Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Penemuan partikel di tubuh Zha.


__ADS_3

________


Masih di atas jalanan aspal hitam yang legam, dengan waktu yang sudah larut malam dan hampir memasuki waktu subuh, Hanzero masih menginjak pedal gasnya menuju Rumah Utama dengan sesekali melirik wajah khawatir Putranya di jok belakang yang terus saja mendekap kepala Zha yang masih tak sadarkan diri itu melalui kaca kecil di depannya.


Di belakang dan di samping mobil yang di bawa Hanzero, beberapa mobil anak buah Zha masih setia mengiringi tanpa adanya pertanyaan kemana Hanzero akan membawa wanita iblis ketua mereka itu Mereka hanya bisa untuk tetap setia mengikuti kemana pun arah mobil itu guna melindungi ketua mereka dari segala kemungkinan yang bisa saja terjadi kapan pun.


Dan Elang sendiri merasa sudah percaya penuh dengan kedua bapak beranak yang sedang bersama Zha saat ini, hingga mobil itu berhenti di sebuah halaman luas rumah utama milik keluarga Samudra , Elang memutuskan untuk kembali ke markas mereka dan mempercayakan penuh keselamatan Zha pada keluarga samudra . Namun sebelum benar benar meninggalkan Rumah utama, Elang sempat meninggal kan beberapa anak buah andalannya untuk bergabung dengan para pengawal Rumah Utama.


Halilintar berlari ke dalam rumah dengan membopong tubuh Zha sesaat setelah Hanzero membukakan pintu mobil, sementara di depan pintu Azkayra sudah siap menyambut dengan seorang dokter dan beberapa perawat yang sudah dihubungi Hanzero jauh sebelum mereka tiba.


"Sebuah peluru dibahu dan betisnya. Cepat keluarkan.!!" ucap Halilintar pada Dokter Bram yang memang sudah siap melakukan oprasi guna mengeluarkan peluru yang masih bersarang di bagian tubuh Zha dan dengan hati hati Halilintar merebahkan tubuh Zha di atas ranjang miliknya lalu menggeser kakinya untuk menjauh.


Dokter Bram bersama timnya yang sudah menyiapkan segala sesuatunya langsung bertindak tanpa bertanya suatu apapun.


Sementara Azkayra sesenggukan di dada suaminya dengan kedua tangan memeluk erat pinggang Hanz.


Hanz membelai lembut rambut Azkayra menenangkan hati istrinya yang hampir saja tidak dapat ia lihat lagi jika saja Saat itu Zha tidak datang tepat waktu untuk menyelamatkan dirinya dari Alex yang menginginkan kematiannya.


Hanz membawa Azkayra keluar kamar dan membimbing Azka untuk duduk di ruang tengah.


"Apa yang sesungguhnya terjadi pada kalian Hanz.?" tanya Azka kini menatap wajah gusar Hanz.


Hanz menarik nafas sebelum akhirnya menghelanya untuk menceritakan yang sebenarnya awal mula kejadian yang menimpanya dan Zha.


"Maafkan aku Azka. Aku mencurigai gadis itu. Dan menyeretnya keluar dari rumah ini. Di tengah perjalan pulang setelah aku menurunkan Zha di tengah jalan serombongan mafia sewaan Alex sepupu Gavin berhasil membawa ku. Dan malam itu juga jika Zha tidak datang tepat waktu menyelamatkan aku, mungkin kita tidak bisa bertemu lagi. Zha tertembak oleh mafia sewaan Alex saat berusaha membawa ku keluar dari sarang Mafia mereka." jelas Hanz menggenggam erat jemari istrinya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Aku tidak menyalahkan mu Hanz, aku tau maksudmu. Kau hanya ingin melindungi keluarga kita. Mungkin jika tidak dengan begini kau tidak akan mengenal jauh siapa Kanzha."


"Kau benar Azka. Akhirnya aku mengenal siapa gadis yang sudah mengambil hatimu dan Halilintar." ucap Hanzero.


"Hanz, apa kau benar benar mengenalnya.?" kini tatapan Azka penuh tanda tanya besar yang sebenarnya sudah meliputi sejak ia mendengar kabar tentang kejadian yang menimpa suaminya dan tindakan Zha yang menyelamatkan Hanzero.


Hanz menepuk nepuk punggung telapak tangan Azka.


"Azka , apa kau akan tetap menyukai gadis itu jika kau tau siapa dia yang sebenarnya.?" tanya Hanz, di dalam hatinya sebenarnya Hanz percaya jika istrinya akan tetep menyukai Zha meski Zha tidak lah seperti gadis pada umumnya.


"Katakan saja Hanz, sebab untuk menyukai seseorang kurasa bukan memandang siapa dia dan dari mana asal usul nya. Karena aku yakin Kanzha memliki hati yang tulus dan penuh kasih sayang."

__ADS_1


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." ucap Hanz kembali menarik nafas dan mulai menceritakan siapa Zha.


Tidak seperti dugaan Hanz, Azka sampai menutup mulutnya yang hampir saja menjerit ketika mendengar penjelasan dari Hanz tentang Gadis kesayangannya itu.


"Hanz,..!" mata Azka melotot seketika merasa hampir tak percaya.


"Ya Azka, apa kau masih akan sanggup untuk menyukainya.?"


Azka yakin dengan hatinya lalu mengangguk begitu saja.


"Bagaimana pun juga ,Kanzha sudah masuk terlalu jauh dalam keluarga kita Hanz. Dan kita sudah banyak berhutang nyawa padanya."


