Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Berhasil!


__ADS_3

Elang masih menatap wajah Alexa yang masih saja tersenyum itu. Di benak wanita itu sudah membayangkan tentang pekerjaan apa nanti nya yang akan ia pinta jika benar Klan mereka akan di bubarkan dan di bangun sebuah perusahaan untuk kelangsungan klan mereka. Lalu bayangan tentang menikah , membuat Alexa semakin tersenyum saja tanpa menyadari jika pria yang duduk disebelahnya itu ikut tersenyum juga. Namun senyum pria itu bukan karena bayangan harta Glendale, tapi karena senyum dari wajah cantik Alexa yang terlihat bahagia.


"Apa yang kau lamunkan hingga membuat mu begitu bahagia?" tanya Elang membuat Alexa tersentak dan menoleh kearah Elang.


"Tidak ada, hanya .. Ah, aku hanya sedang berpikir, apakah seorang wanita seperti ku akan mendapatkan suami. Apa kira kira ada pria yang mau menikahi ku? Aku sungguh tidak tau malu berharap demikian." jawab Alexa.


Mendengar ucapan Alexa , Elang pun mendadak murung. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Alexa. Kehidupan dunia mereka begitu kejam, jika saja orang lain mengetahui nya pasti nya orang itu akan lebih memilih untuk tidak pernah punya urusan apapun dengan mereka, apalagi sampai harus menikah dengan mereka.


"Kau benar. Ku rasa kita akan kesulitan dalam mencari pasangan." ucap Elang.


"Kenapa kau juga berpikir demikian?"


"Dunia kita berbeda dengan mereka , walaupun nanti nya kita sudah meninggalkannya, jika mereka mengetahui masa lalu kita, tidak mustahil mereka akan membenci kita." jawab Elang.


Mendengar itu, Alexa terlihat menarik nafas berat.


"Tapi kurasa, tidak semua orang seperti itu. Contoh nya Nona Zha. Bukti nya , suami nona Zha bisa menerima nya dengan baik. Bahkan rela melakukan apapun demi sang istri." ucap Alexa, berusaha meyakinkan jika tidak semua orang akan selalu menilai buruk tentang seorang mafia.


"Halilintar berbeda, dan dari keluarga yang berbeda juga. Keluarga Samudra adalah keluarga yang hebat. Tidak bisa di samakan dengan orang lain." jawab Elang.


"Ah.., kau jadi membuat ku takut berharap." ucap Alexa.


Elang pun terkekeh. "Tidak tidak, maafkan aku. Kita tidak harus berpikir sejauh itu. Karena tujuan kita baik, jadi kita harus berpikir baik juga."


"Tapi, bagaimana jika benar tidak ada pria baik yang mau menikahi ku? Aku akan sendirian sampai tua di muka bumi ini." ucap Alexa, semakin membuat Elang terkekeh mendengar nya. Elang tidak menyangka , wanita tangguh dan hebat seperti Alexa mendadak lemah hanya karena khawatir memikirkan tentang jodohnya.


"Begini saja, jika tidak ada yang mau menikahi mu, biar aku saja yang menikahi mu. Karena kemungkinan tidak ada juga wanita yang mau menikah denganku. Jadi pas kan?"


"Hah! Apa? Apa yang kau katakan?" Alexa sungguh terkejut mendengar ucapan Elang. Apa Elang sedang melamarnya? Itu pemikiran Alexa.


"Aku serius! Kau mau?"


"Elang!" tiba tiba saja Zha sudah berdiri dibelakang mereka bersama Halilintar membuat kedua nya terkejut dan terputuslah obrolan mereka yang sudah hampir mendekati serius itu, serentak mereka menoleh bersamaan.


"Zha, bagaimana keadaan mu?" tanya Elang menatap adik nya yang kini sudah melangkah dan duduk di sampingnya, sementara Halilintar duduk di depan mereka.


"Aku sudah baikan." Jawab Zha.


"Syukurlah."


"Elang, Ayah kita.." mata Zha sudah mulai berkaca kaca kembali. Elang langsung meraih tangan Zha dan menggenggam nya erat dengan kedua tangan nya.


"Berhentilah bersedih Nona Zha, Kau tidak sendirian lagi. Lihat lah, ada suami mu yang setia menemani mu dan juga ada aku yang akan selalu bersamamu." ucap Elang.


Zha langsung memeluk Elang dan pria itu pun langsung membalas nya, mengelus lembut kepala Zha yang menenggelamkan wajahnya di dada Elang.


