidan sambil memperbaiki letak kacamatanya.
Mata Nadin membulat karena terkejut Aidan memanggil nama lengkapnya. Ia berusaha menahan senyum senangnya ketika dipanggil seperti itu.
“Pagi, apa kamu salah melihat jadwal pelajaran ? Kenapa kamu ada di kelas ini ?” cerocos Nadin.
Nadin mengerutkan alisnya kemudian mengambil jadwal pelajaran miliknya di dalam tas.
“Coba lihat ini, kamu kelas IPA 1 belajar Matematika sekarang.” Nadin menunjukkan selembaran kertas itu pada Aidan.
“Aku baru tahu kamu memperhatikanku, kamu sampai tahu aku di kelas mana,” ucap Aidan tersenyum.
“Aku hanya kebetulan mendengar namamu kemarin. Sekarang kamu lebih baik mencari kelasmu,” dalih Nadin, padahal ia kemarin sudah memusatkan perhatiannya untuk mendengar kelas tempat Aidan masuk.
“Tidak, ini kelasku.”
“Sepertinya kamu masih mengantuk. Ya sudah, terserah apa maumu, aku tidak peduli kalau nanti kamu malu dan terlambat gara-gara salah masuk kelas,” timpal Nadin hendak pergi.
“Bagaimana kalau kita taruhan ?” tanya Aidan menarik tas Nadin.
“Taruhan apa ?”
“Kalau aku benar-benar salah masuk kelas, kamu boleh menyuruhku apa saja atau meminta apapun dariku. Kalau kamu kalah, aku akan melakukan hal yang sama padamu. Bagaimana ?”
Nadin mengerutkan alisnya dan menatap heran kepada Aidan.
“Aku tidak bisa melakukan hal-hal aneh untukmu atau pun memberikan barang-barang mahal.”
“Aku tidak akan meminta hal aneh atau pun meminta barang mahal padamu.”
“Baiklah, aku setuju,” sahut Nadin setelah berpikir keras.
Aidan sangat senang hingga membuat ia tersenyum lebar menatap Nadin.
Apa-apaan senyum itu, batin Nadin lalu mencari bangku yang berada di tengah-tengah kelas. Ia meletakkan tasnya dan sekali lagi menoleh kepada Aidan. Aidan pun sekali lagi melemparkan senyum kepadanya hingga membuat ia malu dan tak ingin menoleh lagi.
Sudah beberapa menit semenjak guru keluar dari kelas, Nadin masih menatap nanar ke arah papan tulis.
“Nadin, ayo pulang. Kenapa kamu bengong begini ? Kalau diingat-ingat, kamu terus begini dari tadi pagi,” ucap Dira yang sudah memasukkan semua alat tulisnya ke dalam tas.
“Aku hanya memikirkan sesuatu, ayo pulang,” sahut Nadin.
Aidan, aku tidak tahu kalau dia pindah kelas. Apa itu sebabnya dia percaya diri mengajakku untuk taruhan ? Curang !
“Aidaaaannn !!! Kamu .....”
__ADS_1
“Ada apa ?” tanya Aidan yang sejak tadi berdiri di samping Nadin.
“Ya Tuhan !” pekik Nadin tersentak.
“Kenapa kamu memanggilku seperti itu sambil mengacak-acak rambutmu ? Apa kamu sedang frustasi dengan kekalahanmu ?” ledek Aidan.
“Kamu curang ! Aku tidak tahu kalau kamu pindah jurusan dan masuk ke kelasku,” omel Nadin.
“Curang bagaimana ? Kamu terima saja kekalahan dan hukumanmu. Besok, aku akan menunggumu,” sahut Aidan tersenyum.
Dasar manusia bermulut pedas ! Lihat saja besok, hukumanku akan kujadikan sebagai pembalasan, batin Nadin tersenyum licik.
“Sampai kapan kamu akan duduk di depan sekolah ? Dira sudah pulang dari tadi kan ? Ayo pulang.”
Setelah diingatkan, Nadin baru sadar kalau sekolah memang sudah sepi. Ia beranjak dari tempat duduknya dan pulang bersama Aidan.
Pukul 05:10 pagi
Seorang satpam terburu-buru berlari dari tempat berjaganya begitu suara bel gerbang berbunyi.
“Nona Nadin ya ?” tanya Pak Jaja begitu melihat wajah Nadin.
“Iya, Pak. Maaf membangunkan pagi-pagi,” sahut Nadin menyunggingkan senyum sembari sedikit mengangguk.
“Tidak apa-apa, Nona. Silahkan masuk. Tuan memberitahu saya kalau nona akan datang,” balas si satpam menutup gerbang setelah Nadin masuk.
