Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Siapa dia..???


__ADS_3

Zha berkali kali mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari pagi masuk menyeruak melalui celah gordeng jendela kamar nya. Zha membalikkan badannya , sesaat ia tertegun menatap wajah tampan Halilintar yang tidur tepat di sampingnya dengan posisi tangan kekarnya melingkar di pinggangnya. Zha seperti mengingat ingat sesuatu menepuk nepuk kepalanya, apa ada sesuatu yang terjadi.?


Zha menatap sekeliling,. Kamarnya.?


Lalu segera memeriksakan pakaiannya, masih utuh. Ah, kenapa dia bisa tidur di atas ranjang ku .? Otak Zha terus berputar , namun matanya kembali menikmati pemandangan di depan matanya itu.


Zha menggerakkan jarinya untuk menyusuri tulang rahang Halilintar.


"Morning..!" ucap Halilintar tanpa membuka matanya dengan suara serak khas bangun tidurnya. Perlahan Halilintar menggerakkan tangan Zha yang sudah ia genggam itu pada bibirnya dan mengecupnya berulang kali.


"Apa yang kau lakukan di sini Hall.?" tanya Zha ketika melihat Halilintar membuka matanya, dan menarik cepat tangannya..


"Ah, ya maaf. Aku.. Aku kedinginan di sofa dan menumpang tidur di ranjangmu."


"Kau..!!"


"Zha, aku hanya sekedar memelukmu. Tidak lebih. Kau tidak percaya..?"


Tak ingin berdebat Zha segera bergegas meninggalkan ranjangnya untuk membersihkan dirinya , lama berada di kamar mandi Zha akhirnya keluar dan segera berganti pakaian.


"Hall,.!" Zha tidak melihat sosok Halilintar di kamar nya.


Zha memutuskan untuk membiarkan Halilintar dan fokus kembali pada Laptop miliknya.


Sesaat Zha menoleh ketika mencium aroma yang membuat perutnya bersuara.


"Selamat pagi, bisakah kau menemani ku sarapan Sayang..??" Halilintar sudah berdiri di belakang Zha dengan membawa sebuah nampan berisi dua mangkok sup.


"Kau dari mana.?"


"Ya jelas masak lah, Aku sudah kelaparan sejak kemarin.!" jawab Hall meletakkan masakan hasil tangan nya sendiri itu di atas meja.


"Kau memasaknya sendiri.?" Zha nampak heran menghampiri sup buatan Halilintar.


"Ya."


"Dari mana kau mendapatkan bahan bahannya.?" tanya Zha merasa ia tidak pernah menyimpan bahan bahan masakan di dalam mansion nya.


"Membelinya di tukang sayur." jawab Halilintar menyantap makanannya.


Zha tersenyum lalu ikut duduk mencicipi sup itu.


"Enak.?"


Zha mengangguk.

__ADS_1


"Kau pintar memasak." puji Zha membuat Halilintar semakin melambung.


"Jelas saja, apa yang Halilintar tidak bisa, memasak , menyayangi mu dan menaklukan hati mu. Kurang apa coba diri ku. Jika saja kau menolak ku maka kau adalah termasuk orang orang yang merugi."


"Brisik.." umpat Zha menanggapi ceramah pagi Halilintar. Namun senyum nya berkembang di ujung bibir nya , merasakan sesuatu yang berwarna sudah mengawali hari nya.


"Habis kan. Aku mandi dulu." ucap Halilintar melangkah setelah suapan terakhirnya dari mangkok miliknya.


_________________________


.


.


Kini mobil yang di sopir oleh Elang membawa Zha dan Halilintar melaju menuju Markas besar Poison Of Death.


Sampai di depan markas mereka segera di sambut oleh Para Anak buah mereka yang segera mempersilahkan ketua mereka untuk masuk menuju sebuah ruangan Khusus.


Halilintar bergidik melihat kondisi mengenaskan wanita yang hampir saja melubangi kepalanya dengan peluru malam itu, wanita itu tampak menyedihkan dengan bekas darah kering yang mengotori tubuh nya juga ada luka baru yang masih mengalir darah nya dari beberapa luka gores yang di duga Halilintar sengaja di lakukan anak buah Zha atas perintah kekasih kejam nya itu.


Zha berjalan mendekati wanita yang nampak tak berdaya itu dengan tangan dan kaki yang terikat di sebuah tiang dengan posisi berdiri, wanita itu mendongak menyadari langkah kaki mendekati nya.


