Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Ibu!


__ADS_3

"Maaf kan aku! Maafkan ibu mu Elang! Ibu salah , ibu minta maaf." rengek wanita itu masih bersimpuh di lutut Elang.


"Berdirilah Nyonya. Kau tidak pantas berlutut padaku. Kita memang belum pernah bertemu semenjak aku keluar secara paksa dari rahim mu. Jadi , Aku tidak pantas menyalahkan mu atau memberi mu maaf sekalipun. Yang pantas adalah Zha, adik ku. Dia yang sudah sangat terpukul sekali jiwa nya saat kau dinyata kan meninggal dunia. Dia kehilangan arah, sampai menjadi gadis pembunuh bayaran yang berakhir menjadi seorang ketua mafia. Meminta maaf lah pada nya. Tapi ingat , jika terjadi apa apa dengan kandungan Zha yang syok melihat mu. Kau harus bertanggung jawab. Saat ini dia sedang mengandung Calon Cucu keluarga Glendale yang kau bangga bangga kan itu." ucap Elang meraih tubuh wanita itu yang ternyata benar adalah Aishe Glendale atau Aisyah ibu mereka.


"Kau pun patut berterimakasih pada Tuan muda Halilintar Putra Tuan Hanzero dari keluarga Samudra. Suami putri mu yang sudah menemani Zha selama ini dan menuntun jalan putri mu dengan baik." ucap Elang lagi.


Entah bagaimana cerita nya, jika Aisyah kenyataan nya tidak mati, namun masih hidup bahkan dalam keadaan segar bugar.


Elang membangunkan Aisyah dan mendudukkan nya di bangku panjang. Ia menatap wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu. Untuk pertama kali dalam hidup Elang, ia bisa melihat ibu kandung nya. Perasaan nya begitu kecewa walau pun jauh di lubuk hatinya terselip rasa bahagia. Melihat wanita itu menangis, Elang ingin rasa nya memeluk nya. Namun rasa kecewa yang mendomisili nya lebih kuat membuat elang lebih memilih untuk tidak peduli pada wanita itu, dan berpikir setelah ini wanita itu berhutang penjelasan pada nya dan Zha.


Sementara Alexa, wanita itu hanya bisa menonton drama haru antara ibu dan anak kandung yang berlangsung di hadapan nya itu, tanpa bisa berkomentar sedikit pun. Alexa bisa merasakan perasaan elang saat ini. Begitu juga perasaan Aisyah yang juga mungkin sedang menyesali perbuatan sandiwaranya. Begitu juga para pengawal setia Aisyah, mereka tidak mau ikut campur urusan pribadi Pemimpin mereka. Mereka seperti nya sudah bisa memperkirakan jika kesalahan pahaman ini pastilah akan terjadi setelah pertemuan antara mereka.


Sementara di dalam sana, Dokter sudah selesai memeriksa Zha.


"Bagaimana keadaan istriku dok? Apa ada yang serius dan berpengaruh pada kandungan nya?" tanya Halilintar pada sang dokter pria itu.


" Nona mengalami syok hebat. Ini di sebabkan karena hormon Nona tidak stabil dalam masa kehamilan muda nya. Jantung Nona akan lebih cepat kaget hanya dengan suatu hal sepele dan Nona akan lebih cepat stres juga pingsan jika tidak mampu menahan perasaan nya. Tapi kandungan nona baik baik saja. Tidak ada yang serius, nona hanya butuh ketenangan dan akan segera sadar." jawab Sang Dokter menjelaskan.


"Terimakasih dokter." ucap Halilintar.


"Sama sama Tuan. Kalau begitu saya permisi. Jika ada apa apa , langsung panggil saya." jawab Sang dokter , kemudian melangkah meninggalkan ruangan.


Halilintar menghampiri Zha. Mengusap pipi lembut Zha dengan pelan. Zha terlihat mulai membuka matanya perlahan.

__ADS_1


"Hall." ucapan pertama kali yang keluar dari mulut Zha ketika baru saja sadar dari pingsan nya di sambut senyuman Halilintar.


"Zha, apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Halilintar meraih tangan istrinya.


"Kepala ku pusing." jawab Zha.


"Kau baru sadar dari pingsan Zha, wajar kalau masih pusing. Beristirahatlah dulu. Tenang kan dirimu, jangan banyak pikiran. Kasian baby kita." ucap Halilintar.


