
Orang yang duduk di samping tubuh Hanz langsung mendongak ketika mendengar suara Aldora.
"Aldora, sind sie das?" Tanya Aaric dalam bahasa Jerman. (Aldora, apakah itu kamu?)
Aldora mengalihkan pandangannya kearah Aaric yang tampak berdiri dengan memandang kearahnya.
"Sie... Aaric Schmitz?" Tanya Aldora memastikan. (Kamu... Aaric Schmitz?)
Aaric mengangguk.
"Meine Güte, nachdem du gegangen bist, ohne mich zu verabschieden. Jetzt endlich treffen wir uns? Meine Güte, Al das ist wie ein Traum. Warum sind Sie gegangen, ohne sich zu verabschieden?" Aaric bertanya dengan senyum bahagia diwajahnya. (Astaga, setelah kamu pergi tanpa pamit kepadaku. Akhirnya sekarang kita bertemu? Astaga, Al ini seperti mimpi. Kenapa kamu pergi tanpa pamit?)
Aldora tersenyum tipis.
"Herr Schmitz, beginnen wir die Diskussion. Lass uns unser Gespräch ein anderes Mal fortsetzen continue," ucap Aldora bersikap profesional. (Tuan Schmitz, mari kita mulai berdiskusi. Kita lanjutkan pembicaraan kita lain waktu)
"Immer noch wie zuvor, unverändert. Sei immer professionell," keluh Aaric lirih yang masih dapat didengar oleh Hanz juga Aldora. (Masih seperti sebelumnya, tidak berubah. Selalu profesional)
Aldora hanya menanggapinya dengan tipis.
Aaric adalah anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja dulu. Selain itu Aldora dan Aaric satu kampus. Namun Aldora hanya menganggap Aaric teman biasa. Walau dia berkata mereka adalah teman, Aldora tidak pernah memperlakukan Aaric dalam artian teman sesungguhnya. Aldora hanya menyapa Aaric sekilas tanpa mau mengobrol hal pribadi. Itu dilakukannya kepada semua orang yang tidak terlalu dia kenal atau memang dia tidak mau kenal.
"Hanz, komm raus. Ich möchte immer noch mit Aldora sprechen," ucap Aaric ketika mereka sudah menyelesaikan diskusi singkat. (Hanz, keluarlah. Aku masih mau berbicara dengan Aldora)
"Gut," ucap Hanz yang langsung menuruti permintaan Aaric dengan pergi dari ruangan. (Baik)
__ADS_1
"Aldora-"
"Nein, Alvina ist nicht Aldora," ucap Aldora. (Tidak, Alvina bukan Aldora)
"Aaric nannte meinen Namen Alvina. Hier heiße ich Alvina, nicht Aldora. Rufen Sie nicht so schnell Aldora an," ucap Aldora memberi tahu. (Aaric biasakan memanggil namaku Alvina. Disini namaku adalah Alvina bukan Aldora. Jangan sampai keceplosan memanggil Aldora)
"Warum?" Tanya Aaric. (Kenapa?)
"Wenn die Zeit reif ist, wirst du alles wissen. Auch der Grund, warum ich gegangen bin, ohne mich zu verabschieden. Also warte einfach auf diese Zeit und du wirst alles wissen. Seien Sie geduldig, wenn Sie den Grund wirklich wissen wollen," ucap Aldora. (Saat waktunya tepat kamu akan tahu semuanya. Juga alasanku pergi tanpa pamit. Jadi, tunggu saja waktu itu dan kamu akan tahu semuanya. Bersabarlah jika kamu memang ingin mengetahui alasannya)
"Entschuldigung, ich muss gehen, es ist Zeit, zurück ins Büro zu gehen," ucap Aldora seraya melihat jam dipergelangan tangannya. (Maaf aku harus pergi, sudah waktunya kembali ke kantor)
"Nun, ich hoffe wir können uns wiedersehen," ucap Aaric. (Baik, aku harap kita dapat bertemu lagi)
Aldora, ich mochte dich eigentlich von Anfang an. Ich weiß, dass du mich nie ein bisschen geliebt hast. Und ich möchte dieses Gefühl nicht erzwingen und dich belasten. Ich möchte nur vor meiner Heirat mit jemandem meiner Wahl, ich kann meine Gefühle auch nur einmal ausdrücken. Zumindest werde ich bereit sein, dich gehen zu lassen, wenn ich deine Ablehnung höre. Und ich werde es auch in Zukunft nicht bereuen, die Person meiner Familie zu heiraten. (Aldora, sebenarnya aku menyukaimu dari dulu. Aku tahu bahwa kamu tidak pernah mencintaiku sedikit pun. Dan aku tidak mau memaksakan perasaan ini dan membuatmu menjadi terbebani. Aku hanya ingin sebelum pernikahanku dengan seseorang pilihan keluargaku, aku dapat menyatakan perasaanku walau hanya sekali. Setidaknya aku akan merasa rela melepasmu dengan mendengar penolakanmu. Dan aku tidak akan merasa menyesal dikemudian hari karena memilih menikah dengan orang pilihan keluargaku)
Aaric berkata dalam hati sambil menatap punggung Aldora yang semakin jauh dari jangkauan matanya.
