Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Semua ini hanya sandiwara Kan?


__ADS_3

Hari ini, Halilintar sudah keluar dari rumah sakit dan sudah berada di Mansion milik Zha. Hanzero dan Azkayra pun sudah pulang dari mengantar mereka.


Halilintar yang sudah pulih itu terus saja mendekap Zha dengan hawa yang penuh kerinduan. Zha pun tak ingin melepaskan pelukan sang suami dan justru membalasnya.


"Aku sangat merindukan mu Zha, apa kau juga?" tanya Halilintar.


"Iya lah Hall, kau tidak tau bagaimana aku sangat khawatir melihat mu terluka." jawab Zha memutar tubuhnya dan kini posisinya menghadap Halilintar.


"Maaf , jika membuat mu khawatir."


Zha hanya tersenyum. Ya, senyuman manis yang sekarang ini sering Zha berikan pada Halilintar, bukan lagi senyum sinis atau senyum miring nya seperti dulu.


"Apa calon jagoan ku menyusahkan mu?" Halilintar mengelus perut Zha yang masih rata itu.


Zha menggeleng. "Dia sama sekali tidak menyusahkan ku. Sepertinya, dia tau jika Ayah dan Ibu nya sedang ada masalah." jawab Zha.


Kehamilan Zha memang sama sekali tidak menyusahkan. Bahkan Zha tidak mengalami Morning Sicknes seperti kebanyakan wanita lain yang sedang hamil muda. Seperti rasa mual muntah, pening atau sebagai nya. Zha tidak mengalami itu sedikit pun. Zha tetap merasa normal dan tidak ada keluhan sedikit pun, hanya sesekali saja Zha seperti merasa kedutan di dalam perutnya.


"Jagoan Ayah ini memang hebat." ucap Halilintar, kini menciumi perut rata Zha.


Tangan Zha membelai rambut Halilintar, mengalir sebuah kebahagiaan di hatinya. Kebahagiaan , kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelum ini.


"Kau selalu menyebutnya jagoan. Memang kau sudah yakin jika ia laki laki?" tanya Zha.


"Tidak juga sih, tapi.. Aku berharap dia laki laki. Aku takut jika ia perempuan akan seperti Ibu nya."


"Itu tidak akan terjadi Hall. Laki laki atau perempuan, aku tidak akan membiarkan dia mengikuti jejak ku." jawab Zha. Walau bagaimana pun juga naluri seorang ibu pasti tidak ingin anak nya terjerumus dalam dunia yang sesat, seperti dunia nya. Dan Zha sudah berjanji , tidak akan membiarkan anak nya mengulang masa lalu nya yang saat ini sudah ia tinggal kan sedikit demi sedikit itu.


Namun terkadang hati Zha gundah, jika memikirkan bahwa dia adalah cucu dari ketua Mafia. Dan keturunan dari Klan Jangkar perak. Bahkan Zha tidak pernah menyangka jika semua sifat dan perilaku nya serta jalan nya selama ini tidak jauh dari masa lalu kakek dan nenek nya.


Zha menarik nafas berat, hingga sebuah kecupan Halilintar mendarat lama di kening nya.


"Kita akan menjaga dan mendidik nya bersama. Percayalah, semua akan baik baik saja." ucap Halilintar , membuat Zha sedikit tenang. Tidak bisa di pungkiri, kehadiran Halilintar dalam hidupnya sungguh membawa dampak positif bagi kehidupan pribadi nya. Cinta dan kepedulian Halilintar mampu mengalihkan dunia Zha.


"Terimakasih Hall, kau sudah memberi warna dalam dunia ku yang gelap."


"Tidak perlu berterimakasih, semua itu karena aku mencintaimu."


Suasana bahagia menyelimuti hati kedua insan itu yang akhirnya memutuskan untuk merangkak ke ranjang dan berbaringan melepas rindu. Zha bahkan tidak sempat mengingat kekhawatirannya pada Sang Ayah.


Lain dengan suasana yang terjadi di suatu tempat yang lebih tepat nya disebut sebagai Pemakaman Umum itu, di mana di sana Elang Alexa dan seluruh anak buah Ardogama, sedang berkabung atas kepergian Sang Ketua Mafia Selatan itu.


