
Kenapa tidak boleh ?” tanya Nadin yang heran dengan syarat yang diberikan ibunya.
“Itu… kamu kan sudah banyak menonton berita tentang kejahatan yang dilakukan melalui sosial media, ibu hanya ingin kamu terhindar dari bahaya itu,” jawab Damara menutupi alasan sebenarnya kenapa ia tidak memperbolehkan Nadin memiliki aplikasi yang sudah umum dipakai oleh orang banyak.
“Baiklah. Tapi, Nadin hanya akan menggunakan watsap saja, Bu. Itu Nadin gunakan untuk mendapat informasi dari kelas. Tidak apa-apa kan ?”
“Tidak apa-apa sayang,” sahut Damara mengelus kepala Nadin.
Maafkan ibu tidak memberimu kebebasan. Ibu hanya tidak ingin keberadaan kita diketahui oleh keluargamu yang lain, batin Damara yang melihat Nadin sedang membongkar kotak ponsel barunya.
“Makasi, Bu,” ucap Nadin terlihat sangat senang ketika melihat ponsel barunya seraya mencium pipi Damara.
Hari pun berganti, Nadin memulai aktivitasnya di pagi hari dengan menanam bibit bunga mawar yang sudah beberapa hari lalu ia beli di toko bunga. Ia tidak menyangka kalau toko bunga itu dimiliki oleh seorang anggota OSIS bernama Saka, orang yang pernah menyapanya di depan gerbang sekolah. Ia bahkan mendapat satu pohon bibit mawar secara gratis dari kakak kelasnya itu.
“Kak Saka kan jualan, saya tidak bisa menerimanya. Nanti kakak malah rugi,” ucap Nadin saat menolak bibit bunga mawar pemberian Saka.
“Saya tidak akan rugi. Ini hanya satu bibit, anggap ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah datang ke toko ini,” sahut Saka yang tetap ngotot memberikan bibit bunga kepada Nadin.
“Ambil saja, tidak baik menolak pemberian orang,” bujuk Saka ketika Nadin masih terlihat ragu menerima pemberiannya.
“I-iya deh. Makasi, ya,” sahut Nadin keluar dari toko yang banyak dikunjungi oleh pembeli itu.
Mungkin ini adalah strateginya sebagai pedagang supaya banyak orang yang datang untuk membeli. Tapi, meskipun tidak diberi, aku akan tetap ke sana karena bibit bunganya bagus, batin Nadin sembari mengayuh sepedanya.
Sekarang, Nadin sudah selesai menanam bunga. Ia lalu memberi sedikit pupuk organik pada tanamannya.
"Aku harus meminta ibu untuk membeli beberapa ekor ayam untuk dipelihara, supaya aku tidak perlu membeli pupuk lagi," gumam Nadin sambil menganggukkan kepalanya.
Taman pelangi menjadi tujuan Aidan mengayuh sepedanya di hari Minggu sore ini. Ia ke sana hanya untuk berolahraga. Namun, ini pertama kali baginya berolahraga di tempat umum karena biasanya ia hanya melakukan rutinitas itu di halaman rumah.
Taman Pelangi hanya berjarak lima puluh meter dari tempat tinggal Aidan saat ini sehingga tidak butuh waktu lama untuk dia sampai ke tempat itu. Ia pun memarkir sepedanya dan melihat ke sekeliling taman. Ia tersenyum ketika melihat benda-benda yang ada di sana, mulai dari pot bunga, wahana bermain anak-anak sampai kolam air mancur yang berada di tengah-tengah taman itu dicat dengan warna pelangi.
Aidan melakukan pemanasan sebelum berlari mengelilingi taman. Ia pun tidak peduli dengan tatapan para gadis yang sedang berlari di depannya. Mereka terus saja melirik ke arahnya sambil berbisik membicarakan sesuatu yang tidak ia ketahui. Itu merupakan hal yang biasa baginya. Sebab, ia memang selalu dilirik oleh para gadis setiap kali mereka melihatnya. Oleh sebab itu, ia terkadang memakai masker jika sedang keluar, ia sering merasa tidak nyaman jika terus ditatap oleh orang-orang. Namun, sekarang ini ia tidak bisa memakai benda yang bisa menutup sebagian wajah tampannya itu karena ia akan berolahraga.