Terdengar Zha terisak. " Terimakasih Elang, sejak aku kecil kau selalu menemani ku, bahkan hingga saat ini. Aku tidak pernah menyangka jika kau..--"


"Kakak mu, dan kau gadis nakal... adalah adik ku. Aku pun tidak menyangka, tapi aku sangat bahagia dengan kenyataan ini." ucap Elang.

__ADS_1


Zha menarik wajahnya dari dada Elang, menghapus air matanya dan tersenyum.


"Maafkan aku, aku sering berlaku kurang ajar padamu Kakak ku."


"Benar, kau memang harus meminta maaf padaku." jawab Elang. Mereka semua akhirnya tertawa bersama.


"Berjanji lah padaku Elang, jangan pernah tinggalkan aku. Kau satu satunya keluarga yang ku punya." ucap Zha merengek manja, Elang tersenyum melihat perubahan sifat Zha . Selama mengenal Zha, Elang tidak pernah melihat Zha seperti itu. Atau mungkin ini karena pengaruh kehamilan Zha, membuat wanita super tangguh dan dingin itu berubah lemah dan manja.


Elang mengangguk. "Tidak akan Zha, kita akan terus bersama sama. Apa kau lupa dengan ucapan ayah, jika sudah menjadi tradisi keluarga kita, Anak laki laki bertugas melindungi. Dan itu sudah menjadi tugas ku. Walaupun sudah ada Halilintar yang akan menjaga mu. Aku akan tetap bersama mu , Adik ku!" jawab Elang.


Zha kembali tersenyum, kesedihan dihati nya berangsur menghilang. Mengingat betapa beruntung nya dia, memiliki suami seperti Halilintar dan sekarang memiliki kakak seperti Elang. Seakan kesedihan serta penderitaannya selama ini seperti sudah terbayar lunas. Walaupun Zha harus kehilangan Ayah nya. Tapi Tuhan telah mengganti nya dengan kebahagiaan yang sempurna.


"Lalu, apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Halilintar yang dari tadi ikut merasa bahagia menyaksikan keromantisan istri dan kakak iparnya itu.


"Jika Zha sudah merasa lebih baik, kita harus segera memecahkan kode itu. Dan segera menjalankan pesan terakhir Ayah." jawab Elang.


"Memang nya Ayah berpesan apa?" tanya Zha menatap Elang.


"Kau akan segera tau nanti. Setelah kita mendapatkan apa yang ada di balik chip itu."


"Kalau begitu, sekarang saja." ucap Halilintar.


Akhirnya mereka setuju dan melangkah mengikuti Zha yang membawa mereka ke ruangan khusus milik Zha, dimana di sana terdapat sebuah komputer yang biasa di gunakan oleh Zha.


"Kau saja Hall." ucap Zha pada Halilintar yang langsung mengangguk dan menarik dua kursi untuk nya duduk dan untuk Zha.


Zha kini duduk di samping Halilintar yang mulai menghidupkan komputer itu setelah menancapkan USB yang di berikan Zha padanya. Sementara Elang dan Alexa berdiri di belakang mereka.


"Ya." jawab Zha , tidak bisa di pungkiri , baik Zha mau pun Elang sudah sama sama tegang.


Halilintar mulai mengulik tombol keyboard, terus berusaha untuk memecahkan kode kode tersebut.


"Tanggal lahir mu Elang. " tanya Halilintar yang segera di jawab Oleh Elang. "Aku tidak tau pasti, tapi Tuan Poso pernah mengatakan.."


"Jawab saja apapun yang kau tau dari nya."


"Kau tidak tanya tanggal lahir ku?" tanya Zha.


"Aku sudah tau." jawab Halilintar tanpa menoleh.


"Sial, tidak ada yang cocok!" umpat Halilintar, pria itu berhenti sejenak dan terlihat sedang berpikir.


Tak lama kemudian, ia tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


"Berhasil!" teriak Halilintar ketika ia berhasil memasukan kode dengan benar dan file itu kini terbuka.


"Hah, Bagaimana kau bisa melakukan nya?" tanya Zha.


"Kode ini di buat oleh Tuan Glendale sebelum kalian ada. Artinya tidak mungkin memakai tanggal lahir kalian. Lalu aku menggunakan tanggal lahir orang tua kalian."

__ADS_1


"Dari mana kau tau tanggal lahir mereka?" tanya Zha kembali heran.


"Dari balik foto yang pernah ku lihat di Markas milik Tuan Ardogama ketika Alexa pernah menunjuk kan nya padaku." jawab Halilintar.