Elang masih seperti mimpi dengan kenyataan yang ia alami itu. Rasa bahagia yang baru saja ia rasakan ketika bertemu dengan Ayah kandung nya dan belum sempat ia melepaskan segala kerinduan nya berganti dengan kesedihan karena, sang Ayah sudah harus pergi lagi dan kali ini untuk selama lama nya.


Air mata Pria kekar itu tak terasa kembali menetes jatuh pada sebuah nisan yang saat ini ada di hadapan nya. Ia kembali terisak hingga tepukan lembut Alexa mengejutkan nya.


Elang langsung menghapus air matanya dan menoleh, hanya ada Alexa yang di lihat nya. Elang bahkan tidak menyadari jika seluruh orang sudah pergi meninggalkan pemakaman itu.


"Kuat kan hati mu Tuan, kita harus pulang sekarang." ucap Alexa.


Elang berdiri dan kini melangkah menyusul langkah wanita yang sudah mendahului nya itu.

__ADS_1


"Apa rencana Tuan selanjutnya?" tanya Alexa menoleh pada pria yang kini sudah duduk di samping nya itu, di dalam mobil yang Alexa kendarai.


"Bisakah kau mengantar ku pada Adik ku?"


Alexa mengangguk dan segera memutar mobilnya. Dengan petunjuk Elang, Alexa melaju ke arah jalan yang menuju tempat tinggal Zha.


Lama di perjalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan Mansion Zha dan mereka segera turun.


Sebenarnya saat ini hati Elang ragu, namun Elang tetap melangkah menghampiri pintu itu dan membuka nya dengan kunci serep yang memang selalu ia bawa. Elang sempat menoleh pada Alexa yang masih berdiri di sisi mobil.


"Apa kau tidak ingin masuk?"


"Aku menunggu di sini saja." jawab Alexa.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Alexa mengangguk, Elang melangkah masuk menaiki tangga dan kini sudah berdiri di depan pintu kamar milik Zha.


Lagi lagi Jantung Elang berdesir, Apa yang harus ia katakan pada Zha? Elang menarik nafas panjang dan akhirnya mengetuk pintu.


"Elang!" Zha sudah berada di balik pintu.


"Zha, bagaimana keadaan suamimu?" tanya Elang menatap adiknya itu.


"Halilintar sudah membaik. Bagaimana keadaan Ayah kita Elang? Ayah baik baik saja kan?" tanya Zha menangkap kegusaran di raut wajah Elang.


"Boleh kah aku masuk dulu?"


"Oh, masuk lah." jawab Zha menoleh pada suami nya yang sudah melangkah menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Elang pada Halilintar.


"Aku sudah sembuh. Lalu, bagaimana kabar Tuan Ardogama?" Halilintar bertanya balik pada kakak iparnya itu.


"Dia baik baik saja. Aku ingin mengajak istrimu menemui nya. Apa kau mengijinkan nya?"


"Tentu saja, aku juga ingin menemui nya." jawab Halilintar yang di balas anggukan Elang.


Halilintar segera meraih tangan Zha dan membawa nya melangkah menyusul langkah kaki Elang yang mendahului mereka.


Setelah mereka berada di dalam mobil milik Alexa, kembali Alexa melajukan mobilnya.


Di jok belakang, nampak sekali Zha duduk dengan gelisah. Wajahnya di penuhi kekhawatiran. Sementara Halilintar terus mengelus punggung Zha seperti sedang meyakinkan jika tidak ada hal buruk yang terjadi.


"Elang, apa ada yang sedang kau tutupi dari ku?" tanya Zha tidak tahan dengan kegelisahannya.


Elang menoleh , melempar senyuman getir yang malah menambah kekhawatiran Zha.


"Lexa," Elang memanggil Alexa yang segera menoleh pada nya.


"Bawa kami ketempat tadi."

__ADS_1


"Baik."


Tak lama kemudian Mobil itu kembali memasuki sebuah pemakaman yang tadi mereka tinggalkan, dan berhenti di sana.


Jantung Zha semakin tak karuan ketika menyadari jika Elang membawa nya ke sebuah makam.