Aidan menghentikan langkahnya ketika baru dua kali ia berlari mengitari taman. Ia berhenti bukan karena lelah. Tapi, karena melihat seorang gadis berambut panjang yang begitu familiar di ingatannya. Sebenarnya, gadis itu adalah Nadin yang saat ini sedang menyibak sebuah pohon yang setinggi pinggangnya.
Memang benar Nadin, tapi kenapa dia membiarkan rambutnya tergerai dan terlihat seperti kuntilanak ? gumam Aidan setelah ia dapat melihat wajah Nadin.
Aidan heran melihat Nadin yang tersenyum sembari memegang sebuah ranting kecil yang ia dapat dari pohon itu. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat Nadin melilit rambutnya dengan ranting kayu itu.
"Kenapa karet gelang itu harus putus sih. Jadinya aku harus memakai ranting ini untuk melilit rambut", gerutu Nadin yang sedang berusaha merapikan rambutnya.
Nadin pun kesal ketika ranting kering itu malah patah ketika ia gunakan. Pada akhirnya, ia menemukan kantong plastik yang masih terlihat baru dan menggunakan benda itu untuk mengikat rambutnya.
Gadis aneh, apa dia tidak takut orang-orang akan menertawakannya ? batin Aidan yang melongo melihat kelakuan Nadin yang tidak seperti gadis pada umumnya.
“Yah begini lebih baik,” lirih Nadin mulai bersiap untuk berolahraga.
“Nak,” panggil seorang wanita yang dari tadi melihat Nadin dengan segala tingkahnya.
“Ya ?” Nadin menoleh ke arah wanita yang memanggilnya.
“Kalau boleh, biarkan tante membantumu mengikat rambut. Jangan gunakan kantong plastik itu,” ujar wanita paruh baya yang kini berdiri di depan Nadin.
“Ah ? Bo-boleh. Maaf merepotkan,” sahut Nadin kemudian berdiri membelakangi wanita itu.
__ADS_1
“Nah, sudah. Tidak apa-apa kan tante mengikatnya seperti ini ?” tanya wanita itu puas dengan hasil tangannya.
“Tidak apa-apa, begini jauh lebih nyaman. Terima kasih, tante,” jawab Nadin seraya memberikan senyum terbaiknya.
Ini seperti cara ibu menggelung rambutku, gumam Nadin sembari meraba rambutnya yang sudah disanggul dengan kuat oleh wanita yang baik hati itu.
Nadin lalu mulai berlari mengitari taman tanpa tahu ada Aidan yang juga sedang berlari di belakangnya. Sesekali, ia mengurangi kecepatannya ketika beberapa anak kecil berlarian di depannya.
Tidak buruk juga kalau setiap Minggu sore aku ke sini untuk olahraga, pikir Nadin yang awalnya enggan disuruh ibunya untuk datang ke tempat itu.
“Lain kali aku harus ajak ibu ke sini juga,” lirih Nadin yang melihat banyak wanita yang seusia dengan ibunya datang untuk senam bersama di sore hari itu.
Karena merasa lelah setelah empat kali mengelilingi taman, Nadin akhirnya menuju ke tempat parkiran sepeda untuk mengambil air minum yang tadi ia letakkan di keranjang sepedanya. Rasa hausnya langsung terbayarkan ketika air minum itu mengaliri tenggorokannya yang terasa kering.
“Hah hah hah.” Nadin berusaha mengatur nafasnya setelah ia meminum setengah botol airnya.
Gluk gluk gluk gluk gluk
Nadin menoleh ke arah kanan di mana sumber suara itu berasal. Mata bulatnya membesar ketika mendapati Aidan sedang minum dari botolnya yang berwarna hitam. Ia tak berkedip sedikitpun ketika ia tanpa sadar menyoroti jakun Aidan yang turun naik saat menelan air putihnya. Sesuatu yang menonjol pada leher laki-laki blasteran itu terlihat lihai saat bergerak di balik lehernya yang putih dan halus sehingga berhasil membuat Nadin tidak mengalihkan pandangan. Keringat yang perlahan mengucur dari kening ke pipi Aidan yang halus membuat Nadin meraba pipinya yang berjerawat.
“Apa yang kamu lihat ?” tanya Aidan heran ketika mendapati Nadin sedang memandangnya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Yang pasti, Nadin sedang melihat Aidan dengan mulut sedikit terbuka karena merasa takjub dengan hasil ciptaan yang ada di depannya itu.
