
"Leon, apa kamu merasa ada yang salah dengan gadis ini?" Tanya Riccardo.
"Tidak, Yang Mulia" jawab Leon.
"Tapi kenapa aku merasa dia seakan akan membenciku?" Tanya Riccardo kepada dirinya sendiri saat tadi dia melihat tatapan kebencian di mata gadis itu untuknya.
"Apa saya perlu menyelediki gadis itu, Yang Mulia?" Tanya Leon.
"Ah, tidak perlu" jawab Riccardo seraya menggerak-gerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri.
"Leon, aku akan membersihkan diri. Beritahu istana bahwa malam ini aku akan menginap di penthouse. Dan pesankan makan malam untukku," ucap Riccardo seraya berjalan ke arah kamarnya.
"Baik, Yang Mulia" ucap Leon.
Setelah Riccardo selesai bersih bersih ia pergi ke ruang kerjanya yang ada di penthouse sambil menunggu waktu makan malam.
Mata Riccardo terfokus pada komputer yang menunjukkan camera CCTV di lantai tertinggi di kantornya.
"Leon, lihatlah gadis ini. Aku sudah menyuruhnya untuk pulang namun dia malah membantah. Benar benar gadis yang berani," ucap Riccardo.
"Tapi gadis ini juga rajin. Dia memang pantas menjadi asistenku. Seorang pekerja keras," puji Riccardo.
Hampir saja tadi Leon ingin merutuki dirinya sendiri karena merasa bersalah telah menjadikan gadis pembantah itu menjadi asisten Pangerannya. Namun ketika dia mendengar pujian untuk Aldora, Leon menghembuskan nafas dengan lega.
Beberapa menit kemudian tampak Aldora yang sudah berjalan menuju lift dan terhenti di lift pribadi miliknya. Aldora mematung beberapa saat lalu berjalan ke lift khusus karyawan. Setelah itu Aldora pulang dengan angkutan umum.
"Leon, besok bawakan CV nona ini. Sebelum aku berada di kantor, CV nya harus sudah ada di meja kerjaku," titah Riccardo.
"Baik, Yang Mulia" ucap Leon.
***
Lagi lagi Aldora harus berusaha mengendalikan emosinya. Lift di depannya ini seharusnya adalah miliknya. Mengingat itu membuat untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini dada Aldora menjadi sesak.
Dengan langkah enggan Aldora melangkahkan kakinya menuju lift karyawan.
Setelah itu Aldora pulang dengan menaiki angkutan umum menuju apartemen.
"Al, kamu sudah pulang. Kenapa terlambat?" Pertanyaan Uncle Penrod menyambut kedatangan Aldora.
"Al menyelesaikan tugas di kantor, Uncle" jawab Aldora.
"Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Uncle Penrod.
"Ya, Uncle. Tapi Al gak sanggup harus berpura pura biasa saja menghadapi pria itu. Al membencinya, Uncle. Al benci. Al tidak sanggup harus berpura pura mencari gadis baik untuk bisa masuk kedalam salah satu kandidat calon istrinya," ucap Aldora dengan tatapan penuh kebencian ketika teringat akan Riccardo.
"Kamu harus kuat, Al. Ingat balas dendammu. Ingatlah penderitaan orang tua dan seluruh keluargamu. Kuatlah demi mereka. Beri mereka keadilan, Al" ucap Uncle Penrod.
"Ya, Uncle. Al akan berusaha semampu Al," ucap Aldora.
***
Beberapa hari yang lalu.
Karena hari ini akhir pekan, Riccardo mengajak Aldora untuk menikmati akhir pekan bersama dengan Leon, si pengawal pribadi Riccardo.
__ADS_1
Riccardo membawa Aldora dan Leon ke tempat latihan fisik keluarga kerajaan.
"Nona Alvima, jika anda merasa bosan anda bisa berkeliling dan melihat lihat," ucap Riccardo kepada Aldora yang hanya mengangguk.
"Yang Mulia, bolehkah saya mencoba samsak?" Tanya Aldora dengan hati hati.
"Apa anda bisa, nona?" Tanya Riccardo balik.
Aldora mengangguk.
"Gunakanlah," jawab Riccardo.
Riccardo dan Leon berganti pakaian dan mengenakan seragam mereka.
