Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Semakin Rumit.


__ADS_3

"Apa..?? Itu tidak masuk akal, Aku tidak mempunyai Tatto Jangkar seperti petunjuk Ardogama yang ia katakan. Bagaimana mungkin? Kau hanya menebak tanpa alasan yang jelas." sahut Zha.


"Itu yang perlu kita pecahkan, ku rasa ada kesalahan dalam keterangan Tatto jangkar itu. Sekarang berpikirlah yang jernih Zha, hanya orang yang bernama Ardogama itu yang tau identitas asli mu. Lalu untuk apa dia mengarahkan mu kepada klan jangkar perak jika tidak ada tujuan khusus.? Apa dia sedang menjebakmu, atau bagaimana..?? Sepertinya dia mencurigaimu sebagai keturunan terakhir mereka."


"Gak nyambung Hal..!!"


"Zha.. Gustavo dan Ardogama pasti ada kaitan besar. Gustavo tidak ada urusan denganmu, lalu untuk apa mencari mu.? Jika hanya persaingan dunia Mafia kalian tidak mungkin dia sampai mengirim begitu banyak Anak buahnya hanya untuk menyerang markas mu."


"Kau tidak mendengar pengakuan dari Sarah itu.?"


"Selain dendam pribadinya, Sarah sengaja dikirim hanya di manfaat Gustavo untuk menemukan keberadaanmu. Percaya lah Zha, aku pandai dalam menebak. Filing ku selalu benar. Nyawamu terancam di luar sana." ucap Halilintar berusaha menyakinkan Zha.


"Persetan dengan keturunan Jangkar perak, yang jelas Gustavo sendiri yang sudah membuka jalan perangnya dengan Klan ku." ucap Zha.


"Ya, dan kita harus menemukannya sebelum dia menemukanmu lebih dulu. Dan sebelum itu lebih baik kita menemui Ardogama untuk mengorek keterangan darinya. Dia satu satunya kunci dari semua Kerumitan ini." jelas Halilintar.


Zha hanya menghela nafas berat, sementara Halilintar sendiri membuka laptop milik Zha dan serius mengulik tombol keyboard di sana.


"Apa yang kau lakukan dengan Laptopku.?"


"Tunggu sebentar, akan ku tunjukkan sesuatu padamu. Kau pikir hanya kau yang lihai dalam meretas sistem software. Aku pun bisa Zha.." sahut Halilintar masih meneruskan pencariannya.


Zha lagi lagi menghela nafas , lalu menarik sebuah kursi untuk duduk di samping Halilintar . Setelah beberapa saat lamanya Hall tersenyum.


"Lihat lah, apa yang ingin kutunjukkan padamu.!!" ucap Halilintar.


Zha meneliti dan terlihat begitu tercengang.


Kisah Jangkar perak yang sesungguhnya tertera rapih di sana.


Klan ini berasal dari Rusia, Sepasang suami istri  Mafia dengan sang istri keturunan warga Palestina. Sang suami bernama Glendale dan sang istri bernama Azzahra , Mereka hanya mempunyai satu keturunan seorang putri yang diberi nama Aiesh Glendale yang sering dipanggil Aisyah oleh ibunya. Menurut info yang didapat, Seluruh kerabat dari Klan Jangkar perak berebut kekayaan keluarga Glendale setelah pasangan suami istri ketua mafia  Jangkar perak itu mati terbunuh. Kekayaan mereka diwariskan pada Putri semata wayangnya Aisyah yang saat itu hidup bersama keluarga besarnya. Aisyah lalu menikah dengan seorang sopir pribadinya yang bernama Sean Abraham yang pada akhirnya diketahui jika Sean adalah seorang Agen FBI.


Terang saja, pernikahan antara putri seorang mafia dan FBI tidak mungkin di restui karena itu dianggap akan mengancam kelangsungan dan keselamatan klan mereka.


Kerabat Aisyah melakukan segala cara untuk memisahkan mereka. Tidak hanya itu alasan mereka , namun mereka juga mengincar harta kekayaan keluarga Glendale yang pastinya sudah berada di tangan Aiesh dan akan turun pada keturunan terakhir jangkar perak yang pastinya akan disematkan pada anak dari Aiesh. Dan pada saat itu Aiesh telah mengandung.


