
_________
Suara tembakan dari luar semakin terdengar mendekat.
Ardogama sudah berdiri untuk siap menyambut kedatangan mereka.
"Bawa adik mu keluar lewat pintu itu!" ucap Ardogama menoleh pada kedua anaknya dan menunjuk sebuah pintu.
"Ayo Zha," Elang meraih kedua pundak Zha dan membawanya menepi ke sudut dinding di mana di sana memang ada sebuah pintu rahasia yang bisa membawa mereka keluar lewat jalan rahasia juga.
"Tidak Elang, kita harus membantu Ayah!"
"Putri ku, dengar kan Ayah nak! Mereka tidak boleh sampai mendapat kan mu. Dan kau harus segera menemukan Suami mu. Dia sedang dalam bahaya. Cepat lah!" ucap Ardogama.
"Tapi kau sendirian , sementara mereka berjumlah banyak!" bantah Zha.
"Tuan...!" tiba tiba seorang wanita keluar dari pintu rahasia itu berlari menghampiri Ardogama membuat Zha dan Elang menoleh cepat kearah wanita itu.
"Alexa!" seru Ardogama mengenali siapa yang datang.
"Tuan , aku akan membantu mu." ucap Alexa.
"Bagus lah." Ardogama melempar sebuah senjata api jenis bren pada Alexa yang segera menangkap nya.
Senjata api dengan Laras panjang jenis MG-42 ,
ini adalah senjata mematikan yang langka ,diproduksi pada tahun 1942 ketika perang dunia terjadi, dan berharga sangat mahal karena susahnya diproduksi.
Senjata ini juga Dijuluki "Gergaji Hitler" karena suaranya yang unik, MG-42 mudah ditembakkan dan dapat menembakkan 1.200 butir peluru 7.92×57mm Mauser per menit. Laras MG-42 mengandalkan udara agar mendingin. Bahayanya, besi laras MG-42 bisa meleleh jika ditembakkan non-stop selama 5 menit. Karenanya, Ardogama harus memiliki laras cadangan untuk MG-42 nya setiap waktu. Sebab itu Ardogama juga menyelipkan pistol biasa untuk cadangan nya begitu juga dengan Alexa.
Mereka berdua kini siap membantai anak buah Gustavo yang tak lain adalah pengkhianat Klan Jangkar perak. Baik Ardogama maupun Alexa sudah sangat menunggu waktu ini untuk menuntaskan dendam mereka pada seluruh pengkhianat itu begitu juga dengan anak buah setia jangkar perak yang sudah sejak lama berada diluar terus berusaha menggempur pertahanan anak buah Gustavo dari sana dan saat ini mereka sudah mulai mendesak masuk, setelah mendapatkan aba aba dari Ardogama.
Setelah melihat Alexa , Elang dan Zha merasa sedikit lega dan akhirnya setuju untuk meninggalkan tempat itu. Setidak nya ada yang membantu Ayah mereka dan seperti nya sosok wanita yang baru mereka lihat itu bukan lah wanita sembarangan dan terlihat bisa di andalkan.
****
Beralih dulu pada keadaan Halilintar, dimana pria itu saat ini sudah hampir menyelesaikan pekerjaan nya untuk memindahkan seluruh data dari chip induk yang sudah ia temukan itu pada chip USB yang sengaja ia bawa. Keseriusan laki laki itu tampak begitu jelas hingga ia tidak menyadari jika Gustavo yang tengah tersungkur di lantai itu mulai bergerak perlahan dan kini sudah berhasil menggapai pistol milik nya dengan tangan kirinya yang belum terluka.
__ADS_1
Gustavo berusaha mendekati Halilintar dengan cara merangkak di lantai karena kedua kaki nya sudah terluka. Ia berusaha tidak menimbulkan suara agar Halilintar tidak curiga.
Sedang kan Halilintar nampak tersenyum puas ketika sudah berhasil memindahkan seluruh data itu dan segera mencabut USB itu dari laptop milik Gustavo dan kini ia beranjak berdiri dari kursi.
Baru saja ia memutar tubuh nya untuk melangkah.
"Mati kau!" makian dari mulut Gustavo di barengi tangan kirinya yang menarik pelatuk pistolnya dengan cepat ke arah Halilintar yang tidak siap dengan serangan dadakan dari Gustavo itu dan sialnya tidak bisa Halilintar hindari lagi.
Tubuh Halilintar ambruk seketika, darah segar mengalir dari perutnya. Ia bersandar di kursi dengan memegangi perutnya yang terluka oleh tembakan Gustavo dan saat itu juga Gustavo melempar sebuah pisau lipat milik nya dan tepat menancap di dada sebelah kiri Halilintar.
Dor...!!!
Kali ini satu peluru milik Halilintar menembus kepala Gustavo sebelum pria itu sempat menembaknya kembali.
Tubuh Gustavo seketika ambruk tak bergerak alias mati. Halilintar sendiri segera mencabut pisau yang masih menancap di dadanya dengan tangan kirinya yang masih menggenggam USB, pisau itu tercabut bersamaan dengan jatuhnya pistol dari genggaman tangannya.
Halilintar menyandarkan kepalanya di kursi, ia berusaha untuk tetap sadar dan tetap membuka matanya sambil terus menggenggam erat USB itu di tangan kirinya.