Aaric menyukai Aldora sejak masih menjadi mahasiswa. Sosok Aldora yang lebih memilih membaca buku dibandingkan bergaul terlihat seperti orang yang cuek dengan keadaan sekitar. Walaupun begitu Aldora adalah sosok yang lemah lembut. Dia tidak bisa membiarkan seseorang menderita dihadapannya. Hal hal kecil itu membuat Aaric mulai menyukai sosok Aldora.
***
"Ada apa Uncle?" Tanya Aldora pada Uncle Penrod yang menghubunginya saat dia baru saja sampai di apartemen.
"Al, apa kamu menggunakan uang dari rekeningmu dengan jumlah yang besar?" Tanya Uncle Penrod.
__ADS_1
"Iya, Uncle" jawab Aldora.
"Untuk apa kamu gunakan uang sebanyak itu Al?" Tanya Uncle Penrod.
"Untuk memberi makan ratusan orang orang yang tak mampu, Uncle" jawab Aldora seraya berjalan menuju kamarnya dan mengambil pakaian untuk mandi.
"Al, kamu tahukan uang itu kita kumpulkan untuk persiapan merebut tahta," ucap Uncle Penrod terlihat tidak terima.
Aldora duduk bersandar dengan kaki berselonjor di atas sofa.
"Al tahu Uncle. Tapi sebagai pemimpin bagaimana bisa Al membiarkan semua rakyat Al menderita kelaparan. Apalagi rakyat itu adalah pendukung setia Papa, Uncle," ucap Aldora.
"Apa kamu bilang Al? Pendukung Yang Mulia Raja Jarrel?" Tanya Uncle Penrod dengan nada tidak percaya.
"Ya Uncle, bahkan mereka rela hidup gelandangan demi tetap mendukung Papa. Bagaimana Al tega meninggalkan mereka yang bahkan merelakan hidupnya untuk Papa Al? Apalagi sebagai seorang pemimpin, Al juga adalah orang tua bagi negara ini. Bagaimana mungkin Al rela melihat rakyat rakyat Al mati kelaparan? Papa dan Mama pasti akan kecewa jika Al membiarkan hidupmu," ucap Aldora.
"Tindakanmu memang tidak salah Al, tapi kamu juga harus memikirkan esok. Bagaimana caramu untuk memenuhi keinginan terakhir Papamu," ucap Uncle Penrod kembali mengingatkan keinginan Papa Jarrel yang menginginkan Aldora menjadi pemimpin Gloretha.
"Uncle, Al rasa rencananya harus diubah" ucap Aldora saat teringat keinginannya untuk mengubah rencana mereka.
"Diubah? Kenapa Al?" Tanya Uncle Penrod.
"Uncle, Al tidak sanggup untuk kembali ke istana bagian selatan. Jika Al menjadi salah satu kandidat istri Riccardo, selama masa seleksi Al harus tinggal di istana selatan. Dan tinggal disana lebih parah dibandingkan tinggal dineraka," ucap Aldora ketika teringat akan traumanya yang masih ada sampai sekarang.
"Al, Uncle tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi kamu harus kuat Al. Ingat saja tentang keinginan Yang Mulia Jarrel. Ingat bahwa sampai akhir Papamu telah berkorban demi negara dan demi dirimu. Ingatlah bahwa betapa mulianya Raja Jarrel mengorbankan nyawanya. Jangan ingat tentang kesedihanmu. Tapi ingatlah semua pengorbanan yang dilakukan Raja Jarrel," ucap Uncle Penrod memberikan motivasi dari kata katanya.
__ADS_1