
Ucapan ibu nya membuat Elang tak percaya dan langsung mengguncang bahu ibunya.
"Ibu, apa yang kau bicarakan? Kita tidak boleh membangun kembali Klan Jangkar Perak. Aku tidak mau mengingkari janji ku pada Ayah!"
"Tapi kita harus menyelamatkan adik mu Elang. Apa kau mau adik membusuk di penjara?" tegas Aisyah.
"Aku akan mengeluarkan Zha dari penjara Bu. Tapi tidak , jika untuk membangun Klan Jangkar Perak kembali."
"Apa yang di ucapkan Elang benar, Aisyah." sambung Hanzero melangkah mendekati Aisyah.
"Kau tidak perlu khawatir. Kami akan melakukan apapun untuk membawa Zha kembali pulang ke rumah ini. Kau tidak perlu membangun Klan itu kembali. Karena itu hanya akan membuat almarhum Ardogama bersedih di sana." tambah Hanzero.
"Tapi bagaimana mungkin kalian melawan pemerintah, jika tidak dengan bantuan Klan Jangkar Perak?" Aisyah menatap wajah Hanzero dan juga Elang bergantian.
"Melawan mereka tidak harus dengan kekerasan Ibu! Kita akan memikirkan jalan keluarnya bersama. Tenanglah." kini Halilintar merengkuh pundak Aisyah , mencoba menenangkan ibu mertuanya yang saat ini sedang di kuasai emosi tingkat tinggi itu, padahal dia sendiri merasa sangat hancur berkeping dengan kenyataan yang harus ia hadapi saat ini.
"Benar kata mereka. Jangan terlalu terbawa emosi. Sebaiknya kita ke atas saja menemani cucu kita. Percayakan semua nya pada mereka, biar mereka yang mencari solusinya." ucap Azkayra meraih tangan besan nya.
Aisyah menarik nafas panjang, pelan pelan ia meredakan emosi nya dan mengangguk.
Akhirnya Aisyah melangkah bersama Azkayra kembali keatas menemui si kembar Zhillan dan Zhellin.
Sementara ketiga pria itu sudah duduk dengan pikiran yang sama sama tertekan.
Hanzero terus saja menarik nafas seperti sedang memikirkan sesuatu sambil melirik wajah malang milik Putra nya.
"Hall.. Sebaiknya kau temani si kembar. Mungkin dengan begitu kau akan sedikit tenang." ucap Hanzero pada putra nya.
"Bagaimana aku bisa tenang Pa? Sedangkan Zha_.."
"Papa akan mengurus nya. Percayalah." Hanzero segera bangun dari duduk nya menepuk pundak Halilintar dan menoleh pada Elang.
"Elang! Kau temani aku."
Elang mengangguk dan tanpa bertanya ia mengikuti langkah Hanzero. Sepertinya Elang sudah mengerti apa yang akan di lakukan Hanzero saat ini.
****
Waktu berjalan begitu lambat bagi Halilintar, yang siang ini di lewatinya dengan sangat menyiksa nya.
Hingga senja menyapa, ia nampak berdiri di depan ranjang bayinya.
Dengan tangan nya yang kekar ia meraih tubuh si kecil Zhillan yang masih membuka matanya seperti ikut merasakan kesedihan orang tua nya dan Halilintar menggendongnya. Sementara si Zhellin sendiri terlihat sudah terlelap.
"Malang sekali nasib mu Zha, sedang bahagia bahagianya kamu melihat putri putri mu, kau harus terpisah dari kami." ucap lirih Halilintar sambil mengecup kening Zhillan yang tersenyum kearahnya. Seperti nya bayi itu ingin menghibur hati Ayah nya.
"Sedang apa kau di sana Zha, ? Lihat lah putri kita, ia tersenyum mengganti kan senyuman mu yang seharian ini tidak ku lihat." Halilintar berbicara pada dirinya sendiri. Lalu meletakkan bayi nya dengan sangat hati hati di ranjang.
Kemudian pria itu berbaring di sisi bayi nya, memeluk nya dengan hangat sambil terus menyentuh pipi gembul milik Zhillan.
Waktu terus berputar, masih dengan terasa melambat bagi Halilintar. Perlahan mata si Zhillan tertutup dan akhirnya bayi itu terlelap dengan sendirinya.
__ADS_1
Dengan hati hati Halilintar meraih tubuh mungil itu, dan menaruh nya kembali pada ranjang nya berdampingan dengan Zhellin kakaknya.
