
Namun Aldora yang memiliki tingkat kewaspadaan tinggi jauh diatas rata rata orang biasa berhasil menghindari gerakan tangan Riccardo.
Pada saat itu pula, ponsel dari tas Aldora berbunyi menandakan panggilan masuk. Aldora mengambil ponselnya dan melihat nama sipemanggil.
Ternyata Uncle Penrod! Aldora panik saat Unclenya itu menelpon. Kepanikannya bertambah tak kala melihat jam yang sudah menunjukkan waktu pukul 10 lewat beberapa detik.
"Ya, Uncle" Aldora menjauh dari Riccardo dan menerima panggilan Uncle Penrod.
"Aldora, sejak kapan kamu menjadi tidak tepat waktu? Sejak kapan kamu berani melanggar janji? Sejak kapan kamu menjadi orang yang tidak bertanggung jawab?" Pertanyaan Uncle Penrod langsung menyapa Aldora.
Aldora tahu jika Uncle Penrod sudah menyebut namanya 'Aldora' bukan 'Al' ditambah nada suaranya, itu artinya Uncle Penrod sedang dalam keadaan marah.
"Maaf," hanya kata itu yang dia katakan.
Aldora tahu sebenarnya Uncle Penrod marah karena merasa khawatir akan kesehatan dan keselamatannya.
Sedangkan Uncle Penrod, dia hanya menghembuskan nafas kasar. Setiap mendengar kata maaf diikuti nada penyesalan dari mulut Aldora, Uncle Penrod tidak dapat menahan diri untuk memaafkan putri dari Raja negara ini.
"Al, kamu tahu? Uncle tidak bisa marah terlalu lama kepadamu. Jadilah orang yang bertanggung jawab. Kembalilah kemari, Uncle menunggumu," ucap Uncle Penrod.
"Baik, Uncle" jawab Aldora dengan tegas.
Setelah sambungan telepon terputus, Aldora berjalan kearah Riccardo.
"Yang Mulia, saya izin untuk kembali pulang. Saya ingin beristirahat dirumah saya," ucap Aldora sedikit membungkuk.
"Baiklah, pulanglah dengan mobil yang kita naiki tadi. Katakan bahwa aku memerintahkan agar dia mengantarmu pulang. Atau saya perlu mengatakannya sendiri?" Tanya Riccardo menawarkan.
"Tidak perlu Yang Mulia, saya bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya," ucap Aldora berdiri dengan tegak dan kembali masuk ke dalam rumah untuk berpamitan kepada Sansone.
"Al, sudah baikan?" Tanya Sansone.
Aldora mengangguk.
__ADS_1
"Kak, aku harus pulang sekarang. Ada seseorang yang menungguku dirumah," ucap Aldora memberitahukan kepada Sansone setengah kebenaran.
"Baiklah. Tapi kamu bawa mobilku saja untuk pulang. Kami tahukan cara mengemudi?" Tanya Sansone.
"Tahu, tapi tidak perlu repot," balas Aldora.
"Al, ini sudah malam. Tidak baik seorang gadis baik baik berkeluyuran dimalam hari," ucap Sansone serius tak ingin dibantah.
"Ok," Aldora mengalah karena dia tidak mau menghabiskan waktu dengan bertengkar. Dia harus ingat untuk sampai rumah dalam waktu tiga puluh menit yang diberikan Uncle Penrod.
Sansone pergi untuk mengambil kunci mobilnya dan kembali setelah beberapa saat.
"Al, ini kunci mobilnya. Ikuti saja pengawal ini. Dia akan membawamu menuju mobilku. Hati hati dijalan," ucap Sansone tulus.
"Baik," balas Aldora menerima kunci dan mengikuti pengawal yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Tanpa mereka sadari ternyata Riccardo sedari tadi melihat apa yang mereka lakukan. Membuatnya merasa kesal sekaligus cemburu.
Dia menolakku tapi menerima Duke Sansone! Dia juga berkata lembut dan manis dengan Duke Sansone. Sedangkan denganku, dia malah bersikap dingin lebih terkesan tidak peduli.
***
Sebelum masuk apartemen, Aldora dengan sengaja membeli syal lengan panjang untuk menutupi bekas darah di lengan gaun kirinya. Dia juga menyemprotkan sedikit parfum untuk mengurangi bau khas darah dari lengannya.
