
Batin Uncle Penrod setelah menutup rapat pintu kamar Aldora.
Drettt... Drettt... Drettt...
Ponsel Uncle Penrod berdering. Setelah melihat nama sipemanggil, raut wajah Uncle Penrod berubah menjadi tegang. Dengan segera ia berjalan ke kamarnya dan mengangkat panggilan itu.
***
Aldora tiba di istana pukul delapan malam. Karena dia harus pergi ke pesta bersama dengan Riccardo. Tidak mungkin juga kan Riccardo, seorang pangeran mahkota menjemput Aldora yang hanyalah berstatus asisten.
Aldora hanya berdiri di depan pintu utama istana, tanpa ada niat untuk masuk kedalam.
"Nona, ada urusan apa anda kemari?" Tanya seorang pelayan menghampiri Aldora.
"Saya asisten Pangeran Riccardo, saya sedang menunggu beliau untuk berangkat ke acara pesta," jawab Aldora sedikit menunjukkan senyumnya.
"Kalau begitu sebaiknya Nona langsung saja ke istana selatan untuk menemui Yang Mulia," ucap pelayan itu.
"Tidak, saya akan menunggu disini saja" ucap Aldora menolak.
"Baiklah," pelayan itu mengalah.
"Saya pergi dulu, Nona" pelayan itu menunduk dan pergi.
Nona? Di Jerman aku sudah biasa dipanggil Fräulein (Nona). Tapi di istana, aku belum terbiasa.
Aldora membatin. Dahulu semua orang memanggilnya Putri, Yang Mulia, Tuan Putri, Putri Mahkota. Hanya beberapa orang yang bisa memanggilnya dengan nama, yaitu Papa Jarrel, Mama Evoleth, Uncle Penrod, Sansone, dan Aunty Anindira. Itupun terkadang Uncle Penrod, Sansone, dan Aunty Anindira memanggilnya dengan formal.
Drttt...
Ponsel Aldora bergetar. Aldora melihat nomor tanpa nama. Tapi sekali lihat Aldora tahu bahwa itu adalah nomor Leon. Aldora mengangkatnya.
"Nona Alvina, anda ada dimana?" Bukannya menyapa Leon langsung bertanya.
"Di depan pintu utama istana," jawab Aldora.
"Baiklah," butuh beberapa waktu sebelum Leon membalas.
__ADS_1
"Hm," Aldora langsung mematikan sambungan telepon sebelum Leon yang melakukannya.
"Wanita ini," Leon bergumam lirih dengan perasaan sedikit kesal.
"Yang Mulia, Nona Alvina saat ini berada di depan pintu utama istana," ucap Leon memberitahukan kepada Riccardo yang sedang duduk di sofa dan langsung membuka ponsel canggihnya untuk mengamati Aldora lewat CCTV.
Leon merasa agak jengkel setelah berbicara dengan Aldora. Karena dia merasa Aldora sangat lancang karena berani menutup telepon tanpa berpamitan.
Jika bukan karena Anda, saya tidak mungkin menelepon Nona Alvina. Yang Mulia kenapa hati anda memilih wanita seperti itu? Ada banyak wanita di negara ini yang begitu memuja anda dan siap menjadi kandidat calon istri anda. Tapi kenapa anda malah memilih wanita itu? Nona Alvina memang baik dan cantik. Tapi dia hanyalah wanita biasa yang tidak tahu aturan bangsawan. Bisa bisa nanti dia malah mempermalukan anda, Yang Mulia.
ucap Leon dalam hati.
"Leon, ayo kita berangkat" ucap Riccardo seraya melangkah keluar dari kamarnya diikuti Leon yang dengan setia mengikuti.
***
Aldora menyandarkan tubuhnya di dinding. Sudah lebih dari sepuluh menit Aldora berdiri membuat kepalanya sedikit pusing dan tubuhnya menjadi lemas.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan Aldora membuat Aldora langsung berdiri dengan posisi sigap. Tidak mau menunjukkan bahwa saat ini dia sedang merasa lemas.
"Silahkan masuk Nona," Leon membuka pintu mobil penumpang.
"Malam, Yang Mulia" ucap Aldora.
"Malam, Nona Alvina" balas Riccardo.
Setelah Leon kembali masuk ke dalam mobil, mobil berjalan meninggalkan istana.