Air mata pria itu kembali menetes, tanpa mengusap nya Halilintar membalik kan badan nya.
"Aku tidak bisa menahan semua ini. Sungguh ini sangat menyakitkan lebih dari apapun!" pria itu melangkah membuka pintu.
"Zha!" pekik Halilintar ketika ia melihat Zha sudah berdiri di ambang pintu.
"Hall!" Zha menyentuh pipi Halilintar dan mengusap air mata pria itu yang masih membekas di sana.
"Zha.." Halilintar langsung menarik kasar tubuh Zha dan memeluk nya dengan begitu erat.
"Kau kembali untuk kami? Benarkah ini?" tanya Halilintar di sela isakan nya seperti tidak percaya dengan semua nya.
"Maafkan aku yang sudah berniat meninggalkan kalian." jawab Zha juga ikut terisak di pelukan suami nya.
Halilintar menarik tubuh Zha yang tampak lemas kedalam kamar. Lalu membawanya duduk di sofa. Berkali kali mengusap wajah istrinya dan menghujani nya dengan kecupan hangat.
"Ceritakan pada ku , bagaimana kau bisa kembali. Apa kau lari?" tanya Halilintar menyodorkan segelas air putih untuk istrinya. Zha langsung meneguk habis air itu, kemudian membuang nafas berat nya.
"Jika aku benar-benar lari, apa kau akan melindungi ku?" Zha bertanya dengan menatap lekat wajah suaminya.
"Aku akan melindungi mu, bagaimana pun caranya."
"Dengan cara apa? Kekerasan? Aku tidak mau itu Hall? Kau tau kan?"
"Zha, kita bisa pergi sejauh mungkin dari sini. Bila perlu ke luar negeri. Kita akan membawa serta si kembar. Di sana Polisi tidak akan menemukan mu. Kita akan memulai kehidupan baru di sana. Apa kau mau? Tolong Zha! Jangan tinggalkan kami lagi. Aku sungguh tidak sanggup! Apa kau tau baru saja aku hendak menyusul mu ke kantor polisi."
"Aku sedang tidak bercanda Zha, kenapa kau malah tersenyum. Apa sebenarnya yang terjadi?" Halilintar kembali bertanya dengan nada penuh penekanan.
"Ceritakan Zha!"
Zha menarik nafas.
"Victor tidak membawa ku kekantor polisi melainkan ke suatu tempat. Di sana ia mengajak ketiga polisi itu berunding serius."
FlashBlack
"Apa kalian tidak memikirkan nyawa kalian dan keluarga kalian. Jika kita menyerahkan Nona Zha tidak akan ada yang terjadi pada kita dan keluarga kita kecuali kehancuran. Nona Zha bukan hanya menantu dari Keluarga Samudra. Tapi cucu dari Mafia Klan Jangkar Perak yang terkenal sadis dan juga anak dari ketua Klan Selatan. Dan satu lagi, dia adalah ketua mafia Poison Of Death yang terkenal bisa membunuh tanpa harus menyentuh targetnya. Apa kalian tidak bisa berpikir sejauh itu?" tanya Victor pada ketiga polisi teman itu.
"Sebenarnya dari awal kami sudah memikirkan itu. Tapi, kami tidak punya pilihan lain. Jika saja kami punya pilihan lain. Kami lebih baik di pecat dan mencari aman nya." jawab salah satu dari mereka menatap kedua temannya yang mengangguk membenarkan ucapan nya.
"Kalau aku memberi kalian pilihan, apa kalian setuju?" tanya Victor kembali.
"Apa itu detektif, coba katakan pada kami."
"Kita akan menahan Nona Zha di sini. Dan aku akan menghubungi Tuan Hanzero untuk meminta solusi dari nya , bagaimana caranya kita melepaskan Nona Zha dari semua bukti yang sudah terarah padanya." jelas Victor. Ketiga teman nya saling melempar pandang dan akhirnya mengangguk setuju.
Melihat mereka mengangguk, Victor segera meraih HP nya dan menghubungi Hanzero. Terlihat ia berbicara dengan begitu serius.
Di ujung sana , Zha yang sedari duduk mendengarkan dialog mereka terlihat menghampiri mereka.
__ADS_1
"Kenapa kalian ingin melepaskan aku? Kalian takut dengan Klan mafia ku?" tanya Zha menatap ke empat pria di depan nya yang langsung menoleh padanya.