"Tapi.. Aneh. Kenapa Kode ini dibuat sesederhana itu. Dan menurut Alexa ada lima kode, tapi ini hanya ada empat." ucap Halilintar.


"Aku juga tidak tau. Aku hanya pernah di beritahu nya begitu oleh Tuan Ardogama. Kemungkinan karena yang kelima adalah darah nona Zha, jadi tidak termasuk di chip itu." jawab Alexa.


"Baik lah, itu tidak masalah. Kita akan mulai membuka Folder nya." ucap Halilintar.


"Hall, bagaimana dengan sistem DNA nya?" tanya Zha yang nampak khawatir dengan sistem DNA yang ia ketahui bisa untuk mengendalikan dirinya karena terbuat oleh sistem Renita milik nya.


"Sistem DNA itu sudah otomatis Nonaktif dengan sendirinya setelah aku berhasil memasukan kode pertama tadi. Dan ternyata sistem DNA itu di ciptakan bukan hanya untuk mengendalikan mu, tapi juga untuk melindungi mu. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi." jawab Halilintar, membuat Zha bernafas lega, selama ini Zha sebenarnya sangat mengkhawatirkan di hal itu. Karena bisa jadi itu bisa menghancurkan dirinya dengan perlahan jika saja musuh mereka berhasil mendapatkannya dan kembali memasang chip itu pada tubuh nya. Karena dengan sistem DNA itu, mereka akan bisa dengan mudah mengendalikan Zha.


"Apa apaan ini?" Tidak ada apa pun di sini kecuali foto foto ini saja!" ucap Halilintar setelah folder itu terbuka dan segera menoleh pada Zha meminta Zha untuk memeriksanya.


Benar saja, di folder itu tidak ada sesuatu yang istimewa selain hanya sebuah Foto Mansion , beberapa foto perusahaan, club' malam dan gedung.


"Alexa, kau adalah orang terdekat Ayah ku. Apa kau mengenali tempat tempat itu?" tanya Zha menoleh pada Alexa yang segera mendekat dan menatap layar komputer itu.


"Itu..., Itu Mansion milik Tuan Glendale. Tuan Ardogama pernah menunjuk kan nya padaku. Dan bahkan memberikan kunci Mansion itu padaku." jawab Alexa.


"Kalau begitu, bawa kami kesana. Kita harus tau apa yang ada di dalam Mansion itu. Pasti ada sesuatu di sana. Jika tidak, mana mungkin folder itu hanya berisi foto foto bangunan seperti itu saja. Dan menjadi rebutan." ucap Zha.


"Kau benar. Kita akan segera kesana bersama sama." jawab Elang.


"Baik lah, kita akan pergi. Tapi tidak sekarang. Tunggu Beberapa hari dulu." ucap Halilintar.


"Kenapa Hall?" tanya Zha langsung menatap wajah suami nya.


"Zha, apa kau lupa jika sudah lama aku tidak mengunjungi Halilintar Junior. Itu tidak baik bagi kesehatan kalian berdua." ucap Halilintar tersenyum menggoda tanpa peduli jika ada Elang dan Alexa di situ, Halilintar meraih tubuh Zha dan meraba perutnya.


Zha terperangah, tidak mengerti dengan ucapan suaminya.


Lain dengan Elang dan Alexa yang langsung terkekeh.


"Baik lah baiklah, di mengerti. Sebaiknya kau segera membawa istri mu kembali ke kamar." ucap Elang pada Halilintar.


Halilintar yang kini tertawa pun langsung menggendong tubuh Zha dan membawa nya melangkah tidak peduli dengan Zha yang meronta di gendongan nya.


"Semoga kalian segera menyusul kami!" ucap Halilintar sebelum keluar ruangan.


Sementara Alexa hanya menatap langkah kaki Halilintar dengan tatapan sedikit malu.


"Kenapa? Kau iri?" tanya Elang menghampiri Alexa.


"Siapa yang iri. Aku hanya terbawa suasana keromantisan mereka." jawab Alexa.


"Jika kau mau, kita bisa menyusul mereka." ucap Elang dengan gerakan cepat meraih tubuh Alexa dan melakukan sama persis seperti yang dilakukan Halilintar tadi.

__ADS_1


"Hei...!! Apa yang kau lakukan. Brengsek!! Turunkan aku...! Turunkan!!" teriak Alexa berusaha melepaskan tubuhnya dari gendongan Elang yang sudah membawa nya melangkah keluar dari ruangan itu juga.


__________________________


__ADS_2