
Halilintar masih saja setia menunggu Zha di depan kamar nya sampai akhirnya pintu kamarnya terbuka dan Zha yang ditunggu keluar dari balik pintu. Halilintar sempat terpana melihat penampilan Zha dengan baju pemberian Azkayra yang terlihat lain , tidak seperti biasa nya itu.
Zha menunduk ketika Halilintar menatap nya tanpa berkedip lalu menghampiri nya dan berkata lirih pada Zha.
"Kau cantik sekali Zha, coba saja penampilan mu seperti ini seterusnya."
Zha hanya tersenyum menanggapi Halilintar. Hingga pria itu meraih tangan nya dan menggandeng nya untuk melangkah ke meja makan.
Di sana telah ada Hanzero dan Azkayra yang langsung melemparkan pandangan nya pada sosok gadis yang sedang di gandeng putra nya itu.
Ulas senyum pun tertarik di bibir kedua orang tua Halilintar menatap kecantikan kekasih Putra nya itu.
"Sini Zha, sarapan bersama kami." ucap Hanzero dan Azkayra pun langsung berdiri menghampiri Zha yang tertunduk malu tidak percaya diri dengan penampilan nya sendiri.
"Ayo sayang." ucap Azka meraih pundak gadis itu dan membawa nya duduk bersama mereka.
Sarapan pagi mereka itu berjalan sedikit berbeda dari biasanya, yang biasa nya hanya di lewati bertiga dengan penuh keromantisan keluarga Samudra, dan saat ini terlihat sedikit kaku dengan kehadiran Zha yang juga merasa pagi yang berbeda dari biasanya, selama ini Zha tidak pernah yang nama nya sarapan bersama siapa pun. Kadang Zha pun lupa akan sarapan bahkan untuk makan sehari-hari nya pun ia merasa itu tidak penting , jika merasa lapar ia akan makan, jika tidak seharian pun Zha tidak akan menyentuh makanan. Tidak pernah fokus dalam menjaga pola makan dengan baik.
Meski seperti itu baik Zha ataupun keluarga Samudra merasakan kebahagiaan tersendiri di hati mereka masing masing terlebih Azkayra yang sesekali melirik Putra nya dan Zha yang terus saja saling mencuri pandang.
Sarapan pagi itu berakhir obrolan ringan dari mereka hingga saling meninggal kan meja masing masing.
Halilintar kembali ke kamarnya bersama Zha , sementara Azkayra dan Hanzero kembali ke kamarnya. Kebetulan hari itu baik Hanzero ataupun Halilintar memang belum ingin meninggalkan rumah, masih ingin berfokus pada Zha dan mengenai partikel dalam tubuh Zha yang masih mengganggu pikiran mereka dan Zha belum mengetahui tentang hal itu.
"Hanz, " ucap Azka di dalam kamar mereka.
"Hem." Hanz menoleh pada Istri nya.
"Aku ingin secepat nya kau melamar Kanzha untuk Putra kita."
"Azka,.. Itu terlalu cepat. Kita belum tau bagaimana perasaan Zha pada Halilintar. Ku rasa lebih baik kita memberi waktu mereka dulu agar saling memahami satu sama lain." jawab Hanz.
"Apa kau masih ragu dengan gadis itu Hanz.?"
"Tidak, aku tidak ragu untuk menjadikan nya menantu keluarga kita. Tapi setidak nya kita harus membantu nya dulu untuk memecahkan rahasia di balik partikel yang ada di tubuh nya." jawab Hanz.
"Hanz, dengarkan aku. Dengan menjadi menantu keluarga ini, kita akan mempunyai hak untuk ikut terlibat dalam kehidupan Kanzha, jika tidak kita malah akan di anggap lancang mencampuri urusan nya." terang Azka.
"Kau benar. Baik lah, kalau begitu beri aku waktu untuk mencari kesempatan berbicara pada Zha."
"Apa menurut mu partikel itu berbahaya.?" tanya Azka menatap ragu pada Hanz.