Sepanjang perjalanan Aldora hanya diam dengan memandang keluar jendela. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang walaupun sudah dia beri make up, namun tetap saja terlihat pucat. Sekaligus untuk mengobati rindunya kepada tanah kelahirannya ini.
Sedangkan Riccardo terlihat sibuk dengan ponselnya. Namun terkadang dia mencuri pandang kepada gadis di sampingnya ini.
Kali ini Aldora memakai dress polos dengan model pundak off shoulder dipadu dengan bagian lengan flare yang agak melebar.
Aldora sengaja memakai dress berlengan untuk membunyikan lukanya yang masih dibalut dengan perban.
__ADS_1
Sedangkan Riccardo memakai setelan jas pria. Penampilannya tampak formal namun menawan bagi siapapun yang melihatnya terkecuali Aldora. Ya, sejak pemberontakan itu Aldora terlalu cuek untuk melihat sekitar. Sehingga ia tidak pernah merasa terpana oleh siapapun disekitarnya terkecuali Uncle Penrod yang sudah dia anggap sebagai keluarga satu satunya di dunia ini.
Mobil berhenti di depan pintu masuk sebuah rumah yang tampak seperti kastil. Sangat indah! Dan tentunya tidak sebanding dengan istana.
Aldora berjalan di belakang Riccardo namun di depan Leon. Mereka berjalan diatas karpet merah. Ruangan rumah telah disekitar sedemikian rupa sehingga tampak sangat cantik. Ada meja panjang yang diatasnya terdapat berbagai makanan ringan.
Riccardo berjalan melangkah menuju tuan rumah.
"Selamat malam Duke Sansone, selamat atas kesembuhan Mama anda," ucap Riccardo.
Aldora memandang pria yang disebut Duke Sansone tadi. Nama Sansone itu sangat akrab ditelinganya.
"Selamat malam Yang Mulia, terima kasih atas perhatian anda," ucap Sansone memberikan salam penghormatan.
Mata Aldora memandang Sansone lekat lekat. Berusaha mencari jawaban dari wajahnya apakah dia Sansone yang sama yang dia kenal belasan tahun lalu?
"Duke Sansone, Bolehkah saya meminta waktu untuk berbicara dengan anda setelah acara ini?" Tanya Riccardo dengan senyum menghiasi wajahnya yang tampan.
"Sebuah kehormatan bagi saya, Yang Mulia," ucap Sansone dengan membalas senyum Riccardo.
"Duke, saya akan berbicara dengan anda lagi nanti. Sampai jumpa," ucap Riccardo.
Setelah Sansone mengangguk mereka bertiga langsung meninggalkan Sansone.
Riccardo tampak berbicara dengan berbagai bangsawan. Membicarakan tentang pekerjaan, basa basi, atau perjodohan. Membuat Aldora merasa bosan sekaligus repot.
Para bangsawan itu memaksanya membuat jadwal setelah menerima penolakan dari Riccardo. Membuat Aldora karena kesal berbicara ketus dan ada nada jengkel kepada mereka.
"Yang Mulia sudah menolak. Jadi jangan memaksa dan merepotkan saya," ucap Aldora dengan ketus kepada bangsawan yang baginya hanyalah seorang penjilat.
Berdiri memihak orang yang salah hanya untuk hidup berlimpah harta. Cih, memalukan!
"Hey, kau hanyalah seorang gadis biasa. Asisten rendahan. Sedangkan aku, aku adalah seorang bangsawan. Jangan berlagak sok hebat," ucap bangsawan itu.
"Sudah tahu saya rendahan, kenapa malah memohon kepada asisten rendahan ini? Dasar tidak berguna! Status bangsawan tapi sifat rendahan. Tidak pantas sama sekali. Para rakyat miskin lebih terhormat daripada bangsawan rendahan seperti anda," ucap Aldora menatap dengan tatapan menghina. kepada bangsawan yang sudah terlebih dahulu menghinanya tadi.
Setelah itu Aldora dan memisahkan diri dari Riccardo juga Leon. ia pergi tanpa diperhatikan oleh Riccardo yang sedang sibuk berbicara dengan Leon.
__ADS_1
"Aldora," suara seseorang yang belum ada satu jam didengarnya kembali ia dengar.
"Eh?" Aldora sedikit mengernyitkan dahinya tak kalah menatap sosok pria yang berdiri tepat di depannya.