Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
TERLUKA


__ADS_3

Para senjata seperti pedang, busur dan anak panah, tombak, dan lainnya sudah seperti sahabat bagi Aldora. Sejak kecil dia sudah mulai belajar berpedang. Bahkan mainan pertamanya adalah sebuah pedang.


Lagi pula dia diajarkan semua ilmu itu dari pelatih terbaik di Gloretha, Uncle Penrod. Dan siswa terbaik dari lulusan kemiliteran Amerika serikat yang terkenal sebagai negara no 1 dalam bidang militer, Papa Jarrel.


"Katakan keinginan terakhir kalian," ucap Aldora setelah berhasil melumpuhkan tujuh orang itu.


"Maaf, maafkan kami. Kami hanya menuruti perintah Raja Heren. Kami-"


"Raja? Heren? Dia bukan Raja ingatlah bahwa Raja negara ini bernama Jarrel bukan Heren," ucap Aldora memotong perkataan pria itu.


"Ma-maksudku Pangeran Heren menyuruh kami untuk mengawasi mereka dan akan membunuh mereka semua jika sudah ada perintah," sambungnya lagi.


"Katakan apa keinginan terkahir kalian atau aku akan langsung membunuh kalian," ucap Aldora.


"To...long jangan bunuh kami. Kami hanya disuruh. Kami masih memiliki keluarga dirumah, ampuni kami" mereka malah memohon.


"Ampuni? Tidak akan, katakan apa keinginan kalian aku akan menghitung sampai tiga. Jika aku tidak mendengar keinginan apapun maka aku akan langsung membunuh," ucap Aldora.


"Satu-"


"Bantu keuangan keluargaku," mereka berenam berteriak bersama sama menyatakan keinginan yang sama pula.


"Akan aku turuti," ucap Aldora.


"Katakan keinginan terakhirmu," ucap Aldora kepada pemimpin penyusup.


"Siapa kau?" Dengan tatapan mata tajam pria itu bertanya kepada Aldora.


"Aku... Aldora Gloretha. Pewaris tahta Gloretha. Putri Raja Jarrel dan Permaisuri Evoleth," ucap Aldora dengan tatapan mematikannya.


Tidak sampai 5 detik setelah dia menyelesaikan ucapannya. Pedang Aldora langsung bergerak melukai titik sensitif ketujuh orang itu membuat mereka berteriak dan langsung menghembuskan nafas terakhir.

__ADS_1


Aldora menadapat pengajaran dan pengalaman bahwa, sekali seseorang memberontak maka dia akan terus menjadi pemberontak. Seorang pemberontak tidak dapat dipercayai apapun perkataannya.


Teknik yang dilakukan oleh Aldora saat ini adalah teknik yang pernah dilakukan oleh Ratu Delaney, Grandma Raja Yardan. Yaitu, untuk mencari penghianat kita harus berpura pura menjadi teman penghianat itu.


Aldora pergi dari tempat kumuh lewat jalan yang berbeda dari para rakyat. Dia menggunakan jalan rahasia menuju hutan. Sesampainya disana, Aldora langsung masuk kerumahnya dan mencuci pedangnya yang terdapat noda darah. Setelah itu dia berganti pakaian untuk merubah penampilannya.


Dia juga membersihkan darah dari lengan kirinya yang terluka terkena pedang dari salah satu orang tadi saat bertarung.


Ya, inilah Aldora. Hanya Uncle Penrod yang mengetahui sisi sadisnya. Aldora memiliki beberapa kepribadian. Pertama kepribadian peduli terhadap orang yang mengalami kesusahan dan tertindas. Kedua, bersikap tenang seolah tidak memperdulikan sekitar. Ketiga, sikap sadisnya. Baginya seorang pemberontak harus disingkirkan sebelum pemberontak itu yang malah menyingkirkan dirinya.


Aldora mempelajari bahwa didalam medan perang kita harus membunuh dari pada dibunuh.


Dengan langkah anggunnya Aldora berjalan kembali menuju tempat dimana para pendukung Ayahnya berada sekarang.


"Halo, apa kabar?!" Tanya Aldora seakan akan tidak tahu apa apa.


"Ada apa?" Tanya Aldora tampak terkejut melihat wajah tegang mereka semua.