Begitu juga dengan Halilintar, ia hanya bisa bersiap dengan kemungkinan yang akan segera ia dengar dan menyiapkan diri di sisi istrinya yang sudah mulai terlihat tidak bisa mengontrol emosi.


Zha seketika menoleh pada Elang ,ketika langkah Elang berhenti di sebuah batu nisan dengan tanah yang masih terlihat merah itu.


"Jangan bilang jika Ayah.._"


"Kuat kan hati mu Zha, saat ini Ayah kita sudah tenang bersama Ibu di sana."


"Tidak mungkin, Ayah tidak akan meninggalkan ku secepat itu!" teriak Zha.


"Kau bohong kan Elang. Katakan padaku jika kau bohong!!!" Zha mengguncang bahu Elang dengan kedua tangan nya yang mencengkeram kuat.


Elang hanya terdiam, dan cepat menyibak rambut Zha, mengusap air mata adik nya yang sudah menetes saja.


"Tadi nya, aku berharap jika ini hanya lah mimpi. Tapi.._"


Zha melepaskan cengkeraman nya dan terduduk lemas di samping batu nisan itu.


Menatap sebuah Nama yang terukir di sana.


"Ayah!! Benarkah ini?" Zha menyentuh nama itu.


"Ayah ..!!!! Kenapa kau pergi lagi. Kenapa!!!" Zha berteriak kencang dan menoleh pada Elang.


"Ayah tidak mati kan, ini semua hanya sandiwara nya untuk mengelabuhi para pengkhianat itu seperti yang pernah Ayah lakukan dulu?" Zha menatap pada Elang, ia berharap jika ini hanya lah sandiwara Ayah nya.


"Kali ini Ayah tidak sedang bersandiwara Zha. Kita harus bisa menerima kenyataan ini." jawab Elang langsung memeluk tubuh Zha yang nampak bergetar.


"Tidak!!! Tidak Elang. Aku tidak mau Ayah mati. Aku tidak mau!!" Zha berontak dari dekapan Elang.


Tubuhnya melemas seketika, beruntung Halilintar segera menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh ketanah.


"Zha, kuat lah. Kau harus kuat." ucap Halilintar mendekap kepala istrinya, air matanya pun sudah mengalir. Ia sangat merasakan apa yang sedang di rasakan istrinya saat ini.


"Hall, Ayah ku. Ayah ku Hall." rengek Zha , kini ia merangkak mendekati batu nisan itu.


"Kau sudah cukup lama meninggalkan Zha Ayah, bahkan kita baru saja bertemu. Kenapa kau pergi lagi Ayah!!! Zha masih ingin bertemu lagi dengan mu Ayah. Zha masih merindukan mu!!" tangis Zha pecah seketika, ia memukul mukul tanah itu dengan penuh emosi meluap.


"Ayah, jangan perlakukan Zha seperti ini. Zha masih ingin bersama mu. Zha masih sangat merindukan mu...!!!" Zha terus berteriak membuat Elang, Halilintar dan juga Alexa begitu terhiris hatinya melihat keadaan Zha yang sangat terpukul.


"Ayah..!!! Apa Kau tau, gadis kecilmu yang kau tinggal dulu kini sudah hamil. Dan kau bahkan tidak ingin melihat cucu mu lahir." kembali Zha terisak.


"Zha,!" Halilintar berjongkok untuk menyentuh pundak Zha.


"Pergi...!! Pergi kalian semua!!! Aku masih ingin bersama Ayahku. Aku masih ingin melihat nya. Ayah ku tidak mungkin mati. Ayah pasti masih hidup. Ayah...!!!!" Zha terus menangis meraung raung sampai ia merasakan seluruh persendiannya ngilu dan tubuh nya melemas. Dunia seperti mendadak gelap di penglihatan nya. Dan Zha akhirnya ambruk tak sadar kan diri di pangkuan Halilintar.

__ADS_1


"Sebaiknya kita membawa Zha pulang sekarang." ucap Elang pada Halilintar yang mengangguk dan segera menggendong tubuh Zha dan melangkah untuk kembali ke mobil.


______________________________________


__ADS_2