Halilintar menyadari kilat marah dan benci pada mata wanita itu ketika menatapnya dan juga menatap Zha yang di balas dengan tatapan tajam oleh Zha dengan senyuman miringnya.


"Cih.." wanita itu meludahi Zha beruntung Zha menghindar dan tidak sampai mengenainya karena Zha sudah mundur terlebih dahulu.


"Berani sekali kau.? Apa tidak sadar dengan kondisimu hah.!" teriak Zha geram mencabut pisau nya dan hampir saja menusuk bola mata wanita itu namun Hall langsung menahannya.


"Ah , sayang . Kau tidak perlu mengotori tangan mu pagi ini."


Zha menoleh dan menurut ketika Hall menarik nya mundur.


"Kenapa Hall.?"


Tanpa Zha duga, Halilintar mengecup keningnya tanpa melihat keadaan sekelilingnya yang banyak pasang mata dari anak buah Zha yang melihatnya.


"Tidak bisakah kau untuk mengurangi kekejamanmu.? Aku bergidik melihatnya." ucap Hall.


"Oh, baik lah kalau begitu. Biar kan aku menyelesaikan secepatnya. Mundur lah!" jawab Zha. Halilintar mendengus merasa tidak bisa berbuat apa apa untuk mencegah kekasihnya agar tidak berlaku kejam.


Zha kembali mendekati wanita itu,


"Sekali lagi aku bertanya. Siapa yang mengirim mu.? Maka aku akan memudahkan cara mati mu." tanya Zha pada wanita itu.


"Alex." jawab Wanita itu.

__ADS_1


"Dan kau..!!" sambung wanita itu menatap tajam Halilintar.


"Kau mengincarnya.?" Zha menoleh pada Halilintar.


"Tanya kan sendiri pada kekasih mu itu wanita iblis..!! Apa kau pikir Tuan muda Halilintar mu itu benar benar laki laki yang baik..!!" ucap wanita itu sempat membuat Zha terkejut.


"Apa maksud mu, kau mengenal ku.?" Halilintar yang tak kalah terkejut pun mendekati wanita itu.


"Kau bisa saja melupakan aku Tuan Muda, tapi aku tidak.!! Aku akan tetap mengingat semua perlakuan mu padaku..!!!"


"Siapa kau..?" Hall semakin tak mengerti.


"Sarah Oktavia. Apa kau ingat wanita yang sudah kau buat menderita dengan mencintai mu begitu tulus. Dan bahkan kau sekarang malah bersama wanita iblis yang tidak lebih rendah dari pada aku ini..!!"


Bruggg.....


Zha menendang perut wanita itu.


"Apa ini Hall,?" Zha sudah menodongkan pistolnya pada pelipis Halilintar.


"Zha, aku juga tidak mengerti." Halilintar yang masih bingung pun segera menyambar tangan Zha dan menekuknya kebelakang di barengi seluruh anak buah Zha yang mengangkat senjata mereka dan menodong Halilintar ketika menyadari Ketua mereka di perlakukan seperti itu.


Elang segera memberi aba aba pada mereka untuk menurunkan senjatanya.


"Keluar..!!! ... kita tidak perlu ikut campur, ini urusan hati dan kita tidak akan bisa mengerti." ucap Elang mengusir mereka keluar dan mereka akhirnya menurut. Elang pun meninggalkan ruangan menyusul para anak buah Zha.


"Beri aku penjelasan Hall..!!!" Zha berontak melepaskan diri dari belenggu Halilintar.


"Zha."


"Siapa dia, apa kau mengenal nya.? Kenapa dia berkata seperti itu.?" teriak Zha kini seperti wanita normal selayaknya yang sedang terbakar cemburu.


Halilintar menoleh pada wanita itu, tidak peduli Zha yang kembali menodongkan pistol kearah kepalanya.


"Katakan yang sebenarnya.!!" Halilintar kini sangat geram merasa tersudut, dan mencengkeram dagu wanita itu dengan kuat.


" Pesta kembang api di malam tahun baru di Fakultas Kenaya. Apa kau mengingat seorang wanita yang mati karena cinta mu.!"


Memori Halilintar berputar, sekilas ia mengingat sesuatu.


"Mana mungkin itu kau. Bukan kah kau sudah mati.?"


Wanita itu terkekeh.


"Aku hidup kembali untuk membalas dendamku padamu, dan membunuh wanita iblis yang sudah berani mengambil hatimu Halilintar..!!"

__ADS_1


bersambung...!!!!


__ADS_2