Rasa canggung segera menyelimuti Nadin begitu ia menginjakkan kaki di dalam rumah Aidan yang begitu besar dan megah. Ia pun tidak menduga kalau Aidan sudah memberitahu para asisten rumah tangganya mengenai kedatangannya. Buktinya, seorang wanita paruh baya segera menyambut begitu ia masuk, bahkan wanita itu sudah tahu maksud kedatangan dirinya.
“Ini adalah kamar tuan Aidan, nona. Silahkan,” ucap sang pembantu.
“I-iya, terima kasih. Saya hanya akan membangunkannya saja,” sahut Nadin tersenyum kaku.
Aidan ! Aku tidak menyangka kalau hukuman yang kamu berikan adalah membangunkanmu setiap pagi selama dua minggu. Dan pagi ini, kamu sudah membuatku merasa tidak nyaman dengan semua orang yang ada di sini, dumel Nadin lalu membuka pintu kamar.
Sekali lagi, Nadin tertegun ketika dirinya telah berada di kamar Aidan. Selain terkejut dengan kamar yang luasnya tiga kali lebih besar dari kamarnya, ia juga terpesona melihat Aidan yang masih nyenyak di bawah selimut tebalnya.
Perlahan tapi pasti, Nadin mendekat dan berdiri di samping Aidan yang tidak mengetahui kehadirannya.
Tampan sekali. Kenapa dia bisa tetap terlihat tampan meski sedang tidur ? batin Nadin yang tak berkedip sedikit pun saat memandangi wajah Aidan.
“Eengh.”
Suara lenguhan Aidan yang sedang memperbaiki letak selimutnya menyadarkan Nadin yang hampir hanyut dalam lamunan.
“Aku harus cepat membangunkannya,” lirih Nadin kemudian meletakkan ranselnya di sembarang tempat lalu mendekati Aidan.
“Aidan bangun,” bisik Nadin di telinga remaja laki-laki yang masih lelap dalam tidurnya itu.
“Fuuuuhhhh, fuuuhhhh, fuuuuhhh.”
Nadin berkali-kali meniup telinga Aidan supaya ia terbangun. Namun, si perjaka itu hanya meraba kasar telinganya dan berbalik posisi.
Karena cara halus tidak berhasil. Kali ini, Nadin bersiap untuk menarik selimut Aidan. Akan tetapi, gerakan tangannya terhenti ketika ia melihat piyama hitam berserakan di lantai.
D-dia tidak telanjang kan ? pikir Nadin dengan matanya yang membulat besar. Tangannya pun dengan sigap melepas selimut yang tadi ia genggam.
“Aidan bangun ! Banguuunnnn !!!!! Kita sudah telat !” teriak Nadin sambil mengguncang tubuh Aidan dengan keras.
Aidan yang diperlakukan seperti itu tidak terkejut sama sekali. Ia malah berkedip perlahan berusaha membuka matanya yang masih terasa berat. Begitu wajah Nadin tertangkap oleh pengelihatannya, ia tersenyum kecil dan menarik Nadin ke atas tubuhnya.
“Aaaarrrggghhhh ! Plak !”
Sebuah tamparan tanpa sengaja mendarat di pipi Aidan yang mulus. Ia langsung bangun karena rasa sakit yang didapatnya.
“Nadin ?”-Aidan mengelus pipinya yang perih sambil mengumpulkan semua kesadarannya-“ini... bukan mimpi ya,” lirihnya.
“Dasar mesum ! Apa yang sedang kamu mimpikan ?!” bentak Nadin sambil memeluk dirinya sendiri karena shok dengan kejadian tadi.
Aidan tersenyum tipis memandang Nadin yang juga menyorot dirinya dengan tatapan tajam.
“Ra-ha-si-a,” ledek Aidan hendak menyibak selimutnya.
“Ya Tuhan ! Apa yang kau lakukan Aidan ?! Pakai selimutmu ke kamar mandi !” perintah Nadin.
“Aku memakai celana, berhentilah menutup wajahmu,” balas Aidan lalu melenggang pergi.
Tanpa menyahut, Nadin memilih keluar dari kamar itu. Tak di sangka, Nadin mendapati dua orang asisten rumah tangga sedang berdiri di pintu kamar Aidan. Mereka berdua menunduk dan kabur begitu saja.
Apa mereka menguping ? tanya Nadin.
Sementara Nadin berdumel dengan dirinya sendiri, Aidan menikmati waktu mandi paginya yang menyenangkan sambil mengingat kembali reaksi Nadin yang memintanya memakai selimut ke kamar mandi.
Kenapa kamu malu-malu seperti itu ? Dulu kan kita pernah mandi bersama, batin Aidan tersenyum.
__ADS_1