"Al, kamu istirahatlah," setelah Aldora masuk Uncle Penrod langsung menyuruhnya istirahat.
"Baik, Uncle. Gute Nacht (selamat malam)" ucap Aldora yang tidak menyia nyiakan kesempatan itu dan langsung masuk.
Aldora mengganti gaunnya menjadi piyama tidur. Ia langsung merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur empuk.
"Pa," Aldora berkata lirih menatap langit langi kamar.
Ia memandang langit langit kamar dengan intens. Membayangkan ada wajah Papanya sedang tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"Pa, tadi Al bertemu Kak Sansone. Ya, Kak Sansone teman Al dulu di istana. Waktu itu Al hanya punya Kak Sansone yang bisa diajak menjadi teman di istana. Semua sepupu Al merasa segan karena status Al. Semuanya menjauh dari Al. Memperlakukan Al sebagai pewaris tahta bukan keluarga. Walaupun begitu Al tetap menyayangi mereka..... Pa, apa Kak Sansone dapat dipercaya? Bukan maksud Al meragukannya. Tapi... Al tidak mau mengambil resiko. Jika sampai Kak Sansone berkhianat maka semuanya akan berakhir. Al hanya merasa bingung, setelah belasan tahu berlalu, kenapa Kak Sansone bisa tetap berdiri tegap dan mendapat status sosial yang tinggi di negara ini," ucap Aldora.
Aldora terus berkata sampai dia puas dan tertidur.
***
"Uncle, Al berangkat y" pamit Aldora kepada Uncle Penrod yang sedang duduk di meja makan.
"Sarapan dulu Al," ucap Uncle Penrod.
"Ok," Aldora berjalan ke meja makan, mengambil segelas susu dan meminumnya sampai habis.
"Rotinya Al makan di jalan ya Uncle, udah mau telat," ucap Aldora melirik jam dipergelangan tangan kirinya.
"Baik, kamu hati hati. Jangan ceroboh, ingat lukamu masih dalam proses penyembuhan," ucap Uncle Penrod.
"Ya," balas Aldora berjalan mendekati Uncle Penrod lalu mencium pipinya.
"Al pergi dulu Uncle," setelah itu Aldora sedikit berlari, memakai sepatu, lalu pergi tanpa menoleh.
"Yang Mulia, terkadang saya berpikir Putri Aldora sangat mirip dengan anda. Jika sudah mengambil jalan untuk ditempuh dia tidak akan menoleh kebelakang. Tetapi sejak kehadiran Permaisuri Evoleth, anda terkadang melanggar prinsip itu. Saya tidak tahu apakah kelak Aldora akan melanggar prinsipnya demi orang yang dicintai? Semoga saja orang yang beruntung itu adalah orang baik seperti Permaisuri Evoleth agar orang itu dapat membimbing Putri Aldora menjadi pribadi yang lebih baik.... Saya berdoa semoga Putri Aldora mendapatkan pasangan hidup yang dapat melindungi dan mempercayainya. Saya tahu walau Putri Aldora menampilkan sisi kuat dan selalu menolak untuk dilindungi. Tapi sebenarnya dia sangat lemah dan tertekan. Saya ingin ada orang yang mau berjuang bersama Putri Aldora, agar Putri Aldora tidak merasa kesepian lagi," gumam Uncle Penrod lirih.
Aldora mengendarai mobil Sansone yang tidak sempat dia kembalikan menuju perusahaan. Kemarin dia tidak memiliki waktu untuk mengembalikan mobil itu karena harus berlatih dengan Uncle Penrod.
"Selamat pagi Yang Mulia," suara Sansone terdengar setelah dia masuk ke dalam kantor Riccardo diikuti gerakan tubuhnya yang memberi hormat.
Sebuah senyum tipis tersungging dibibir Aldora ketika melihat kehadiran Sansone, orang yang dia anggap sebagai Kakak.
Aldora sedang memberikan laporan kepada Riccardo ketika Duke Sansone tiba tiba saja sudah datang membuat Aldora merasa bahagia. Merasa bahwa dia menemukan orang yang dia kenal diantara orang orang asing.
"Selamat pagi Al," sapa Sansone kepada Aldora.
Membuat Aldora mengernyitkan dahinya merasa tidak terima dengan sapaan Sansone.
__ADS_1
Sansone segera tersadar dan langsung meralat kembali kata katanya agar tidak ada yang mencurigai mereka.