Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Rasa sesal Halilintar.


__ADS_3

________________


Zha yang masih melesatkan mobil itu kini memutar haluan, ia menuju Apartment miliknya dan segera meloncat turun ketika ia sudah berada di depan Apartment miliknya, membuat Elang sempat terkejut melihat perilaku Zha yang tidak seperti biasanya itu.


"Nona, apa yang terjadi.?"


"Mafia Vargas membawa Tuan Hanzero, kita harus segera mendapatkannya sebelum terlambat." sahut Zha terus melangkah menuju kamarnya di susul Elang.


Zha cepat membuka Laptop andalannya untuk kembali mengandalkan kemampuan ITnya meretas sistem.


"Apa kau punya pikiran lain.?" tanya Zha menoleh ke arah Elang.


"Ya. Edoardo Vargas tidak mungkin mau terlibat langsung. Jadi ada baiknya kau mencurigai keberadaan Alex sekarang." jawab Elang mendapatkan senyuman puas dari bibir Zha.


"Otak mu mendadak encer ketika dalam keadaan mendesak." ucap Zha langsung mengulik tombol keyboardnya.


Hanya butuh sekitar lima menit Zha sudah menghentikan aktivitas jarinya.


"Aku menemukannya. Ayo!" ucap Zha kembali melangkah keluar sesaat setelah menarik cip kecil dari USB laptopnya.


"Aku akan menyiapkan anak buah ku." ucap Elang di belakang Zha setelah mereka sudah berada di luar.


Zha mengangguk,


"Ikuti aku dari jauh, dan jangan melakukan tindakan apapun sebelum aku memberi aba aba."


"Kenapa kita tidak menyerang mereka saja, kita mempunyai anak buah yang lebih baik dan lebih banyak dari mereka.?"


"Masalahnya nyawa Ayah Halilintar saat ini akan menjadi taruhannya. Dan aku tidak mau terjadi apapun padanya. Percayalah, menusuk dari dalam itu lebih gampang dari pada harus menyerang dari luar." sahut Zha membuka pintu mobil nya.


"Kau yakin.?"


Zha mengangguk kembali, tangannya sempat menepuk bahu Elang untuk meyakinkan pria yang selalu setia menemaninya itu. Dan Elang hanya bisa menghela nafas menatap Mobil Zha yang sudah melesat sempurna.


*********


Sementara di kediaman Victor terdengar perdebatan antara dua sahabat itu.


"Kau yakin tidak mengenal nya.?"


Halilintar masih saja terdiam dari lontaran pertanyaan Victor.


"Hall, anak buah ku pernah melihat mu bersamanya. Apa kau masih ingin menutupinya dari ku.?" kembali Victor mendesak Halilintar.


"Ya, aku mengaku. Tapi jika aku keberatan untuk memberitahumu, apa kau akan memaksaku.?"


"Hall, kau melindungi musuh pemerintah. Apa kau sadar jika dia adalah manusia berbahaya.?"


"Aku akan mengambil apapun resikonya." jawab Halilintar dengan masih tenang.


"Kau jatuh cinta padanya.?" seketika Halilintar menatap tajam ke arah Victor yang bertanya padanya.

__ADS_1


" Ini bukan hanya sekedar Masalah hati, gadis itu pernah menyelamatkan nyawa ku berkali kali dan pernah menyelamatkan ibu ku. Jadi aku akan melakukan apapun untuk melindunginya!" jawab Hall tegas.


"Hall."


"Vic.. Selama ini aku tidak pernah meminta bantuanmu, dan kali ini aku mohon padamu , bantu aku. Aku hanya ingin menariknya dari dunianya untuk berada di sisi ku selamanya." ucap Halilintar membuat Victor kembali menghela nafas.


"Tapi bagaimana jika Tuan Hanzero sudah terlanjur mengetahui siapa dia.?"


"Apa maksud mu Vic..?" Hall terbelalak.


"Maafkan aku. Ku rasa saat ini Gadismu itu sudah di tendang Ayah mu dari Rumah utama."


"Vic.. Jadi kau..!! Kau sudah memberitahu Ayah ku.?" Halilintar reflek mencengkeram kerah Victor dengan kuat seraya menatapnya tajam.


"Hall, aku.. Aku melakukan ini demi kebaikan mu.!"


"Brengsekk Kau Vic..!!!" Halilintar begitu geram dan mendaratkan satu pukulan ke perut Victor hingga pria itu terjatuh.


"Hall, dengarkan aku dulu.!!" teriak Victor berusaha bangun untuk mengejar Halilintar yang sudah keluar dan melajukan mobilnya dengan begitu cepat.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang di pikirkan Halilintar selain Zha, ia sangat menyesal meninggalkan Zha sendirian di rumah utama.


"Zha,.. maafkan aku.!" gumam Halilintar terus menginjak pedal gas nya dengan kecepatan penuh.


Lagi lagi Halilintar di buat tersentak ketika sampai di depan halaman rumah utama, ia melihat para pengawal nya sudah berada di depan rumah dengan persiapan yang begitu ketat.


"Mam,.!!" Halilintar menghampiri ibu nya yang ada di depan pintu.


"Azze..Kenapa nomor mu tidak bisa di hubungi.?" tanya Azkayra dengan nada panik.


"Papa mu dan Kanzha tidak ada di mana mana. Mereka sudah mencari nya dan hanya menemukan mobil Papa di tepi jalan dengan keadaan kaca mobil yang hancur." ucap Azkayra dengan isakan dan tangisan yang pecah di dada putra nya.