Bahkan Aiesh sempat mengalami keguguran untuk kehamilan pertamanya yang diduga sengaja diracuni oleh kerabatnya sendiri yang tidak menginginkan Aiesh memiliki keturunan.


Sean yang mengetahui itu akhirnya memilih membawa pergi istrinya dari dunia mafia mereka untuk melindungi sang istri dan tentunya garis keturunan terakhir istrinya.


Hingga detik ini teka teki ini belum bisa terungkap. Tidak ada satupun yang bisa menemukan dimana keberadaan Aiesh dan Sean, juga siapa keturunan terakhir mereka yang membawa seluruh harta kekayaan keluarga Glendale. Sementara Gustavo sendiri hanya penerus yang mengambil alih kekuasaan klan Jangkar perak milik Glendale dan terus berusaha mencari keturunan terakhir Jangkar perak.


"Begitu banyak sekali info yang berbeda dan membingungkan.. Mana yang harus dipercaya.??" keluh Zha mengingat begitu banyaknya info simpang siur mengenai Jangkar Perak.


"Zha, lihat lah. Apa kau tidak bisa mengenali nya.?" Halilintar menunjuk sebuah foto yang ada di layar Laptop.


Zha menatap nya dengan seksama lalu beranjak menarik laci mili nya dan mengeluarkan sebuah foto dari sana.


"Ibu.!!!" ucap Zha terperangah ketika menyadari jika foto yang berada di sana sama persis dengan foto yang ia genggam.

__ADS_1


"Zha.. Arti nya tebakan ku..!!"


"Tidak mungkin. Ini hanya kebetulan mirip."


"Tidak ada salahnya kita mencari tau lebih lanjut Zha..!"


"Hall.. Ibu ku memang bernama Aisyah. Ya Aisyah tapi bukan Aiesh Glendale. Ayah ku .. Tidak nama ayah ku bukan Sean . Tapi..!"


"Kau tidak bisa mengingat nama ayahmu sendiri? Bahkan kau masih bisa mengingat wajahnya.?"


"Ya, aku mengingat wajahnya. Aku mengingatnya dengan baik. Ah....!!! Kenapa aku tidak bisa mengetahui nama ayah ku sendiri...!! Aku tidak pernah mendengar ibuku memanggil nama ayahku selain hanya sebutan Ayah saja." Zha berkeluh.


"Sepertinya, seseorang sengaja mencuci memorimu beberapa tahun sebelum ayahmu meninggal!" terka Halilintar.


"Entah lah Hall, tapi seingat ku ibu mengatakan jika ia dari keturunan orang biasa sedangkan ayah ku lah yang dari keturunan keluarga kaya raya. Sebab itu pernikahan mereka tidak direstui dan mereka memilih pergi dari keluarganya untuk mempertahankan pernikahan mereka.." Zha berusaha terus mengingat.


"Lalu penyakit ibumu? Apa kau tidak curiga.? Setahuku di dunia ini ilmu kedokteran semakin canggih. Mana mungkin ada penyakit langka yang tidak bisa terpecahkan oleh ahlinya.!" kembali Hall seperti ingin menjelaskan sesuatu.


"Lalu kecelakaan yang menimpa ayahmu?Jika benar itu karena sabotase kau patut mencurigainya." sambung Halilintar, Zha semakin terdiam mencerna setiap ucapan Halilintar.


"Kita pergi sekarang .!!!" tiba tiba Zha beranjak dan terlihat berkemas.


Halilintar hanya bisa mengikuti langkah kaki Zha yang terburu keluar menghampiri mobil nya.


Kini Zha yang mengemudi membawa mobilnya melaju secepat kilat menuju sebuah gedung. Halilintar yang duduk tenang di sebelah Zha sudah bisa menebak ke arah mana Zha melajukan mobilnya.


Sejenak langkah kaki mereka terhenti ketika menangkap hal yang tidak semestinya.