"Ya,kau benar Azka. Jika kau siap menerimanya, mulai sekarang kau pun harus siap dengan segala resikonya. " ucap Hanz membenarkan perkataan istri nya jika mau tidak mau keluarga samudra banyak berhutang nyawa pada Zha.


Azka hanya mengangguk dan kemudian memeluk Hanzero.


Sementara di dalam kamar Halilintar Dokter Bram sudah selesai mengeluarkan peluru dari tubuh Zha dan menjahit luka itu kemudian melapisinya dengan perban.


"Tidak akan terjadi apa apa padanya, gadis ini hanya terlalu banyak mengeluarkan darah dan tenaga. Sebentar lagi dia akan siuman." ucap dokter Bram pada Halilintar yang masih berdiri cemas di sana.


Saat Dokter Bram hendak melangkah ia menoleh cepat dan terkejut ketika mendengar bunyi alarm dari alat deteksi yang ia bawa serta keruangan itu.


"Peringatan satu Tuan muda, ada partikel khusus yang tersembunyi di tubuh gadis ini." ucap Dokter Bram.


"Periksa!" seru Hall.


"Saya juga tidak mengerti kenapa alat deteksi saya bisa terlambat menyadari jika ada benda yang mencurigakan. Padahal gadis ini sudah berada di sini beberapa menit yang lalu." ucap dokter Bram menatap layar laptop nya dan memeriksa setiap inci tubuh Zha.


"Periksa bagian punggung." ucap Halilintar menghampiri dan memiringkan tubuh Zha hingga wajah cantik Zha kini berada didepan perutnya.


Dengan sedikit ragu Dokter Bram menyibak kaos yang di kena kan Zha dan mendekatkan alat deteksinya di punggung mulus Zha hingga alat itu menimbulkan suara dan sinar ketika menangkap benda mencurigakan di bagaian punggung Zha.


"Partikel Manipulasi Tuan Muda."


Halilintar tercengang mendengar ucapan Dokter Bram.


"Cepat periksa."

__ADS_1


"Baik,!" Dokter Bram segera mengulik laptop nya guna memeriksa partikel yang ada di tubuh Zha itu.


"Benar Tuan Muda, partikel Manipulasi ini sepertinya sengaja di tanam seseorang pada jaringan kulit gadis ini semenjak ia masih bayi. Partikel khusus yang sengaja di buat untuk menutupi sebuah tanda atau luka seperti Tatto atau sejenisnya." jelas Dokter Bram.


"Akibat peluru itu, sebuah aliran darah tidak sengaja mengenai beberapa titik di mana partikel itu di tanam." sambung dokter Bram.


"Jadi Maksud mu, bukan hanya satu partikel saja.?" Halilintar tercengang.


"Ya Tuan Muda, sayangnya saya menemukan partikel itu lebih dari satu."


Halilintar menghela nafas dan terlihat sedang berpikir keras. Sebenarnya ia sudah menebak sebelumnya dan bisa saja dia melakukan pemeriksaan sendiri. Namun ia ragu jika komputer miliknya mampu mendeteksi secara 100 persen, dan ia merasa jika hanya Zha lah yang mempunyai alat canggih dan kemampuan yang bisa mendeteksi secara rinci dan akurat mengenai hal hal seperti itu.


"Bisakah kau mengeluarkannya sekarang..?"


Dokter Bram terdiam lalu mengangguk.


"Saya akan mencobanya."


"Tidak Bram.!!" tiba tiba Hanzero sudah muncul di belakang mereka dan menghampiri.


"Kita tidak mempunyai wewenang untuk itu."


"Tapi Pa.., jika partikel itu berbahaya dan mengancam keselamatan nyawa Zha bagaimana.?" Halilintar kini menatap wajah ayahnya dan juga ibunya yang baru saja datang dan berdiri di samping Hanzero.


"Hall, kita tidak mempunyai kuasa atas diri Zha. Pasti seseorang itu mempunyai tujuan khusus hingga tega menanam partikel itu pada seorang bayi yang belum tau apa apa." ucap Hanz membuat Halilintar mengepal kan tangannya.


Ia berpikir siapa orang yang tega melakukan perbuatan keji itu, menyayat dan menanam benda seperti itu pada seorang bayi hanya untuk kepentingan pribadi.


"Yang perlu kita lakukan sekarang adalah, memeriksa dengan penuh dan teliti apa fungsi lain dari partikel itu selain hanya untuk menutupi sesuatu. Karena ku rasa bukan hanya itu tujuan mereka. Pasti ada sesuatu yang lebih hebat dari pada itu."


"Kau benar Tuan, Dan itu hanya bisa dilakukan oleh ahlinya bukan saya. Tapi saya mempunyai teman dekat seorang profesor ahli laboratorium yang bisa membantu kita." ucap dokter Bram pada Hanzero.


"Lakukan Bram, secepatnya aku ingin mendengar kabarnya." ucap Hanz.


"Baik Tuan, tapi kita harus bersabar karena mungkin akan memakan waktu yang tidak sebentar."


"Tidak masalah, waktu itu akan kita gunakan untuk mencoba memberitahu Zha tentang semua ini. Ku rasa dia sendiri belum menyadari nya. Dan kau Halilintar, ini akan menjadi tugas mu." ucap Hanz menoleh pada Putranya yang mengangguk mengerti maksud dari Ayahnya.

__ADS_1


______________________________


__ADS_2