"Aku menangkap hal itu Azka.. Pasti ada sesuatu yang besar tersembunyi di sana. Jika tidak, tidak mungkin seseorang itu sampai menanam partikel itu pada bayi yang masih kecil. Dan sesuatu itu pasti ada kaitan nya dengan identitas asli gadis itu. Kita akan menyelidiki nya bersama."
"Kasian gadis itu, harus melewati hidup nya yang penuh tantangan besar sendirian. Aku ingin sekali memeluk nya selama nya di rumah ini. " ucap Azka meneteskan air matanya.
"Ya, semoga saja keinginan mu terkabul. Aku juga berpikir demikian. Menjadi seorang ketua mafia, terlibat pembunuhan besar dengan usia yang masih muda. Apalagi dia seorang wanita,itu pasti ada alasan tersendiri atau seperti nya seseorang sengaja memanfaatkan hidup nya untuk kepentingan pribadi nya." ucap Hanz.
"Kau berpikir demikian.?"
__ADS_1
"Benar Azka, jika bukan ada tujuan tersembunyi tidak mungkin seorang gadis sampai jauh melangkah di dunia gelap seperti itu. Semua pasti berkaitan dengan asal usul nya dan disini Zha hanya lah sebagai korban yang tidak mengerti apa apa."
"Kau harus bisa mengeluarkan Zha dari sana Hanz.. Kau harus bisa." ucap Azka , Hanz meraih tubuh istrinya dan membawa nya dalam pelukan nya.
"Tenang lah. Aku akan berusaha." Jawab Hanz mengelus punggung istrinya.
__________________
"Apa rencana mu selanjutnya.?" Tanya Halilintar pada Zha di dalam kamarnya sambil terus menatap gadis itu masih tanpa berkedip.
"Jika masih di dalam rumah ini, bagaimana aku bisa merencanakan sesuatu untuk selanjutnya Hall.?" jawab Zha tanpa menoleh pada pria yang masih memperhatikan nya itu.
"Kenapa tidak. Kau bisa menyusun rencana dan mengajak ku berdiskusi."
Zha kini menoleh dan tersenyum tipis.
"Sudah ku bilang, urusan kita sudah selesai, kedepannya aku tidak mau melibatkan mu dalam urusan apapun."
"Apa kau yakin.?"
"Kenapa kau berkata begitu.?"
"Ku rasa Nyonya Azkayra dan Tuan Hanzero tidak akan semudah itu membiarkan mu keluar begitu saja dari rumah ini." ucap Halilintar.
"Kenapa.?" tanya Zha sedikit heran.
"Karena mereka ingin kau menjadi menantu mereka."
"Hall, kau berkhayal terlalu tinggi. Mereka sudah tau siapa aku. Mereka akan berpikir seribu kali untuk itu." ucap Zha.
"Mereka tidak akan peduli. Karena kami semua sudah terlanjur jatuh hati pada mu Zha." Halilintar kini meraih tangan Zha.
"Apa kau mencintai ku.?" Halilintar menatap lekat mata indah milik Zha.
"Aku.. Hall kau jangan mempersulit hidup kita dengan perasaan mu itu."
"Perasaan kita Zha, ini tentang perasaan kita. Percayalah. Semua akan lebih mudah jika kita menghadapi nya bersama sama, apapun itu." Halilintar meraih tubuh Zha dan memeluk nya.
"Aku ingin menemani mu.!"
Zha hanya terdiam tanpa menjawab, yang di pikirkan Zha saat ini adalah bagaimana ia harus pergi dari keluarga ini. Ia tidak ingin keluarga Samudra terlibat jauh dalam kehidupan nya yang memiliki jalan yang begitu berbeda dengan jalan kehidupan nya.
Bagaimana tidak, Keluarga samudra adalah keluarga terhormat dari kalangan kelas atas yang sangat terkenal di negri ini. Sementara dirinya , adalah seorang mafia yang memiliki riwayat kelam dan bisnis gelap yang sangat menyimpang dari keluarga ini. Zha berpikir bagaikan bumi dan langit, air dan minyak yang tidak akan mungkin bisa untuk bersatu. Jika di paksakan itu hanya akan menjadi Masalah besar untuk ke depan nya nanti. Dan Zha merasa saat ini dirinya secara tidak langsung seperti terbelenggu oleh keluarga Samudra.