Sedangkan Aldora, ia pergi ke sisi lain tempat itu setelah berganti pakaian dan memakai sarung tinju. Tempat dimana ada samsak tinju di sana.
Aldora mulai melakukan pemanasan terlebih dahulu. Setelah itu dia mulai melayangkan tinjunya kepada samsak.
Ini untuk penderitaan keluargaku.
Bugh...
Ini untuk ketidak berdayaanku saat itu.
Bugh...
Ini untuk semua air mata keturunan Gloretha dan rakyat Gloretha.
Bugh...
Bugh...
Ini untuk kehilangan masa kecilku yang bahagia.
Bugh...
Ini untuk posisiku sebagai bawahan musuhku.
Bugh...
Ini untuk semua kenangan indahku yang telah direbut.
Bugh...
Ini untuk Uncle Penrod yang terpaksa meninggalkan keluarganya demi diriku.
Bugh...
Ini untuk keterpaksaan yang membuatku harus berpura pura menjadi teman dihadapan musuh.
Bugh...
Ini untuk,
Saat tangan Aldora ingin kembali melayangkan tinjunya sebuah tangan kekar sudah menahan gerakannya.
__ADS_1
Aldora menatap siapa yang berani mengganggunya. Melihat bahwa itu adalah Riccardo, Aldora langsung menunduk.
"Maaf Yang Mulia telah menganggu anda karena apa yang telah saya perbuat membuat anda merasa terusik," ucap Aldora dengan menunduk berusaha menundukkan matanya yang dia yakin saat ini sudah memerah.
"Bukan begitu, nona Alvinaa. Hanya saja tangan anda bisa terluka jika anda terus meninju samsak," ucap Riccardo.
"Saya terlalu bersemangat Yang Mulia, itu sebabnya saya lepas kendali," balas Aldora.
"Apa anda mahir menggunakan panah, nona?" Tanya Riccardo.
Aldora mengangguk.
"Kalau begitu bagaimana jika kita berlatih panah saja," tawar Riccardo.
"Sesuai keinginan anda, Yang Mulia" ucap Aldora.
Riccardo membawa Aldora ke tempat latihan panah yang berada di luar ruangan.
Riccardo dan Aldora memilih tempat untuk mereka memanah. Sebelum melakukan latihan, Aldora memeriksa tali busur dan anak panah yang akan digunakannya.
Riccardo membuka latihan panahan itu. Dia mulai menarik tali busur dan membidikkan ke papan panahan di depannya.
Leon yang berdiri di dekat papan untuk memberitahukan hasil panahan mereka berdua mendekat ke papan panahan Riccardo.
"Angka 9, untuk Yang Mulia," ucap Leon setengah berteriak.
"Lumayan," gumam Riccardo yang masih bisa di dengan Aldora.
Dengan terlihat santai, Aldora mengangkat busurnya dan menarik tali busur. Aldora memfokuskan penglihatannya kepada titik di tengah tengah papan panahan.
3,2,1
Aldora melepaskan tali busurnya dan membiarkan anak panahnya melesat ke arah papan panahan.
"Sempurna," ucap Leon setelah melihat hasil bidikan Aldora yang tepat sasaran.
"Hebat, dari mana anda mempelajari ilmu seperti ini nona? Siapa yang telah mengajarimu? Perkenalkan dia kepadaku," ucap Riccardo.
Aldora menahan nafasnya sebentar.
Guru yang mengajarinya adalah Papa dan Uncle Penrod. Setelah Papanya tiada, Uncle Penrod yang memegang kuasa penuh pelatihannya.
"Papa dan Uncle saya, Yang Mulia. Namun Papa saya sudah tiada dan beliau tidak dapat berkenalan dengan anda," jawab Aldora berusaha bersikap setenang mungkin.
"Sangat di sayangkan," ucap Riccardo.
"Setelah Samsak dan panah, apalagi yang bisa anda gunakan nona Alvina?" Tanya Riccardo.
"Apakah semua benda di sini dapat anda gunakan?" Tanya Riccardo.
Jawaban yang jujur adalah Ya. Namun Aldora tidak bisa menjawab begitu karena dia yakin bahwa nantinya Riccardo akan merasa curiga dengan keterampilannya ini.
"Tidak Yang Mulia, saya hanya mahir menggunakan samsak, busur, dan pedang" jawab Aldora.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita mencoba bertarung dengan menggunakan pedang," ucap Riccardo tiba tiba.