"Sebenarnya..!" suara Victor yang langsung dipotong oleh Zha.
"Kalian tidak perlu takut, itu tidak akan terjadi. Jadi lebih baik sekarang kalian membawa ku ke tempat awal tujuan kalian menangkap ku!"
"Nona Zha, maafkan kami. Ini sudah menjadi keputusan kami. Jadi sebaiknya Nona istirahat di kamar itu dulu. Dan tunggu kami menemukan solusi yang terbaik untuk masalahmu. Sebentar lagi Tuan Hanzero akan datang kemari." sahut Victor.
Zha memiringkan senyum nya, tanpa ingin bertanya lagi ia bergegas meninggalkan mereka memasuki kamar yang ada di ruangan itu.
Sebenarnya di dalam hati, Zha bersorak. Detektif macam apa Victor, takut dengan Klan mafia. Tapi ini menjadi setitik harapan cerah bagi Zha.
Tak lama dari itu, Hanzero benar benar datang bersama Elang di tempat itu.
"Tuan Hanz, silahkan duduk." Victor menyambut Hanzero dan Elang.
Tanpa bertanya mereka pun duduk di depan keempat pria yang sudah duduk di depan mereka.
"Aku hanya ingin bertanya, apa yang kau katakan pada ku tadi itu sungguh sungguh?" tanya Hanzero pada Victor tanpa basa basi.
"Benar Tuan? Kami siap menanggung segala konsekwensinya. Asal kami tidak terlibat dengan para klan mafia yang ada di belakang Nona Zha." jawab salah satu Polisi.
Hanzero sebenarnya sangat merasa tidak masuk akal dengan alasan mereka. Tapi setelah menoleh pada Elang yang langsung ikut berbicara, Hanzero segera sadar, jika pengaruh Klan milik Zha dan juga Ardogama serta Klan Jangkar Perak milik kakek Zha memang sangat besar di mata dunia.
"Keputusan kalian memang tepat." Elang langsung menyambung pembicaraan mereka.
"Mungkin Nona Zha dan aku sebagai kakak nya masih bisa menerima semua ini. Tapi bagaimana dengan mereka jika mengetahui Ketua nya dan keturunan terakhir Ketua Klan mereka yang selama ini mereka lindungi dengan nyawa mereka mendekam di penjara, ku rasa mereka tidak akan berpikiran seperti kami dan akan melakukan apapun untuk menuntut balas. Jika itu sampai terjadi, itu bukan urusan kami lagi. Kami pun tidak akan mampu mencegah nya." ucap Elang membuat ke empat pria di hadapan nya menciut. Rupanya Elang sengaja mengatakan itu hanya untuk menggertak mereka, yang sebenar nya Elang yakin jika klan mereka tidak mungkin melakukan tindakan apapun jika tanpa perintah ketua mereka.
"Tuan, kita bisa mencari jalan yang terbaik untuk mengeluarkan Nona Zha dari jerat hukum. Kami bersedia membantu sebisa mungkin." ucap salah satu dari mereka membuat Hanzero merasa lega.
"Baiklah, kalau begitu. Sekarang katakan padaku siapa yang sudah memegang seluruh laporan tentang Zha." tanya Hanzero seperti di atas angin dan tidak ingin menyia nyia kan kesempatan ini. Hanzero berpikir,mungkin ini satu satunya cara untuk bisa membawa Zha pulang ke Rumah Utama.
"Komandan Galih Suhandra. Semua laporan dan bukti ada padanya." jawab Victor.
"Bisakah kau mempertemukan aku dengan nya?" tanya Hanzero.
Victor mengangguk.
"Sekarang saja Tuan, lebih cepat lebih baik sebelum seluruh data laporan dan bukti di serah kan pada atasan kami." ucap Victor.
"Baik lah. Tapi bisakah salah satu dari kalian mengantar Nona Zha pulang ke rumah kami dulu? Sementara kita akan mengurus semua ini dan menemui komandan kalian." ucap Hanzero.
"Saya akan mengantar Nona Zha pulang." sahut salah satu dari mereka.
Akhirnya satu dari antara mereka mengantar Zha pulang. Sementara yang lain nya ikut Hanzero menemui komandan Galih yang sudah dihubungi oleh Victor.
______________________________
Maaf para kakak , jika terlalu lambat update.
Author masih sakit terus,mungkin pengaruh jatuh dari motor kemarin.
__ADS_1