"Zha, apa kau masih akan melanjutkan pencarian mu tentang keturunan jangkar perak.?" tanya Halilintar.
"Tentu saja."
"Kenapa kau masih begitu tertarik.?"
__ADS_1
"Entah lah, tapi aku ingin tau asal usul orang tua ku, agar aku juga bisa tau siapa yang sudah menghancurkan kebahagiaan keluarga ku. Karena menurut ibu ku keluarga mereka tidak menyukai kelahiran ku." jawab Zha.
"Kita bisa memulai nya dari Ardogama. Bagaimana .? Apa kau setuju.?" Halilintar memberi usul yang hanya di balas anggukan oleh Zha.
"Baik lah, kalau begitu istirahat lah. Setelah itu aku akan mengajak mu keluar sebentar." Zha lagi lagi mengangguk. Kali ini ia merasa beruntung ketika Halilintar melangkah keluar meninggalkan kamar, kesempatan bagi Zha untuk segera menghubungi Elang.
"Nona. Bagaimana keadaan mu.?" ucap Elang jauh di sana.
"Aku sudah sehat. Elang.. apa ada kabar terbaru.?"
"Sejauh ini belum ada. Apa nona ingin kembali.?"
"Bisakah kau menjemput ku dan memberi alasan agar Keluarga ini mengijinkan aku untuk keluar dari sini.?"
"Tentu Nona. Aku akan segera kesana. Tunggu lah." sahut Elang menutup panggilan.
Hingga beberapa saat lama nya Zha menunggu benar saja Halilintar membuka pintu.
"Ada Elang di depan." ucap Halilintar.
Zha mengangguk saja dan melangkah keluar bersama Halilintar.
Sementara di ruang tamu Elang sudah duduk di depan Hanzero.
"Maaf Tuan, saya harus membawa Nona kami pulang. Bibi dari Nona Zha sedang menunggu nya. Saat ini Bibi Nona sedang tidak sehat dan menginginkan Nona untuk menemui nya.." ucap Elang memberi alasan yang sebenar nya menurut elang sendiri tidak lah tepat tapi Elang merasa bingung untuk beralasan apa hingga memutuskan untuk beralasan demikian.
"Bibi.? Jadi Zha mempunyai keluarga.?" tanya Azkayra yang sedari tadi sudah duduk di samping suami nya, ia merasa kurang yakin dengan alasan Elang membuat Elang seperti terperangkap dengan ucapan nya sendiri. Beruntung Elang sedikit mengetahui tentang Bibi yang sudah terlanjur ia maksud tadi.
"Benar Nyonya, Keluarga angkat lebih tepat nya. Tapi Nona Zha sangat dekat dengan mereka." jawab Elang.
"Kalau begitu, beri aku alamat mereka. Aku ingin mengenal lebih jauh keluarga Nonamu." ucap Azka membuat Elang bingung untuk menjawab nya. Ia tidak menyangka jika Azkayra malah akan meminta alamat keluarga angkat Zha.
"Tapi Nyonya."
"Kenapa.?"
"Tante. Tante bisa datang kapan saja pada mereka. Zha akan memberi kan alamat nya. Tapi ijinkan Zha pulang hari ini ya.?" ucap Zha yang baru saja tiba bersama Halilintar dan itu membuat Elang sedikit lega.
"Iya sayang. Tapi biar Halilintar menemani mu." jawab Azka.
Zha langsung merasa lemas, ia merasa jika Halilintar harus menemani nya itu sama saja Zha tidak bisa lepas dari keluarga ini.
"Baik lah Tante." Zha mau tidak mau akhirnya setuju. Dan disini Halilintar pasti nya tersenyum senang masih tetap bisa di sisi Zha.
"Kalau begitu kau bisa pulang duluan Elang. Biar Putra ku yang akan mengantar Nona mu agak siangan nanti." ucap Hanzero semakin menyudutkan Zha.
Elang menoleh pada Zha yang mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi." ucap Elang berpamitan pada mereka dan dengan sedikit kecewa karena merasa gagal untuk membawa Zha pulang Elang akhirnya meninggalkan Rumah Utama.
__ADS_1
_____________________