"Apa Mam.??" bagai di sambar petir Halilintar terkejut menarik wajah Azkayra dan mengguncang bahunya.


"Azze , Temukan Papamu. Selamatkan Papa mu." Isak Azkayra semakin tak karuan.


Halilintar meremas rambu nya.


"Arg...!!! Zha..!! Apa ini perbuatan nya. ?? Tidak mungkin ,Zha tidak mungkin melakukannya. Ini pasti ada yang salah." Gumam Halilintar merogoh Ponsel nya dan segera menghubungi Nomor Zha. Harapan Halilintar sia-sia ketika berulang kali nomor yang ditujunya tidak aktif.


Halilintar kemudian beralih untuk memanggil Elang. Ia merasa beruntung sempat menyimpan nomor orang kepercayaan Zha itu dan semakin merasa beruntung ketika Elang langsung mengangkat panggilannya.


"Elang !!"


"Tuan muda..! Nona tengah mengejar rombongan Mafia Vargas yang membawa Tuan Hanzero. Dan kami sedang menyusul Nona, Apa Tuan Muda ingin ikut dengan kami .?"


Mendengar itu Halilintar segera menjawab.


"Ya, kirim lokasi kalian, aku akan segera kesana." Halilintar sedikit menyesal karena hampir berprasangka buruk pada Zha. Dan kini menoleh pada ibunya yang masih histeris.


"Mam, tenanglah. Aku akan menjemput Papa dan membawa nya pulang. Kau tidak perlu cemas.!" ucap Halilintar memeluk ibu nya.

__ADS_1


"Mama ikut.!"


"Tidak Mam, kau harus tetap di rumah."


"Azze.!!" Azkayra mendekap erat Putra nya dengan air mata yang bercucuran.


"Bawa mereka semua." sambung Azkayra menyuruh Halilintar untuk membawa serta seluruh pengawal dan anak buah nya.


"Tidak perlu Mam, sudah ada rombongan terbaik yang akan membantu Az. Mereka harus tetap di sini untuk menjaga mu." Halilintar menoleh pada para pengawal nya.


"Jaga Nyonya dengan nyawa kalian." ucap Halilintar yang segera di jawab serentak oleh mereka.


Halilintar kini sudah memasuki mobil nya kembali dan melaju cepat ke arah lokasi yang sudah di kirim Elang padanya.


************


Di sebuah ruangan dengan penerangan yang sedikit redup itu terdengar suara batuk berulang kali dari Hanzero yang masih tersungkur di lantai, dengan tangan dan kaki yang terikat kuat.


Hanzero merasakan pusing di kepalanya setelah tersadar dari pingsannya.


Matanya menatap sekeliling, ia bisa melihat beberapa pria tegap berpakaian hitam itu tengah berdiri mengamatinya.


Sejenak Hanzero mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan karena benda tumpul yang menghantam keras tengkuknya sesaat setelah ia mencoba memberi perlawanan pada serombongan pria yang menghadang perjalanannya dan memecah kaca mobil nya ,serta memaksanya keluar.


"Siapa kalian, kenapa membawa ku kemari.? Apa kita pernah ada masalah.?" Hanzero mencoba bertanya pada seorang pria yang menghampiri nya sambil mengusap darah yang mengalir dari ujung bibirnya dengan lengan bajunya.


"Selamat datang di hari kematian mu Tuan Hanzero yang terhormat.!" ucap pria tersebut.


"Apa kita saling mengenal.?" tanya Hanzero lagi.


"Kau mungkin tidak mengenal ku. Tapi aku sangat mengenal mu Tuan. Kau yang sudah membunuh Paman ku dan istri mu sudah membunuh Sepupu ku.! Apa kau masih ingat atau Apa perlu aku mengingatkanmu.?...!!! " ucap pria itu, seketika otak Hanzero berputar dan berhenti mendadak ketika mengingat sesuatu.


"Kerabat Gavin. Kau..!!!"


"Benar Tuan.!"


"Kami tidak bersalah. Kami melakukannya karena mereka sudah melampaui batas.!!" ralat Hanzero mencoba memberi penjelasan.


"Darah harus di bayar dengan darah Tuan. Nyawa harus di balas dengan nyawa. Bersiap lah untuk pergi ke neraka dan melihat kehancuran keluarga Samudra dari sana.!" Ucap pria itu terkekeh dan menodongkan pistolnya tepat kearah kepala Hanzero.


Hanzero tidak bisa lagi berkutik ketika melirik tangan pria itu sudah siap menarik pelatuknya, ia memejamkan matanya.


"Maafkan aku Azka, aku tidak bisa lagi menjaga mu. Hall., jadi lah anak yang baik." bisiknya.


Dorr...!!!"


Suara tembakan di barengi suara teriakan kesakitan dari mulut Pria itu yang langsung menjatuhkan pistolnya bersamaan dengan rubuhnya beberapa pria di belakangannya.


Hanzero yang merasa nyawanya sudah keluar dari raganya tersentak dan menoleh cepat.


Baik Pria itu maupun Hanzero sudah menoleh ke arah yang sama, Seorang gadis sudah berdiri tidak jauh dari samping Hanzero dengan meniup ujung pistolnya yang masih mengepul.

__ADS_1


"Gadis pecinta Asap.!!" ucap keras Pria itu sambil menahan lengan kanannya yang sudah tertembus peluru milik Zha.


_______________________________


__ADS_2