
Aldora mengangguk.
"Terutama urusan saya disini sudah selesai, Yang Mulia," ucap Aldora memberikan alasan lagi.
Melalui gerakan tangannya Riccardo menyuruh Leon pergi dari ruangan itu. Setelah Leon pergi, Riccardo langsung berjalan mendekat kearah Aldora.
Dengan waspada Aldora langsung berdiri dan bergerak menjauh dari Riccardo.
"Nona Alvina saya hanya ingin memberitahu bahwa besok lusa malam akan ada pesta disalah satu kediaman seorang Duke. Anda juga harus ikut dalam pesta itu bersama saya, selaku asisten" ucap Riccardo berhenti di dekat kursi yang tadi diduduki oleh Aldora dan membiarkan Aldora yang bergerak menjauh darinya.
"Baik Yang Mulia, kalau begitu saja pergi" ucap Aldora memberikan salam penghormatan dan melangkah menuju pintu.
"Tunggu,"
Aldora tetap melanjutkan langkahnya tanpa menggubris ucapan tunggu dari Riccardo.
Setelah dari istana Aldora langsung pergi ke apartemen dan sesampainya disana Aldora langsung bersih bersih.
Aldora menggunakan pakaian berwarna hitam yang membuatnya dapat bergerak dengan leluasa. Dengan memakai sebuah jaket berwarna merah dan sebuah kacamata yang bertengger indah dihidungnya.
Aldora sengaja memilih berjalan kaki menuju tempat kumuh di dekat apotek agar tidak ada yang tahu akan keberadaannya.
Setelah dekat dengan tempat kumuh itu, Aldora melepaskan jaketnya dan mengikat jaketnya itu di pinggang. Memakai sebuah kain hitam untuk digunakan masker dengan cara mengikat kain itu dengan kuat agar tidak lepas. Kaca matanya dia lepaskan.
Aldora mengambil sebuah pedang yang ada di dalam semak yang dia letakkan disana beberapa hari lalu. Karena jika dia membawa pedang dari apartemen maka itu akan menjadi tanda tanya bagi siapapun yang melihat. Dan bisa bisa nanti dia malah dibuat menjadi penjahat oleh orang orang iseng.
"Menyerahlah kalian," teriak Aldora seraya mengeluarkan pedangnya kearah mereka semua.
Semua orang di sana tampak terkejut dan terlihat ada yang waspada namun ada juga yang ketakutan.
"Akhirnya kami menemukan pendukung Raja Jarrel. Menyerahlah kalian semua dan dukunglah Raja Heren. Atau kalau tidak kami akan membunuh kalian semua," ucap Aldora dengan lantang berusaha memancing sekutu sekutu Raja Heren untuk keluar.
__ADS_1
"Tidak akan pernah, kami akan tetap mendukung Raja Jarrel sampai ajal kami menjemput. Bagi kami hanya ada satu Raja yaitu Raja Jarrel. Dan kami hanya menerima keturunan Raja Jarrel sebagai pemimpin kami," ucap seseorang dengan tegas.
"Ya, Raja Jarrel adalah Raja kami. Bunuhlah kami, kami siap untuk tiada demi Raja kami. Walau kami sudah tidak bernyawa lagi kami akan tetap mendukung Raja Jarrel," balas orang lain dengan tidak kalah tegas.
Lalu mereka mulai bersorak menunjukkan kesetiaan kepada Raja mereka, Raja Jarrel.
Pa, lihatlah mereka. Bahkan mereka rela mengorbankan nyawa hanya untuk tetap setia mendukung Papa. Aku bahagia melihat ini Pa, Papa juga pasti sangat bahagiakan?
Aldora berbicara dalam hati merasa terharu akan kesetiaan orang orang di hadapannya.
"Tapi tadi dia mengatakan kami, apa ada penyusup diantara kita?" Tiba tiba seorang wanita berkata karena teringat akan kata kata Aldora.
Semua orang mulai melirik satu sama lain mencari siapa penyusup diantara mereka.
"Keluarlah, ini titah Yang Mulia Raja Heren," tiba tiba Aldora kembali berteriak sambil menunjukkan plakat yang terbuat dari berlian asli bergambarkan kerajaan Gloretha dan ada tulisan Gloretha di plakat itu.