"Apa kalian baik baik saja?" Tanya Aldora.


Mereka semua mengangguk.


"Saya rasa tempat ini tidak aman untuk kalian. Saya punya tempat rahasia, dan tempat itu bisa kalian jadikan sebagai tempat bersembunyi selama beberapa saat sampai Pangeran Heren itu menyerah untuk melukai kalian," ucap Aldora memberikan ide dengan berpura pura cemas.


"Tapi-"


"Nyonya pikirkanlah anak anak. Jika Pangeran Heren menemukan kalian, maka saya yakin dia tidak akan segan untuk membunuh kalian semua," ucap Aldora optimis.


Mereka tampak berpikir dan berdiskusi singkat. Lalu mereka semua mengangguk bersama sama.


"Ikuti aku," ucap Aldora membawa mereka masuk ke dalam hutan dengan melalui jalan tersembunyi.

__ADS_1


"Saya sudah membeli semua peralatan untuk membuat rumah sederhana dari kayu. Untuk malam ini kalian dapat tidur ditenda. Anggap ini sebagai kemping. Dan besok kalian sudah bisa membuat rumah kalian masing masing. Untuk makan malam hari ini sudah saya siapkan. Ada juga beras dan peralatan rumah tangga lainnya untuk kehidupan kalian. Di sebelah barat hutan ini ada sebuah sungai. Kalian dapat memancing ikan disana. Dan kalian juga dapat membersihkan danau buatan ini dan meletakkan ikan didalamnya. Dan untuk rumah kayu yang ada disana. Itu adalah rumah saya. Saya harap kalian tidak masuk kedalam tanpa izin dari saya," ucap Aldora menerangkan segala sesuatu.


Mereka semua mengangguk mengerti.


Setelah itu Aldora pergi dari sana kembali ke apartemennya.


Aldora mengganti pakaian lengan panjang yang sengaja ia gunakan untuk menutupi lukanya dengan pakaian bermodel Sleeveless (Tanpa lengan)


Kini terlihatlah sebuah kain yang terikat dilengan kirinya tampak berubah warna menjadi warna merah darah. Tadi Aldora tidak mengobati lukanya karena dirumah kayu semua obat obatan disana sudah kadaluarsa. Dan dia segera pulang ke apartemen setelah memberikan pengumuman untuk mengobati lukanya.


Aldora sedikit meringis saat mengobati lukanya. Tapi walaupun begitu dia tidak menangis. Karena ini bukanlah pengalaman pertamanya terluka terkena pedang.


Bibir Aldora tampak pucat karena banyak darah yang keluar.


Setelah mengobati lukanya dengan benar, Aldora memilih beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya yang habis terkuras karena pertarungan tadi ditambah darahnya yang terlalu banyak keluar membuat energinya benar benar habis.


***


Aldora memegang kepalanya yang terasa pusing. Bahkan tubuhnya sangat lemas.


Untunglah hari ini adalah hari Sabtu, jadi Aldora dapat beristirahat sampai semua energinya pulih.


Di Negara Gloretha, hari kerja adalah hari Senin sampai dengan Jumat. Sedangkan Sabtu dan Minggu adalah hari libur atau akhir pekan.


Aldora memaksakan tubuhnya berjalan ke kamar mandi setelah mengambil baju ganti. Bagaimanapun dia sudah terbiasa untuk mandi dua kali sehari.


Setelah selesai mandi dan berpakaian Aldora mengganti perban lukanya agar tidak terjadi infeksi.


Tiba tiba ponsel Aldora berbunyi membuat Aldora harus menghentikan kegiatannya yang baru selesai melepaskan perban.


Berjalan dengan perlahan menuju meja nakas untuk mengambil ponselnya. Tertera nomor telepon tanpa nama dilayar ponselnya. Karena nomor itu tidak terdaftar dikontaknya, Aldora mengabaikannya. Membiarkan telepon itu berbunyi sampai berhenti sendiri.

__ADS_1


Aldora kembali duduk di sofa kecil yang ada di kamarnya. Mulai mengambil perban baru untuk lukanya. Aldora baru saja menggulung setengah perban ketika terdengar suara ponselnya yang bernada khusus menandakan bahwa yang memanggil adalah Uncle Penrod.


__ADS_2