Suasana di dalam terlihat berantakan dengan pecahan kaca bertabur di mana mana. Bercak darah terlihat tercecer di lantai.


"Sial...!! Mereka mendahului kita.!!" Zha terlihat Frustasi menjambak rambutnya.


Halilintar pun sempat ikut terkejut.


"Nona..!!" suara dari balik reruntuhan lemari berasal dari seorang pria yang mengenaskan.


Mereka segera menghampiri.


"Apa yang terjadi..? Di mana ketua mu.??" tanya Zha memegang kedua bahu pria tersebut.


"Tuan.. tu.. tuan..!!" suara pria itu hampir tak terdengar.


"Katakan.. Dimana Ardogama..???"


"Zha..!!" Hall berusaha menenangkan Zha.


"Nona.., selamatkan Tuan. Gus.. Gustavo_..." Pria itu menghela nafas terakhirnya.


"Brengsek...!!! Gustavo mendahului kita!! " Zha berteriak geram, mencengkeram bahu pria itu dengan kuat.

__ADS_1


"Ini perbuatan Gustavo? Zha, kita harus menyelamatkan Ardogama secepatnya sebelum Gustavo membunuhnya. Dia kunci terkuatmu untuk menguak teka teki ini."


"Kau benar Hall, ayo..!" mereka bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali melaju dengan mobil mereka.


"Agr...!!" Zha memukul setir mobilnya.


"Kita akan mencari kemana.?? Sarang Gustavo pun bahkan aku tidak mengetahui nya.??" ucap Zha.


Sementara Halilintar seperti sedang berpikir keras.


Drettt..... Dreeetttt...!!!


Getaran panjang Ponsel milik Zha yang segera ia raih itu.


"Ardogama menghubungi ku.!"


"Tunggu Zha," Halilintar langsung mencegah tangan Zha yang hampir menarik tombol hijaunya.


"Matikan JPS mu, dan jangan mengangkatnya dulu sebelum kita jauh dari sini. Kita tidak tau pasti siapa yang menghubungi mu. Kecoh dulu mereka sebelum mereka bisa menyadap lokasi kita."


Zha menoleh dan menatap Halilintar, saat ini dia merasa beruntung ada Halilintar di sampingnya yang selalu mengingat kan kecerobohannya.


"Kau benar !"


Lama setelah mereka melaju, dan merasa sudah aman Zha kembali melirik Ponselnya yang masih terus berdering itu.


Dan mengangkat panggilan itu.


"Wanita iblis, pergi lah dari situ! Kau tidak perlu mencari Ku. Karena aku baik baik saja tidak seperti yang kau khawatirkan." ucapan Ardogama yang sempat membuat Zha kaget, sepertinya Ardogama bisa menebak jalan pikiran Zha dan tujuannya saat ini.


"Heh kau dengar aku! Berikan Ponsel mu pada kekasih mu ,aku ingin berbicara dengannya.!!" kembali suara Ardogama terdengar sampai di telinga Halilintar.


"Hallo.!!" Hall segera menyambar Ponsel itu.


"Dengar baik baik Tuan muda! Bawa pulang  kekasihmu, nyawanya terancam! Jangan biarkan dia pergi kemana pun dulu. Kau harus percaya padaku.!! Kau mengerti.!! Aku tidak punya banyak waktu. Cepat bawa dia pulang ke rumahmu. Dia akan aman di sana!"


"Tapi..!!"


"Cepat lah! Jangan sampai mereka menemukan Kanzha. Kau harus melindunginya. Ganti mobil kalian terlebih dahulu. Ayo cepat, sebelum terlambat dan kau akan menyesal." sebelum sempat menjawab Panggilan sudah berakhir.


"Ayo Zha..!!" Hall segera membuka pintu dan menarik tangan Zha.


"Kau mempercayainya Hall.??"


"Ya, aku harus mempercayainya untuk kali ini." Halilintar membawa Zha berlari dan terus berlari menelusuri sebuah komplek dan berhenti di pinggir jalan.


Setelah memastikan keadaan masih aman, Halilintar Menyetop sebuah taksi di sana.


______________________

__ADS_1


__ADS_2