Bayangan Zha berputar di benak nya, "Aku mencintaimu Zha. Aku sudah berjanji akan kembali padamu. Maafkan aku Zha. Maaf." Halilintar menutup matanya.
Zha terus berlari, air matanya sudah membanjiri pipi nya ketika ia melihat kondisi suaminya melalui ponsel yang kini ia genggam di tangannya itu. Zha masih bisa melihat Halilintar karena chip transparannya. Sayangnya, sebelumnya ia tidak berpikir untuk melihat ponselnya karena fokus mencari ruangan dimana suaminya berada.
"Di sana!" seru Elang yang juga berlari menyusul Zha degan wajah yang tidak kalah panik nya memikirkan kondisi adik ipar nya saat ini.
Mereka menemukan ruangan itu dan langsung berlari masuk. Zha sempat melihat seorang pria yang tak lain adalah Gustavo sudah tergeletak di lantai tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Pandangan Zha langsung tertuju pada sosok suaminya yang tersandar di kursi dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan juga.
"Hall!!" pekik Zha terduduk di samping tubuh suaminya.
"Zha!" suara pelan Halilintar ketika samar samar mendengar suara Zha memanggilnya.
"Hall, aku disini." jawab Zha meraih kepala Halilintar dan mendekapnya.
"Aku mendapatkannya." ucap Halilintar mengangkat tangannya yang masih setia menggenggam UBS itu . Belum sempat Zha meraih tangan suaminya, tangan itu sudah jatuh terkulai.
"Hall!!!" jerit Zha mengguncang tubuh suaminya yang sudah menutup matanya kembali yang sempat terbuka tadi.
"Kita harus cepat membawanya! Minggir lah !" seru Elang langsung mengangkat tubuh Halilintar dan berlari keluar ruangan.
__ADS_1
Elang terus berlari dengan membopong tubuh Halilintar, Zha mengikuti dari belakang sambil menembaki beberapa pria yang mencoba menghalangi mereka.
"Tuan, lewat sini!" Seru seorang wanita di depan mereka. Ternyata Alexa dengan beberapa Anak buah andalannya sudah menyambut mereka.
"Cepat ke mobil. Kami akan melindungi kalian." ucap Alexa dengan senapan Gergaji Hitler di tangannya.
Elang dan Zha menurut saja, mereka terus berlari dengan perlindungan Alexa dan segerombolan pria yang tak mereka kenal itu.
Benar saja, senjata milik Alexa mampu meratakan setiap Anak buah Gustavo yang mencoba mendekat hingga tidak ada satupun yang bisa maju selangkah pun.
Elang dan Zha berhasil mencapai halaman luar markas dan sebuah mobil menghampiri mereka langsung membuka kan pintu.
"Cepat!" ucap seseorang yang asing bagi mereka.
Tanpa ingin tau dan bertanya sedikit pun Elang memasukan tubuh Halilintar di jok belakang di susul oleh Zha.
"Cepat pergi lah." ucap Elang menutup pintu mobil.
"Tuan, anda juga harus ikut pergi dari sini." ucap seseorang tadi.
"Tidak , aku harus membantu ayahku."
"Tidak Tuan, anda harus ikut pergi. Sudah ada yang membantu Tuan Ardogama. Kau tidak perlu khawatir." orang itu kini menarik paksa Elang ke dalam mobil. Elang hanya bisa pasrah ketika seorang itu sudah menutup pintu mobil itu dan sang sopir segera melajukan mobilnya dengan begitu cepat , bahkan tidak menghiraukan tembakan demi yang mengenai badan mobilnya. Sang sopir malah sengaja menabrak beberapa pria Anak buah Gustavo yang masih berusaha menghalangi, dan sebagian dari anak buah Gustavo sudah tumbang oleh tembakan Klan selatan yang terlihat sangat lihai dalam menembak.
Sementara di tempat itu ,di markas Gustavo yang baru saja ditinggalkan oleh Elang dan Zha baku tembak masih berlanjut dan semakin gencar.
Klan selatan anak buah Ardogama bukan lagi sekedar membuat kekacauan, melainkan untuk meluluh lantah kan para pengkhianat yang masih tersisa di sana. Awalnya mereka hanya ingin mengecoh agar Halilintar dan Alexa bisa masuk dengan mudah, tapi setelah melihat Putra dan Putri Tuan mereka sudah berhasil keluar dari markas itu, tujuan mereka berubah. Terlebih setelah Ardogama mengirim bantuan untuk mereka dan mengintruksikan agar mereka menghancurkan markas tersebut tanpa sisa.
****
Elang menoleh pada Zha yang duduk di kursi belakang , wanita itu masih saja menangis.
"Hall, ku mohon bertahan lah. Jangan tinggalkan aku!" isak tangis Zha semakin terdengar sambil terus mendekap kepala Halilintar di pangkuannya.
"Kau sudah berjanji akan menemani hidupku. Kau berjanji akan membawa ku pada kedamaian. Bertahan lah Hall." ucap Zha. Bayangan sebuah kehilangan menghantui nya, baru saja Zha merasakan sebuah kebahagiaan setelah mengenal dan menikah dengan Halilintar, kini dia merasa seperti akan segera kehilangan semua itu. Zha tidak ingin kembali sendirian walaupun saat ini dia sudah menemukan Ayah dan kakak kandung nya. Namun Zha seperti tidak akan sanggup jika harus menjalani hidup tanpa Halilintar.
____________________________
__ADS_1