“Eh ?”-Nadin sedikit menggelengkan kepala untuk mengumpulkan semua kesadarannya setelah bebera saat ia hanyut dalam apa yang sedang ia lihat-”Aku–”
“Apa yang kamu pikirkan saat melihatku ? Kamu tidak berpikir macam-macam kan ?” tanya Aidan dengan ekspresi dingin seraya menyipitkan matanya yang sudah sipit.
“Apa maksudmu aku berpikir macam-macam ?!” ketus Nadin merasa tersinggung.
“Lalu apa ?!” tanya Aidan tersenyum sinis.
“Aku… aku hanya berpikir benjolan di lehermu itu terlihat… indah ! Puas ?!” Jawab Nadin sedikit meninggikan suranya sambil mendongak menatap Aidan dengan kesal. Namun, ia seperti berbisik ketika menyebut kata ‘indah’ di akhir kalimatnya itu.
“Ah ?!” Aidan terkejut setelah mendengar ucapan Nadin.
Sebelum Aidan membuka suara, Nadin segera meninggalkan Aidan yang masih mencerna ucapannya yang memalukan itu.
Benjolan ? Tapi, tadi terakhir dia ngomong apaan sih ? Dia bilang indah ya ? gumam Aidan sambil menyentuh lehernya. Seketika ia langsung tersenyum lebar setelah mengetahui benjolan yang dimaksud Nadin adalah jakunnya.
Aneh, bukankah perempuan biasanya memperhatikan wajah ? Tapi, kenapa dia malah memperhatikan jakun ? batin Aidan yang tak bisa berhenti tersenyum.
Mentari pagi baru menyingsing dari arah timur ketika Nadin berangkat ke sekolah. Ia merasa harus datang lebih awal untuk melihat letak ruang kelas Matematika 1 sebelum upacara hari Senin dimulai. Ia sedikit khawatir kalau nantinya ia akan terlambat masuk kelas di pelajaran pertama karena lupa di mana letak kelasnya.
“Kenapa harus pindah kelas setiap ganti pelajaran sih ? Aku bahkan belum hapal letak semua kelas, padahal kemarin sudah diajak berkeliling saat MOS,” gerutu Nadin yang baru pertama kali belajar dengan sistem pindah kelas ketika pelajaran berganti.
“Nadin,” panggil Dira yang kini sudah membungkuk dengan tangan terlipat di atas meja Nadin.
“Ya,” sahut Nadin sembari mengipas dirinya yang kepanasan setelah selesai upacara.
“Apa aku boleh duduk di dekatmu ?” tanya Dira yang melihat Nadin duduk sendiri. Sedangkan, teman-teman kelasnya yang lain sudah dapat teman sebangku.
Nadin hanya menganggukkan kepala untuk mengiyakan Dira yang langsung duduk di samping Nadin.
“Tuh, apa kamu lihat si Nadin ? Anak yang kemarin banyak dibicarakan karena dia punya rambut yang sangat panjang. Ternyata benar dia memang pendiam,” bisik Kayla kepada Mala.
“Iya. Aku juga dapat cerita kalau dia selalu terlihat murung saat MOS, seperti anak yang tidak mau bergaul,” sahut Mala yang ikut berbisik.
__ADS_1
Kayla dan Mala merupakan teman sekelas Nadin yang saat ini duduk tepat di belakangnya. Nadin hanya menarik nafas panjang ketika mendengar dirinya dibicarakan. Sedangkan, Dira yang juga ikut mendengar tidak memperdulikan omongan dua gadis dengan potongan rambut yang sama itu.
“Jangan didengarkan. Kita semua termasuk kamu adalah murid baru, wajar saja kamu pendiam,” bisik Dira supaya Nadin tidak terlalu memikirkan omongan mereka.
Lagi-lagi Nadin hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat Dira yang saat ini tersenyum padanya.
Mereka benar. Aku selalu diam supaya kalian enggan menyapa dan berteman denganku.
Aku hanya ingin menjalani sekolahku dengan tenang.
Aku akan lebih kecewa seperti sebelumnya jika nanti kalian memperlakukanku dengan buruk setelah kita berteman.
Tapi, kenapa kamu selalu datang menyapaku Dira ? batin Nadin menundukkan kepalanya.