"Apa dia ada luar?" tanya Zha.


Halilintar mengangguk, paham dengan yang di maksud Zha.


"Apa kau ingin bertemu? Aku akan memanggilnya untuk mu." tanya Halilintar.


"Sebaiknya, selesai kan dengan berbicara baik baik Zha. Kita tidak pernah tau apa alasan mereka. Dan ku rasa sudah pasti ada alasan kuat di balik kebohongan ini. Kau tidak boleh menyalahkan ibu mu, sebelum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Bukan kah Kau sendiri yang mengatakan jika dunia mafia itu kejam?? Harus cerdik dan licik agar kalian bisa bertahan hidup. Membunuh sebelum di bunuh!! Jadi, bijak lah dalam menilai sesuatu. Jangan menghakimi seseorang karena kesalahan nya , melainkan lihat lah pengorbanan dan perjuangan seseorang itu dulu. Terlebih Nyonya Aisyah itu adalah ibu kandung yang sangat kau cintai dan pastinya mencintai Putra dan Putrinya." ucap Halilintar panjang lebar untuk berusaha menasehati istrinya.


Zha kali ini tertegun dengan nasehat sang suami. Hati nya meluluh seketika. Rasa kecewa pada ibu nya berangsur menghilang, terganti rasa rindu yang menggelora.


"Aku akan memanggilnya. Tenang kan hati mu , dan ku mohon kali ini jangan menggunakan emosi mu. Ingat Zha, dia ibu mu. Yang pernah menemani masa masa sulit mu." ucap Halilintar kembali, setelah itu Halilintar melangkah keluar ruangan.


Sampai di luar , terang saja Halilintar langsung di sambut mereka yang masih sangat khawatir.


"Bagaimana keadaan istrimu?" Elang yang pertama kali langsung bertanya.

__ADS_1


"Tidak ada yang serius, jadi tidak perlu khawatir." jawab Halilintar.


"Bolehkah aku menemuinya?" tanya Aisyah mendekati Halilintar.


"Tidak boleh." Elang segera memotong ucapan Aisyah.


"Elang, jaga dirimu. Walau bagaimana pun juga dia adalah ibu mu. Kau tidak harus sekasar itu padanya." tegur Halilintar pada kakak iparnya itu yang langsung berdiam menyadari kesalahan. Hati kecil nya memang sedikit menyesal, mungkin dia sudah keterlaluan pada Ibu kandungnya.


Halilintar menoleh pada Aisyah. "Masuk lah Nyonya. Kalian memang perlu berbicara serius. Zha sudah menunggu.Anda." ucap Halilintar masih dengan bahasa formal pada wanita yang sebenarnya adalah mertua perempuan nya itu.


"Terimakasih Tuan muda Halilintar." jawab Aisyah juga menggunakan bahasa formal.


Aisyah segera melangkah.


"Ibu,.. tunggu dulu!" panggil Elang membuat Aisyah menghentikan langkah nya. Panggilan ibu dari Elang sungguh membuat jantung Aisyah berdegup lebih kencang, ia tidak menyangka jika Elang akan memanggil nya dengan sebutan ibu meskipun dengan posisi kemarahan nya. Aisyah menoleh pada Elang dengan mata nya yang berkaca kaca. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk Putra nya yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa itu.


"Tolong jangan membebani pikiran adik ku dulu. Sehebat apapun putrimu itu, Kau harus ingat jika dia sedang mengandung calon cucu mu, saat ini dia sedang menjadi wanita normal yang rentan karena kehamilan nya.." ucap Elang.


Aisyah mengangguk, mengerti dengan maksud Elang. Di dalam hati nya sembari melangkah, ia sangat bersyukur Putra nya begitu peduli dan menyayangi adik nya. Ia tidak pernah tau bagaimana perjalanan Elang dan Zha dalam kebersamaan mereka melewati kesulitan dan kepayahan hidup mereka selama ini.


Aisyah menguatkan hati nya dan terus melangkah memasuki ruangan, padahal di dalam hatinya ia belum tau harus memulai dari mana untuk mengajak Zha berbicara.Matanya menangkap putri nya yang sedang duduk yang juga langsung menatapnya. Bibir Aisyah bergetar, menahan suara nya yang ingin sekali berteriak memanggil Putri nya itu.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2