Plakat dengan simbol kerajaan Gloretha dan tulisan Gloretha adalah plakat yang dimiliki oleh semua anggota kerajaan. Plakat ini memiliki dua jenis yaitu plakat yang terbuat dari berlian asli dan plakat yang terbuat dari emas asli. Plakat yang terbuat dari berlian asli adalah milik anggota keluarga kerajaan tertinggi seperti Raja, Ratu, Permaisuri, Ibu suri, dan pewaris tahta. Sedangkan plakat emas adalah milik dari para Pangeran dan Putri keluarga kerajaan.
Satu persatu pendukung Raja Heren mulai berdiri dan berjalan ke arah Aldora dengan sebuah pedang di tangan mereka masing masing. Ternyata mereka berjumlah tiga orang.
"Apa kalian yakin hanya kalian saja?" Tanya Aldora dengan menatap kesemua orang di depannya.
"Maju saja, dia memang suruhan Raja Heren. Tidak perlu ragu," ucap seorang penyusup sambil menatap rekannya yang masih ragu.
Empat orang mulai berdiri dan berjalan kearah mereka.
"Apa kita bunuh mereka sekarang?" Tanya seseorang kepada Aldora.
"Bunuh? Siapa? Mereka?" Aldora malah bertanya dengan nada bingung setelah memastikan semua penyusup berada di dekatnya.
"Maksudmu?" seorang yang sepertinya adalah pemimpin bertanya kepada Aldora dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Kalian semua pergilah," ucap Aldora kepada semua pendukung Papanya.
"Siapa kau?" Seseorang bertanya karena merasa ragu.
"Pergilah jangan sampai anak anak melihat kekerasan," ucap Aldora yang sadar betul disana masih ada anak anak dan dia tidak boleh bertindak gegabah yang malah akan membuat anak anak menjadi syok dan bisa jadi mereka akan trauma seperti yang dia alami dulu.
Mereka mulai berjalan pergi meninggalkan Aldora juga 7 penghianat. Namun satu pria tetap berdiri disana.
"Pergilah, semuanya akan baik baik saja. Jaga saja anak anak itu," ucap Aldora yang dari tatapan mata pria itu Aldora tahu bahwa pria itu tengah mencemaskannya.
Tentu saja dia tetap waspada dengan 7 pria dihadapannya.
Setelah pria itu pergi, Aldora langsung berjalan sedikit menjauh dari mereka.
"Raja Heren? Kalian pendukung pria lemah seperti itu? Aku peringatkan, berhentilah mendukung pria keji itu," ucap Aldora mencoba bernegosiasi.
"Tidak akan, kami akan selalu setia kepada Raja Heren," ucap pemimpin penyusup.
"Oh ya, apa itu artinya kalian tidak akan mendukung Raja Jarrel?" Tanya Aldora lagi.
Mereka mengangguk.
Entah kenapa ada sedikit ketakutan saat melihat sikap Aldora yang menunjukkan sisi lain dari dirinya. Yaitu sisi menakutkan yang akan membuat siapa saja yang melihatnya merasa menggigil ketakutan. Dan sedikit ketakutan itu membuat mereka tidak berani mengangkat pedang.
"Dan apa itu artinya aku boleh membunuh kalian?" Tanya Aldora seraya mengangkat pedangnya bersiap menebas para penyusup.
"Siapa kau sebenarnya?" Pemimpin itu malah bertanya dengan suara yang tinggi dan dia mendapat hadiah tatapan mematikan dari Aldora.
"Angkat pedang kalian," titah Aldora.
"Aku tidak pernah melawan musuh yang lemah dan tidak mau memgangkat senjata. Kalau kalian bertujuh berhasil mengalahkanku maka aku akan memberitahu siapa aku. Dan jika aku yang menang maka... nyawa kalian akan melayang," ucap Aldora dengan senyum devil dan tatapan mata mematikan kepada tujuh penyusup itu.
__ADS_1
Tujuh orang itu mulai mengangkat pedang mereka dan mengkroyok Aldora.
Aldora mengakui bahwa kekuatan dari ketujuh pria ini tidak dapat diragukan. Tapi tetap saja mereka tidak akan bisa melawan Aldora yang sejak kecil sudah mengenal dengan baik senjata pedang.