Ia bingung harus bersikap seperti apa kepada siswa siswi di kelasnya itu. Terlebih kepada Dira yang selalu tersenyum dan lebih dulu menyapanya.
Beberapa hari telah berlalu sejak hari pertama siswa siswi di SMA N 1 J mulai aktif masuk sekolah. Tanpa disadari, Nadin pun sudah mulai sedikit akrab dengan Dira, mereka sering ke kantin dan mengerjakan PR bersama-sama. Dira yang awalnya selalu menunda membuat tugas di rumah berubah menjadi lebih rajin dan selalu mengerjakan tugasnya begitu pulang sekolah. Aidan yang pernah sekali menemukannya mengerjakan tugas di rumah sampai terheran-heran melihat dirinya. Sebelumnya, orang tua Dira bahkan terkadang bercerita kepada orang tua Aidan kalau anak mereka itu sering mengerjakan tugas pada tengah malam sehingga membuatnya kurang tidur dan akhirnya jatuh sakit.
“Oh, akhirnya kamu mendapat pencerahan,” sindir Aidan yang baru pertama kali melihat Dira mengerjakan tugas saat baru pulang sekolah.
“Diam adik kurang ajar,” ketus Dira tanpa menoleh ke arah Aidan yang kini sudah duduk di dekatnya.
“Hah, harusnya aku seperti ini sejak dulu,” ujar Dira setelah selesai mengerjakan tugas bahasa Indonesia yang tadi pagi diberikan oleh gurunya.
“Sepertinya Nadin membawa dampak baik untukku. Aku tidak salah berteman dengannya,” tambah Dira seraya merapikan buku dan alat tulisnya.
“Apa kamu begini setelah berteman dengannya ?” tanya Aidan yang tiba-tiba penasaran.
“Bisa dikatakan iya,” jawab Dira tanpa ragu.
“Nadin terlihat berbeda dari teman-temanku sebelumnya, dia tidak banyak bicara, tidak pernah berdandan, dan kamu tahu ?! Dia bahkan tidak memakai bedak ! Bagaimana bisa anak SMA tidak berdandan sedikitpun ?! Dia terlihat seperti gadis desa,” tutur Dira sembari menopang dagunya.
Aidan hanya menganggukkan kepala menyetujui ucapan Dira karena selama beberapa kali bertemu, ia hanya melihat wajah Nadin yang berminyak dan berjerawat tanpa ada bedak yang menutupinya. Ia juga melihat Nadin tidak memakai pelembab bibir sehingga dia selalu terlihat pucat.
“Oh, jadi itu sebabnya kamu tidak menor seperti dulu saat kamu berteman dengan anak-anak yang suka shoping dan berdandan itu ?” Aidan lagi-lagi menyindir kehidupan Dira saat masih duduk di bangku SMP.
“Cepat selesaikan urusanmu dan pulang sana !” Teriak Dira yang sudah mulai kesal karena Aidan tidak pernah bicara baik-baik padanya.
Tik tik tik
Suara jarum jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh membuat Nadin tergesa-gesa berpamitan dengan ibunya. Ia pun bergegas mengambil sepedanya dan melaju dengan sedikit cepat.
Kring kring kriiing
Nadin sekuat tenaga menarik rem dan membunyikan bel sepedanya ketika seseorang dengan seragam yang sama dengannya tiba-tiba keluar dari balik gerbangnya tanpa melihat ke kiri dan kanan.
Bruuk
Nadin akhirnya jatuh bersama orang yang ditabraknya itu karena ia tidak bisa menghentikan sepedanya yang laju.
“Kamu lagi ?! Apa kamu tidak bisa hati-hati ?” gerut Aidan setelah melihat Nadin yang menabraknya.
“Kamu yang tidak hati-hati keluar rumah,” balas Nadin seraya mendirikan sepedanya.
Setelah Nadin dan Aidan berdebat untuk beberapa saat, mereka berdua akhirnya berangkat ke sekolah dengan saling mendahului seperti sedang balapan saat mengendarai sepeda. Namun,….
__ADS_1
Krik krik krik
Suara jangkrik seperti terdengar di telinga Nadin dan Aidan ketika keduanya menemukan gerbang sekolah yang sudah ditutup. Mereka hanya bisa pasrah menjalani hukuman membersihkan taman yang ada di depan sekolah sembari menunggu pelajaran pertama selesai.